Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 161. Kabur bersama


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Suara keributan di luar terdengar semakin keras, bahkan ada yang mengetuk-ngetuk pintu kamar itu dengan kerasnya. "Keluar! Siapapun yang di dalam, kalian sudah dikepung dan tidak akan bisa keluar dari sini! Serahkan diri kalian kepada petugas!" Teriak seseorang dari balik kamar itu.


Ughh...kenapa yang mulia memintaku melakukan ini? Apa karena yang mulia ingin bersama dengan pelacur itu?


Ternyata pria yang di luar itu adalah Adrian. "AYO keluar!"


Teriakan Adrian dan gedoran pintu yang keras membuat Liliana semakin panik. "Tuan...itu sepertinya adalah petugas..."


Max menikmati raut wajah Liliana yang panik dan kelimpungan itu. Sudah lama dia tidak melihat wajah Liliana yang begini.


"Tuan-- saya sedang bicara dengan tuan, kenapa tuan diam saja? Bagaimana kalau petugas itu datang kemari?"


"Maka dari itu, ayo kita kabur dari sini!" Max mengulurkan tangannya pada Lilliana dan jelas maksudnya adalah mengajak wanita itu kabur dari club diamond.


"Sa-saya bisa kabur sendiri, tuan tidak perlu membantu saya!" Ucap Liliana menolak ajakan Max untuk kabur bersamanya. Tatapan waspada masih mengarah pada Max.


Meski mereka sudah mengobrol selama beberapa menit, hal itu tidak membuat mereka semakin dekat. Bagi Liliana, hubungan mereka masih saja seperti orang asing. Namun anehnya, Liliana merasa tidak asing dengan adegan ini. Dimana dia pernah melarikan diri bersama seorang pria, tapi dia tak tahu juga.


Hem, dia masih saja waspada kepadaku.


"Hey! Cepat keluar!"


Liliana semakin panik mendengar suara itu, apalagi pintunya sudah mau di dobrak. Akhirnya Liliana memilih uluran tangan Max padanya. Dia memilih ikut dengan Max kabur dari sana dengan cara yang Max pilih.


Mereka kabur melewati jendela kamar itu, yang letaknya berada di lantai 3 club' diamond. "Ba-bagaimana caranya kita bisa turun ke bawah?"


Liliana terpana melihat ketinggian, jantungnya berdebar kencang dan dia juga bingung bagaimana caranya bisa turun dari sana.


GREP!


"Kyaaaaakkk!! Kenapa tuan menggendong saya?" Tanya Liliana keheranan.


"Kita akan turun dari sini." Max menatap ke arah bawah. Tanah yang penuh dengan rerumputan.


"Bagaimana caranya?"


"Pegangan yang erat dan tutuplah matamu!"


Liliana malah melebarkan matanya ketika Max memintanya untuk menutup mata. "Huh?"


"Aku memintamu menutup mata, tapi kau malah semakin melebarkan matamu." Kepalanya menggeleng-geleng dan dia menyunggingkan senyuman lembut dibibirnya melihat wajah Liliana.


"Ba-baik!"


Gadis itu patuh, dia mengalungkan kedua tangannya pada leher Max dan memeluknya dengan erat. Liliana pun menutup matanya rapat-rapat, dia percaya pada pria yang baru saja ditemuinya ini.


Entah dari mana datangnya kepercayaan seperti ini? Kenapa aku merasa dekat dengannya? Padahal aku dan dia... bahkan tidak tahu nama satu sama lain.


Hati Max terhenyak lagi, dia rindu dengan pelukan dari Liliana. Meski pelukan itu hanya sebuah keterpaksaan karena keadaan, tapi dia bahagia karena bisa merasakannya kembali. Lagi-lagi dia ingin menangis, karena setelah ini dia akan kembali meninggalkannya.


Max merengkuh tubuh Liliana, inginnya dia terus merengkuh tubuh itu dan membuat ia berada disisinya selamanya. Tapi dia sudah janji pada dirinya sendiri, bahwa Max tidak akan ikut campur dengan urusan Liliana lagi.


