
Gadis itu berada didalam dekapan tubuh kekar Max, dia bingung dengan kata-kata ambigu yang diucapkan pria itu kepadanya.
Bahwa, "Aku mencintaimu.. sungguh, tapi aku juga tidak ingin membatasi kebebasanmu"
"Yang mulia.."
"Aku ingin kau menjadi milikku tapi aku tidak mau kau hidup dengan status yang tidak kau inginkan," ucapnya sambil memeluk Liliana.
Liliana tercekat, hatinya berdebar. Dia akhirnya menangkap maksud dari ucapan sedih si putra mahkota kerajaan Istvan itu padanya. Dia ingin bersama Liliana ,tapi dia tidak mau Liliana menjadi putri mahkota dan terkurung di istana. Dia tau bahwa Liliana tidak akan setuju dengan menjadi ibu negara.
Aku terlahir sebagai putra mahkota negeri ini dan aku tidak bisa melepaskan takdirku.
Gadis itu mendorong tubuh kekar yang mendekapnya. "Yang mulia memang benar, saya memang tidak mau menjadi putri mahkota. Saya tidak mau hidup terkekang didalam istana, saya menginginkan cinta seperti orang biasa pada umumnya. Dan saya.. belum percaya sepenuhnya pada anda," Liliana mengatakan isi hatinya dengan jujur pada Max.
Penolakannya terhadap posisi putri mahkota dan keinginannya untuk menjalin cinta dengan orang biasa. Max terlihat bimbang, dia sedih mendengar ucapan Liliana.
"Lily, apa kau tidak mencintaiku?" tanya Max sambil membelai pipi gadis cantik itu dengan lembut.
"Lalu apa kau mencintaiku?" Liliana malah bertanya balik.
Max mendesah, "Bukankah itu sudah jelas, aku bahkan selalu menunjukkannya padamu. Aku sering mengucapkan kata cinta untukmu. Apa kau mencintaiku? Kau tak pernah menjawabku.."
"Jika aku mengatakan cinta pada yang mulia, apakah kau bisa menjamin kalau suatu saat nanti kau akan tetap mencintaiku?" tanya Liliana berharap.
"Kau masih belum percaya pada perasaanku, apa yang aku lakukan belum cukup untuk membuatmu yakin?" Max memegang kedua tangan Liliana. "Aku mencintaimu Liliana, hanya kau satu-satunya wanita yang aku cinta sekarang dan selamanya,"
"Baiklah, aku akui aku memang mencintaimu. Tapi setelah itu apa? Apakah kita akan berhubungan? Bertunangan lalu menikah? Apa kita bisa seperti itu? Kau ibaratkan langit dan aku hanya tanah di bumi, kita tidak akan bisa bersatu yang mulia.."
Akhirnya Liliana jujur dengan perasaannya pada Max, terlepas dari status Max sebagai putra mahkota. Dia memang mencintai Max layaknya perasaan wanita pada pria.
Max tersenyum bahagia karena perasaan antara dia dan Liliana telah terucap dibibir satu sama lain. Namun yang jadi masalahnya adalah status diantara mereka berdua.
"Kita saling mencintai, tentu saja kita bisa bersatu!"
"Dengan cara seperti apa? Apakah aku harus menjadi putri mahkota? Aku tidak bisa melakukan semua itu, ayah tidak akan setuju. Kau juga tidak bisa menyerahkan kedudukanmu untuk wanita seperti ku! Jadi, mari kita lupakan perasaan sesaat ini dan jangan pernah-"
Max menutup mulut yang sedang bicara itu dengan mulutnya. Max mengecup lembut bibir merah delima milik Liliana.
"Yang mulia..." Liliana terkejut karena lagi-lagi bibitnya dicuri oleh Max.
"Jangan pernah mengatakan hal yang bisa membuatmu menyesal di kemudian hari, aku tau kau tidak akan bisa menjauh dariku. Kau kan mencintaiku?" Max tersenyum sambil membelai rambut panjang wanita cantik itu.
"Kau selalu saja percaya diri," ucap Liliana sambil menatap Max.
"Yang penting semuanya sudah jelas, kau mencintaiku dan aku mencintaimu. Kita jalani saja hubungan ini ya, jangan pikirkan dulu masa depan.." ucap Max seraya meminta mereka menjalin hubungan dulu.
Ya benar, setidaknya kalau aku dan Lily memiliki hubungan resmi sebagai kekasih. Aku pasti bisa sedikit mengatur dirinya.
"Yang mulia..." lirih Liliana kebingungan.
Max meletakkan jari telunjuknya pada bibit Liliana, "Sshh.. aku tidak menerima penolakan. Kalau kau menolakku, aku akan menghukum mu!"
"Menghukum ku? Dengan cara apa?" tanya Liliana.
