Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 165. Keras kepala si kepala koki


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Aiden menoleh ke arah Liliana yang tengah menatapnya dan ia juga bertanya keadaannya yang terus muntah-muntah itu. "Apa permen itu tidak berhasil meredakan mualnya?"


"Ti-tidak, itu berhasil...tapi aku mual-mual lagi." Aiden berusaha tersenyum saat melihat Liliana dan memperlihatkan bahwa dia baik-baik saja.


Kasihan sekali, wajahnya sampai pucat begitu. Dia pasti selalu mual-mual.


"Kalau permen tidak terlalu memberikan efek yang besar pada mualnya, saya akan membuat sesuatu untuk tuan." Ucap Liliana sambil berpikir keras.


"Kau mau membuat sesuatu untukku?" Tanya Aiden pada Liliana.


"Iya, itupun kalau tuan membolehkannya." Jawab Liliana sambil tersenyum.


"Baiklah." Aiden langsung setuju dengan tawaran Liliana.


Bagaimana bisa aku menolakmu Liliana?


Aiden dan Liliana memutuskan untuk pergi ke dapur kapal laut itu. Liliana meminta kepada kepala koki untuk mengizinkannya membuat sesuatu disana. "Saya mohon tuan, izinkan saya untuk meminjam dapur tuan sebentar saja. Saya ingin membuat sesuatu untuk teman saya." Bujuk Liliana pada seorang pria paruh baya yang ternyata adalah pemilik dapur itu.


Pria paruh baya itu mengernyitkan dahinya, dia menatap Liliana dengan pandangan tidak suka. Ya, ia kita suka karena Liliana ingin meminjam dapurnya. "Maaf, dapur ini bukan untuk umum! Nona, tidak bisa memakainya sembarangan! Hanya awal kapal saja yang boleh menggunakan dapur ini. Kalau nona minta dibuatkan sesuatu, silahkan saja minta pada kami."


Liliana terlihat kecewa ketika pria paruh baya itu menolak untuk memberikan dapurnya sebentar saja. "Maafkan saya tuan, saya tidak bisa membuatkan makanan yang bisa membuat tuan merasa lebih baik. Tuan cinta saja pada tuan koki untuk membuatkannya." Ucapnya seraya melirik ke arah pria yang berdiri tepat di belakangnya.


"Tidak apa-apa."


Aiden melihat raut wajah Liliana yang tidak baik dan menyimpan rasa kecewa di matanya. Aiden tidak tega melihat Liliana seperti itu, di melihat Liliana pergi begitu saja dari dapur setelah mendapat teguran dari kepala koki di dapur, orang yang menguasai dapur itu. Sementara Aiden masih berada disana, dia menatap si kepala koki dengan tajam.


"Kenapa anda masih ada di sini?" Tanya si kepala koki dengan suara ketus.


"Beraninya kau membuat dia bersedih? Apa kau sudah tidak sayang dengan nyawamu lagi?" Raut wajah Aiden yang selalu lembut itu mendadak berubah menjadi raut wajah yang menyeramkan dan sarkas.


"Apa kau mengancamku?" Si kepala koki mendongak, dia tak menyangka akan mendapat ancaman seperti ini dari seorang pria asing.


"Aku tidak mau berbasa-basi lagi, serahkan dapurmu untuk malam ini atau kau akan terima akibatnya!" Aiden berujar seraya menatap pria itu dengan tajam.


"Maaf, siapapun anda saya tidak akan pernah menyerahkan dapur ini kepada orang asing!" Kepala koki keras kepala.


Aiden tersenyum sinis, lalu dia mengatakan. "Walaupun orang yang memerintahkan itu adalah seorang Raja?" Ucapnya sarkas.


Sial! Aku terpaksa harus membeberkan identitasku seperti ini, hal yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya.


"Raja? Hahaaha... kau raja apa? Pasti kau hanya mengaku-ngaku saja kan?" Si kepala koki itu rupanya tidak sayang nyawa, dia malah tertawa dan tidak mempercayai bahwa pria yang ada di depannya itu adalah seorang raja dari sebuah kerajaan besar yang berseberangan dengan lautan itu. Tawanya begitu mengejek, hingga membuat Aiden mengepalkan tangannya dengan kuat.


