
...🍀🍀🍀...
Mendadak tubuhku menjadi beku, bibirku menjadi kelu, ya tuhan aku tidak bisa bergerak. Siapa aku? Dimana aku saat ini? Aku merasa seperti berada didalam jurang tidak berdasar. Lagi-lagi aku dikhianati. Lagi-lagi cinta itu hanya hal tabu dan palsu.
Gadis berambut merah itu mengepal roknya dengan gemas. Bibirnya gemetar, dia terlihat sangat syok dengan kenyataan didepan matanya. Ditengah riuh tepuk tangan yang meriah, Liliana terlihat sedih.
"Tuan putri.." Liliana menatap Laura dengan mata berkaca-kaca.
"Nona Lily, aku bisa jelaskan semuanya..kakak juga pasti akan menjelaskannya," ucap Laura terkejut melihat raut wajah Liliana yang pucat pasi.
Gawat! Sepertinya nona Lily akan meledak. Wajah ini bukan wajah yang baik, dia pasti sangat syok sekarang. Astaga kakak..
"Apa kalian sudah puas sudah menipuku?" tanya Liliana sakit hati dengan kenyataan yang mengejutkan batinnya itu.
"Ti-tidak! Kami tidak bermaksud untuk menipumu nona Lily," Laura kelimpungan, dia tidak tau bagaimana cara menjelaskan semuanya pada Liliana. Terlalu banyak yang harus dia jelaskan, sedangkan dia juga tidak tau kalau kakaknya akan bertunangan dengan putri Duke Norton. "Sungguh, aku tidak tahu kalau ayah dan ibuku akan membuat pengumuman seperti ini.."
"Anda tidak perlu menjelaskan pada saya, sudah cukup yang mulia. Terimakasih karena tuan putri dan yang mulia putra mahkota.. saya jadi tau, bahwa saya sangatlah bodoh."
"Nona Lily..." Lirih Laura memanggil Liliana.
"Saya permisi yang mulia," ucap gadis itu seraya memberi hormat pada Laura. Kemudian dia pergi begitu saja.
Laura tercengang melihat raut wajah Liliana yang marah dan kecewa bercampur jadi satu. "Nona Lily..."
Bagaimana ini? Baru saja nona Lily, memaafkan ku. Lalu dia jadi marah lagi padaku karena kakak. Aku sudah bilang padanya untuk mengatakannya lebih dulu, lihatlah sekarang apa yang terjadi. Hubungan pertemanan yang baru saja terjalin dengannya, mungkin akan rusak.
Disisi lain ada Adrian, Eugene dan Blackey yang juga menyaksikan semua itu. Mereka terkejut karena tidak tahu menahu tentang calon putri mahkota ataupun pertunangannya.
"Aku tidak tau kalau yang mulia putra mahkota sudah bertunangan," ucap Adrian dengan wajah polosnya sambil memakan cupcake stoberi.
"Sepertinya yang mulia juga tidak tahu tentang ini, lihat saja wajahnya yang pucat itu." Eugene melihat Max yang membantu ditengah keramaian tepuk tangan para tamu yang datang. Dia seperti terkepung dan dipaksa untuk tidak bisa bicara.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong soal wajah pucat, nona Liliana wajahnya lebih pucat," Blackey si burung gagak hitam itu melihat ke arah Liliana yang sedang bersama Duke Geraldine. Wajahnya terlihat sedih dan galau.
"Kau benar, dia pasti hancur. Kebohongan dan kebenaran terungkap pada hari ini, pasti nona Liliana sangat kaget," ucap Adrian kasihan melihat Liliana.
"Sir Adrian, sepertinya nona Liliana akan pulang. Bukankah seharusnya kau menjaga dia?" tanya Eugene pada Adrian yang masih asyik makan cupcake.
"Ya ampun aku lupa, baiklah aku siap sedia!" Adrian berlari lalu dia menghampiri Liliana dan Duke Geraldine.
Liliana meminta izin pada Duke Geraldine untuk pulang lebih dulu karena dia merasa tidak enak badan, "Pantas saja wajahmu terlihat sangat pucat, baiklah kau pulanglah bersama sir Adrian. Ayah masih akan berada disini karena ayah ingin melihat pertunangan putra mahkota, juga mengetahui hasil pemeriksaan jenazah Adaire." Duke Geraldine menatap Liliana dengan cemas, seolah wanita itu adalah anaknya sendiri.
"Ya, maafkan aku ayah.. aku harus pulang duluan. Tapi, aku akan pulang bersama sir Nicholas saja," ucap Liliana menolak pulang dengan Adrian.
Adrian terkejut karena sikap ramah Liliana, menjadi lenyap dalam sekejap mata. "Nona Liliana, apa saya memiliki kesalahan?"
