
Pov Liliana
❤️❤️❤️
Entah bagaimana ceritanya, aku bisa berciuman dengan pria asing yang bahkan tidak kutahu namanya ini. Entah kenapa juga aku begitu menikmatinya, menikmati setiap sentuhan yang dia berikan kepadaku. Aku tidak menolaknya! Ini sangat aneh, jika perasaanku normal padanya. Harusnya aku menolaknya bahkan memukul atau membunuhnya yang telah berani menyentuh tubuhku. Lalu kenapa tidak aku lakukan?
Oh tuhan! Perasaan apa ini? Apa aku jatuh cinta pada penyelamatku? Tidak mungkin, kan? Tidak mungkin secepat ini.
Pria yang tidak kutahu namanya ini, berhasil menyeretku ke ranjang dengan posisi kami yang masih berciuman. Berpagutan, lidah kami saling membelit di dalam sana.
Sesekali aku mendesah, merasakan ciuman intens yang makin lama makin menuntut itu. Entah kenapa aku merasa dia seperti sedang merindukanku? Dia seperti tidak mau kehilanganku? Apa aku salah? Mengapa aku merasa begini?
Kami berdua sudah berada diatas ranjang dalam kamar yang sama. Aku berada tepat dibawah tubuhnya. Dia melepas ciuman kami lalu dia menatapku dengan nanar, bukan tatapan penuh n*fsu seperti para pria di luar sana yang menggangguku.
Jika aku tidak salah lihat, pria ini menatapku dengan penuh kerinduan dimatanya. Ada luka yang tak bisa dijelaskan oleh kata-kata. Melihat wajahnya aku menjadi tak mengerti, kenapa aku merasa hatiku jadi aneh dan tidak karuan. Tatapannya itu...sungguh membuatku sedih.
Setelah cukup lama kami bertatapan, pria tampan yang masih mengenakan topeng yang menutupi hidung dan matanya itu. Meraih tangan kananku, meletakkan tangannya di pipinya yang terasa dingin. "Tuan--"
Kurasakan basah di pipinya itu, apa yang basah? Apa ini air mata? Apa dia menangis?
"Tuan...apa kau... hmph---"
Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, bibirnya kembali melahap bibirku dengan rakus. Dia masih belum melepas topengnya, padahal aku penasaran sosok wajah dibalik topeng itu. Pasti dia sangat tampan seperti matanya yang berwarna hitam kelam itu.
Kurasakan deru nafas kami semakin dalam, ciuman itu semakin membuat tubuhku membuncah dengan rasa panas. Pria itu mencumbuku dengan lembut, tangannya mulai bergerilya menyentuh bagian depan tubuhku.
Aneh! Kenapa aku tidak menghentikannya? Seolah aku rindu disentuh seperti ini. Padahal aku masih perawan dan belum tersentuh siapapun juga.
"Ughh.... ahhh..." Aku menggelinjang kegelian, begitu dia meremass salah satu gunung kembar kebanggaanku.
Ah! Sejak kapan bagian atas tubuhku terbuka begini? Apa dia yang membuka gaunku itu?
__ADS_1
"Lily..."
"Tu-tuan, kau memanggil namaku? Apa tuan tau nama ku?" Sontak saja aku terkejut karena dia memanggilku dengan akrab, suaranya lirih menggumamkan namaku.
Pertanyaanku bukannya di jawab, dia malah kembali melumatt bibirku dengan intens. Dengan tangannya yang mulai menyingkap rok merah milikku. Tangan besarnya itu merayap menuju ke pahaku, sungguh geli rasanya.
"Ugghh....umm..." racauku ditengah-tengah permainan tangannya yang telah berhasil menjinakkan tubuhku menjadi panas dan liar.
Dia melepas ciumannya lagi, tangannya kini membelai rambut panjangku dengan lembut. Aku mendengar suara deru nafasnya yang sama denganku. Dadanya naik turun bersama dengan deru nafasku.
Sungguh aku tersihir dengan tatapan matanya itu, entah apa yang merasukiku. Kini akulah menyerangnya lebih dulu. Bodoh amat aku mau disebut wanita murahan ataupun pelacur, yang jelas aku hanya mengikuti naluriku saja.
Ku kecup bibirnya sekilas, kulihat tatapannya gemetar padaku dan membuatku bertanya-tanya mengapa dia seperti ini.
