
"Mulai sekarang kau tidak boleh dekat dengan putra mahkota lagi, ayah sudah meminta penghapusan namamu sebagai kandidat calon putri mahkota."
"Ayah...kumohon. Jangan langsung melarang seperti ini, setidaknya berikanlah kami kesempatan untuk hubungan ini!" Kata Liliana seraya meminta pada Duke Geraldine kesempatan.
Aku tidak boleh membiarkan Maxim berjuang sendirian, aku juga akan berjuang dan bertahan seperti yang dia lakukan. Hubungan ini adalah hubungan kami berdua.
"Adaire, kau tidak akan punya kesempatan. Tidak... kesempatan apa yang kau punya untuk bersama dengan keluarga kerajaan? Dari dulu kau selalu ingin pria biasa yang setia dan bisa diandalkan, pria yang hanya mencintaimu seorang seumur hidupnya. Tapi putra mahkota Maximilian, tidak akan seperti itu nak..." Duke Geraldine tau prinsip Adaire/ Liliana, dia pernah berkata bahwa dia ingin menikah dengan pria sederhana, yang hanya mencintai dia seumur hidupnya.
"Dia.. dia tidak akan begitu, Ayah.. dia mencintaiku. Dia hanya mencintaiku," Liliana menundukkan kepalanya.
"Coba kau pikirkan baik-baik. Lihatlah Baginda raja kita. Kau tau benar kisahnya, bahwa Raja dikabarkan sangat mencintai Ratu Rosabella.. tapi karena kekuasaan dia menikahi wanita lain dan dia mempunyai selir. Setelah itu dia masih tergoda juga dengan wanita lain yang lebih cantik dari Ratu dan selirnya, yaitu Ratu yang sekarang."
"Aku paham maksud Ayah, tapi yang mulia putra mahkota tidak akan begitu! Dia sudah berjanji padaku bahwa dia.."
"Liliana, kau terlalu polos nak, Ayah tau kau mudah jatuh cinta. Itu sebabnya kau tertipu oleh Arsen...kali ini Ayah tidak akan biarkan itu terjadi. Ayah sendiri yang akan memilih calon suami untukmu, tentunya dengan kriteria yang kau inginkan!" Duke Geraldine membelai wajah anaknya dengan lembut.
"Ayah jangan begini! Aku mencintai yang mulia ayah.. aku tidak ingin siapapun selain dirinya!" Kata Liliana bersikeras ingin bersama dengan Max.
"Liliana, pria yang berasal dari keluarga kerajaan tak bisa dipercaya! Memangnya kau mau suatu saat nanti kau diduakan atau bahkan ditigakan olehnya? Apalagi putra mahkota akan menjadi Raja, dia harus membangun beberapa hubungan politik dengan kerajaan lain dan salah satunya dengan pernikahan. Saat dia menjadi Raja nanti, kau tidak lagi menjadi yang terpenting baginya Lily! Ayah mohon pahamilah kecemasan Ayah padamu!" Seru Duke Geraldine yang berusaha meyakinkan Liliana bahwa putra mahkota tidak cocok untuknya dan tidak akan setia padanya ketika pria itu menjadi Raja.
Pikiran Raja akan terbelah menjadi beberapa bagian dan cinta bukan nomor satu atau prioritas seorang Raja.
"Ayah..." mata Liliana berkaca-kaca menatap ayahnya.
"Besok Ayah akan pergi ke istana untuk bicara lagi dengan Baginda Raja," ucap Duke Geraldine sambil menghela nafasnya. "Ayah akan pastikan namamu dicabut dalam daftar kandidat putri mahkota!" Kata Duke Geraldine tidak mau dibantah lagi.
Dia meninggalkan putrinya sendirian di kamar itu. Liliana sedih dengan ucapan ayahnya, karena ucapan Duke. Liliana jadi membayangkan ke depannya, jika Max menjadi Raja dan dia menjadi Ratu. Tidak menutup kemungkinan kalau Max akan memiliki selir dan membawanya ke istana.
Raja bebas memiliki lebih dari satu istri dan itu sudah hukumnya. Sementara seorang Ratu tidak bisa menikah lagi atau bercerai dengan mudah meski dia dimadu oleh sang Raja. Itu juga sudah hukumnya.
"Maximilian.. apa yang harus aku lakukan? Belum apa-apa hubungan kita sudah seperti ini," ucap Liliana sambil memegang kalung
dilehernya. Kalung pemberian Max saat pertama kali mereka jadian.
