
...🍀🍀🍀...
Liliana mengabaikan Max yang masih berada di depan jendela kamarnya. Max terus mengetuk kaca jendela dan bicara pada Liliana. Sudah hampir satu jam lebih Max berada disana, sementara Liliana duduk diatas ranjang dengan wajah marah.
"Baiklah, kalau kau tidak mau bicara padaku! Kau cukup dengarkan aku saja. Pertama-tama aku minta maaf karena aku sudah membohongimu tentang identitasku, aku tau kau pasti marah padaku. Tapi aku merahasiakan identitasku juga ada alasannya, aku tidak mau kau menjauh dariku saat kau tau siapa aku sebenarnya. Kalau tau kau akan marah seperti ini, aku tidak akan pernah berbohong sejak awal."
Gadis itu malah semakin kesal mendengar permintaan maaf dari Max.
"Lily, kalau kau ingin bertanya padaku.. tanyakan saja apapun itu. Aku pasti akan menjawab mu dengan jujur." Kata Max memelas.
Hati gadis itu masih beku, dia masih tidak mau membuka jendela kamarnya. Max tidak menyerah, dia terus mengetuk jendela kamar Liliana. Hingga membuat keributan disana, sampai Daisy bertanya ada suara apa di kamar Liliana.
Tok, tok, tok
"Kumohon, kita harus bicara dulu agar tidak timbul kesalahpahaman lainnya! Lily!" Max masih memanggil Liliana, dia memelas dan memohon maaf.
Kenapa dia masih berada disini? Sudah satu jam lebih dia berada disana, kenapa tidak pergi saja?
Liliana mulai jengkel karen Max terus mengganggunya yang ingin tidur. Dia ingin bicara tapi dia tak mau bicara juga, Liliana kebingungan. Gadis itu menindih kepalanya dengan bantal.
"Nona, suara apa itu? Apa nona baik-baik saja?"tanya Daisy cemas dari balik pintu kamar Liliana.
Gadis itu beranjak duduk di ranjangnya, mukanya tampak masam. "Tidak ada apa-apa, hanya suara tikus saja!"
"Tikus? Bagaimana bisa ada tikus di kamar nona? Tapi kenapa juga suaranya sebesar itu? Pasti tikusnya sangat besar, saya akan panggil tuan Jackson atau penjaga untuk menanganinya!" kata Daisy panik.
"Tidak usah, tikus ini biar aku yang tangani. Aku sudah terbiasa untuk menangani tikus saat tinggal di desa dulu. Daisy kau kembalilah tidur, ke kamarmu," titah Liliana pada pelayan setianya itu.
Max tertohok mendengar dirinya disebut sebagai tikus. "Baiklah tidak apa aku dipanggil tikus. Yang penting dia mau bicara padaku sekarang," gumam Max sambil memegang dadanya.
Liliana membuka gorden jendela kamarnya, "Pergilah dari sini yang mulia putra mahkota," ucap Liliana dengan nada kesal.
Dia memanggilku dengan panggilan putra mahkota. Pasti dia sangat marah.
"Buka dulu jendelanya, kita bicara dulu. Baru aku akan pergi dari sini!" Seru Max memohon.
__ADS_1
"Anda tidak perlu repot-repot bicara dengan saya, pergilah dari sini yang mulia. Nanti tunangan anda bisa marah," ucap gadis itu sambil menyilangkan kedua tangannya didada.
"Tunangan? Tidak, apa maksudmu? Aku tidak-"
Sret!"
Liliana langsung menutup lagi gorden jendela kamarnya dengan kesal. Bahkan sebelum Max menyelesaikan perkataannya. Max tidak ada cara lain selain mendobrak jendela kamar itu. Saat Liliana akan berbaring di ranjangnya, Max sudah berada dibelakangnya.
"Kau!" Pekik Liliana terkejut.
"Dengarkan aku dulu, bicara sampai selesai," ucap Max sambil duduk berlutut didepan Liliana yang akan menarik selimutnya itu.
"Pergilah yang mulia, berdiri! Tidak pantas anda berlutut pada rakyat jelata seperti saya!" titah Liliana dengan bahasa formal.
Sulit dipercaya putra mahkota kerajaan ini, sedang berlutut di depanku. Dia juga mengatakan cinta padaku sebelumnya, persis seperti dongeng.
"Mendengar mu bicara formal denganku seperti ini, sungguh membuat hatiku sakit." Max masih duduk berlutut didepan Liliana.
