
Di ruang interogasi istana.
Raja juga berada disana, dia mengintrogasi istrinya secara langsung dibawah pengawasan pengawal istana. Dia menatap istrinya dengan penuh kebimbangan.
Bagaimanapun juga, aku adalah Ratu di negeri ini. Tidak ada yang bisa membuatku di penjara! Sebesar apapun kesalahanku, Raja tidak akan melepaskan aku. Lagipula wanita itu tidak mati, jadi walaupun di hukum aku tidak akan dihukum berat. Pikir sang Ratu dalam hatinya.
"Ratuku.." lirih Raja sambil menatap istrinya.
"Yang mulia, ini semua tidak benar. Aku tidak melakukan itu!" Ratu masih menyangkal walau sudah ketahuan.
"Ratuku, apa kau melakukan ini karena kau masih menganggap putra mahkota sebagai sainganmu? Apa kau masih membencinya, makanya kau melukai putri mahkota?" Tanya Raja dengan tajam.
"Yang mulia.. mana mungkin aku begitu. Kenapa yang mulia bisa berfikir kalau aku membenci putra mahkota? Bagaimana bisa aku membenci putra mahkota yang sudah seperti anakku sendiri?" Ratu memelas didepan suaminya.
"Ratu, jangan mencoba membohongiku. Aku tau kau tidak pernah menganggap anakku dan Ratu Rosabella sebagai anakmu sendiri. Tapi aku tidak tahu bahwa kebencian mu padanya begitu besar," ucap Raja sambil tersenyum sinis pada Ratu.
"Yang mulia! Aku tidak pernah membenci putra mahkota, aku juga tidak melakukan semua ini.."
"Ratu...selama ini aku selalu menutup mata atas semua perlakuanmu. Asalkan tidak diketahui orang lain, aku selalu menutupinya karena aku mencintaimu. Tapi, kali ini aku tidak bisa menutupinya." Raja menatap Ratu dengan kecewa.
Selama ini aku selalu menutupi kesalahannya. Tapi semua orang sudah melihat apa yang dia lakukan, aku tidak bisa berpihak pada satu orang. Hukum istana dan kebijaksanaanku sebagai Raja akan dipertaruhkan.
Deg!
Ratu merasakan firasat buruk saat mendengar ucapan sang Raja kepadanya. Mungkinkah Raja akan menghukum Ratu?
"Yang mulia...apa maksudmu? Apa kau..."
"Akui kesalahanmu, minta maaflah pada putri dan putra mahkota. Maka hukuman yang akan kau jalani tidak akan terlalu berat," ucap Raja tegas.
"Apa yang mulia akan menghukumku?"
Minta maaf pada mereka? Tidak! Aku tak sudi!
"Lalu aku harus bagaimana? Memaafkanmu? Ratu.. aku sudah terlalu banyak bermurah hati padamu. Perlakuanmu pada putra mahkota, aku selalu membiarkannya, kali ini aku tidak bisa menutupinya lagi."
"Apa maksud yang mulia? Aku tidak mengerti... memangnya apa yang aku lakukan pada putra mahkota?" Tanya Ratu sambil menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca.
"Ratu...apa perlu aku sebutkan satu persatu perbuatanmu pada putra mahkota? Haahh...baiklah, kalau kau lupa aku akan mengingatkanmu. Apa kau ingat kejadian di acara perburuan? Sebuah panah yang entah datang darimana, menancap dipunggung putra mahkota. Lalu..apa kau ingat kejadian di lapang berkuda? Maximilian, putraku terjatuh dari kuda. Yang aku sebutkan ini hanyalah kesalahan-kesalahan kecilmu saja, yang paling parah adalah kau mengirim anakku ke medan perang padahal usianya baru 10 tahun tanpa persetujuanku."
Raja memudalkan semua unek-unek yang selama ini dia simpan didalam hatinya pada Ratu. Dia tahu semua itu adalah ulah ratu, tapi dia tetap melindungi Ratu dengan alasan cinta.
Ratu tercengang saat mendengarnya, dia tak percaya bahwa Raja tau semua itu adalah ulahnya. "Yang mulia..."
"Ratu! Untuk terakhir kalinya aku bertanya, apa kau benar-benar mencelakai putri mahkota? Jawab dengan jujur agar aku bisa membantumu!"
Ratu mencengkram roknya dengan gemas, dia tak punya pilihan lain lagi. Dia tak bisa mengelak. "Benar itu saya,"
__ADS_1
"Aku akan memberikanmu hukuman di istana dingin, besok.. minta maaflah pada putra dan putri mahkota." Kata Raja tegas.
Ratu Freya tersentak kaget mendengarnya, "Istana dingin? Tidak! Tidak yang mulia! Jangan lakukan ini," ucap Ratu menolak hukuman pengasingan di istana dingin.
Itu artinya dia akan hidup sendirian di istana itu tanpa ada yang melayaninya dan statusnya akan diturunkan bukan sebagai Ratu utama yang memiliki otoritas terhadap kerajaan. Dengan kata lain, posisinya sebagai ratu akan ditangguhkan sampai masa hukuman selesai.
"Ratu, terima saja semua ini daripada kau dipenjara seumur hidupmu. Besok aku akan datang kemari dan membawa putri juga putra mahkota, minta maaflah pada mereka." Kata Raja tidak mau dibantah oleh Ratu.
Malam itu Raja meninggal Ratu sendirian di dalam penjara yang dingin. Ratu tidak terima dibuang ke istana dingin ataupun meminta maaf pada Liliana dan Max.
"Tidak! Aku tidak mau meminta maaf, aku tidak mau dihukum! Aku harus memberitahu paman kaisar untuk menolongku," gumam Ratu sambil mengangguk-angguk. Dia bermaksud untuk meminta tolong pamannya yang ada seorang Raja di negeri seberang.
