
Tercengang!
Sakit!
Hancur!
Begitulah perasaan Liliana saat ini, saat dia melihat suaminya tengah tertidur bersama seorang wanita diatas tempat tidur. Dengan kondisi telanjang dada, si wanita juga terlihat tidak memakai pakaian dan hanya berselimut kain selimut.
Satu selimut dengan yang dipakai suaminya. Selain itu, Liliana juga melihat baju-baju bertebaran dimana saja termasuk dalaman. Pada akhirnya, butiran kristal air mata jatuh juga dari matanya dan membasahi pipi.
Tubuhnya yang masih basah kuyup, bertambah dengan derasnya air mata.
Aku menunggumu selama berjam-jam ditengah hujan, berharap kau datang dan akan mengambil kesempatan untuk hubungan kita. Jadi, inikah jawabanmu yang mulia? Inikah akhir dari hubungan kita?.
Mau salah paham atau bukan, rasanya sakit melihat pria yang dia cintai berada diatas ranjang bersama wanita lain. Sakit hati Liliana melihat semua itu, jantungnya seakan berhenti. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Bukan hanya Liliana yang melihat pemandangan erotis itu, beberapa pengawal dan dayang juga melihatnya. Mereka mulai kasak-kusuk tentang Max dan wanita itu yang tak lain adalah Julia Norton.
"Apakah benar yang mulia memiliki hubungan gelap dengan nona Julia?"
"Sudah kuduga, nona Julia pasti akan memenangkan hati yang mulia putri mahkota. Dia kan cantik, cerdas dan keluarganya memiliki dukungan besar dari fraksi ratu." bisik seorang dayang yang ada disana.
"Kasihan sekali putri mahkota, kali ini dia pasti benar-benar lengser. Memang benar, kasih sayang raja itu mudah berubah. Tak heran mendiang raja yang sebelumnya memiliki selir, mereka tidak akan setia pada satu wanita saja." bisik seorang dayang dengan mulut nyinyir.
Liliana berusaha tegar menghentikan air matanya. Dia tidak mau terlihat remah dan direndahkan oleh orang-orang di istana. Meski hatinya teramat sakit karena kata-kata yang berbisik di belakangnya. Putri mahkota yang malang, dia kehilangan kasih sayang putra mahkota. Pelengseran dirinya dari posisi putri mahkota. Begitu banyak komentar negatif tentangnya.
"Jaga bicara kalian di depan yang mulia putri mahkota!" Ujar Daisy pada dayang dayang uang bicara buruk tentang Liliana.
Ketiga dayang itu pun akhirnya tutup mulut.
Betapa tercabik-cabik hati Liliana, dia sudah tidak dihargai lagi sebagai wanita yang dicintai Max ataupun status putri mahkota. Sekarang dia merasa seperti sampah yang sudah dibuang. Dia merasa seperti tidak berharga dalam sekejap mata.
"PFut..hahaha.." Liliana tertawa sinis dengan air mata yang berderai.
Semua orang melihat Liliana dengan cemas, kening mereka berkerut. Mengapa wanita itu tiba-tiba tertawa, tawa terluka diiringi sakit hati dan perih.
Bodohnya aku, aku benar-benar wanita bodoh. Akhirnya apa yang aku takutkan benar-benar terjadi. Apa yang dikatakan ayah memang benar... semuanya benar. Liliana memegang dadanya yang sesak.
Ada apa dengan yang mulia putri mahkota? Aku belum pernah melihatnya seperti ini.
"Yang mulia.. apa anda baik-baik saja? Saya akan membangunkan putra mahkota." ucap Eugene yang kasihan melihat Liliana yang tertawa sedih, dia akan mencoba membangunkan Max masih tertidur pulas bersama Julia.
"Tidak perlu! Biarkan saja," ucap Liliana melarang.
"Tapi yang mulia..." Eugene terlihat sedih.
"Biarkan saja dia bersenang-senang. Dia terlihat lelah," ucap Liliana sambil tersenyum memandang ke arah Max.
