Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 45. Selamat untukmu Adara


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Duke Geraldine tertegun, dia terpukul mentalnya oleh rasa malu dan rasa bersalah yang mencekik dirinya. Air mata yang tertahan, kini menetes secara alami. Mengingat semua dosa-dosanya pada Adaire, putri yang selalu dia abaikan semasa dia masih hidup.


Kini penyesalan itu sudah terlambat, kepada siapa dirinya menyesal? Kenapa siapa dirinya akan meminta maaf? Bahkan mayat putrinya saja belum ditemukan sampai sekarang.


Hal yang menyakitkan lain juga datang dari putri bungsunya, Adara. Dia telah terbukti mencelakai Adaire semasa hidupnya, bahkan membuat Adaire bertubuh gemuk secara permanen. Kakinya juga memiliki luka yang membekas dan tidak akan pernah hilang seumur hidupnya. Duke Geraldine mengetahui banyak fakta bahwa anaknya selama ini ditindas oleh bangsawan lain dan tidak ada yang membelanya kecuali Daisy.


Anak-anak yang selalu terlihat rukun dan baik-baik saja di matanya itu ternyata salah satunya menyimpan kebencian dan rasa iri. Dan seperti apa yang dikatakan Adara, ini bukan kesalahannya saja. Tapi kesalahan seorang ayah yang pilih kasih dan mengabaikan putrinya.


"Taukah kau ayah? Mengapa kak Adaire selalu menjauh darimu? Biar aku katakan satu hal lagi yang tidak kau ketahui. Kak Adaire selalu menjauh darimu, menjaga jarak darimu. Itu bukan karena dia membencimu, tapi dia berfikir kalau kau membenci dirinya!" Seru Adara membeberkan semua perasaan Adaire yang pernah dikatakan kakaknya itu kepadanya. "Dan akulah yang sudah membuat kak Adaire berfikir seperti itu. Akulah orangnya ayah, aku!"


"Kenapa kau melakukan itu Adara?" tanya Duke Geraldine emosional.


"Ayah tanya kenapa? Tentu itu karena aku ingin ayah hanya untukku saja! Putri ayah hanya aku saja, Adara yang cantik dan baik hati. Bukan si gemuk yang jelek dan memiliki sikap tidak percaya diri itu!"


"ADARA!!!" Pria paruh baya itu berteriak penuh kemarahan pada Adara yang berada di sel penjara istana. "Kau benar-benar keterlaluan!


"Hahaha... ayah, ayah harus membebaskan aku. Karena akulah putri ayah satu-satunya dan aku pewaris gelar ayah nantinya, ayah tidak punya pilihan lain." Adara tertawa sinis.


"Kenapa aku memiliki anak seperti dirimu?" tanya Duke Geraldine kecewa.


"Aku juga tidak minta mempunyai ayah seperti dirimu. Ayah yang bersalah karena sudah membuatku terlahir dari seorang pelayan pelacur rendahan!" Adara menangis menatap Duke Geraldine yang membelakanginya.


"Adara...nikmati waktumu disini dengan baik. Biarlah hukum istana yang bertindak." Ucap Duke Geraldine tegas.


Aku sayang padamu Adara, aku juga sayang pada kakakmu, Adaire. Aku sayang kalian berdua.. tapi kenapa semua jadi seperti ini? Aku tidak membesarkan Adara dengan baik, aku tidak bisa melindungi Adaire dengan baik.


"Haha..bahkan sampai akhir pun ayah tidak mencintaiku.. ayah hanya mencintai si gemuk bertompel itu!" Adara menangis, dia kecewa karena ayahnya menolak membantu dirinya bebas dari penjara.


"Adara! Jangan menghina kakakmu lagi, cukup!" Duke Geraldine pergi dari penjara sambil menangis. Sebenarnya dia tidak mau kalau Adara di penjara dan mendapatkan hukuman berat. Tapi Adara harus mendapatkan hukuman atas perbuatannya, percobaan pembunuhan, menyebarkan berita palsu, mencelakai Adaire dan banyak lagi kejahatan yang dia lakukan.


Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Adaire, jika kau ada disini.. apa yang akan kau lakukan pada Adara? Apa kau akan memaafkannya?


Namun kejahatan terbesarnya membunuh Adaire, belum diketahui sampai sekarang.

__ADS_1


Saat Duke Geraldine baru beberapa langkah dari sana. Liliana dan Arsen berada disalah satu anak tangga. Terlihat mata gadis itu berkaca-kaca. "Sa-salam yang mulia Duke.." sapa Liliana dengan suara gemetar.


"Salam ayah," ucap Arsen memasang tampang sedih.


Ya Tuhan, aku tidak bisa menahan air mata ini. Bagaimana bisa aku bertemu dengan Adara? Aku harus memberikannya selamat.