Gadis itu menjadi linglung dalam kebingungan, mau dibawa hubungan mereka. Itu semua karena ucapan Duke dan status kekasihnya yang adalah putra mahkota.
...******...
.
.
Ketika Liliana sedang galau dikamarnya. Max juga merasakan hal serupa sama seperti kekasihnya. Dia bahkan lebih frustasi memikirkan urusan cintanya yang tidak lancar. Pria itu kini sedang duduk di atas jendela kamarnya sambil merenung sendirian.
Baru saja dia bersenang-senang dengan kekasihnya, tapi sekarang dia malah pulang dalam keadaan sedih.
"Apa dia baik-baik saja sekarang? Tadi dia ditampar oleh Duke, aku sangat cemas.. mengapa cinta tanpa restu ini begitu berat Tuhan. Mengapa disaat aku mencintai, rasanya malah seperti ini?" gumam pria itu sambil mendesah memikirkan Liliana.
Tok, tok, tok!
"Siapa?" lirik Max tajam pada pintu kamarnya.
"Ini saya Pierre.. yang mulia," jawab Pierre dari balik pintu kamar Max.
"Masuk!" ujarnya malas.
Cekret!
Pierre membuka pintu kamar putra mahkota kerajaan Istvan itu. Dia membungkukkan badannya dengan penuh hormat.
"Ada apa?" tanya Max ketus.
Pierre tercekat mendengar nada suara Max yang ketus dan dia seperti sedang tidak dalam mood yang baik.
Ada apa ini? Kata sir Eugene, bukankah yang mulia.. baru saja pergi jalan-jalan bersama nona Liliana? Apa mereka bertengkar?
"Aku tanya ada apa, kenapa kau malah bengong begitu?" tanya Max sambil turun dari jendela kamarnya, dia menatap orang kepercayaannya itu dengan sinis.
Kenapa dia tidak terlihat seperti habis berkencan? Di wajahnya seperti tertulis jangan ganggu aku!
"Pierre, apa kau kesini hanya untuk menunjukkan wajah bodohmu itu?!" Teriak Max membentak marah. Dia tampak emosional.
"Maafkan saya yang mulia, tentu saja saya kesini bukan untuk itu. Saya minta menyampaikan pesan dari Baginda raja,"
"Pesan apa?!" tanya nya membentak lagi.
__ADS_1
"Bahwa yang mulia putra mahkota diminta menemui Baginda Raja di kantornya." Jelas Pierre pada putra mahkota itu.
"Ya, aku akan kesana sekarang!" Max langsung pergi meninggalkan kamarnya.
Pierre mengikutinya dari belakang. Max sampai di depan kantor ayahnya. Disana sang Raja sedang duduk dengan pakaian tidurnya.
"Hey kau, tutup pintunya dan tinggalkan kami berdua disini! Pastikan tidak boleh ada yang masuk kemari!"Titah Raja pada Pierre.
"Hamba siap melaksanakan titah paduka.." ucap Pierre sopan.
Dia melangkah pergi dari ruangan itu setelah membungkukkan setengah badannya daya memberikan hormat pada kedua pria yang statusnya paling tinggi di kerajaan itu.
"Ada apa Ayahanda memanggil ananda?'' tanya Max formal dan sopan kepada ayahnya.
"Kemarilah Maximilian putraku," ucap Raja pada anaknya.
Dengan langkah malas, Max menghampiri sang Raja. Raja tersenyum dan meminta Max untuk mengikutinya ke sebuah tempat. Ruang bawah tanah dan rahasia.
Max terpana melihat ruangan yang selama ini dirahasiakan Raja pada semua orang. "Ruangan apa ini Ayah?"
Max melihat ke setiap sudut ruangan itu yang dipenuhi dengan senjata sihir dan juga alat sihir lainnya. Anggota keluarga kerajaan Istvan terlahir dengan memiliki sihir, terutama seorang pria. Dan Max memiliki sihir sama seperti Raja Alberto.
"Ketahuilah Maximilian, hanya kau yang tau tentang tempat ini! Hanya penerus laki-laki dari keluarga kerajaan Istvan yang diperbolehkan untuk masuk ke dalam ruangan ini." Jelas Raja pada anaknya.
"Lalu kenapa anda menunjukkan ini pada saya?"