Aku tidak mau menerima penghinaan ini lebih lama lagi. Maximilian Gallan Istvan, hubungan kita berakhir sampai sini. Kesempatan itu sudah tidak ada lagi. Mulai sekarang, cinta itu berubah jadi benci.. itu semua karenamu. Liliana mulai berpikir bahwa Max memutuskan sumpah dewa mereka karena Max ingin bersama wanita lain, sama seperti Raja yang memiliki 3 orang wanita.
__ADS_1
"Daisy, ayo! Bantu aku berkemas!" ujar Liliana sambil menyeka air matanya.
"Baik yang mulia," ucap Daisy dengan mata berkaca-kaca. Dia merasakan kesedihan Liliana yang terlihat jelas dalam raut wajahnya. Wajah terluka, mata yang sakit hati.
Yang mulia, kenapa anda menyakiti putri mahkota?
Liliana, Daisy dan Adrian pergi meninggalkan ruangan itu. Liliana berusaha tidak peduli dengan rumor dan gosip, dia juga tidak berusaha meredamnya. Karena semua dayang dan pengawal di istana sudah tau perzinahan yang dilakukan Max dan Julia.
Ketika Liliana sudah pergi meninggalkan kamar itu dan istana putra mahkota. Max mulai terbangun, dia membuka matanya perlahan-lahan. Tangannya memegang kepala yang berdenyut itu. "Ughhh...ini sudah jam berapa? Aku kan memiliki janji dengan Lily." gumam pria itu yang baru saja teringat dengan janjinya.
Max duduk diatas ranjang. Alangkah kagetnya dia begitu melihat wanita yang tertidur dengan kondisi telanjang di sampingnya. "Nona Julia?"
Max lebih kaget lagi setelah menyadari bahwa dirinya telah menjadi tontonan para dayang, pengawal dan juga beberapa bangsawan yang entah datang kapan dan bagaimana.
"Yang mulia, apa yang sudah anda lakukan pada anak saya?!" tanya Duke Norton dengan tatapan tajam mengarah pada Max.
"Apa maksudmu? Aku melakukan apa?!"
Aku tidak mengerti, apa yang terjadi? Bukankah harusnya aku bersama Liliana, kenapa aku bisa disini bersama nona Julia dalam kondisi tidak menguntungkan.
Orang-orang dibelakang mulai berisik lagi, membicarakan Max dan Julia yang berada diatas ranjang yang sama. Mendengar keributan disekitarnya, membuat Julia terbangun. Dia terlihat polos, tangannya menutupi tubuhnya yang telanjang dengan selimut. "A-ayah...yang mulia??"
"Kau! Mengapa kau ada di atas ranjangku dengan kondisi seperti ini?!" tanya Max dengan tatapan mata tajam pada Julia.
"Yang mulia, apa yang mulia tidak ingat? Yang mulia yang membawa saya masuk ke dalam kamar ini dan kita...hiks...kita melakukan..." Julia menundukkan kepala dan dia menangis.
Semua mata yang salah paham sedang menatap ke arah Max dan Julia.Tampaknya kesalahpahaman itu tak dapat diselesaikan dengan mudah. Semua orang beranggapan bahwa Max sama dengan mendiang Raja. Dia juga pasti akan memiliki selir, artinya memiliki lebih dari satu pendamping. Max tidak peduli ucapan bangsawan, dia bergegas memakai bajunya. Dia tak mengakui bahwa dirinya sudah melakukan hal itu dengan Julia.
Namun semua orang melihat bercak darah di seprai itu. Mereka mulai berpikir jauh, apalagi saat melihat Julia menangis dengan kondisi tubuh dipenuhi tanda cinta.
"Yang mulia, anda mau kemana? Jelaskan dulu apa yang terjadi antara yang mulia dan putri saya?" tanya Duke Norton sambil memeluk Julia yang sedang menangis.
"Aku tidak melakukan apapun pada putrimu!" Kata Max menyanggah.
Lily, apa dia.. aku pasti sudah dijebak, aku yakin itu. Bagaimana bisa aku disini dengan dia? Aku sama sekali tak ingat.
Dipikirannya saat ini bukanlah apa yang terjadi dengannya dan Julia, tapi Liliana yang mungkin masih menunggunya. Para bangsawan menatap murka pada Max karena pria itu dianggap tidak bertanggungjawab pada Julia.
"Ayah, bagaimana aktingku?" Julia menatap ayahnya dengan air mata yang berlinang.