Rasanya dia ingin sekali membunuh si kepala koki yang sangat keras kepala itu. Namun, Dorman datang tepat waktu dan menghentikan amarahnya. "Yang mulia, tenanglah! Apa yang terjadi di sini? Apa pria ini melakukan sesuatu pada yang mulia?" Tanya Dorman seraya menatap Aiden dan si kepala koki secara bergantian.

__ADS_1


"Yang mulia? Hahaha... dasar kalian penipu! Aku tidak akan percaya omongan kalian, beraninya kalian berdua berusaha menipuku! Apa kalian Raja dan sekretaris Raja? Drama apa ini?" Pria paruh baya itu berkacak pinggang, kayaknya sungguh arogan membuat orang yang melihatnya ingin memukulnya.


"Dorman, sumpah demi Tuhan aku ingin membunuh pria ini sekarang juga!" Aiden mendengus marah.


"Yang mulia, mohon tenanglah!" Dorman berusaha menenangkan rajanya itu dan mengambil jalan damai.


Gawat! Kenapa yang mulia begitu marah? Pria ini sudah benar-benar tidak sayang pada nyawanya. Beraninya dia membuat yang mulia marah.


"Katakan padaku! Aku harus bagaimana? Aku hanya ingin meminjam dapur ini saja untuk semalam dan dia menolaknya! Masa aku harus mengkonfirmasi bahwa diriku seorang raja?" Aiden marah dan mengeluarkan pedangnya, padahal dia hanya meminta hal sederhana tapi pria itu ngotot menolaknya.


Kini pria paruh baya itu mulai ketakutan, apalagi ketika Aiden mengarahkan pedangnya tepat ke arah lehernya itu. "A-apa kau akan membunuhku?"


Tak lama kemudian, datanglah beberapa petugas keamanan di dalam kapal itu dan mengkonfirmasi bahwa Aiden memang seorang raja. Raja dari sebuah negeri yang bernama Gallahan, kerajaan besar yang dikenal sebagai kerajaan wisata dengan pemandangan negerinya yang indah.


"Mohon ampuni saya yang mulia! Mohon..." Si kepala koki langsung menjatuhkan dirinya untuk berlutut, kedua tangannya terkatup seraya memohon ampunan kepada Aiden.


Astaga ya tuhan! Dia benar-benar seorang raja. Aku sudah mencari mati, harusnya aku izinkan saja Gadis itu untuk meminjam dapurku walau hanya sebentar. Sekarang hidup dan matiku menjadi taruhannya.


"Apa sekarang kau percaya padaku? Dasar manusia sombong!" Suara Aiden meninggi, dia masih mengarahkan pedangnya ke leher pria itu.


"Yang mulia, saya mohon ampuni nyawa saya. Saya masih punya anak-anak dan istri yang harus saya nafkahi! Saya akan melakukan apa saja asal yang mulia memaafkan saya!" Kepala koki yang tadinya begitu angkuh di depan Aiden, kini dia memohon-mohon minta dimaafkan. Bahkan dia sampai menangis.


"Baiklah, akan aku berikan kau satu kesempatan. Pergilah dan temui gadis tadi,minta maaf padanya, lalu katakan padanya bahwa kau memperbolehkan dia untuk memakai dapur ini sesuai keinginannya! Kalau.... dia tidak memaafkanmu dan tidak mau pergi ke dapur, maka lehermu yang akan menjadi taruhannya. Apa kau paham?" Ancam pria itu kepada si kepala koki.


"Sa-saya paham yang mulia, saya akan meminta gadis itu untuk kembali ke dapur dan juga meminta maaf kepadanya."


Walaupun aku harus berlutut sampai lututku berdarah, aku harus mendapatkan maaf dari gadis itu. Kalau tidak kepalaku yang akan menjadi taruhannya.


"Bagus, sekarang pergilah! Dan jangan katakan identitasku yang sebenarnya kepada dia." Aiden tidak mau identitasnya sebagai raja terbongkar sekarang dan akan membuat Liliana semakin menjauh darinya. "Pergilah Roan!" Ujar Aiden setelah dia melihat name tag di baju kepala koki itu.


Si kepala koki yang angkuh itu, segera berdiri lalu dia pergi mencari Liliana untuk meminta maaf. Tak lama kemudian, Roan muka Liliana yang sedang berjalan ke atas dek kapal. "Nona! Nona tunggu aku sebentar!"