...******...
Didepan istana putri dan putra mahkota, kini Laura berada. Dia bermaksud untuk bicara dengan Liliana meminta pengampunan untuk ibunya.
Laura terlihat sangat pucat, dia juga merasakan pusing dan mual namun tidak separah tadi saat mencium bau parfum Liliana. Eugene yang sedang berjaga disana melihat Laura tengah berdiri didepan kamar Liliana. Didepan kamar itu berdiri dua pengawal yang tidak diketahui namanya.
"Yang mulia, sedang apa anda disini? Ini sudah malam...apa anda tidak beristirahat?" Tanya Eugene pada Laura.
"Ah.. Eugene, aku ingin menemui kakak iparku. Dan aku belum bisa istirahat sebelum bicara dengannya," jelas Laura dengan suara pelan.
Kepalaku sangat pusing. Aku kenapa?
Eugene menatap Laura dengan cemas, "Yang mulia.. saya akan memanggil putri mahkota. Anda duduklah dulu di kursi yang-"
BRUGH!
"Yang mulia putri!" Ujar Annie dayang setianya yang juga panik melihat Laura tiba-tiba pingsan.
Mendengar keributan di luar, Liliana langsung keluar dari kamarnya. Dia terkejut melihat Laura yang tidak sadarkan diri berada didalam gendongan Eugene. "Putri Laura! Sir Eugene, apa yang terjadi padanya?!" Tanya Liliana pada Eugene.
"Hamba juga tidak tahu yang mulia, tiba-tiba saja tuan putri.." Eugene juga cemas pada Laura.
Laura, kau kenapa? Apa yang terjadi?
"Sir Eugene, bawa dia ke kamarku! Dan kau Annie, panggilkan tabib istana kemari! Cepat!" Titah Liliana pada Eugene dan Annie.
"Ya, yang mulia putri mahkota!" Jawab Annie dan Eugene kompak.
Annie segera pergi ke ruang pengobatan istana untuk memanggil tabib. Sementara itu, Eugene menggendong Laura dan membawanya ke kamar Liliana karena kamar itu adalah kamar terdekat disana.
"Baringkan dia disini," ucap Liliana seraya menunjuk ke arah ranjangnya.
Tanpa banyak bicara, Eugene membaringkan Laura diatas ranjang empuk itu dengan hati-hati. Wajah pucat Laura terlihat sangat jelas.
Eugene melihat wanita itu dengan cemas dan kening berkerut, alisnya terangkat ke atas.
__ADS_1
Laura apa yang terjadi padamu?
KLAK
"Yang mulia putri mahkota, saya sudah bawa tabibnya!" Seru Annie sambil menghampiri Liliana dan Eugene yang masih berada disana.
"Tabib Chris, tolong periksa putri Laura!" Titah Liliana pada Chris, dia juga menatap Laura dengan cemas.
"Baik yang mulia saya akan memeriksanya," ucap Chris patuh sambil duduk tepat di samping ranjang Laura.
Chris memeriksa denyut nadi Laura, pria tua itu berulang kali mengerutkan keningnya. "Tidak mungkin," gumam Chris pelan.
"Kau bilang apa tuan Chris?" Tanya Liliana tak mendengar jelas perkataan Chris.
"Maaf yang mulia, apakah saya boleh bertanya?" Chris menoleh ke arah Liliana.
"Tentu, silahkan."
"Apakah yang mulia tau berapa lama putri seperti ini? Ataukah gejala yang dialami putri sebelumnya?" Tanya Chris penasaran.
"Aku tidak tahu dengan jelas, tapi sebelum acara penobatan. Dia mual-mual saat mencium bau parfumku," ucap Liliana tentang yang dia tau tentang Laura.
Eugene masih disana dan mendengarkan apa yang di bicarakan. Dia menatap Laura dengan cemas dan ingin tau apa yang terjadi padanya.
"Tuan tabib, akhir-akhir ini tuan putri sering mengalami mual-mual di pagi hari. Bahkan nafsu makannya juga berkurang, selain itu yang mulia putri sering mengeluh sakit kepala." Jelas Annie yang tau banyak hal tentang Laura karena dialah orang yang paling dekat Laura.
Chris terdiam menundukkan kepalanya. Tak lama kemudian dia meminta Liliana agar semua orang meninggalkan ruangan itu, karena ada hal pribadi yang ingin disampaikan pada Liliana. Orang luar tidak berhak mendengarnya.
Akhirnya Eugene dan Annie terpaksa pergi keluar dari kamar itu walau mereka ingin tau apa yang akan dikatakan oleh Chris.
"Semoga tuan putri baik-baik saja," ucap Annie berdoa tulus untuk Laura.
Laura, semoga kau baik-baik saja. Eugene melihat ke arah pintu kamar itu dengan cemas.
🍀Didalam kamar Liliana🍀
"Tuan Chris, apa ada hal yang serius sehingga kau meminta bicara secara pribadi denganku?" tanya Liliana keheranan.
"Ini masalah serius yang mulia dan tidak boleh ada orang luar yang mendengarnya," jawab Chris sambil menatap cemas pada Liliana.
"Apakah itu? Mungkinkah putri Laura mengalami penyakit serius?" Tanya Liliana saat dia melihat raut wajah Chris yang tidak baik setelah memeriksa kondisi Laura.
"Putri Laura tidak sakit yang mulia, ini adalah gejala yang umum."
"Apa maksudmu?"
"Putri Laura mengalami gejala umum pada wanita yang sedang hamil muda," jawab Chris sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Liliana terbelalak, dirinya yang tadi duduk di kursi langsung beranjak mendengar ucapan Chris. "APA maksudmu?!"
...----****----...