Tanpa aba-aba, Max membawa Liliana untuk lompat dari sana. Dengan mudahnya Max mendarat di atas rerumputan itu tanpa terluka ataupun merasa berat.


"Buka matamu," ucap Max.


Perlahan-lahan Liliana membuka matanya, dia tak sengaja melihat sepasang mata indah berwarna hitam kelam milik Max. Mereka sempat terdiam dalam suasana yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata.


"Ma-maaf, saya tidak sengaja menatap mata tuan."


Max menurunkan Liliana, wajahnya kembali datar tidak seperti yang tadi dan ramah padanya. "Ayo kita pergi, kita harus menghindari para petugas."


"Tapi--"


"Apa kau tidak mau pergi dari sini? Kau mau tertangkap?"


"Tidak, aku tidak mau." Liliana menggelengkan kepalanya.


Apa aku harus meninggalkan desa kelahiranku?


"Kalau begitu, ayo pergi...karena aku juga tidak mau tertangkap oleh mereka." Ajak Max pada Liliana.


Aku tidak akan membiarkanmu hidup disini, kau bisa menderita karena ayahmu.


"I-iya baiklah." Gadis itu mengangguk meski dia agak ragu dengan kepergiannya.


Max dan Liliana jalan menyusuri padang rumput yang dianggap jalan paling aman untuk menghindari para petugas. Selama dalam perjalanan itu, Max terlihat dingin pada Liliana.


"Tuan?"

__ADS_1


"Ya?" sahut Max tanpa melihat ke arah Liliana.


"Apa saya berbuat kesalahan?"


"Kenapa kau tanya begitu?"


"Sikap tuan saat di kamar dan sikap tuan yang sekarang sangat berbeda, mungkin saya membuat kesalahan pada tuan."


Aku yakin pasti aku ada salah padanya hingga sikapnya berubah.


"Tidak."


"Tuh kan tuan begini lagi! Tuan bersikap dingin pada saya." Protes Liliana pada Max yang tiba-tiba bersikap dingin kepadanya.


"....."


Max tidak menjawab, dia tenggelam dalam pikirannya sendiri. Beberapa kali dia menghela nafas dan berusaha memalingkan wajahnya dari Liliana.


Kening gadis itu terus berkerut dan tidak paham dengan sikap Max. Ia pun kesal dan berjalan mendahului Max. Liliana yang berjalan cepat itu tak sengaja tersandung sesuatu lalu dia jatuh.


"AHHH...adu-duh!" rintih Liliana sambil memegang kakinya.


Max langsung menghampirinya. "Kau kenapa? Apa kau terluka?"


Huh! Kenapa sikapnya ini selalu berubah-ubah?


"Aku baik-baik saja." Jawab Liliana ketus.


Saat Max mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu berdiri, dengan cepat Liliana menepis tangan itu. "Aku bisa sendiri!"


Max menyimpan kembali uluran tangannya itu. Tatapannya tak terlepas dari Liliana yang mencoba berdiri. "Ughh..."


Sial! Kakiku sepertinya keseleo.


"Ada apa?" Tanya pria itu seraya menoleh ke arah Liliana dengan cemas.


"Tidak apa-apa. Kalau tuan mau jalan ya jalan saja, jangan pedulikan aku."


"Aku lelah berpura-pura tidak peduli." Gumam Max pelan sambil mengepalkan tangannya dengan kuat.


"Tuan bilang apa?" Liliana tidak dengar jelas apa yang dikatakan oleh Max dalam gumaman yang pelan itu.


"Kau...atau aku yang akan menyingkap rok itu?" Tanyanya dengan suara yang tegas seraya mengancam Liliana.


Tidak ada tanggapan dari Liliana, akhirnya Max menyingkap rok merah yang dipakai Liliana. "Hey! Tuan! Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila?!" Teriak Liliana marah.


Pria itu tertegun melihat kaki Liliana yang bengkak berwarna ungu. Dia tidak menggubris Liliana yang sedang marah-marah padanya. Lalu dia menggendong kembali Liliana dengan ala bridal, sontak saja hal itu membuat Liliana terkejut. "Tu-tuan! Jangan menggendongku lagi! Saya bisa jalan sendiri!"


