
...🍀🍀🍀...
Karena tak kunjung melihat Liliana, sedangkan dia akan segera pergi. Akhirnya Max berpesan pada Daisy untuk menyampaikan pada Liliana agar wanita itu pergi menyusulnya ke tempat penobatan.
Daisy paham, bahwa perlakuan Max kepada Liliana jelaslah sangat berbeda. Max menganggap gadis itu spesial. Liliana memiliki tempat yang istimewa di dalam hati Max. Daisy tidak tahu saja, betapa cintanya pria itu kepada Liliana. Entah itu di masa lalu mau pun di masa sekarang dan seterusnya.
Akhirnya semua rombongan istana telah pergi dari sana, dengan tak rela Max pergi juga meninggalkan istana itu.
****
Amber sedang bersama Liliana di tempat cuci baju, mereka melakukan pekerjaan seperti biasanya sebagai dayang istana. Ini memang jalan yang dipilih Liliana. Maka dia harus menghadapinya.
"Liliana, biar aku yang menjemurnya. Kau disini saja,"
"Tidak usah, aku akan membantumu. Mari kita kerjakan bersama!" Liliana tersenyum.
"Hey! Ini kan bukan pekerjaanmu, kau itu dayang pribadi putra mahkota... seharusnya kau ikut pergi ke acara penobatan itu."
"Hem, mana bisa diriku yang seorang pelayan ini ikut kesana?" Liliana sadar diri, bahwa di sana bukan tempat dirinya berada.
Masih terngiang di telinganya, teringat di kepalanya. Adegan dimana Max mencium bibirnya dan menyatakan cinta kepadanya. Dia merasa bahwa semua itu adalah hal yang tak mungkin. Seperti pungguk Yang merindukan rembulan, atau mungkin seperti langit dan bumi yang selamanya tak akan pernah bersatu.
Hanya mimpi di siang bolong saja!
Walau Liliana tidak bisa memungkiri perasaannya sendiri, bahwa dirinya telah jatuh cinta kepada seorang pria yang bernama Maximilian itu. Seseorang yang saat ini akan segera dinobatkan sebagai raja.
Ketika Amber sedang menjemur pakaian di luar ruangan itu. Liliana berjalan menuju ke arah dapur untuk mengambil makanan, karena dia lapar. Disanalah dia melihat beberapa dayang istana senior yang lagi-lagi membicarakannya. Liliana hanya diam saja seolah dia telah terbiasa dibicarakan seperti itu dari belakang.
Mereka semua iri kepadanya, Karena kecantikannya atau mungkin karena dia terpilih menjadi dayang pribadi putra mahkota. Posisi yang sangat didam-idamkan oleh semua daya yang di istana ini. Jadi pilihan yang merasa bahwa hal itu adalah hal yang wajar untuk iri kepadanya.
"Eh, ada siapa itu?"
"Bukankah dia adalah simpanan tuan count?" sindir seorang dayang istana senior Soraya menatap Liliana dengan sinis.
Gadis itu berusaha tidak peduli dan tetap berjalan ke depan, mengambil makanan yang dia inginkan. Kemudian dia pergi begitu saja.
Liliana tak ambil pusing dengan orang-orang yang tak menyukainya, baginya selama masih ada orang baik dan ramah kepadanya, maka dia tidak merasa takut sama sekali. Setelah mengambil makanan itu, Liliana berjalan ke lorong.
GREP!
Ada tangan yang tiba-tiba saja menariknya, membekap mulutnya dengan tangan yang satunya. Telapak tangan itu besar, sudah jelas itu adalah tangan seorang pria.
"Hmphh!!"
"Ssstt...sayang, tenanglah! Kau akan baik-baik saja, temani aku bermain sebentar yuk?" bisik Alejandro pada Liliana. Tangannya masih membekap mulut gadis itu.
Sialan! Bukankah harusnya dia berada di pesta penobatan? Kenapa dia ada disini? Astaga!
Liliana terkejut bukan main, selama beberapa hari ini dia tidak mendapatkan gangguan dari Alejandro. Tapi tendangannya hari ini terusik kembali, karena pria itu berada di sana.
Alejandro menyeret Liliana masuk ke dalam sebuah gudang yang tak jauh dari dapur istana. Liliana tidak diam saja, dia berusaha melakukan perlawanan. Kali ini dia tidak peduli dengan status Alejandro sebagai adik Baginda Ratu.
"Lepas...lepaskan aku!"
Ya, niat Alejandro memang sudah jelas. Ketika semua orang sibuk pergi ke acara penobatan itu. Alejandro memanfaatkan kesempatan untuk berada di istana dan mengganggu Liliana. Menuntaskan hasratnya yang belum usai terhadap gadis itu. Dia penasaran ingin menidurinya.
