Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 26.Jangan lebih dari teman


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


"Oh jadi namamu Eugene ya?" Lily percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan Max.


"Iya, namaku Eugene..hehe," pria itu nyengir dengan wajah tanpa dosa setelah meminjam nama ksatria pengawalnya.


"Nona, maaf sepertinya anda salah paham.. sebenarnya beliau adalah yang mu-"


BUK!


"Aduh!" Pekik Eugene kesakitan ketika tangan Max memukul punggungnya dengan keras.


Max mendekati Eugene dan Adrian, kemudian membisikkan sesuatu pada mereka. Liliana hanya bengong melihatnya dengan bingung, apa yang dibisikkan Max pada kedua pria yang bahkan tidak tahu siapa.


Eugene dan Adrian menganggukkan kepala mereka dengan patuh. "Kalau sudah tidak ada yang dibicarakan lagi, aku harus pergi tuan Eugene," ucap Lily cuek pada pria itu.


"Tu-tunggu! Kenapa kau buru-buru begitu? Bukankah kau harus berkenalan dulu dengan mereka berdua?" tatapan Max tertuju pada Eugene dan Adrian yang berdiri tegap.


"Kenapa aku harus?" Lily mengernyitkan dahi.


"Tentu saja kau harus tau siapa yang akan sering bertemu denganmu, sekaligus orang yang akan mengawalmu," Max tersenyum lebar, dia sudah berencana untuk masuk ke dalam rencana balas dendam Liliana.


Liliana terpana mendengar ucapan Max, apa maksud dari pria itu? Max menjelaskan secara singkat bahwa Adrian akan menjadi pengawalnya. Gadis itu marah dan menolaknya, dia tidak mau Max ikut campur dalam urusannya karena dia bisa balas dendam sendiri.


Pembicaraan Max dan Liliana menjadi perdebatan, akhirnya Liliana meminta bicara dengan Max berdua saja tanpa ada siapapun selain mereka. Sementara Eugene, Adrian, Blackey dan Almoore berada didalam rumah.


"Kalau kau tidak mau dikawal oleh Adrian, kau bisa memilih ingin dikawal oleh siapa. Aku akan-"


"Bukan begitu maksudku.. aku tidak ingin dikawal oleh siapapun!" Liliana memangkas ucapan Max yang belum selesai itu.


"Kau ini punya kebiasaan memotong ucapan orang ya?" Max mulai kesal dengan semua penolakan Lily padanya. Jika itu wanita lain, mungkin Max sudah menghukumnya karena sudah bertindak tidak sopan terhadap anggota keluarga kerajaan.


"Eugene, aku tidak butuh bantuanmu. Aku bisa menyelesaikan urusanku sendiri, aku bisa berdiri sendiri dan melindungi diriku sendiri, aku mohon jangan melewati batasan hanya karena kau tau rahasiaku!"


"Kalau kau tidak melibatkan ku, aku akan memberitahu pada yang mulia Duke kalau kau-"


"Baiklah, lakukan apapun yang kau mau! Kau ingin salah satu dari mereka mengawal ku kan? Baiklah aku setuju, tapi..."

__ADS_1


"Tapi apa?"


"Apapun yang aku lakukan, orang yang mengawal ku tidak boleh bertindak tanpa seizinku!" Lily menunjukkan jarinya ke wajah Max dengan tegas.


"Baiklah, dia pengawal mu...maka perlakukan dia sesuka hatimu," Max tersenyum bahagia karena dia berhasil meluluhkan sedikit keras kepala Lily dan masuk ke dalam wilayah amannya.


Tidak apa, setidaknya aku bisa mengawasinya dari kejauhan disaat aku sibuk. Adrian bisa melaporkan setiap kegiatannya padaku. Aku hanya ingin melindunginya dan aku ingin tau luka apa yang dia sembunyikan didalam hatinya. Aku akan tau semuanya nanti.


"Eugene.. sebenarnya apa tujuanmu melakukan ini? Kenapa kau mendekati ku dan bersikap seolah peduli padaku?" tanya Lily dengan suara yang lemah.


Itu karena aku tertarik padamu, tapi aku tidak bisa mengatakan itu sekarang. Max membatin.


"Aku ingin berteman denganmu,"


"Teman?"


"Ya, teman...apa boleh?" tanya Max sambil mengulurkan tangannya untuk berjabatan dengan Lily.


Teman? Apa aku bisa mempercayai seorang teman? Aku yang sebelumnya bahkan tak punya teman, aku bahkan dikhianati oleh keluargaku sendiri.. bisakah aku berteman dengan seseorang?


Tidak ada salahnya mencoba percaya pada seseorang.


