Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 134. Alergi wanita


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


"Maafkan aku, aku benar-benar tidak seng-"


Uwekkk...uwekkk...


Liliana kembali muntah-muntah, kini muntahannya mengenai sepatu pria itu. Sontak saja si pria itu dan orang-orang yang ada disekitarnya menjadi terkejut.


Astaga! Yang mulia adalah pecinta kebersihan!. Batin seorang pria sambil melihat ke arah pria tampan itu.


Pria yang dipanggilnya sebagai raja itu adalah Raja baru di kerajaan Gallahan yaitu Aiden Arihen Gallahan.


Aiden syok, dia langsung ikut muntah sama seperti Liliana. Orang kepercayaannya yang bernama Dorman, berusaha untuk menenangkan Aiden dari mysophobianya.


Uwekkk...uwekkk...


"Nona, apa anda baik-baik saja?" bisik Andreas pada Liliana sambil memberikan sebotol air minum pada wanita itu.


"Aku sudah tidak apa-apa, tapi kenapa pria itu?" Liliana keheranan melihat Aiden yang muntah-muntah tanpa sebab.


"Kau! Beraninya kau muntah di baju dan sepatuku!" Aiden menunjukkan jarinya pada Liliana.


"Aku minta maaf, aku benar-benar tidak sengaja." kata Liliana sambil mengatupkan kedua tangannya seraya meminta maaf pada Aiden.


"Kau...apa kau tau siapa-"


Aiden tiba-tiba jatuh pingsan, semua orang menjadi panik saat melihatnya. Liliana dan Andreas juga cemas melihat Aiden pingsan.


Beberapa saat kemudian, Aiden membuka matanya. Dia melihat ke atap-atap langit, dia sadar bahwa dia berada di tempat asing.


"Yang mulia, anda sudah siuman? Bagaimana keadaan anda? Apa kepala anda masih sakit?"


"Aku ada dimana, Dorman?" tanya Aiden sambil beranjak duduk di ranjang yang keras itu. Dia. melihat-lihat ke tempat asing itu.


"Kita ada di rumah tuan itu, tuan yang muntah ke baju yang mulia." ucap Dorman menjelaskan secara singkat. Bahwa mereka berada di rumah Liliana.


Aiden menyeringai, dia menaikkan alis dan tampak kesal. "Mana pria itu? Beraninya dia memuntahi aku!" dengusnya kesal.


"Tuan, apa kau sudah sadar?" tanya seseorang yang sedang berjalan ke arah mereka.


Kemarahan Aiden tiba-tiba mereda berubah menjadi terpana saat melihat seorang gadis cantik berambut panjang berwarna perak ada didepannya. Dorman juga heran melihat gadis itu, seingatnya tidak ada wanita disana.


Cantik sekali wanita ini.


Gadis cantik itu adalah Liliana dan dia membawakan nampan berisi dua gelas air dan semangkuk sup di atasnya. "Minumlah ini, mungkin akan meredakan mualnya." ucap Liliana sambil meletakkan nampan itu di atas meja. "Tuan Dorman juga, silahkan diminum. Ada satu gelas untukmu,"


"Maaf, nona siapa ya?" tanya Dorman bingung sambil melihat ke arah Liliana.


Aiden menatap Liliana dan bertanya padanya, "Nona, katakan padaku...dimana pria menyebalkan yang sudah muntah ditubuh ku?"


Datanglah Andreas yang menjawab pertanyaan Aiden, "Nona ini adalah pria menyebalkan yang anda maksud."


"Kau?" Aiden terpana melihat ke arah Liliana. Dia tidak percaya bahwa wanita cantik yang berada didepannya itu adalah pria Badas yang muntah di bajunya. Seseorang yang melawan para bandit itu dengan mudahnya.


"Tuan Andreas, aku akan pergi ke kamarku dulu. Setelah mereka selesai minum dan menghabiskan supnya, kau antarlah mereka pulang." ucap Liliana cuek.


"Baik nona," jawab Andreas patuh.


Wanita itu melangkah pergi, namun Aiden menahan tangannya. "Nona, kau tidak pergi seperti ini! Bukankah sikapmu ini sangat tidak sopan kepadaku," kata Aiden ketus.


Ini aneh, kenapa aku tidak merasa jijik saat memegang tangan wanita ini.