Sungguh! Pria itu benar-benar laknat, dia akan mengincar wanita yang dia sukai sampai dapat, lalu setelahnya dia akan membuang wanita itu. Padahal dirinya sudah memiliki seorang istri dan anak di tempat yang lain.
BRUGH!
Alejandro mendorong tubuh Liliana hingga dia terjatuh ke lantai. Mereka berada di sebuah ruangan yang minim cahaya, bahkan banyak barang-barang berdebu dan tak terpakai di sana.
"Kau... apa yang akan kau lakukan padaku? Lepaskan aku!" Liliana berteriak manakala dia melihat Alejandro mengunci pintu ruangan itu .
Ia kembali berdiri, berusaha menggapai pintu. Namun, Alejandro kembali merobohkan tubuhnya. "Sayang, aku hanya butuh 5 menit saja...setelah ini Aku akan pergi ke pesta penobatan raja. Ya, jika pesta itu terjadi...karena aku sudah merencanakan hadiah yang istimewa untuk yang mulia raja! Sesuatu yang bisa menghancurkan pria sombong itu!"
A-apa katanya? Hadiah untuk yang mulia Raja? Apa pria ini merencanakan sesuatu yang jahat?
Dia panik, wajahnya seketika menjadi pucat. Ia pun hanya bisa berteriak, berusaha agar orang-orang di sana mendengarnya. "Tolong! Tolong! Tolong!"
Alejandro seperti pria tak waras dan kesetanan, dia mencoba mencuri ciuman dari Liliana. Kedua tangan yang memegang erat Liliana, tubuhnya yang kekar itu mengungkung tubuh mungil Liliana. Hingga wanita itu kesulitan untuk bergerak. "Tolong! Jangan lakukan ini! Lepaskan!"
"Sayang, dengan kau melawan seperti ini... aku semakin bernafsu...." Alejandro membuka resleting celananya. Dan setelah itu dia--
BRAK!!!
Pintu itu tiba-tiba saja terbuka seperti ditendang sesuatu. Benar saja, seseorang telah berdiri di sana. Mata Liliana terlihat sangat lega melihat sosok itu.
Eugene lah yang datang dan lagi menyelamatkannya dari ke bejatan Alejandro. Kali ini Eugene datang bersama Laura dan pelayannya. "Tuan count, saya sudah memperingatkan anda untuk tidak menyentuh sesuatu yang tidak boleh anda sentuh!"
__ADS_1
Liliana berlari ke dalam pelukan Laura. Dia menangis.
"Hiks..."
"Liliana, apa kau baik-baik saja?" Tanya Laura cemas. Terlihat kekecewaan di mata Laura saat dia melihat ternyata pamannya adalah seorang yang bejat. "Paman! Aku tidak percaya bahwa Paman melakukan semua ini! Paman yang sangat aku sayangi dan sangat aku hormati, ternyata...haahh.." Dessah Laura tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya itu.
Eugene hendak memukul Alejandro, namun Liliana menahannya. Ia berkata bahwa sekarang ada urusan yang lebih penting dari pria itu, dengan terburu-buru Liliana meminta Eugene dan Laura untuk mengantarnya ke tempat penobatan.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa kau..." Laura menatap Liliana dengan kening berkerut.
"Yang mulia, saya mohon maaf atas kekurangan saya menaiki kereta bersama yang mulia. Namun ini benar-benar darurat dan menyangkut yang mulia raja!"
"Ada apa?" Tanya Laura cemas.
Liliana pun menceritakan apa yang dikatakan oleh Alejandro tentang Max. Laura tidak menyangka bahwa pamannya ternyata sangat licik. "Astaga...pamanku, ya tuhan... dia benar-benar membuatku terkaget-kaget hari ini."
"Maka dari itu, kita harus cepat pergi ke sana yang mulia!"
"Baiklah! Kusir, percepat laju keretanya!" titah Laura pada kusir yang membawa kereta.
"Ya, yang mulia." sahut kusir itu.
*****
Di pusat kota, semua orang berkumpul di sana. Max telah resmi dinobatkan sebagai raja beberapa saat yang lalu. Terlihat dari mahkota yang dipakainya saat ini. Ia melihat kerumunan rakyat yang turut bahagia, juga menikmati pesta rakyat yang terjadi di sana.
"Hidup yang mulia raja Maximillian!! Hidup!!"
Semua orang sorak-sorai untuknya, ucapan selamat dan turut bahagia akan hadirnya Raja baru. Namun jujur saja hati Max sama sekali tak bahagia, karena di sana tidak ada Liliana.
"Kenapa Eugene lama sekali?" gumam Max kebingungan.
"Yang mulia raja, mohon perhatikan orang-orang yang sedang menyapamu itu!" ujar Freya tegas.
