
"Yang mulia? Apa anda benar-benar yakin bahwa saya harus membunuhnya?"
"Benar, bunuh saja. Dia tidak boleh jadi benalu dalam kehidupan putriku, dia akan menikah dengan calon raja. Tidak boleh ada sampah sedikitpun yang menghalangi jalannya!" kata Ratu tegas.
"Baik yang mulia, saya akan bergabung dengan pasukan kerajaan untuk pergi ke wilayah Utara. Saya akan mencoba cari waktu yang tepat agar bisa membunuhnya." Jelas Kyle pada Ratu.
"Bagus, sekarang pergilah! Jangan sampai kau ketahuan datang kemari!" Titah Ratu sambil kembali duduk di sofa nya.
Kyle pergi meninggalkan istana dingin dan kembali ke istana utama diam-diam. Setelah Kyle pergi, Ratu tampak resah dia bingung harus bagaimana jika Laura benar-benar hamil anak dari Eugene, kstaria yang berasal dari rakyat jelata dan tidak pantas untuk anaknya.
"Margaret! Pergi dapatkan obat penggugur kandungan," titah Ratu pada pelayan setianya itu.
"Yang mulia, anda bicara apa?" Margaret terbelalak mendengar ucapan Ratu.
Kenapa obat penggugur kandungan? Apa putri Laura sedang hamil?
"Lakukan saja apa yang ku perintahkan! Cari obat penggugur kandungan diam-diam..jangan sampai ada orang yang tau!" Ujar Ratu sambil meremas tangannya emosi.
"Baik yang mulia," jawab Margaret patuh.
Bayi itu harus musnah bersama dengan ayahnya. Mereka hanyalah noda dan sampah untuk masa depan putriku yang cerah!
...🍀🍀🍀...
Di ruang kerja putra mahkota, Liliana datang kesana untuk mengajak suaminya makan bersama. Namun Max tidak ada disana, yang ada hanya Pierre saja yang sedang mengerjakan beberapa dokumen.
"Pierre, kemana yang mulia putra mahkota?" tanya Liliana sambil membawa kotak bekal ditangannya. Gadis itu bermaksud untuk meminta maaf atas sikapnya tadi pagi yang sudah menghindar darinya.
"Yang mulia sedang berada di camp kstaria. Yang mulia putra mahkota dan para ksatria sedang bersiap untuk pergi ke Utara," jelas Pierre sambil menundukkan kepalanya.
"Pergi ke Utara? Ada apa disana?" Tanya Liliana yang belum tau tentang kepergian suaminya.
Pierre langsung terdiam, dia merasa tidak enak karena dia mengatakan apa yang tidak seharusnya dia katakan pada putri mahkota.
"Aku sedang bertanya padamu, tuan Pierre!" Ujar Liliana tegas sambil menoleh dengan tatapan mata tajam pada pria paruh baya itu.
"Yang mulia dan beberapa kstaria akan pergi ke Utara untuk melihat monster yang menyerang desa disana, yang mulia.." Pierre menjelaskan.
Liliana tidak bicara apapun lagi, dia dan Daisy langsung pergi dari sana menuju camp ksatria. Disana ia melihat suaminya sedang memeriksa pasukan yang akan ikut ke Utara.
"Hormat saya yang mulia," ucap Liliana menyapa suaminya dengan formal dihadapan orang banyak.
"Putri mahkota?" sambut Max dengan senyuman ramah pada istrinya itu.
"Apa yang mulia masih sibuk?" Tanya Liliana sambil tersenyum.
"Tunggu sebentar," jawab Max dengan senyuman juga.
"Saya akan menunggu yang mulia di sebelah sana," ucap Liliana seraya menunjuk pada sebuah kursi dan satu meja bundar didekat taman.
"Ya, aku akan segera kesana. Kau tunggulah," ucap Max pada istrinya.
Liliana menunggu Max di meja bundar itu, dia melihat suaminya sedang mengatur pasukan disana. Tak lama kemudian, Max menghampiri Liliana dan duduk berhadapan dengan istrinya itu.
"Yang mulia, kau belum makan siang kan? Mari kita makan siang bersama." Ajak Liliana sambil membuka kotak bekal yang dia bawa.
"Apa aku yang memasak semua ini?" Tanya Max sambil melihat semua makanan di kotak bekal.