__ADS_1


Liliana menepis tangan Aiden dengan keras, dia menatap pria itu dengan sinis. "Jangan kurang ajar!"


Aiden melihat kedua telapak tangannya dengan wajah bingung. Kemudian dia beranjak dari tempat tidur dan memeluk Liliana.


Grep!


Dorman dan Andreas tercengang melihatnya.


Yang mulia kan tidak bisa bersentuhan dengan wanita, kenapa yang mulia Raja tiba-tiba memeluk nona itu? Apa yang mulia tidak takut gatal-gatal?


"Kau! Apa yang kau lakukan?" Liliana terlihat kesal.


Aku, aku tidak gatal-gatal atau merasa jijik padanya. Wanita ini dia berbeda. Aiden masih memeluk wanita itu dengan eratnya.


Bugh!


Sebuah bogem mentah mengarah pada perut Aiden dengan keras, hingga pria itu terjengkang jatuh ke lantai. Dorman membantu Rajanya untuk berdiri.


"Uggghh..." Aiden memegang perutnya, dia merintih kesakitan.


"Yang mu...tuan apa kau baik-baik saja?" tanya Dorman cemas.


"Tuan Andreas, kau urus mereka!" Liliana pergi dari kamar itu dengan wajah kesal.


Dia tidak mempedulikan Aiden yang memanggilnya. Aiden kecewa dan kesal karena ada wanita yang berani memukul tubuhnya yang berharga. Dorman dan Andreas merawat Aiden sampai pria itu sudah merasa baikan dan tidak mual-mual lagi.


Setelah hampir dua jam berada di rumah Liliana, Aiden masih berada disana. Dia terus menanyakan tentang Liliana.


"Hey kau! Bisa kau panggilkan nonamu? Bukankah dia harus bertanggungjawab padaku, aku seperti ini karena dirinya dan dia malah meninggalkan aku sendirian disini." gerutu Aiden sebal.


Dia adalah satu-satunya yang tidak membuatku jijik dan gatal-gatal. Bagaimana bisa aku pergi dari sini begitu saja? Siapa tau dia bisa menjadi obatku. Aiden menyilangkan tangannya didada dengan gaya angkuhnya.


"Haahhhh...baiklah tuan, saya akan bicara dengan nona." Andreas menghela nafas panjang.


Ya, aku akan bicara dengan nona supaya dia bisa mengusirmu pergi dari sini.


Kstaria pribadi Liliana itu pergi ke lantai dua rumah itu untuk memanggil Liliana.


Dorman bingung kenapa Rajanya masih berada disana dan menanyakan Liliana. "Yang mulia, kita harus segera kembali ke istana." bisik pria berkumis itu pada Aiden.


"Haruskah aku kesana?" Aiden terlihat malas mendengar kata istana. "Dorman, kemarilah!"


"Ya, yang mulia?" sahur Dorman seraya mendekati Aiden.


Aiden memegang tangan Dorman sekejap, kemudian dia langsung menarik tangannya kembali. Dia membersihkan tangannya dan terlihat jijik. "Ish!"


"Yang mulia, saya pikir penyakit anda sudah sembuh."


"Dorman, kau lihat sendiri kan? Bahwa di dekat gadis itu aku sama sekali tidak merasa jijik ataupun gatal-gatal seperti biasanya jika aku mendekati seorang wanita."


"Iya itu benar yang mulia."


"Aku pikir aku sudah menemukan obatku, seperti apa kata Saintess, benar kan?" Aiden tersenyum pada Dorman.


Dorman menganggukkan kepalanya, dia teringat ucapan Saintess yang pernah mengatakan bahwa penyakit Aiden terhadap wanita akan sembuh bila dia sudah bertemu dengan seseorang dan dia tidak jijik padanya.


...*****...


Di kerajaan Istvan, Max sedang rapat bersama para menteri di sebuah ruangan besar. Dia terlihat marah karena ada beberapa hal yang tidak membuat dia senang.


"Bagaimana bisa bayaran pajak mencekik rakyat kerajaan kita? Bagaimana bisa rakyat kerajaan kita makmur, kalau pemerintahnya saja seperti ini!" Max melempar dokumen ke wajah seorang menteri dengan kasar.

