
Hai Readers, masih adakah yang menunggu novelku up lagi?
...🍀🍀🍀...
Aiden dan Maximillian saling bertatapan tajam, keduanya seperti akan berperang saja. Max bersikeras membawa Liliana kembali ke kerajaan Istvan, sedangkan Aiden yang ingin Liliana tetap berada di Gallahan.
Kedua pengawal dari dua kubu kerajaan itu saling mengacungkan pedang, aroma permusuhan mulai tercium diantara mereka. Padahal dua kerajaan itu baru saja memulai persahabatan, namun siapa sangka kini keduanya terlihat berseteru karena seorang wanita.
"Raja Rayden, apa kau ingin mengibarkan bendera perang diantara kita?" Max menatap tajam ke arah rival cintanya itu.
Jika harus menodongkan senjata pada Rayden dan menebar permusuhan sekalipun, Max tidak peduli asalkan dia bisa kembali membawa Liliana yang sedang mengandung anaknya kembali ke kerajaan Istvan.
"Saya tidak ingin berperang, tapi jika Raja Maximillian memaksa...maka saya akan ikut saja!" Aiden bersiap untuk menaruh genderang perang pada Max dan dia sama sekali tidak gentar.
"Hahahaha...Raja Rayden? Apa kau serius akan bersikap seperti ini padaku? Kau mau bermusuhan denganku karena kau ingin wanita milik orang lain?" Max tertawa sarkas, wajahnya terlihat kesal pada Raja kerajaan Gallahan itu.
Disisi mereka berdua, terlihat beberapa pengawal yang tampak merasakan ketegangan diantara Max dan Aiden, merasakan bahwa mereka serius ingin berperang karena Liliana.
"Wanita milik orang lain? Apa raja Istvan bercanda? Nona Liliana Eissa Geraldine, dia seorang janda dan dia bukan milik siapa-siapa!" Kata Aiden tegas.
Liliana, aku tau kau tidak mau kembali. Maka aku tidak akan membiarkan dia membawamu.
"Raja RAYDEN!" Teriak Max marah.
Max tersulut emosi, dia mengarahkan pedangnya ke leher Aiden. Kemudian seorang pengawal setia Aiden, juga mengacungkan pedang ke arahnya. Keduanya terlihat emosi, terutama Maximillian.
"Raja Istvan, turunkan senjatamu! Apa kau lupa dimana kau berada sekarang?" Aiden tampak tenang dan biasa saja, padahal senjata yang bisa membunuhnya itu siap menebas lehernya.
__ADS_1
Dia ingin merebut Liliana dariku, bagaimana bisa aku membiarkannya menginjak kepalaku seperti ini? Lily, hanya milikku! Tidak boleh ada yang merebutnya dariku, bahkan mendambakan nya juga tidak boleh!
Max mendengus kesal, dia masih keras kepala tidak mau menurunkan senjatanya. Para prajurit Gallahan juga bersiap untuk menyerangnya, jika Mad benar-benar akan menebas leher Rajanya itu.
Adrian berjalan mendekati Max, dia berbisik pada Rajanya itu. "Yang mulia, tenangkan diri anda...anda harus ingat dimana kita saat ini. Tindakan anda bisa membuat permusuhan dan secara tidak langsung mengibarkan bendera perang pada Kerajaan Gallahan."
Setelah apa yang diucapkan Adrian, nyatanya tidak berhasil membuat emosi Max mereda. Selain Adrian, Duke Norton juga ikut bicara untuk menenangkan Max. "Yang mulia, apa yang dikatakan oleh sir Adrian itu benar. Jika yang mulia terus bersikap seperti ini...bagaimana dengan nasib persahabatan dua kerajaan yang baru saja terjalin ini?"
Semoga saja Julia berhasil dengan rencananya, semoga saja wanita penyebab kekacauan ini sudah mati. Duke Norton membatin dalam hatinya, entah siapa yang dimaksud dengan wanita ini.
Max terlihat seperti sedang berpikir, dia masih mengarahkan pedang itu pada Aiden. Kemudian datanglah ibu suri dan dayangnya. Dia terkejut melihat apa yang terjadi didepan matanya, kedua raja bersitegang dan sama-sama tidak mau mengalah.
"HENTIKAN semua ini!" Teriak ibu suri sambil melihat ke arah dua Raja itu. "Kalian benar-benar seperti anak kecil," ucap ibu suri marah dan kecewa pada kedua Raja itu terutama anaknya.
Semua orang disana menatap ke arah ibu suri. Akhirnya Max menurunkan pedangnya, dia mengepalkan tangannya dengan kesal.
Bagaimana bisa mereka berdua yang seorang raja, jadi seperti ini karena seorang wanita?
"Maafkan saya yang mulia ibu suri, ini karena sikap keras kepala putra anda...Raja Gallahan." Kata Max sambil menatap ke arah Aiden.
"Apa? Kau menyalahkanku?" Aiden meninggikan suaranya.
Aiden dan Max masih bersitegang sama-sama tak mau kalah. Akhirnya ibu suri mencoba bicara dengan kedua pria besar dengan posisi Raja itu.
Ketika mereka sedang berbicara, mereka tidak menyadari bahwa ada bahaya yang terjadi pada Liliana di rumahnya.
*****
__ADS_1
Di rumah Liliana.
Wanita hamil itu mengambil cangkir gelas yang berisi teh hangat yang selalu dia minum. Tak lupa dia berterimakasih pada pelayannya Doris yang selalu menemaninya selama kehamilannya.
"Teh ini sepertinya enak, aku coba ya?" Liliana tersenyum, dia meneguk teh itu pelan-pelan.
Slurp
"Rasa teh ini seperti berbeda dari sebelumnya, Doris kau tambahkan apa ke dalamnya?" Tanya Liliana setelah meneguk sedikit teh panas itu.
Doris tersenyum saat melihat Liliana meminumnya. "Saya menambahkan racun ke dalamnya,"
Bagus Liliana dalam beberapa detik kau akan tahu efeknya.
"Hahaha, jangan bercanda seperti itu. Ini tidak lucu, Doris." ucap Liliana sambil tertawa kecil.
"Saya tidak bercanda nona," ucap Doris sambil tersenyum dengan wajah tanpa dosa.
Tak lama kemudian, tiba-tiba saja Liliana merasakan sesuatu melilit perutnya. Wanita itu ambruk jatuh ke lantai, gelasnya juga jatuh dan pecah.
"Doris...kenapa kau...apa kau benar-benar menaruh racun?" Liliana memegang perutnya sambil meringis kesakitan. "Aaahhhhh...."
Ya Tuhan, anakku...kumohon selamatkan anakku. Liliana merasakan ada sesuatu yang keluar dari tubuhnya.
"Kan sudah kubilang, aku sudah memasukkan racun ke dalamnya." ucap Doris sambil tersenyum. Wajah Doris tiba-tiba saja berubah menjadi sosok yang lain, setelah cahaya merah menyelimuti tubuhnya.
Kedua mata Liliana melebar menatap sosok itu. "Kau..."
__ADS_1
...*****...