"Tuan..."
Beberapa detik kemudian aku kecewa dan sedih karena pria itu tiba-tiba saja beranjak bangun dari ranjang yang kami tempati.
"Maafkan aku, tidak seharusnya aku--" Pria bertopeng itu merapikan kembali gaunku dengan telaten, seolah dia bertanggungjawab atas apa yang baru saja dia lakukan.
Namun rasanya aku kecewa, bukan pertanggungjawaban ini yang aku inginkan. Tapi, tanggungjawab karena sudah membuat tubuhku panas.
"Hey, apa kau marah padaku? Aku minta maaf, aku tidak bermaksud memperlakukanmu seperti ini, aku--"
"Saya paham, pasti anda mengira saya adalah wanita yang anda cintai. Lily, nama wanita itu Lily kan?" Aku tersenyum getir, entah kenapa ada rasa sakit yang tak bisa dijelaskan di hatimu. Rasanya sesak sekali dadaku ini.
Ya, dia pasti berhenti melakukannya karena dia teringat dengan wanita yang bernama Lily itu. Wanita yang nama panggilannya mirip dengan nama panggilanku.
Namun, reaksi pria itu sungguh membuatku bingung. Dia mengerutkan keningnya, menatap ke arahku sambil menangis. Sebenarnya kenapa dia menangis?
"Aku akan tidur di sofa, kau tidurlah di ranjang ini. Sekali lagi aku minta maaf." Ucapnya dingin.
__ADS_1
Sekali lagi aku merasa seperti dicampakkan, sakit hati diriku ini dengan sikapnya yang sebentar sebentar baik dan sebentar-sebentar dingin seperti orang asing. Sebenarnya apa salahku hingga aku diperlakukan seperti ini? Aku tak paham! Terlebih lagi setelah dia hampir saja mencumbuku, lalu berhenti ditengah jalan.
Awas saja! Aku tidak akan luluh lagi padamu, aku akan mendorongmu dan menendang burungku nanti kalau kau berani mendekatiku dan menyerangku seperti barusan. Pikirku dalam hati merasa jengkel.
Aku tak menjawab perkataannya, lagipula itu bukan pertanyaan. Aku memilih merebahkan tubuhku dibalik selimut. Berusaha tak peduli apa yang dilakukan pria itu.
"Jangan langsung tidur, kau harus ganti baju dulu. Kata pemilik penginapan, ada baju perempuan di lemari...kau bisa pakai bajunya."
Jangan salah paham Liliana, dia bukannya perhatian padamu. Dia ini pria aneh yang memiliki kepribadian ganda. Pikirku dalam hati. Sama sekali aku tidak menanggapinya, aku hanya tiduran di ranjang.
Lalu dia berkata lagi padaku. "Kau bisa masuk angin kalau kau berpakaian seperti itu." Ucapnya lembut padaku.
Lagi-lagi aku mengabaikannya. Aku memilih menutup mataku saja. Aku tak mendengar suaranya lagi selama beberapa saat, hingga aku merasakan ada sesuatu yang jatuh ke tubuhku. Seperti sebuah kain.
"Pakailah." ucapnya padaku lagi.
Hah? Aku kira dia sudah tidur, tapi ternyata dia mengambilkan baju untukku. Tak terasa waktu pun berlalu, setelah aku melihat dia sudah tidur. Aku segera mengambil baju yang dia pilihan untukku, lalu aku berganti baju di kamar mandi.
Baju pilihannya terlihat sederhana dan tertutup. Setelah ganti baju, langkah kakiku mengarah pada pria yang sedang tidur itu. Dia masih mengenakkan topengnya walau sedang tidur.
Tanpa sadar aku tersenyum saat memandanginya, ada rasa ingin menyentuhnya. Akan tetapi aku terkejut saat melihat ada sebuah cahaya hitam menyala dibelakang lehernya.
"Arrrgghhh.... arrrgghhh..."Pria itu terbangun dan mengerang seperti sedang kesakitan.
"Tu-tuan, apa kau baik-baik saja? Apa yang terjadi denganmu tuan? Apa kau..."
Aku panik melihatnya kesakitan begitu, apa yang sebenarnya terjadi padanya.
"Jangan dekati aku!" Teriak pria itu kepadaku sambil memegangi lehernya.
...****...
__ADS_1