"Kau sudah sadar nak?" tanya Duke Geraldine dengan tangan menyeka air mata diwajahnya, dia melihat Liliana dengan lega.


"Iya, saya sudah sadar yang mulia," jawab Liliana sambil tersenyum tipis.


Ayah, apa ayah menangis karena menyesal telah mengabaikan aku? Apa ayah sayang aku?. Liliana dan Arsen tak sengaja mendengarkan obrolan Duke Geraldine dan Adara di penjara.


"Sebaiknya kau beristirahat dulu, apa kau mau bertemu dengan Adara?" tanya Duke Geraldine cemas.


Adaire anakku, apa ayah boleh bersikap baik pada sahabatmu ini?


"Saya sudah baik-baik saja. Saya ingin bertemu dengan nona Adara dan menanyakan beberapa hal padanya," ucap Liliana menjelaskan dengan singkat.


"Baiklah kalau begitu, tapi jangan lama-lama. Kau kan masih sakit dan harus banyak beristirahat," jawab Duke Geraldine pada Liliana. Kemudian dia menatap Arsen dengan tajam. "Arsen, kau ikut aku! Ada yang ingin aku bicarakan padamu."


Deg!


Kenapa ayah menatapku begitu?


"Baik ayah," jawab Arsen patuh.


Duke Geraldine dan Arsen pergi dari sana. Sementara itu Liliana berjalan menuju ke penjara bawah tanah yang berada di istana. Penjara yang tampak menyeramkan, lebih seram dan dingin dari penjara di kediaman Geraldine.


"Liliana, jangan terlihat lemah!" gadis itu menyeka air matanya, mempertahankan raut wajah datar dan tegarnya. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan Adara.


Dia melihat Adara sedang duduk sambil menangis, penampilan gadis berambut pirang itu terlihat acak-acakan.


"Sialan! Bahkan ketika kau sudah mati pun, kau masih membuatku menderita!" Gerutu Adara yang sama sekali tidak menyesali perbuatannya pada Adaire.


"Ckckck, aku pikir.. aku akan mendengar penyesalan atau permintaan maaf dari seorang adik untuk kakaknya yang telah dia celakai habis-habisan. Namun tampaknya sama sekali kau tidak menyesal telah membuat kakakmu menderita," Liliana menatap Adara dengan sinis. Dia tersenyum menyeringai.

__ADS_1


"Mau apa kau kesini? Kau masih terluka, lebih baik kau istirahat saja dengan baik!" Adara kembali berdiri tegap, dia memiliki ego tinggi dan tidak mau terlihat lemah didepan musuhnya.


"Aku kemari untuk memberikan selamat padamu. Selamat ya Adara..karena kau dipenjara," Liliana tersenyum puas melihat Adara berada di dalam penjara.


Adara menatap tajam ke arah Liliana, "Hah! Sebenarnya ada dendam apa kau padaku, sampai kau terus-terus menggangguku? Apa salahku kepadamu sehingga kau datang ke dalam hidupku dan menghancurkan semuanya?" tanya Adara dengan wajah murka.


"Kan aku sudah bilang sejak awal, kalau aku akan merebut semua milikmu dan kebahagiaan mu," Liliana menyilangkan tangannya di dada dengan gaya angkuh.


"Tapi kenapa? Aku rasa kita tidak pernah memiliki dendam sebelumnya, lalu kenapa kau membenciku?" tanya Adara.


Liliana berjalan mendekat ke arah Adara, dia berbisik pada gadis itu. "Adara.. mau kuberi tahu satu hal, mengapa aku melakukan semua ini dan untuk apa?"


"Ke-kenapa?" tanya Adara dengan suara yang gemetar.


"Percayakah kau, bahwa Adaire masih hidup?"tanya Liliana dengan seringai diwajahnya.


"A-Apa maksudmu?" tanya Adara sambil memegang gaunnya dengan gemas. Dia juga mengigit bibirnya.


"Alasan mayatnya belum ditemukan, itu karena dia masih hidup." Liliana menjawabnya sambil menakuti Adara.


Deg!


Adara semakin ketakutan mendengarnya, "Kau.. apa yang kau bicarakan soal kakakku?"


Liliana tersenyum sinis, dia ingin memancing rasa penasaran Adara terhadap sosok Adaire. "Apa kabar adikku, my sweetie Adara?"


Deg


Adara tercengang, dia langsung terjatuh lemas mendengar Liliana mengucapkan kata-kata itu kepadanya.


"Kakak..." gumam Adara tak percaya, wajahnya terlihat syok.


BRUGH!


"Senang bertemu lagi denganmu, my sweetie Adara." Liliana tersenyum, dia melihat Adara jatuh berlutut dihadapannya.

__ADS_1


...----****----...


Hai Readers! Jangan bosan untuk komen dan like ya, kasih gift, koin atau vote juga boleh 🥰🥰❤️ biar author rajin up nya hihi


__ADS_2