__ADS_1
Max mencium pipi Liliana dengan cepat. Kedua mata gadis itu melebar akibat serangan tiba-tiba dari Max. "Yang mulia kenapa anda selalu saja menyerang ku begini!"
"Hehe, kau mau hukuman yang mana? Di pipi, kening, hidung, bibir, atau..."
Hup!
Liliana membekap mulut mesum pria itu yang pikirannya sudah menjalar kemana-mana. "Hentikan ucapan anda! Bagaimana bisa putra mahkota berkata dan bersikap mesum?"
"Didepanmu aku ingin menjadi pria biasa bernama Maximilian dan bukan putra mahkota. Jadi, aku akan bertindak apa adanya bukan ad apanya di depanmu saja. Dan aku tidak mesum ya! Aku hanya gila karena aku sudah jatuh terlalu dalam akan cintamu," Max tersenyum sambil menatap nanar wanita didepannya itu.
Wajah wanita itu memerah, dia tersipu malu dengan gombalan Max. Hatinya dibuat berdebar-debar untuk kesekian kalinya. Dia memalingkan wajah dan matanya dari Max yang sedang menatap dirinya penuh cinta.
"Liliana.."
Mungkin ini saat yang tepat untuk memberikannya.
"A-apa?"
"Tutup matamu sebentar,"
Max menyuruhnya menutup mata, tapi Liliana malah membuka matanya lebar-lebar. Max tersenyum dan meminta Liliana menutup matanya sebentar saja. Gadis itu pun mengingatkan agar Max tidak macam-macam kepadanya.
"Aku akan melakukannya dengan cepat, kau juga harus segera pergi ke istana."
"Melakukannya dengan cepat? Melakukan apa?" Liliana menatap Max dengan bingung dan penuh pertanyaan.
"Tutup matamu dulu, aku janji tidak akan macam-macam.." pinta Max dengan suara lembutnya.
Liliana menurut, dia memejamkan kedua matanya. Beberapa detik kemudian, Max meminta Liliana membuka matanya kembali. "Bukalah,"
"Sudah kuduga, akan sangat cocok untukmu!" Max menatap leher cantik Liliana, disana terpasang kalung berbentuk hati dengan warna merah. Kalung itu tampak berkilau dan indah dipandang mata. "Cocok dengan warna rambutmu dan karaktermu yang pemberani," ucap Max memuji kekasihnya itu.
"A-apa ini?" Liliana merasa takjub dengan kalung berwarna merah yang dipakainya itu.
"Tanda cintaku padamu, aku selalu ingin memberikannya. Dan hari ini kita sudah resmi menjadi pasangan kekasih, jadi aku berikan padamu sekarang.." Max terlihat bahagia setelah Liliana memakai kalung pemberiannya.
"Kekasih? Aku belum setuju untuk menjadi kekasihmu,"
"Kau sudah menyatakan cinta, jadi kita sepakat untuk berada dalam hubungan kekasih. Lily, untuk sementara waktu kita jalani dulu hubungan ini! Jangan pikiran dulu status kita, aku ingin semua mengalir apa adanya.. aku ingin kau menganggapku sebagai Maximilian kekasihmu, bukan putra mahkota.."
Melihat pria itu memohon kepadanya, Liliana tak bisa berkata tidak. Dia mengangguk setuju dan menerima saran dari Max. "Baiklah, kita jalani dulu hubungan ini. Anggap saja sebagai percobaan, jika takdir dan keadaan memang berpihak pada kita..maka jalani seterusnya. Jika sebaliknya, maka kita harus terima untuk putus!" ujar Liliana tegas. Dia tidak mau menjalin hubungan tanpa komitmen.
Ya Tuhan, apa keputusanku ini benar?
Max tersenyum lembut, "Baiklah kekasihku," jawabnya santai.
Haha.. kau sudah ada dalam genggamanku. Bagaimana bisa kau lari? Mau putus denganku? Kau bahkan tidak boleh bermimpi,
Max pun berpamitan setelah perasaannya tersampaikan dan perasaan Liliana juga sudah dia dengar. "Ingatlah satu hal saat di istana nanti, jangan pernah melawan ratu. Kalau dia atau gadis bangsawan lain macam-macam padamu, kau harus lapor padaku!"
"Tidak masalah,kau tidak usah cemas. Aku malah menantikan apa yang akan mereka lakukan kepadaku, sudah lama aku tidak memerankan tokoh antagonis sejak Adara dan count Wales masuk ke dalam penjara. Kau tidak usah khawatir, aku bisa melawan mereka!"
"Aku bukannya meragukan kemampuanmu, hanya saja.. Ratu terlalu licik untuk kau lawan. Berhati-hatilah kekasihku," ucap Max dengan senyuman manis dibibirnya dan kedipan mata yang menggoda.
