
Para pengawal berniat menyeret Daisy, Liliana dan Adrian sebagai kstaria Liliana dengan kasar. Adrian tidak diam begitu saja, dia mengarahkan pedangnya pada orang-orang di rumah itu dengan berani.
"Kalau kalian berani menyentuh nona saya! Saya akan menghadapi kalian!" Adrian menatap para pengawal di kediaman itu dengan mata yang tajam.
Walaupun aku harus mempertaruhkan nyawaku, aku tidak boleh membiarkan mereka melukai calon ratu masa depan! Jika mereka menyentuh nona Liliana, maka nasibku juga tidak akan berakhir baik ditangan yang mulia putra mahkota.
"Tangkap mereka dan bawa mereka ke dalam penjara!" Teriak Adara memerintah kepada pengawal pengawal itu.
"Baik!" para pengawal itu patuh, mereka mendekati Liliana dan berniat memegang tangannya. Namun Adrian menghalangi para pengawal itu untuk mencapai Liliana dan Daisy.
"Berhenti disana! Tidak ada yang boleh menyentuh nona!" Teriak Adrian pada para pengawal itu.
Mereka agak ragu untuk menyerang Adrian, karena mereka tau identitas Adrian sebagai ksatria Black Knight dibawah kepemimpinan putra mahkota, bukanlah kstaria biasa. Tapi salah satu ksatria kuat di kerajaan itu.
Keadaan disana menjadi tegang karena kejadian yang dibuat Adara. Drama yang dibuatnya untuk menjebak Liliana, sungguh sangat kentara. Liliana/ Adaire sudah tidak heran lagi dengan kelakuan Adara yang bahkan berani membunuhnya. Hal seperti ini mungkin mudah saja baginya, apalagi untuk ratu drama seperti dia.
"Sir Adrian, tidak apa.. turunkan pedangmu," ucap Liliana dengan suara rendah memerintah pada Adrian untuk menurunkan pedangnya.
"Nona.. apa maksud anda?" Adrian bingung.
"Aku bilang, turunkan pedangmu!" Seru Liliana pada Adrian.
Adrian tidak punya pilihan lain selain patuh, dia berada disana dan diperintahkan oleh Max untuk mematuhi perintah Liliana. Kstaria black knight itu menurunkan pedangnya, pertanda tidak ada ancaman lagi. "Terimakasih sir Adrian," ucap Liliana sambil tersenyum pada Adrian.
Liliana menatap tajam ke arah Adara, kemudian dia tersenyum menyeringai. Dia tidak mau menunjukkan ketakutannya pada Adara.
Kenapa dia masih bisa tersenyum seperti itu? Adara terperangah melihat kepercayaan Liliana yang tidak mudah diruntuhkan olehnya. Dia ingin melihat gadis itu menangis karena sudah melawannya, tapi Liliana masih bisa tersenyum percaya diri.
Adara, jadi kau ingin membalas ku? Baiklah kalau begitu, aku menantikan apa yang akan kau lakukan selanjutnya. Aku akan membalas semua kebaikan mu berkali-kali lipat. Liliana mengepalkan tangan dengan gemas.
"Nona Adara!"
"Apa?"
__ADS_1
"Anda boleh memasukkan saya ke penjara, tapi anda tidak bisa menyeret kstaria black knight dari istana untuk masuk ke dalam penjara," ucap Liliana sambil melirik ke arah Adrian.
"Ya, kau benar.. aku tidak bisa menangkap dia. Karena dia tidak bersalah dan kau lah yang bersalah telah mencuri kalung ini!" Adara tersenyum sinis sambil memegang kalung berlian merah itu.
"Benar, jadi aku saja yang harus masuk kedalam penjara. Sir Adrian dan Daisy, mereka tetap disini," ucapnya tegas, dia ingin melindungi Daisy dan Adrian.
"Nona.. nona anda-" Daisy menatap Liliana dengan tatapan berkaca-kaca.
"Daisy, kau harus tetap disini." Liliana memegang tangan Daisy, menatap wanita paruh baya itu dengan hangat. Liliana membisikkan sesuatu pada Daisy, entah apa yang dia bisikkan. Daisy hanya mengangguk-angguk saja.
Aku tidak tau apa lagi rencana licik yang akan Adara rencanakan untukku. Maka dari itu, aku tidak boleh melibatkan Daisy dan sir Adrian. Ini balas dendam ku, harus aku sendiri yang menyelesaikannya.
Liliana menyerahkan dirinya untuk ditangkap para pengawal di rumahnya sendiri. Dia merasa ironis dan terharu dengan para pengawal yang sudah berpihak pada Adara. "Nona!" Adrian melihat Liliana dengan sedih, dia ingin melawan orang-orang yang menangkap gadis itu, tapi dia juga tidak bisa melawan perintah Liliana.
"Jangan khawatir, jaga saja dirimu dan tolong jaga Daisy untukku. Ini perintah dariku, sir Adrian!" ujar Liliana pada Adrian.