Max meraih tangan gadis itu, "Lily, tolong dengarkan aku bicara sampai akhir! Aku akan menjawab semua yang pertanyaan didalam hatimu dan menjelaskan semuanya sampai kau puas. Aku mohon jangan diamkan aku!"
"Kenapa? Apa kepalamu pusing? Apa kau sakit?"
"Ya saya sakit kepala karena anda menganggu tidur saya. Jadi, pergilah dari sini sekarang. Saya ingin tidur," ucap Liliana sambil berbaring di ranjangnya.
"Aku tidak mau pergi," kata Max tetap bersikeras berada disana. Max duduk diatas ranjang dimana Liliana berbaring.
Liliana mulai kesal, dia beranjak duduk di ranjangnya. Dia menatap tajam ke arah pria itu, dia bingung bagaimana cara bersikap didepan putra mahkota.
"Yang mulia, jangan paksa saya berbuat kasar pada yang mulia. Rasanya tidak masuk akal kalau saya mengusir putra mahkota dengan kasar, jadi lebih baik anda pergi dari sini sekarang yang mulia.."
Max menggelengkan kepalanya dia tidak mau mendengar Liliana, dia tetap duduk disamping Liliana. Pria itu menatap Liliana dengan tatapan memelas.
"Ya sudah,terserah anda saja yang mulia!" kata Liliana yang hendak kembali berbaring.
GREP!
__ADS_1
Max memeluk Liliana dari belakang, tangannya melingkari perut Liliana dengan erat. "Yang mulia, lepaskan saya.." pinta gadis itu.
"Kalau kau tidak mau bicara, cukup dengarkan aku bicara..." ucap Max lembut, dia mendekap gadis bertubuh mungil itu dengan erat.
Liliana terdiam, dia merasakan sentuhan Max yang lembut terhadapnya.
Napas hangatnya berhembus di leherku. Entah kenapa aku merasa tenang. Suara lembutnya, membuat hatiku berdebar.
"Maafkan aku, aku salah karena sudah berbohong, kau pasti sangat terkejut dengan apa yang terjadi hari ini. Tadinya aku ingin memberitahumu lebih dulu sebelum pesta, tapi... kau sudah berpendapat buruk tentang putra mahkota, aku jadi takut untuk mengakui kebenarannya padamu. Tetap saja aku salah kan? Apa kau mau memaafkanku?"
Tiba-tiba saja air mata menetes membasahi tangan Max, entah berasal dari mana. "Lily, apa kau menangis?" tanya Max cemas.
Dia melepas pelukannya, memegang kedua bahu Liliana. Namun wanita itu malah berpaling darinya.
Kenapa aku menangis? Sebenarnya karena apa aku menangis? Apa ini karena kebohongannya atau masalah pertunangannya itu?
"Kau menangis? Aku benar-benar minta maaf, aku..." Max semakin merasa bersalah, melihat Liliana menangis. Tangan Max bergerak ingin menyeka air mata wanita itu, tapi Liliana menepisnya berkali-kali.
"Lily.. lihatlah aku, tolong!" ujar Max sambil menatap wanita itu.
"Yang mulia, mulai sekarang kita lupakan saja semua yang telah terjadi. Saya harap anda tidak menemui saya lagi yang mulia, saya harap kita tidak pernah bertemu lagi," ucap Liliana sambil menyeka air matanya.
Aku harap kau bahagia bersama tunangan mu.
Max terpana mendengar ucapan Liliana yang bermaksud memutus hubungan dengannya. "Apa yang kau katakan? Kau bisa marah padaku, tapi jangan pernah bilang kalau kita tidak akan bertemu lagi apalagi melupakan semua yang telah terjadi!"
Ya Tuhan, aku tidak tahu bahwa dia akan semarah ini. Seberapa dalam rasa kecewanya padaku?
"Pergilah.. saya ingin beristirahat, jangan sampai orang-orang tau kalau anda berada didalam kamar gadis lain, lalu tunangan anda akan marah!" Seru Liliana marah.
"Oh.. jadi ini yang membuatmu sangat marah? Jadi kau cemburu?" Max tiba-tiba tersenyum setelah mendengar kemarahan Liliana.
...----*****----...
Up lagi setelah buka puasa ya guys ❤️❤️🥰 selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankannya🙏😉
__ADS_1
Berhubung ini hari Senin, author boleh gak minta vote atau gift nya? 🥰🥰😉