"Jika aku menjawab ya, apa yang mulia akan percaya?" Liliana menoleh ke arah suaminya lalu tersenyum.
Tadi Lily bersikap seolah dia menjauhiku, tapi sekarang dia kembali seperti semula. Max membatin, dia memperhatikan sikap istrinya yang berbeda dari tadi pagi.
__ADS_1
"Aku percaya, bukankah dulu kau pernah bekerja di tempat penggorengan?" Max tersenyum sambil memandang suaminya.
Liliana tercekat, "Ah? Bagaimana yang mulia bisa tau kalau aku pernah bekerja ditempat penggorengan?" Gadis itu bingung karena tempat pertama mereka bertemu adalah di tempat madam Morena dan setelah itu mereka bertemu di pusat kota kerajaan Istvan.
"Kau pikir kita hanya bertemu di tempat itu saja? Aku selalu ada dimanapun kau berada," jawab Max.
"Huh! Aku tau kau memang penguntit, saat itu kau bahkan menguntitku saat aku sedang jalan-jalan ke pusat kota? Benar, kan?" Liliana menyodorkan kotak bekal itu pada suaminya, disana sudah lengkap dengan lauk pauk dan sendok.
"Melihat wanita secantik dirimu, aku rela menjadi penguntit." Max menaikan bahunya sambil tersenyum.
"Haha..baiklah, ayo makan dulu. Bukankah kau akan segera berangkat?" Liliana meminta Max untuk segera menghabiskan makanannya karena dia tidak punya banyak waktu.
Max mengambil sendoknya, "Lily, aku akan pergi.. apa kau tidak apa-apa?"
"Ehm.. memangnya aku kenapa? Kalau kau mau pergi ya pergi saja," ucap Liliana sambil tersenyum pahit.
"Kau sepertinya ingin aku pergi?" Tuduh Max pada Liliana..
"Tidak! Bukan begitu yang mulia," sangkal gadis itu.
"Bukankah kau ingin mengajakku jalan-jalan?" Tanya Max sambil menatap istrinya.
"Siapa yang mau mengajakmu jalan-jalan? Kata siapa?" Tanya gadis itu sambil memalingkan wajahnya.
"Daisy yang bilang," jawab Max sambil memakan masakan istrinya itu. "Hem..ini sangat lezat,"
"Kenapa dia bilang bilang?" Gumam gadis itu pelan.
"Sayang, makanannya sangat enak." Max memuji masakan istrinya itu.
"Terimakasih," jawab Liliana sambil memakan makanannya juga.
"Habiskan dulu makanannya, lalu kita bicara. Di kamar!" kata Liliana sambil tersenyum seraya menggoda suaminya. "Itu pun kalau kau masih ada waktu," ucapnya lagi.
Deg!
Max menelan ludahnya, hatinya berdebar setelah mendengar ucapan yang terdengar seperti ajakan itu. "Aku masih ada waktu, masih ada! Di kamar ya? Jangan ingkar?" Max dengan semangat menghabiskan makanannya.
"Pelan-pelan saja makannya, nanti kau bisa tersedak." Liliana menatap suaminya dengan lembut.
Aku harus beritahu tentang putri Laura, Max pasti akan melindungi Eugene dan putri Laura.
Setelah selesai makan, Max meminta para prajuritnya untuk beristirahat dan makan siang terlebih dulu di camp mereka sebelum pergi ke Utara. Sementara itu Max dan Liliana pergi ke kamar mereka, tempat mereka bisa berduaan saja.
"Yang mulia," ucap Liliana sambil meraih kejar suaminya dengan kaki sedikit berjinjit.
"Lily.." Max mengecup lembut kening sang istri, dia memegang tangan Liliana. Seolah tak sabar akan sesuatu, nafasnya mulai tak beraturan dengan memburu.
"Yang mulia...aku ingin bicara,"
"Bicaralah, sayang.." ucap pria itu sambil menggendong istrinya ke atas ranjang.
Mereka berdua sudah duduk diatas ranjang. Liliana membelai lembut pipi suaminya. "Yang mulia,"
Max meralat, "Maximilian.. Maxim, panggil namaku saat kita sedang berdua. Apa kau lupa?" ucap Max sambil menciumi leher sang istri dengan lembut penuh gairah.
"Ugh.. Maxim, kita tidak akan sempat melakukan ini."