Kemana si Alejandro? Kenapa aku masih belum kejutan yang dia sebutkan itu?
Tak lama kemudian, semua orang yang berkerumun berlarian pergi dari sana dengan. panik. Tiba-tiba langit menjadi gelap gulita tanpa alasan yang jelas dan di langit itu muncul beberapa sosok iblis.
"Kyaaakk!!! Iblis!!"
Semua orang berteriak ketakutan, ketika sosok-sosok menyeramkan itu mendekati mereka. Bahkan memakan mereka, sayang sekali Max tak punya banyak sihir dalam kehidupan kali ini.
"Cepat! Suruh orang-orang keluar dari jalanan dan pergi ke tempat yang aman!" Ujar Mac seraya pemerintah para prajurit istananya untuk menyelamatkan rakyatnya.
Sosok sosok iblis itu, berwujud hewan setengah manusia. Dan kebanyakan dari mereka berwujud ular. Hal ini membuat Max bertanya-tanya, apakah raja iblis Utara yang melakukannya ataukah Aiden?
Tiba-tiba saja sosok Aiden muncul disana bersama rombongannya, tadinya dia bermaksud untuk menghadiri acara penobatan itu.Namun dia terlambat dan malah melihat sosok-sosok iblis mengerikan ini.
"Kau! Apa kau yang merencanakan semua ini?" Tuduhnya pada Aiden.
"Bukan aku!"
"Kalau bukan kau lalu siapa?! Kau saja sanggup memisahkan aku dan Liliana dengan cara yang tidak halal!" Max masih menuduh pria itu.
"Aku benar-benar tidak melakukannya, memang aku sudah memisahkanmu dan Liliana dengan cara yang salah. Tapi Aku tidak akan menghancurkan sebuah negeri."
Nampaknya Max percaya pada ucapan Aiden. Pasalnya pria itu memang mencintai Liliana dengan sangat dalam, tapi dia tidak akan pernah menghancurkan semua orang. Untuk apa dia melakukannya?
Suara gaduh, riuh, dari pertarungan berdarah itu menyebabkan beberapa korban berjatuhan. Salah, bukan beberapa korban tapi banyak korban.
Entah dari mana dan bagaimana datangnya iblis ini. Disaat kericuhan itu terjadi, Eugene meminta agar Laura dan Liliana berada di dalam kereta dan kembali ke istana.
"Ada apa Eugene? Kenapa kamu minta kami untuk kembali ke istana?"
"Ada bangsa iblis...semua orang mati dan ada sebagian lagi yang menjadi iblis."
Bulu kuduk Liliana dan Laura berdiri saat itu juga, mereka berdebar.
Tidak, jika benar ada bangsa iblis...aku tidak boleh membiarkan yang mulia raja sendirian.
Tanpa pikir panjang, Liliana turun dari kereta yang masih berjalan itu. Laura dan Eugene saja panik saat melihatnya. "Liliana! Apa yang kau--"
"Maafkan saya yang mulia, saya harus menemui yang mulia raja!" Ujarnya tegas.
Liliana pergi ditengah-tengah peperangan iblis dan manusia itu. Dia tidak peduli nyawanya terancam bahaya, yang yang ingin pastikan adalah keselamatan Max. Entah mengapa perasaannya tidak enak.
Dilihatnya Max berada di dalam pertarungan, Liliana lega melihat pria itu baik-baik saja dan sepertinya tanpa luka. Namun saat dia akan menghampiri Max, sesosok iblis berwujud ular mendekatinya dan hendak menyerangnya.
"Ahhh!!!"
__ADS_1
Seakan punya ikatan batin, Max dan Aiden yang sedang bertarung tiba-tiba saja terdiam. "Aku mendengar suara Liliana." ucap Aiden tiba-tiba.
"Berarti itu bukan halusinasiku saja." timpal Max.
"Katanya kau sangat mencintainya, apa dia bisa berada di sini dan berada dalam bahaya?!" cecar Aiden marah.
"Hey! Kau ini siapa? KENAPA kau marah padaku?"
"Sudahlah! Lebih baik kita cari dia!"
Max menganggukan kepala, ia dan Aiden bekerja sama mencari Liliana. Namun di tengah-tengah pencarian itu, tiba-tiba saja segel yang ada di leher Max aktif kembali.
Tubuhnya terbakar, lalu dalam beberapa detik dia sudah berubah menjadi iblis ular.
"Aarrgghh...."
"Sial!!" Pekik Aiden yang lalu menghindar dari Max yang sudah tidak sadarkan diri.
Aiden memilih meninggalkan pria itu dan menghampiri Liliana. Dia berhasil menyelamatkan gadis itu dari bahaya. "Tuan Aiden..."
"Pergilah dari sini, cepat!!" Ujar Aiden.