"Kakimu terluka separah itu, bagaimana bisa kau berjalan sendiri?" Akhirnya Max buka mulut karena tidak tahan dengan Liliana yang terus marah marah padanya.


"Ini bukan luka parah, saya hanya keseleo saja. Saya memang terluka tapi anda tidak perlu melakukan semua ini, saya baik-baik saja sungguh! Saya hanya terluka sedih,saya kan tidak lumpuh."


Di sepanjang perjalanan Liliana terus mengoceh minta di turunkan. Tapi Max mengabaikannya dan terus berjalan menyusuri padang rumput itu. "Tuan..."


"Kenapa kau berhenti mengoceh? Atau...kau haus?" Ejek pria itu pada Liliana.


"Tuan anda keterlaluan, daritadi saya terus bicara sendiri. Tapi tuan, ini aneh sekali...kenapa para petugas itu tidak mengejar kita ya?"


Dari tadi Liliana merasa aneh karena tidak ada satupun dari petugas yang menggerebek club' diamond itu mengejar mereka berdua yang lari ke padang rumput.


Tentu saja mereka tidak akan mengejar kita karena aku sengaja membuatnya begitu. Batin Max.


"Tuan... lagi-lagi anda tidak menjawab saya!" Kesal Liliana pada pria itu yang tidak menjawab pertanyaannya.


"Mungkin...mereka semua sudah pergi dan sibuk menangkap yang lainnnya."


"Oh...bisa jadi begitu ya." Bibir Liliana membulat, sepertinya dia percaya saja apa yang dikatakan oleh Max kepadanya.


Dia begitu polos dan lebih cerewet dalam kehidupan kali ini.


"Lalu, sekarang kita akan pergi kemana tuan?"


"Kita akan beristirahat dulu di sebuah penginapan, lalu setelah itu..."


Setelah itu aku akan pergi menjaga janjiku untuk tidak menemuimu lagi. Tentu saja Max mengatakan ini dalam hatinya.


"Setelah itu apa?"


"Entah." jawabnya singkat.


Mereka berdua pun tiba di sebuah penginapan yang letaknya tak jauh dari padang rumput itu. Penginapan itu terpencil dan jauh dari keramaian.

__ADS_1


Sesampainya di restoran penginapan itu, semua orang yang sedang makan disana menatap ke arah Liliana dengan tatapan nanar. "Kau tunggu disini, aku akan memesan kamar." Ucap Max pada Liliana, dia memintanya duduk karena kaki Liliana sedang terluka.


"Baik tuan!" Liliana patuh dan duduk disalah satu meja kosong di restoran penginapan itu. Dia melihat beberapa tatapan tidak menyenangkan dari orang-orang disana, tatapan yang penuh hawa n*fsu.


"Woah...siapa gadis itu?" bisik seorang pria pada temannya.


"Cantik sekali dia, aku baru melihat gadis secantik itu." Kata pria lainnya sambil menjulurkan lidah, dia tergoda oleh Liliana.


"Lihat pakaiannya yang begitu menggoda, apa dia pelacur yang melarikan diri?"


Ketiga orang pria itu menghampiri Liliana yang sedang duduk sendirian. "Hai manis, apa kau sendirian saja?"


Liliana tidak menjawab, dia memilih berikan wajahnya dari 3 orang pria itu. Ya, itu karena dia tidak nyaman dengan tatapan mereka padanya. Seolah Liliana adalah mangsa dan mereka adalah hewan buas.


Apa-apaan mereka?


"Wah...si cantik berambut merah ini, rupanya mengabaikan kami ya?" Salah seorang pria itu menyentuh dagu Liliana dan membelainya. Liliana menampik tangan itu.


"Tolong jangan ganggu saya, tinggalkan saya sendiri!" Tegas gadis itu meminta tiga orang pria didepannya untuk pergi.


"Cantik...kau sombong sekali. Tapi aku semakin suka kalau kau sombong dan melawan begini." Pria itu dengan genit memegang tangan Liliana dan mengelusnya.


"Lepas!"


"Wow...tangannya mulus."


Ketiga pria itu semakin kurang ajar menyentuh nyentuh tubuh Liliana. Dan anehnya orang-orang disana hanya melihat dan tidak menolong Liliana seolah mereka takut dengan tiga pria itu.