"Bagus nak, bagus. Semua orang percaya kau telah menghabiskan waktu bersama putra mahkota." Duke Norton memeluk putrinya, diam-diam dia tersenyum menyeringai.
"Duke Norton, tenang saja! Kami akan membantu putrimu untuk memperoleh keadilan!!" kata seorang bangsawan merasa simpati pada Julia dan Duke Norton.
"Aku tidak percaya...yang mulia putra mahkota tidak bertanggungjawab seperti ini." Duke Norton memasang tampang memelas.
Dia memperoleh banyak simpati dari para bangsawan. Dalam hati, dia sangat senang dengan reaksi para bangsawan.
*****
__ADS_1
"Hahahaha.."
Terdengar tawa bahagia dari istana Ratu.
"Apa itu benar, Margareth? Anakku yang angkuh itu, akhirnya mendapatkan karma?" tanya Ratu sambil tersenyum sinis.
"Sepertinya begitu yang mulia, semua orang kini sedang membicarakannya dan meminta keadilan untuk nona Julia yang katanya sudah dinodai oleh yang mulia putra mahkota." jelas Margareth.
"Setelah semua ini, putra mahkota pasti akan ditekan oleh para bangsawan untuk menikah dengan gadis itu. Dia pasti akan menolak karena putri mahkota, lalu aku akan maju menolak penobatannya sebagai raja."
"Tapi yang mulia Ratu, bagaimana jika putra mahkota tidak menolak? Bukankah hal ini tidak menguntungkan kita?"
"Kau ini bodoh ya. Mau dia menolak atau menerima nona Julia, kita akan tetap untung. Jika dia menerima gadis itu, maka gadis itu akan menjadi bidak catur ku untuk mengatur pergerakan putra mahkota!" Ratu memainkan caturnya sambil tersenyum menyeringai.
Margareth juga tersenyum sinis sama seperti majikan yang dia layani itu.
Sekarang pasti terjadi masalah besar didalam hubungan putra dan putri mahkota. Kalian sudah berakhir putra dan putri mahkota. Jika kalian tidak bersama, maka akan lebih mudah aku menghancurkan kalian berdua.
****
Laura juga mendengar berita tentang perselingkuhan kakaknya dan Julia dari para pelayan yang bergosip. Dia merasa sedih untuk Liliana yang katanya menyaksikan perselingkuhan itu.
"Annie, apa itu benar? Kakakku tidur bersama dengan nona Julia dari keluarga Norton?" tanya Laura tak percaya.
"Benar yang mulia, itulah yang saya dengar dari para dayang istana putra mahkota dan juga para pengawal disana."
"Astaga! Mana mungkin kakakku akan melakukan itu? Dia kan sangat mencintai kakak iparku. Ini pasti hanya kesalahpahaman saja!" Laura terlihat mencemaskan hubungan Liliana dan Max. Apalagi mereka memang sudah bercerai.
"Meskipun ini hanya kesalahpahaman, semua orang sudah berpikir bahwa yang mulia putra mahkota telah menodai nona Julia. Semua orang sekarang berpikir bahwa yang mulia putra mahkota harus menikah dengan nona Julia."
"Ya Tuhan! Pasti kakakku telah dijebak, dia tidak mungkin melakukan itu!" Laura tidak bisa menahan emosinya, dia menggebrak meja dengan geram.
Apa ibuku ada di balik semua ini?
"Yang mulia, mohon tenangkan diri anda..anda sedang hamil." ucap Annie mengingatkan Laura untuk meredam emosinya.
"Annie, aku akan pergi ke istana putri mahkota sekarang juga!"
Aku harus bicara pada kakak iparku.
"Baik yang mulia," jawab Annie patuh.
Annie, Laura dan seorang pengawal mengawal Laura menuju ke istana putri mahkota. Dia ingin membantu kakaknya untuk bicara pada Liliana. Namun ditengah perjalanan, Laura melihat Max yang juga sedang berjalan menuju ke istana putri mahkota.
"Kakak?" panggil Laura pada kakaknya.
"Kau? Kenapa kau ada disini?" tanya Max yang wajahnya terlihat resah itu.
...---****---...
__ADS_1