__ADS_1
Liliana tersenyum melihat Max yang bertingkah genit didepannya. "Baiklah yang mulia,"
"Lain kali panggil aku sayang, aku ingin mendengarnya." Max pun berlari pergi dan menghilang begitu saja dari sana.
Liliana tersenyum sambil memegang kalung pemberian Max kepadanya. Dia terlihat bahagia karena sudah menyatakan perasaannya pada Max. Dia sudah memutuskan untuk mengambil jalan sulit bersama dengan putra mahkota kerajaan Istvan itu.
Dia tau akan jalan berliku ke depannya, namun dia tidak mau lagi kehilangan orang yang tulus mencintainya. Orang yang mencintai dia apa adanya, dia juga berhak bahagia dicintai dan mencintai. Hidupnya bukan tentang dendam saja.
"Nona, sudah waktunya pergi ke istana!" ujar Daisy dari balik pintu.
"Baiklah, tunggu sebentar!" Liliana buru-buru merapikan rambutnya lagi dan mengikatnya.
...*****...
Beberapa menit kemudian, Liliana dan Daisy sampai didepan istana Ratu. Istana barat, istana daerah kekuasaan ratu. Dia turun dari kereta, bersamaan dengan nona nona bangsawan lainnya.
Calon putri mahkota berjumlah 5 orang, salah satunya adalah Liliana dan Julia yang berasal dari keluarga Duke. 3 orang lainnya, berasal dari keluarga Marques, Count dan Earl. Hanya Liliana dan Julia yang berasal dari keluarga yang statusnya mendekati keluarga kekaisaran.
Semua nona bangsawan disana menatap Liliana dengan sinis untuk pertama kalinya. Mereka merasa Liliana sangat cantik dan itu sebabnya dia dipilih menjadi putri mahkota.
Mereka sudah memberikan tatapan permusuhan satu sama lain dan ingin bersaing menjadi putri mahkota. Sementara Liliana dan Julia terlihat cuek cuek saja. Julia dengan wajah angkuhnya, dia merasa percaya diri akan menang pada pemilihan putri mahkota ini dan memandang rendah yang lain.
Tapi, dia menatap Liliana dengan berbeda. "Halo, selamat pagi nona.." sapa Julia dengan sopan pada Liliana.
Liliana keheranan mengapa Julia bersikap sopan padanya, sedangkan lady yang lain memusuhinya.
"Selamat pagi nona," sapa Liliana sopan juga.
"Perkenalkan saya berasal dari keluarga Duke Norton, saya adalah Julia Amoria Norton. Dan anda?" Julia memperkenalkan dirinya pada Liliana.
"Saya Liliana Eissa Geraldine," Liliana memperkenalkan dirinya dengan sopan.
"Dari keluarga Geraldine ya?" tanya Julia sambil tersenyum ramah.
Kenapa suaranya tiba-tiba mengeras?
Liliana heran karena tiba-tiba Julia mengeraskan suaranya.
Ketiga nona bangsawan lain mendengar ucapan Julia tentang keluarga Geraldine. Mereka mendekat ke arah Liliana dan Julia.
"Oh.. jadi nona adalah anak angkat di keluarga Geraldine?" tanya seorang nona berambut keriting dengan nada suara yang sarkas.
"Hanya anak angkat saja, kenapa bisa menjadi kandidat putri mahkota?" gumam seorang wanita bangsawan menyindir.
"Tentu saja karena koneksi. Duke Geraldine kan dekat dengan keluarga kerajaan!" kata seorang wanita sambil menatap sinis ke arah Liliana.
Mereka berani bicara terang-terangan didepan Liliana tanpa takut dan ragu, karena mereka merasa status Liliana jauh dibawah mereka. Liliana diketahui hanya seorang anak angkat dan berasal dari kalangan bawah.
Hohoho, aku suka drama ini. Baiklah kalau kalian ingin bermain, aku akan temani kalian bermain. Ayah.. seperti apa katamu musuhmu bukan orang yang berlari ke arahmu dengan pedangnya lalu menusukmu dari depan, namun musuhmu adalah orang yang berada didekatmudan menyembunyikan belati dibelakang tubuh mereka.. lalu ketika saat itu tiba, dia akan menusukmu dari belakang.
Liliana tersenyum dan menatap ke arah Julia. Wanita itu juga menatapnya sambil tersenyum ramah.
Jadi dia yang namanya Liliana? Seperti apa yang baginda Ratu katakan, dia memang cantik. Tapi dia tidak cerdik dan berpendidikan sepertiku. Ingin bersaing mendapatkan putra mahkota denganku? Kau bahkan tidak pantas!
__ADS_1
...----*****----...