"Ba-baik nona," jawab Adrian gelagapan.
Aku harus segera melaporkan ini pada yang mulia. ucapnya dalam hati penuh tekad.
"Ha.. jangan salah paham nona Adara, saya rela ditangkap bukan karena saya mengaku salah, saya hanya membiarkan anda menikmati sedikit kemenangan," Liliana tersenyum sinis, dia berbisik pada wanita berambut pirang itu.
"Kurang ajar kau!" Bentak Adara yang selalu emosi ketika menghadapi Liliana.
"Saya menantikan apa yang akan anda lakukan selanjutnya," ucap Liliana menantang.
"Baiklah, membusuk lah dulu dipenjara! Karena ayah dan suamiku tidak akan datang untuk menolong dirimu," Adara merasa dirinya yang akan menang.
"Mari kita lihat kepada siapa Dewi Fortuna akan berpihak," sahut Liliana dengan percaya diri. Baginya yang mendapatkan kesempatan hidup yang kedua, kehidupan dan waktu itu sangatlah berharga.
"Jangan sombong!" Seru Adara sambil tersenyum menyeringai.
Liliana diseret ke penjara bawah tanah di rumahnya sendiri, penjara yang sebenarnya dikhususkan untuk memenjarakan penjahat dengan kesalahan fatal. Tangan Liliana di rantai oleh rantai yang kuat.
__ADS_1
Dia berada di sel yang sama dengan Miley, dia ternyata belum mati, tapi masih hidup. "Halo Miley," sapa Liliana pada wanita yang terlihat lusuh itu, dia tersenyum ramah.
"No-nona Liliana? Bagaimana anda bisa berada disini?" tanya Miley keheranan. Kedua tangan Miley terikat rantai, bahkan kakinya juga terluka dan berdarah-darah.
"Menurutmu kenapa? Tentu saja aku dijebak sama sepertimu," jawabnya santai.
"Apa nona Adara yang melakukannya?" tanya Miley dengan suara yang sedikit meninggi. Kemarahan terlihat dimatanya saat dia mengingat Adara.
"Benar, dia menuduhku mencuri kalung.. aku tidak tahu kenapa dia melakukan ini," Liliana memelas, dia menangis sedih.
Miley merasa kasihan melihat Liliana, dia pun mengatakan maaf karena dia sudah mencelakai Liliana sebelumnya. "Tidak apa, aku memang selalu tidak disukai semua orang dimana pun aku berada. Tapi aku heran, kau kan pelayan setia nona Adara.. kenapa nona Adara tidak membelamu? Harusnya dia membela orang kepercayaannya, bagaimana bisa dia seperti itu?"
Miley merasa panas hati mendengar provokasi dari Liliana. Akhirnya dia buka mulut, bahwa Adara lah yang meminta dia meracuni bak mandi itu, Liliana pura-pura terkejut. "Aku tidak percaya, kenapa dia sangat benci padaku? Ya Tuhan.. apa salahku? Hiks..hiks.."
"Nona, ini bukan salah nona. Ini salah nona Adara yang selalu iri pada orang lain, dulu saat nona Adaire masih hidup.. dia juga selalu iri kepadanya!" Miley mulai membuka kejelekan Adara satu persatu pada orang yang dianggapnya sekutu dan memiliki nasib yang sama dengan dirinya.
Nona Adara, aku sangat membencinya! Aku tidak akan melindungi mu lagi.
"Benarkah? Pada nona Adaire juga? Apa kau bisa menceritakan apa saja yang dia lakukan pada mendiang nona Adaire?" Liliana menatap dengan mata bulat ke arah Miley, berpura-pura seolah dia tidak tahu apapun.
Miley menceritakan pada Liliana semua kejahatan Adara di masa lalu kepada Adaire. Liliana mendengarkan Miley seolah dia adalah pendengar yang baik. "Aku tidak percaya nona Adara akan melakukan hal seperti itu.. lalu kenapa kau tidak mengatakannya pada tuan Duke?"
"Itu karena hidup saya dan keluarga saya bergantung pada nona Adara," ucap Miley. "Saya juga baru sadar kalau ternyata nona Adaire sangat baik kepada saya, tapi saya selalu berbuat jahat padanya," sambungnya menyesal.
Kau menyesal Miley? Tapi sayangnya kau terlambat, aku tidak mau menerima penyesalan mu itu, aku akan membuat kalian menderita.
...****...
Malam itu seorang pengawal dari rumah Geraldine datang ke sebuah camp yang letaknya lumayan jauh dari kediaman Duke Geraldine. Dia memberikan surat pada seorang pria yang sedang dalam tugasnya. "Tuan Count, ada surat untuk anda dari pelayan nona Liliana!"
"Pelayan?" si pria itu mendongak.
Pria bergelar count itu membuka surat dan kemudian membacanya. "Adara? Apa yang kau lakukan?" Dia tampak marah setelah membacanya.
__ADS_1
...-----*****-----...