Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 116. Rusuh (1)


__ADS_3

"Oh pantas saja mereka tidak mati, saat aku menusuk bagian tubuh mereka. Mereka masih tetap hidup. Tapi aku tak punya korek api atau..."


"Aku yang akan bakar mereka, kau tebas saja kepalanya!" Kata Max pada istrinya, dia bersiap dengan pedang magisnya.


Jika mereka sudah berada disini, maka kerajaan Istvan juga mungkin sudah diserang.


"Baiklah,"


"Apa kau bisa menebas leher mereka?"


Liliana mengangguk, dia tak pernah melakukan ini sebelumnya. Namun dia sudah menjadi istri putra mahkota, maka dia harus bisa seperti suaminya.


"Kalau kau kesulitan menebas, congkel saja dulu matanya.. atau berikan matanya air suci agar dia tidak bisa melihat dengan jelas untuk sementara waktu dan memberikanmu kesempatan untuk membunuhnya!"


"Iyah baiklah, aku paham." Liliana mengangguk mengerti ucapan sang suami.


Tiba-tiba saja Max mengecup bibir istrinya, ditengah-tengah kerusuhan yang ada disana.


Cup!


"Yang mulia!" Liliana menatap suaminya dengan mata melebar.


"Aku mencintaimu," ucap pria itu sambil tersenyum dan membelai pipi sang istri.


"Haahhhh.. dasar kau ini. Masih sempat-sempatnya," Liliana mendesah sambil tersenyum.


"Jangan sampai terluka, sayang."


"Kau juga suamiku," ucap wanita itu sambil tersenyum semangat. Semangat untuk berperang.


Kemudian mereka berdua membantu warga desa yang kesulitan disana. Liliana membantu petugas mengevakuasi warga yang selamat ke dalam gereja.


"Berlindunglah ke dalam gereja! Pasang air suci dan bawang putih di setiap sudut gereja tanpa terlewat!" Ujar Liliana pada warga desa disana.


"Kenapa kami harus menurutimu?" tanya seorang petugas tak percaya dengan Liliana, dia menganggap wanita itu hanyalah anak bau kencur.


"Jangan sok memerintah kami ya! Lagipula kau ini siapa?" tanya seorang petugas lainnya sarkas kepada Liliana.


Warga desa yang ketakutan itu terdiam, karena mereka tidak bisa menuruti Liliana yang dianggapnya sebagai orang asing disana. Mereka hanya menurut pada petugas yang melindungi daerah itu.


Beberapa detik kemudian, iblis datang menyerang pada salah satu petugas yang judes itu. Dengan cepat Liliana menyerangnya dengan belati dan membuat si iblis itu lumpuh untuk sementara waktu.


JLEB!


Belati miliknya tertancap tepat pada salah satu mata si manusia yang telah menjadi iblis itu. Kemudian Liliana mengambil kembali belatinya yang telah berlumuran darah itu.


Liliana tidak bicara atau melakukan pembelaan didepan semua orang disana terutama para petugas. Kedua petugas desa itu sempat membeku saat merasakan aura tajam dari Liliana.


Gadis ini, pasti bukan gadis biasa. Ilmu bela dirinya sangat hebat. Mungkin setara dengan pasukan kstaria istana. Hampir saja aku mati, kalau bukan karena dia yang menyelamatkanku.


"Cepat pergi, kalau kalian tidak mau mati." ucap Liliana pada warga desa dan semua orang disana.


"Ce-cepat pergi ke dalam gereja! Tebar air suci dan bawang putih di setiap sudut gereja!" Kata petugas itu pada warga desa yang masih selamat belum mati ataupun menjadi bagian dari iblis itu.


"Baik sir Theron!" ucap beberapa warga desa patuh pada petugas yang bernama Theron itu. Mereka langsung masuk ke dalam gereja yang letaknya tak jauh dari sana.


Liliana tersenyum tipis, karena mereka sudah mempercayai dirinya. Ketika Liliana akan pergi menyelamatkan warga lain, sir Theron memegang tangan Liliana. Dengan cepat wanita itu menepisnya.


"Maafkan saya nona peri!" kata sir Theron, pria muda dengan gelar petugas itu sambil membungkukkan badannya didepan Liliana.


Pria disebelahnya juga ikut meminta maaf pada Liliana.


