
...*****...
Deg!
Langkah Max terhenti disana.
"Liliana.." Max tercekat dengan sosok wanita yang berada dihadapannya itu.
"Apa kau sudah makan? Apa kau sudah tidur? Kenapa kau begitu kurus?" tanya Liliana sambil memandang Max dengan cemas.
"Bagaimana bisa aku makan dan tidur? Kau saja tidak melakukannya," jawab Max dengan matanya yang berkaca-kaca. "Lili apa kau benar-benar sudah bangun?"
"Memangnya aku kenapa? Aku baik-baik saja dan aku masih ada disini..." Liliana tersenyum. Tubuhnya dikelilingi cahaya putih. Dia menghampiri Max, kedua tangannya membelai pipi pria itu dengan lembut.
"Ini bukan mimpi kan? Kau..." Max menangis.
"Kalau kau terus menyiksa dirimu seperti ini, aku tidak mau kembali. Aku tidak akan kembali.." ucap Liliana sambil tersenyum sedih dengan berurai air mata.
"Tidak! Kau harus kembali!"
"Aku akan kembali, tapi itu semua tergantung kelakuanmu. Kalau kau berlaku baik dan tidak menyiksa dirimu lagi, aku akan kembali padamu. Apa kau paham?" Liliana tersenyum lembut sambil menatap Max.
"Aku...aku akan melakukannya. Aku janji.."
"Baiklah kalau begitu, senang mendengarnya. Walaupun ada atau tidak ada aku, kau harus tetap hidup dengan baik," ucap Liliana sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Liliana menghilang dari pandangan Max, "Tu-tunggu! Lily! Jangan pergi!" Teriak Max sambil mencari-cari kemana bayangan itu menghilang.
Dia jatuh terduduk di lantai lorong itu sambil memegang kepalanya. Pierre yang sedang berada dibelakangnya langsung menghampirinya dengan cemas. "Yang mulia, apa anda baik-baik saja?" Tanya Pierre pada Max yang jatuh terduduk dilantai.
"Lily.. Lily... barusan dia disini Pierre. Kemana perginya dia?" Max terlihat linglung dan bingung.
"Yang mulia! Sebaiknya anda beristirahat dulu," Pierre memegang tangan Max dan menyarankan pria itu untuk beristirahat.
"Lepaskan aku! Katakan saja padaku dimana Liliana, dimana dia?" Tanya Max yang masih memegang kepalanya.
Pierre menjawabnya, "Nona Liliana masih berada di ruangan itu, kenapa yang mulia menanyakannya?"
Max langsung berdiri dengan lemas, tidak istirahat dan tidak makan dalam dua hari membuat tubuhnya lemas. Dia berjalan dengan langkah gontai ke kamar tempat Liliana berada, disana ada Daisy, Laura dan Annie yang duduk tak jauh dari tempat Liliana terbaring.
Daisy sedang membersihkan tangan Liliana dengan handuk basah. Dia langsung berhenti ketika melihat sang putra mahkota berada disana.
Max termenung, dia menatap Liliana dengan sedih. "Sial! Ternyata itu cuma mimpi, cuma mimpi.." gumam Max kecewa. Bahwa Liliana yang baru saja dia lihat hanyalah bayangannya saja, bukan kenyataan.
Pria itu mendesah penuh kekecewaan. Faktanya Liliana masih terbaring tidak sadarkan diri. "Kumohon...cepat kembalilah.. Lily," gumam Max sambil menangis menatap Liliana.
Ini pertama kalinya aku melihat yang mulia menangis. Yang mulia yang selalu bersikap dingin, marah-marah dan berwajah datar kini menangis sedih didepan seorang wanita. Ini bukti bahwa yang mulia memiliki hati.
Pierre, Laura dan kedua pelayan yang ada didalam ruangan itu ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Max.
Nona Liliana, cepatlah sadar. Apa kau tidak lihat kalau kakakku sangat hancur? Kumohon
__ADS_1
Laura menatap kakaknya dengan kasihan.
Tak lama kemudian, Max menyeka air matanya. Dia sadar bahwa kesedihan tidak akan membawa Liliana kembali. "Pierre!"
"Ya, yang mulia?" sahut Pierre.
"Apa sudah ada kabar tentang pendeta agung?"
Pierre menggelengkan kepalanya, "Belum ada yang mulia," ucap Pierre.
"Haahhh..."
Ini hari ketiga, jika Lili tidak bangun sampai malam nanti. Maka dia...tidak, dia pasti akan sadar.
Baru saja dibicarakan, Adrian datang ke ruangan itu dengan tergesa-gesa. Dia memberitahukan bahwa ada kabar dari pendeta agung.
Semua orang yang ada disana sangat bahagia saat mendengar kabar baik itu. Apalagi Max yang langsung mengucap syukur berkali-kali, senyuman tipis mulai terlihat diwajahnya.
"Syukurlah nona.. nona bisa diselamatkan.."Daisy menatap Liliana dengan penuh kelegaan.
"Syukurlah.. nona Liliana.." Laura juga merasakan kelegaan yang sama dengan Daisy.
Pendeta agung itu sendiri sedang dijemput langsung oleh Duke Geraldine. Mereka dalam perjalanan menuju ke istana kerajaan Istvan.
...----****---...
__ADS_1
Hai Readers terimakasih komen dan Like kalian ya😍😍 author mau lanjut satu bab lagi malaman kalau komennya banyak.🤭