"Karena sebentar lagi waktumu tiba untuk menjaga tempat ini," ucap Raja sambil menjentikkan jarinya. Disana ada cahaya bersinar cerah, dan ada sebuah kunci disana.
"Apa maksud ayah?"
"Kau adalah calon Raja berikutnya, sudah jelas jika aku menunjukkan tempat ini padamu dan waktumu untuk menjaga tempat ini adalah sekarang," ucap Raja sambil menyerahkan kunci sihir itu pada Max.
Max terheran-heran kenapa Raja yang belum turun tahta sudah menyerahkan tanggung jawab ruangan rahasia padanya yang masih berstatus sebagai putra mahkota. Dia menanyakan hal itu pada ayahnya.
Dan sang Raja menjawab dia hanya takut terjadi sesuatu padanya nanti, karena dirinya sudah tidak muda lagi. Kalau terjadi sesuatu padanya, Max bisa langsung mengambil alih tanggungjawab sebagai Raja di negeri itu menggantikannya.
Raja juga berpesan bahwa Max harus menjaga tahta kerajaan Istvan, jangan mudah terbawa perasaan apalagi menyerahkan hati sepenuhnya kepada seorang wanita. Karena wanita bisa melemahkan seorang Raja.
Setelah menunjukkan tempat rahasia itu, Max keluar dari kantor sang Raja. Dia memegang kunci sihir yang hanya bisa dilihat oleh keturunan keluarga kerajaan Istvan.
"Kenapa si tua Bangka itu bicara seolah-olah dia akan segera mati?" gumam Max pada dirinya sendiri.
Max menunjukkan wajah malasnya dan dengan malas dia membungkukkan badannya didepan ini tirinya. "Oh.. ya, hormat saya Baginda Ratu,"
"Sikap tidak sopan macam apa itu yang mulia putra mahkota!" kata Dayang dibelakang Ratu menegur Max.
Max langsung menggunakan sihirnya untuk menyakiti dayang itu. "Kkeukkk!!" Dayang itu memegang lehernya dan kesakitan.
"Putra mahkota! Kau tidak perlu berlebihan seperti ini!" Teriak Ratu marah karena dayangnya disentuh oleh Max.
"Kalau Ratu tidak mau hal seperti ini terjadi, harusnya Ratu mengajari dayang ini dengan baik! Aku akan jadi harus susah-susah memberikannya pelajaran," ucap Max yang masih menyakiti dayang itu. "Beraninya seorang Dayang rendahan sepertimu membentak putra mahkota!"
"AHHHh.. yang mulia Ra..tu..." Dayang itu kesakitan, sampai jatuh terduduk.
"Maximilian!"
"Haahhh.. benar-benar menyebalkan," Max menyeringai, dia menghentikan sihirnya pada dayang yang hampir saja mati tercekik itu. "Ratu, aku tegaskan padamu! Kau harus mendidik dayangmu dengan baik, atau aku yang akan mendidiknya untukmu!" Dengan sengaja Max menginjak punggung dayang itu, hingga dia berlutut didepannya.
Dayang ratu berlutut didepan putra mahkota, sama saja dengan merendahkan status Ratu didepannya. Ratu kesal sekali pada Max, dia bersumpah akan membalas semua perlakuan Max kepadanya.
"Kau berbuat seperti ini padaku? Tunggu saja, gadis malang itu yang akan mendapatkan ganjarannya dasar anak sombong!" Gerutu Ratu mendengus kesal.
Tanpa Ratu sadari, Raja melihat dan mendengar apa yang dikatakan Ratu. Matanya terlihat tajam menatap istrinya itu.
****
Keesokan harinya, surat dari istana datang ke kediaman Duke Geraldine. Surat itu adalah undangan untuk Liliana ke istana. Duke Geraldine marah karena surat itu masih saja datang ke rumahnya, padahal dia sudah mengatakan bahwa dia tidak mau putrinya menjadi putri mahkota.
"Ayah sudahlah, karena semua sudah seperti ini.. lebih baik aku datang ke istana. Tidak baik menolak undangan dari Ratu,"
"Haahhh... baiklah. Mari kita pergi bersama, sekalian Ayah bertemu dengan ratu,"
Kenapa Ratu sangat ngotot ingin Liliana datang ke istana? Dia ada motif apa?
"Ya Ayah, aku akan bersiap.." ucap Liliana sambil tersenyum.
__ADS_1
Tes putri mahkota?