"Apa kau mau kita berhenti ditengah jalan lagi? Kau yang sudah mengajakku!" Protes Max pada istrinya yang selalu menunda malam pertama mereka.
"Yang mulia.." lirih Liliana lembut.
__ADS_1
Max mencumbu tubuh istrinya, menelusuri bagian atas tubuh Liliana dengan bibirnya. "Uhm.. Ahhh.. Maxim.."
Tidak, lebih baik jangan sekarang.
Tangan Max melepaskan tali gaun yang mengikat tubuh istrinya itu, "Lily..."
"Maxim, putri Laura sedang hamil!" Seru Liliana sambil mendorong tubuh suaminya.
Sontak saja ucapan Liliana membuat Max terdiam dan menghentikan aktivitasnya. Sayang sekali padahal tubuhnya sudah panas, tapi ia harus mengakhirinya.
"Kau memang ahlinya memberi harapan palsu," gerutu Max kesal.
"Maafkan aku, kita lakukan ini lain kali.. sekarang kau tidak punya banyak waktu,"
"Baiklah, aku akan menagihnya nanti." Max mengecup pipi istrinya. "Lanjutkan perkataanmu, tentang putri Laura?"
Liliana menjelaskan tentang Laura pada Max, bahwa Laura tengah mengandung anak Eugene. Max sudah menduga bahwa Laura akan berbuat senekad ini, dia berjanji akan membantu Eugene dan Laura agar bisa bersatu.
Setelah kembali dari Utara, Max akan memohon pada Raja untuk menyatukan Eugene dan Laura dalam ikatan pernikahan. Liliana berterimakasih pada Max karena mau memahami situasi Eugene dan Laura.
"Lily, aku pergi ya." Ucap Max yang masih memeluk istrinya.
"Iya, cepatlah kembali."
"Oh tentu saja aku akan buru-buru kembali, aku akan meminta jatahku." Ucap Max sambil mencium hidung istrinya.
"Haha.. kau ini," Gadis itu terkekeh. "Berjanjilah padaku, kau akan kembali dengan selamat. Itu yang sangat penting bagiku," ucap Liliana sambil memakaikan gelang berwarna merah pada pergelangan tangan kiri suaminya.
"Apa ini?"
"Gelang perlindungan, aku mendapatkan gelang ini dari kuil suci. Aku harap semua doaku didalam gelang ini bisa terwujud." Ucap Liliana sambil menatap suaminya penuh kasih sayang.
"Oh begitu? Tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa padaku. Aku akan kembali dan selama aku pergi, kau jangan nakal ya!"
Liliana tersenyum, "Aku nakal seperti apa? Bukankah kau yang harusnya jangan nakal. Aku jadi ragu, apa kau sudah meninggalkan semua wanita di tempat hiburan itu?"
Max terlihat syok mendengar istrinya bertanya seperti itu. "Ah.. aku tidak pernah! Wanita siapa?"
Apa Pierre, Eugene atau Adrian yang bicara pada Liliana? Sialan! Apa mereka mau mati?
"Tidak apa-apa, setiap orang pasti punya masa lalu. Asalkan wanita mu sekarang dan selamanya hanya aku saja." Kata Liliana yang percaya pada Max.
Tidak seharusnya aku meragukan perasaan Max karena ucapan Ratu.
"I-itu.."
Cup!
Liliana mengecup bibir suaminya dengan lembut, "Jaga hati jaga tubuhmu, kembali dengan selamat! Aku menunggumu."
Max memeluk istrinya dengan lembut dan erat. Hatinya enggan pergi, tapi dia harus pergi. "Aku akan kembali..aku janji,"
Sore itu, Max, Eugene dan pasukan lainnya pergi saja istana menuju ke wilayah Utara. Raja, Liliana dan Laura mengantar kepergian mereka sampai pintu gerbang istana.
Laura menatap Eugene dengan tatapan sedih, dia tidak mau Eugene pergi. Liliana menepuk bahunya seraya menenangkan Laura, bahwa Eugene akan kembali dengan selamat.
Liliana juga menatap suaminya sambil melambaikan tangannya. Max tersenyum melihat istrinya itu. Mereka pun pergi meninggalkan istana.
Kau harus kembali dengan selamat Maxim.
...-----*****-----...
__ADS_1