"Tidak ada, tapi bukankah kau harus menyaksikan pertunangan yang mulia putra mahkota? Jadi kau harusnya berada disini," ucap Liliana dengan senyuman sinis di bibirnya.
Astaga, aku merasa dingin di sekujur tubuhku. Aku merinding..
Adrian terperangah mendengar ucapan Liliana padanya yang terdengar dingin itu. Dia tak bisa membantah ucapan Liliana, karena dia diperintahkan oleh Max untuk selalu mematuhi perintah Liliana sama seperti patuh pada perintah Max.
"Kenapa kau menyakiti aku seperti ini? Kenapa kau mematahkan hatiku lagi? Ketika aku sedang berusaha berdamai dengan hatiku, membuka hati, berdamai dengan masa lalu, kau malah menghancurkannya lagi. Apakah semua ucapan cintamu itu juga bohong? Hiks..."
...*****...
Di tengah riuh tepuk tangan, Max tiba-tiba menancapkan pedang ke lantai dengan penuh amarah. Hingga lantai itu retak dan hancur karena kekuatan sihirnya.
"DIAMM!!!" Teriak Max dengan suara yang menggelegar.
Semua orang menjadi hening dan menatap ke arahnya. "Ada apa putra mahkota?" tanya Raja heran melihat putranya marah tanpa alasan.
"Yang mulia raja, saya menentang pertunangan ini. Saya tidak bisa bertunangan dengan putri Duke Norton," ucap Max tegas dengan suara yang lantang menolak pertunangannya sendiri.
__ADS_1
Duke Norton tercekat, dia mendekati Raja lalu dia berkata, "Yang mulia Raja, bukankah anda sendiri yang sudah menyetujui pertunangan ini? Lalu apa yang terjadi?" tanya Duke Norton yang tidak ingin putrinya dipermalukan.
"Putra mahkota, kau tidak bisa menentang perintah raja!" Raja Alberto menatap anaknya dengan tajam dan murka. Dibelakang sang raja, ratu Freya terlihat bahagia.
"Maafkan saya yang mulia, saya tetap pada keputusan saya! Saya akan menikahi putri mahkota yang saya inginkan,"
"Putra mahkota!" Teriak Raja Alberto marah.
Freya tidak mau melewatkan kesempatan sekalipun untuk mempengaruhi Raja. Dia tau Max akan menolak nona Julia didepan semua orang, dia masih punya segudang rencana licik di kepalanya. Ratu Freya berbisik-bisik pada Raja.
"Baiklah kalau kau menolak pertunangan ini. Maka istana akan mengadakan pemilihan putri mahkota secara adil dan kau tidak bisa menolaknya lagi!"
Max terdiam, pada akhirnya dia mengiyakan dulu semua perkataan Raja terlebih dulu. Agar dia bisa cepat pergi dari sana dan menyusul Liliana. Menjelaskan semua kepadanya tentang apa yang terjadi.
Max panik mencari gadis itu kesana kemari, hingga dia bertanya pada Laura kemana perginya wanita yang ia cintai itu. "Dia sudah pulang dan dia menangis. Wajahnya terlihat pucat, dia juga marah! Kau harus baikan dengannya agar dia juga mau berteman denganku lagi," gerutu Laura pada kakaknya.
"Baiklah," jawab Max dengan sedih.
Lily, maafkan aku..aku bahkan tidak tahu semuanya akan jadi seperti ini.
Max sampai dikediaman Duke Geraldine dengan menunggang kudanya. Dengan napas terengah-engah, dia turun dari kuda itu. Diam-diam dia masuk ke dalam mansion Geraldine seperti penyusup, hal yang biasa dia lakukan.
Dia melihat Liliana dari jendela kamarnya. Liliana sudah memakai gaun tidurnya, tapi dia belum tidur. Gadis itu masih duduk diam melamun di sofa yang ada didalam kamarnya.
Tok, tok, tok!
Max mengetuk jendela kamar Liliana, dia bisa saja membuka jendela itu dengan mendobraknya. Namun dia tau, jika dia melakukan itu. Hanya akan membuat Liliana semakin marah padanya.
Liliana menengok ke arah jendela, dia langsung menyeka air matanya dengan cepat. Memasang wajah murka, dahi mengernyit. Dia tidak membuka ataupun bicara dengan Max.
"Buka jendelanya, kumohon.. Lily," pinta Max seraya memohon pada Lily untuk membuka jendela kamarnya.
__ADS_1
Gadis itu malah menutup gordennya, dia mengabaikan Max yang berdiri didepan jendela. "Lily, Lily aku bisa jelaskan semuanya! Kumohon dengarkan aku dulu!"
...----*****----...