"Lepaskan aku! Atau kalian akan tau akibatnya!" Ancam Liliana pada mereka bertiga.


"Tau akibatnya apa, hah?" Pria itu mengejek Lilliana.


"Sial! Aku ingin menjamah tubuhnya itu sekarang juga, mencium bibirnya, melakukan xx dengannya." Pria berbadan kurus menahan Liliana penuh n*fsu.


BRUK!


Sebuah pukulan mendarat keras pada salah satu pria itu dan membuatnya jatuh ke lantai. Sontak saja membuat semua orang disana terkejut dan melihat ke arah mereka. "Tuan!"


Tanpa banyak bicara, Max menghajar ketiga pria itu bahkan sampai mematahkan lengan mereka. Akhirnya mereka pun kabur setelah kalah dari Max dan mereka mengatakan akan kembali dan balas dendam pada Liliana dan Max.


Kemudian Max mengajak Liliana pergi ke kamar, mereka terpaksa harus menggunakan kamar yang sama karena semua kamar penuh.


"Tenang saja, aku tidak akan macam-macam padamu." Kata Max yang duduk di sofa.


"Saya tau, tuan kan orang baik." Liliana percaya pada Max, lalu dia meminta Max untuk duduk, sementara dia mencari-cari sesuatu di sekitar sana.


"Kau cari apa?"


"Nah, ketemu!" Gadis itu tersenyum ketika dia berhasil menemukan satu kotak obat. Kemudian dia duduk disamping Max. "Kau mau apa?" tanya Max sambil melihat Liliana yang membawa kapas diolesi obat merah.


"Tuan terluka, saya akan mengobati luka tuan."


"Aku tidak apa-apa,"


"Ini kewajiban saya tuan! Tuan seperti ini karena sudah menyelamatkan saya, anggap saja sebagai rasa terimakasih. Tuan diamlah, kalau sakit bilang ya?" Liliana dengan pelan mengoleskan kapas berisi obat merah itu ke punggung tangan Max. Tak lupa dia meniup niupnya juga. "Tuan, apa ini perih?"


Tak mendengar jawaban dari Max, membuat Liliana mendongak ke arah Max. Rupanya dia sedang memandangi Liliana sambil melamun. "Tuan..."


Entah apa yang merasuki Max, tiba-tiba saja dia mendekatkan wajahnya pada Liliana seraya memiringkannya. Dia membenamkan bibirnya pada bibir Liliana dengan intens.


Sontak saja mata Liliana melebar, dia tak menyangka akan mendapatkan ciuman dari pria yang belum lama dikenalnya itu. Rasanya tidak mau akal karena dia melakukan kontak fisik dengan pria yang bahkan tidak dia tahu namanya.


Namun...


Kenapa Liliana tidak menolak sentuhan itu?


Awalnya bibir Liliana masih menutup, hanya sekedar penyatuan bibir saja. Namun beberapa detik kemudian, mulutnya terbuka dan membiarkan Max untuk menjelajahi rongga mulutnya. Lidah mereka pun saling bersahutan, menikmati ciuman yang intens dan menuntut itu.


"Hmph---aaahh---"


Di sofa itu mereka masih berciuman, sampai tangan mereka saling memegang dan memeluk erat. Ciuman yang menandakan kerinduan besar didalam hati.


Mungkin itulah yang dirasakan Max saat ini. Sudah lama dia tidak melakukan ini bersama Liliana.


Kau tidak tahu berapa menyiksanya rindu ini, Lily...betapa aku harus menahannya. Kematianmu, kisah cinta kita di masa lalu, janji didalam hatiku, aku tidak bisa kalau harus hidup tanpamu. Rasanya aku tidak bisa meninggalkanmu kalau caranya seperti ini.


Liliana mendorong tubuh Max, dia mengambil nafas dalam-dalam. "Tuan--saya tidak bisa bernafas...haahhh...haaahh..."


Badai yang bernama rindu dan n*fsu itu kembali menerpanya, Max kembali mencium Liliana dengan brutal. Bahkan sampai menyeretnya ke ranjang.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2