__ADS_1


"Yang mulia-"


"Duke Norton! Kau yang bertanggungjawab atas semua ini, kau yang selesaikan!"


Max menatap tajam ke arah Duke Norton. Semua menteri disana terlihat gemetar melihat kemarahan sang Raja kepada mereka. Tidak ada lagi yang berani bicara ataupun menyela ucapan Raja Maximillian. Duke Norton terlihat kesal karena ucapan Raja padanya.


Setelah rapat dengan para menteri, Max bertemu dengan Duke Geraldine diruangannya. "Salam yang mulia Raja,"


"Duduklah," titah Max dengan suara cuek.


Duke Geraldine duduk berhadapan dengan tempat dimana Max duduk. "Yang mulia, ada apakah gerangan anda memanggil saya?"


Apa dia memanggilku kemari untuk menanyakan tentang Lily lagi?


Selama satu bulan setelah kepergian Liliana, Max selalu mencari bahkan menanyakan keadaan gadis itu pada Duke Geraldine. Namun, Max tidak kunjung mendapatkan jawaban dari Duke Geraldine.


"Duke, apa kau akan tetap merahasiakan tentang Liliana dariku?" tanya Max sambil menatap pria didepannya itu dengan tatapan terluka.


"Maafkan saya yang mulia, saya tidak bisa mengatakannya."


"Setidaknya, kau beritahu aku... bagaimana keadaannya? Dimana dia berada?" tanya Max membujuk mantan ayah mertuanya dengan lembut.


"Sekali lagi, saya mohon maaf yang mulia..jika saja saya tidak terikat janji pada Lily, mungkin saya akan memberitahukan kepada anda dimana putri saya berada. Tapi, yang mulia...anda tidak usah cemas karena Liliana baik-baik saja." jelas Duke Geraldine pada Max.


Dia baik-baik saja, sedangkan aku disini tidak bisa tidur karena memikirkannya. Apa dia juga merasakan hal yang denganku?


"Baiklah, kalau begitu kita ganti topiknya. Duke apa kau tau wilayah Gallahan, dimana ada pulau kecil bernama Jarvara?"


Tiba-tiba saja pria paruh baya itu tercengang saat mendengarnya. Tempat yang ditanyakan oleh Max adalah tempat tinggal Liliana. "Tempat itu...Liliana tidak ada disana!"


"Hah? Apa maksudmu?" Max keheranan kenapa tiba-tiba Duke membahas tentang Liliana.


"Entah yang mulia mendapatkan informasi dari mana, tapi Liliana tidak berada disana!" kata Duke Geraldine tegas dengan wajah resah.


Yang mulia Raja tidak boleh menemukan Lily.


Max menatap tajam ke atas sang Duke, dia terlihat curiga. Padahal dia hanya ingin membahas tentang acara persahabatan yang akan diadakan di kerajaan itu. "Duke, aku tidak sedang membahas tentang dia. Tapi acara persahabatan dengan kerajaan Gallahan yang akan diadakan di pulau itu." Max memperjelas ucapannya.


Jadi Lily, berada disana? Aku yakin dia disana.


Duke Geraldine menelan salivanya, dia benar-benar sudah keceplosan. Sikapnya ini menunjukkan bahwa Liliana kemungkinan berada disana.


*****


Di rumah Liliana pulau Jarvara. Aiden masih berada disana bersama Dorman. Entah apa yang diinginkan pria itu dari Liliana.


"Apa anda tidak akan pulang? Permisi tuan, tapi ini bukan penginapan." Liliana jengkel karena Aiden masih berada di rumahnya.


"Kau galak sekali, aku belum lama dipukul olehmu dan rasanya masih sakit. Kau tega mengusirku?" Aiden tersenyum manis.


"Katakan saja! Apa maksudmu berpura-pura seperti ini? Ada yang kau mau, kan?" tanya Liliana tanpa basa-basi.


"Kau tau saja, memang ada yang kuinginkan darimu." Aiden menatap wanita itu sambil tersenyum.


"Apa? Katakan dengan cepat agar aku bisa mengusirmu dari sini," ucap Liliana ketus.


"Apa kau mau menikah denganku?"


Liliana tercengang mendengar ucapan tidak terduga dari mulut Aiden.


...****...

__ADS_1


__ADS_2