Liliana dan Duke Geraldine tadinya akan berangkat bersama. Namun kstarianya melaporkan ada masalah di ibu kota, akhirnya Liliana pergi sendiri ke istana dan Duke Geraldine pergi ke ibu kota.
Didalam perjalanan menuju ke istana, Liliana dan Daisy melihat seorang pria yang sedang dirampok di jalan.
"Nona! Lihat pria itu sepertinya dia sedang di rampok!" Kata Daisy sambil menunjuk ke arah luar jendela kereta.
"Sir Nicholas! Berhenti!!" ujar Liliana yang juga panik melihat pria yang dirampok itu.
Kereta yang membawa Liliana berhenti tepat disebelah pria yang terlihat lemah itu sedang di kerumuni oleh beberapa pria bertubuh besar disana.
"Nona...biar saya saja!" Kata Sir Nicholas pada Liliana.
Nicholas membantu pria itu dari para perampok. Kemudian pria asing itu berterimakasih pada Liliana karena sudah menyelamatkannya. Dia memberikan Liliana sebuah gelang giok sebagai ucapan terimakasihnya.
Liliana berterimakasih kembali pada pria itu, tapi kemudian pria itu menghilang tanpa jejak.
"Nona ini sangat aneh.." ucap Nicholas kebingungan dengan menghilangnya pria itu begitu saja.
"Sudahlah, kita harus segera pergi ke istana!" Seru Liliana pada Nicholas.
Siapa pria yang menghilang secara misterius itu ya?
Liliana, Daisy, Nicholas dan seorang kusir kuda kembali melanjutkan perjalanan mereka ke istana. Beberapa menit kemudian mereka sampai disana.
Liliana dan Daisy masuk ke dalam istana, ruangan megah dan luas itu namun terasa begitu seram juga sepi.
"Nona Liliana!" Keira menyapa Liliana sambil tersenyum ramah.
"Hai nona Liliana!" sapa Arina sambil menghampiri Liliana.
"Hai nona Liliana," sapa Shopia malu-malu.
Liliana mengerutkan dahinya, bertanya-tanya ada apa dengan kedua nona bangsawan yang sebelumnya terlihat membencinya itu. "A-ada apa ya?"
Apa ini cara penyiksaan terbaru? Bersikap baik lalu meracuniku?
"Nona Liliana, mari kita berteman ya.." Ajak Arina pada Liliana.
"Tidak peduli siapapun yang menjadi putri mahkota, kami adalah fansmu!" kata Keira sambil senyum-senyum.
"Fans? Tunggu, Fans?" tanya Liliana tak paham.
"Iya, kami adalah penggemar nona Liliana mulai sekarang dan seterusnya."
"Itu karena nona Liliana sangat keren," Ucap Keira sambil memuji Liliana.
"Haha iya baiklah, mari kita berteman.." Liliana tampak canggung didekati oleh nona bangsawan itu.
Apakah orang seperti ku bisa mempunyai teman?
Liliana yang dulu tidak pernah mempunyai teman, kini diajak berteman. Dia sangat bahagia dan langsung menerima pertemanan itu.
Disisi lain, Liliana dan ketiga nona bangsawan itu melihat Julia sedang jalan bersama Max berdua ditaman. Entah apa yang mereka bicarakan.
Maximilian, sedang apa dia bersama dengan nona Julia?
"Nona Liliana, mari abaikan nona Julia yang sok cantik itu. Lebih baik kita pergi ke istana Ratu,"
"Benar, ratu pasti sudah menunggu kita.." ajak Arina pada Liliana yang pandangannya hanya tertuju pada Julia dan Max.
Apa yang dikatakan ayah memang benar? Tidak, kau harus percaya pada kekasihmu Liliana.
Ketika Liliana dan tiga bangsawan itu pergi ke istana Ratu, mereka melewati sebuah danau. Tiba-tiba saja seorang dayang berlari kearah Liliana dan membuat gadis itu tercebur ke danau.
BYURR!!
"Astaga! Nona Liliana!" teriak Shopia panik.
"Nona!" Teriak Arina panik melihat wanita itu masuk ke dalam danau yang lumayan dalam.
"Cepat panggilkan seseorang!" Teriak Keira pada dayang yang tadi mendorong Liliana.
"Baik, saya akan memberitahukan pada pengawal.." Ucap dayang itu sambil tersenyum menyeringai.
__ADS_1
Dia pergi dari sana meninggalkan Liliana dan tiga nona bangsawan disana dan dia tidak kembali lagi.
...****...