"Boleh.. asal jangan lebih dari teman," jawab Lily sambil mengulurkan tangannya dan berjabatan tangan dengan Max.


Putra mahkota kerajaan Istvan itu terperangah mendengar kata-kata perih yang meluncur dari bibir Liliana. Dia menarik tangan Liliana, kemudian menarik gadis itu ke dalam pelukannya.


Almoore dan Adrian bertepuk tangan dari dalam rumah melihat pemandangan itu. Sementara Eugene dan Blackey hanya tersenyum. "Wow.. lihat itu Sir Adrian!" Almoore heboh melihat adegan berpelukan itu.


"Sudah saya duga, kemungkinan besar nona itu akan menjadi putri mahkota!" Adrian sangat yakin bahwa kelak Liliana akan menjadi putri mahkota. Karena Liliana adalah satu-satunya wanita yang mendapatkan perlakuan spesial dari Maximilian.


"Jangan bilang nona itu, tapi nona Liliana.. namanya nona Liliana," Eugene memberitahu kedua orang itu nama wanita yang kemungkinan besar sudah mencuri hati putra mahkota kerajaan Istvan.


Almoore, Adrian dan Blackey hanya mengatakan Oooh.. dari mulut mereka saat mendengar nama Liliana.


Apa setelah ini anda tidak akan Playboy lagi yang mulia?


GREP!

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan? Eugene?" tanya Lily terkejut karena tubuhnya berada didalam pelukan dada bidang itu. Tangan kekar Max melingkar erat di punggungnya.


"Jangan ragu untuk meminta bantuan seseorang, kau tidak hidup sendirian. Masih banyak yang mencintaimu di dunia ini, Tuhan memberikanmu kehidupan...itu pasti ada alasannya. Bukan hanya untuk balas dendam," ucap Max setengah berbisik pada gadis itu.


Liliana sedikit terusik hatinya mendengar ucapan Max, yang intinya mengatakan bahwa hidup bukan untuk balas dendam. Kemudian Lily, menendang kaki Max dengan keras, hingga pelukan itu terlepas.


"Aw! Hey sakit tahu! Barusan suasana diantara kita..." Max memegang kaki kirinya yang terkena tendangan keras dari Liliana.


Sepertinya dia masih belum buka hati.


"Hentikan itu! Aku tau tipe pria pecinta wanita sepertimu, berusaha merayuku. Tapi kau tidak akan berhasil," Lily kesal dengan sikap Max yang sembarangan memeluknya. Liliana meyakinkan hatinya bahwa dia tidak akan pernah jatuh cinta dan mempercayai seseorang begitu dalam.


Setelah itu Lily diantar pulang oleh Adrian atas perintah Max. Max memerintahkan Adrian untuk selalu menjaga Liliana dan dia wajib melaporkan setiap kegiatan gadis itu padanya.


Liliana dan Adrian dalam perjalanan kembali ke mansion Geraldine dengan kereta kuda. "Tuan, maafkan saya karena tuan harus berada didalam situasi seperti ini," kata Lily merasa tak enak karena Adrian harus mengawalnya.


"Tidak apa-apa nona, ini sudah menjadi tugas saya. Saya harus mematuhi perintah putra mahkota," Adrian tersenyum ramah.


"Perintah putra mahkota?" Liliana terperanjat mendengarnya.


"Siapa yang bilang putra mahkota? Saya bilang kstaria tertinggi pengawal putra mahkota hahahaha,"


Mampus aku, bisa dipenggal aku nanti.. kalau rahasia yang mulia sampai terbongkar karena mulutku ini.


Liliana menatap pria itu dengan tajam. Tiba-tiba saja kereta yang membawa mereka berhenti ditengah jalan dan ada beberapa orang yang membuka pintu kereta itu tanpa izin. Adrian langsung mengacungkan pedangnya pada orang-orang itu, "Lancang! Beraninya kalian bersikap seperti ini!"


"Sir Adrian, simpan kembali pedangmu. Aku kenal mereka," ujar Lily pada Adrian.


"Nona kenal mereka?" Adrian heran.


Para ksatria itu adalah kstaria Duke Geraldine, ayahnya. Disana juga ada Duke Geraldine, dia langsung turun dari kuda kemudian menghampiri Liliana dengan cemas. "Nak, apa kau baik-baik saja?" Duke Geraldine memeluk Liliana dengan penuh kasih sayang layaknya anaknya sendiri.


Lily jadi teringat kata-kata Max sebelumnya bahwa masih banyak yang mencintai dia di dunia ini. Mungkin Duke Geraldine adalah salah satunya.


...---****--...


Jangan bosan bosan untuk komen ya readers ku tersayang 😍 biar author tambah semangat up nya ❤️❤️❤️🥰

__ADS_1


__ADS_2