"Apa sekarang saatnya untuk meminta maaf, tuan?" ucap Liliana ketus. Dia merasa bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuk meminta maaf. "Lebih baik kalian obati orang yang terluka dan melindungi mereka yang masih selamat."


"Tapi nona..." ucap sir Farbas.


"Tebas leher mereka, lalu bakar sebelum kepalanya kembali menyatu dengan tubuhnya." wanita itu menjelaskan secara singkat bagaimana melawan iblis. "Ah dan juga.. semprotkan air suci ke matanya, hal itu akan membuat dia lumpuh sementara." tambahnya lagi.


Liliana tidak bicara lagi, dia langsung pergi ke tengah-tengah desa. Dimana suaminya dan semua orang juga iblis berlarian disana. Sir Theron dan sir Farbas terpana melihat keberanian Liliana.


"Selain cantik, dia juga sangat berani!" Sir Theron terkesima pada Liliana.


"Theron, sebaiknya kau jangan bermimpi terlalu banyak. Sepertinya wanita itu adalah bangsawan," kata sir Farbas.


"Memangnya kenapa? Aku juga bangsawan!"


"Huh! Tapi aku seperti tidak asing ketika melihatnya, aku merasa dia bukan gadis bangsawan sembarangan." Sir Farbas terlihat bingung, dia merasa familiar saat melihat Liliana.




Ditengah desa itu, Liliana, Max juga dibantu petugas yang lain. Mencoba melawan jumlah manusia yang telah menjadi iblis.



"Tuan, bagaimana ini?" tanya seorang petugas yang masih selamat pada Max. Wajah pria itu bercucuran oleh keringat dan dia tampak panik, melihat jumlah iblis semakin banyak dan bersiap menyerang mereka yang selamat.



"Haahhh.. apa kita akan mati? Atau menjadi seperti mereka?" gumam seorang petugas dengan nafas terengah-engah.

__ADS_1



Max menelan salivanya, jumlah yang selamat memang sedikit. Dia memiliki ide untuk membumihanguskan desa itu dan membawa yang selamat.



"Lily, mereka terlalu banyak! Sebaiknya kau mundur! Pergilah dari sini Lily!" titah Max pada Liliana.



*Korban semakin banyak saja, petugas juga banyak yang mati dan sebagian lagi menjadi iblis*. *Aku tidak boleh membahayakan keselamatan Lily*.



Liliana menolak pergi, dia akan tetap bersama suaminya. "Mau pergi kemana aku tanpamu? Aku tidak akan kemana-mana!"



"Aku tau kau akan sangat keras kepala, tapi ini bukan waktunya kau begini. Lily, pergilah ke gereja! Tunggu aku disana,"



"Maxim, aku tidak akan kemana-mana tanpa suamiku!" Kata Liliana bersikeras.



"Liliana Eissa Istvan! Ini adalah perintah dari putra mahkota kerajaan Istvan, bukan dari suamimu!" Teriak Max pada istrinya itu. Dia menggunakan status putra mahkota agar bisa memerintah istrinya untuk pergi dari sana.



"Kau curang," Liliana menatap suaminya dengan kesal. Ketika Max sudah menggunakan kata perintah sebagai putra mahkota, dia tak bisa berbuat apa-apa.



Teriakan Max telah membuat petugas yang masih hidup disana mendengarnya secara tak sengaja. Mereka jadi tau identitas Max dan Liliana yang sebenarnya.



Deg!



"Apa yang baru saja aku dengar ini? Apa kupingku bermasalah?" bisik seorang petugas 1 pada petugas lainnya.



"Kau tidak salah dengar, aku juga mendengarnya!" kata petugas dua sambil mengangguk-angguk.




Lima orang petugas yang masih hidup itu, langsung berlutut didepan Liliana dan Max seraya memberi hormat pada pasangan kerajaan itu. "Hormat kami pada yang mulia putra mahkota dan putri mahkota!"



"Sudahlah! Berdiri! Fokus pada pertempuran!" Ujar Max pada ke lima petugas itu dengan tatapan tajamnya.



Liliana akhirnya menurut pada suaminya, dia berjalan pergi ke arah gereja. Dimana semua orang selamat ada disana. Namun sebelum sampai di gereja, dia melihat disebuah gang kecil ada seorang anak laki-laki yang sedang menangisi seorang pria yang tergeletak di tanah.



"Nak, apa kau baik-baik saja?" Liliana memeluk bahu anak laki-laki itu.