Namun tanpa diduga duga, Max bukannya menyerang manusia. Tapi dia membantai semua iblis yang ada di sana dengan kekuatannya. Iblis iblis itu ketakutan, mereka ciut saat melihat iblis lainnya mati di tangan Max.
Semua orang kini tau wujud Max yang sebenarnya. Ketika Max akan kembali ke wujudnya semula. Tiba-tiba saja Liliana memegang kepalanya, dia melihat memori memori di dalam ingatannya.
Aku ingat semuanya. Aku...Liliana Charise Geraldine.
"Maxim!" Matanya berembun menatap Max yang berdiri tak jauh darinya. Max yang sudah berubah menjadi manusia, berjalan menghampiri Liliana.
Aiden hanya bisa tersenyum getir ketika melihatnya. Benar juga apa kata Brieta, bahwa cinta mereka tak terpisahkan. Air mata jatuh membasahi pipinya, apapun yang dia lakukan semuanya tak berguna.
"Ya, mungkin ini memang akhirnya... aku memang harus menyerah." ucap Aiden sakit hati.
Liliana memeluk Max dengan erat. "Aku sudah ingat semuanya...aku ingat, aku..."
"Benarkah? Kau sudah ingat semuanya?!" Max membalas pelukan Liliana dengan erat, keduanya sama-sama bahagia.
Baru saja mereka akan bersatu kembali, sebuah panah api melesat ke arah Max. "Tidak!!" Teriak Liliana yang lalu membalikkan tubuhnya, dia ingin menjadi tameng untuk Max.
Jleb!!
"Aiden!!" Teriak Liliana melihat Aiden yang panah api itu. Aiden telah menyelamatkan Liliana dan Max dari serangan panah api milik raja iblis Utara.
Tubuh Aiden ambruk, Liliana dan Max menghampirinya. Mereka berdua panik melihat Aiden yang sudah berdarah-darah. "Aiden!"
Tidak hanya mengingat Max, tapi Liliana juga mengingat Aiden. "Aiden... bertahanlah, kau pasti akan baik-baik saja!"
Liliana meletakkan kepala Aiden di pangkuannya. "Liliana, Maximillian...maafkan aku..." lirihnya menahan sakit, ia menatap Max dan Liliana dengan penuh penyesalan.
"Kenapa kau minta maaf?" Liliana menangis, dia merasa kasihan pada Aiden yang sudah tak berdaya. Disisi Aiden juga ada Dorman, asisten pribadi Raja itu menatap rajanya sambil menangis.
"Aku minta maaf karena aku sudah memisahkan kalian berdua, aku sudah menggunakan cara licik untuk memisahkan kalian....cara terkutuk! Aku benar-benar telah buta karena obsesiku...aku yang telah membuat kalian mengalami penderitaan...uhhh..." Aiden batuk darah. "Tolong...sebelum aku mati, kalian harus memberiku maaf..." Aiden memegang tangan Liliana dan Max.
"Kami... kami sudah memaafkanmu dan kau pasti akan selamat, jadi kumohon bertahanlah!" Kata Liliana.
"Benar, kau akan baik-baik saja."
"Tidak...aku memang sudah seharusnya mati...kalau aku mati, kau akan terbebas dari segel iblis itu. Dan kau bisa menjadi manusia seutuhnya. Maximilian... jagalah cintamu, kau tidak boleh menyakitinya...aku mohon padamu...bahagiakan dia,"
Max menatap Aiden, ia juga merasa sedih melihat rivalnya seperti itu. "Aku akan menjaganya seumur hidupku! Aku janji.."
Aiden tersenyum getir mendengarnya.
Nafas Aiden terdengar berat, pria itu tersengal-sengal akan segera menghadapi ajalnya. Liliana kasihan kepadanya dan menangisinya. "Kau... kau sudah mengorbankan nyawamu untuk kami,"
"Tidak! Ini bukan pengorbanan, tapi ini balasan... karena aku sudah memisahkan orang yang saling mencintai...ini adalah karmaku...ughhh...ohok...ohok..."
"Untuk yang terakhir kalinya, apa aku boleh... minta sesuatu padamu?"
Liliana menganggukan kepalanya, "Cium aku..."
Gadis itu mencium kening Aiden dengan lembut, dengan tetesan bulir air mata terus membasahi wajahnya. Air mata itu juga menetes ke wajah Aiden. "Terimakasih...semoga kalian...bahagia..." Aiden tersenyum lalu dia menyatukan kedua tangan pasangan itu.
Tubuhnya terkulai lemas, di pangkuan Liliana dia menghembuskan nafas terakhirnya.
"Aiden!!" Teriak Liliana sedih, dia memeluk Aiden yang sudah berlumuran darah.
Max juga membeku, mendapati Aiden sudah tak bernyawa lagi.
__ADS_1
...****...