Liliana menoleh asal suara yang seperti memanggilnya itu. "Tuan koki? Kenapa tuan ada disini?" Liliana heran.


"Nona, anda boleh menggunakan dapur suka hati anda...dan saya sangat minta maaf atas sikap tidak sopan saya. Saya mohon maaf!" Roan menundukkan kepalanya, seraya memohon maaf. Wajahnya terlihat berkeringat.


Liliana tersentak kaget dengan sikap pria paruh baya yang ada di depannya itu, ya merasa aneh sebab tadi sikapnya begitu angkuh dan sekarang sikapnya begitu baik, sampai meminta maaf kepadanya. Bahkan dia juga mempersilahkan dirinya untuk memasak di dapur dengan sesuka hatinya?


"Em...tidak apa-apa, saya yang harusnya meminta maaf kepada tuan koki. Karena saya tidak seharusnya pergi ke dapur." Gadis itu balik meminta maaf kepada Roan.


"Ti-tidak, saya yang salah. Saya sudah bersikap tidak sopan kepada nona, saya mohon nona datanglah kembali ke dapur sekarang juga."


"Maaf, sepertinya saya tidak bisa."


Tiba-tiba saja Roan berlutut di depan Liliana. "Tuan! Apa yang tuan lakukan? Mengapa Tuan berlutut seperti ini di depan saya?" Liliana semakin heran dengan apa yang membuat pria itu sikapnya berubah drastis.

__ADS_1


"Saya mohon, kembalilah ke dapur! Saya mohon! Anggap saja, sedang menyelamatkan nyawa pria tua ini!"


Bukankah ini sangat berlebihan? Mengapa pria ini begitu ngotot untuk meminta maaf dan memintaku pergi ke dapur? Apa tuan Aiden mengatakan sesuatu padanya? Kenapa pria ini begitu ketakutan.


"Baiklah, tolong tuan koki berdiri dulu. Saya akan kembali ke dapur..." Liliana tersenyum, dia mengulurkan tangannya untuk membantu pria itu berdiri.


"Terimakasih, terimakasih atas kemurahan hati nona." Roan tersenyum tipis, terlihat wajahnya yang penuh kelegaan itu.


Haaahh.... nyawaku selamat syukurlah Tuhan.


"Nona...apa yang sedang kau lakukan disini bersama tuan koki?" Aiden menatap Liliana dan Roan dengan wajah polos.


"Tidak ada apa-apa."


Wajahnya terlihat seperti tidak tahu apa-apa? Ah ya sudahlah, aku pergi saja ke dapur dan buat makanan untuknya.


Malam itu Liliana memasak sesuatu untuk meredakan mualnya Aiden. Aiden juga berada disana untuk melihat Liliana memasak. Beberapa menit kemudian, Liliana menyiapkan sesuatu di mangkok. "Ini, silahkan kau coba...tuan."


"Jangan panggil aku tuan, Aiden saja." Aiden tersenyum sambil menatap sesuatu yang sudah disajikan didepannya itu.


"Hem...ya."


Aiden mencoba memakan sup hangat itu, dia memuji masakan Liliana yang enak. Lalu tiba-tiba saja terlintas di pikirannya sosok Max.


Apa dia sudah bertemu dengan Maximilian? Bagaimana jika dia bertemu lebih dulu dengannya? Kali ini aku tidak akan membiarkanmu bersama dia.


"Aiden, apa supnya tidak enak?" Liliana heran melihat Aiden terdiam.


"Tidak, ini sangat enak. Perutku menjadi lebih baik karena sup ini, terimakasih ya Liliana." Aiden tersenyum lebar.


"Oh syukurlah."


"Oh ya Liliana, apa sebelum kau kesini kau--"


"Kau apa?"


Aiden mengurungkan niatnya untuk bertanya. "Oh ya apa kau mau bekerja jadi asisten pribadiku?"


Ya, aku harus membuatmu disisiku dan dengan begitu kau akan jatuh cinta padaku. Susah payah waktu di putar, aku tidak boleh gagal lagi.


...*****...


Hai Readers! Mohon bersabar untuk alurnya ya, mungkin dalam 2 bab ini akan membahas Aiden. Dia memiliki hubungan dengan memutar balik waktu, Liliana dan Max.


Jangan lupa komennya ya❤️❤️ like nya juga.

__ADS_1


__ADS_2