Anak laki-laki itu melirik ke arah Liliana sambil menangis. "Nyonya.. tolong selamatkan ayahku! Daritadi dia terus kejang-kejang... huhuuuuu.."



Putri mahkota kerajaan Istvan itu duduk jongkok dan melihat keadaan ayah si anak laki-laki. Pria paruh baya itu kejang-kejang, tubuhnya berlumuran darah, dilehernya ada bekas gigitan.



"Dia sudah digigit," gumam Liliana pelan.



"Nyonya.. apa nyonya bisa menyelamatkan ayahku? Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain ayahku, nyonya?!" Anak laki-laki itu meminta Liliana untuk menyelamatkan ayahnya sambil menangis tersedu-sedu.



Liliana tidak tega melihat mata polos itu menangis dan memohon kepadanya. Dia mengusap lembut pipi kedua anak laki-laki itu. "Maafkan aku nak, aku tidak tau bagaimana caranya untuk menyelamatkan ayahmu. Dia sudah berada dijalan iblis," ucap Liliana menyesal.



"Ayahku.. dia masih hidup. Dia tidak mungkin menjadi seperti mereka!! Demi aku...ayah...hiks.."


__ADS_1


Tak lama kemudian, pria paruh baya itu berhenti mengejang. Tiba-tiba dia terbangun dan sudah menjadi sosok yang lain. Liliana dengan cepat menarik anak laki-laki itu menjauh dari ayahnya.



"Arrghhhhhhhhhh...!!!"



"Tidak!! Ayah..."



"Maafkan aku nak," tanpa sadar air mata Liliana menetes.



*Jika saja aku tau cara membuat iblis kembali menjadi manusia. Aku pasti akan menyelamatkan ayahmu dan semua orang yang mati dengan sia-sia*.



Liliana memeluk anak itu, satu tangannya melempar belati ke arah si iblis. Pria paruh baya itu terjengkang. Kemudian Liliana menebas lehernya dan membakarnya dengan korek api gas yang dia pinjam dari Theron.



Anak laki-laki itu menangisi ayahnya yang terbakar didepan matanya. "Ayah.. ayah.. hiks.."



"Maafkan aku nak," Liliana memeluk anak itu sambil menangis. Dia merasakan kesedihan dirasakannya.



...🍀🍀🍀...



Di kerajaan Istvan, juga terjadi kerusuhan yang sama hebohnya dengan di desa itu. Semua orang sibuk menyelamatkan diri, iblis berkeliaran mulai dari sore dan akan sangat kuat di malam hari.



Obor dinyalakan disegala tempat, namun itu hanya membuat iblis melemah sementara. Mereka tetap menyerang.



"Aaahhhhh....Tolong!!!"



"Aaahhhhh..."



Lucifer menikmati teriakan orang-orang yang meminta tolong itu dari atas awan hitam dalam kegelapan malam. Dia memiliki sayap hitam yang tanduk dikepalanya. Pria tampan itu terlihat sangat menyeramkan.



"Huh! Pertunjukan sudah dimulai, tadi dimana saudaraku tersayang itu? Kenapa dia belum kelihatan? Dan dimana ayahku sang Raja? Kenapa dia belum turun tangan melihat semua kekacauan ini? Tidak mungkin kan, dia sedang bersembunyi. Ah.. atau aku harus mengunjunginya lebih dulu? Sepertinya aku harus memberi salam padanya lebih dulu,"



Lucifer tersenyum menyeringai. Dia berniat menuju Raja Alberto. Sang Raja sendiri sedang bicara dengan pendeta agung di dekat istana. "Yang mulia, saya merasakan ada energi iblis yang kuat sedang datang kemari!" Kata pendeta agung yakin.



"Ya, aku bisa merasakannya. Dia pasti datang kemari untuk bertemu denganku. Pendeta agung pergilah, aku akan bicara dengannya secara pribadi."



"Tapi yang mulia, bagaimana dengan anda?"



Wushhhh~~~



"Selamat ayah, selamat malam pendeta agung."



Sosok raja iblis itu sudah berada didepan mereka berdua. Angin berhembus kencang saat kedatangannya, seolah hitam mengikutinya.



Deg!



"Lama tidak bertemu," Lucifer tersenyum menyeringai.


__ADS_1


...----\*\*\*\*----...


__ADS_2