Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 194. Eugene jadi Max


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


"Yang mulia, apa anda benar-benar serius melakukan ini?!" Eugene manakala dia harus menggantikan posisi Max sebagai raja, selama satu minggu lamanya.


Sementara Raja itu kemana? Dia yang sudah menjadi budak cinta Liliana, pergi ke kerajaan Gallahan untuk mencari cintanya. Salah, bukan mencari tapi mendapatkan cintanya. Dan dia akan membawa cintanya kembali ke sisinya.


"Eugene, kau hanya perlu melakukan tugasku seperti biasa. Tenanglah, Gustaf akan membantumu. Aku tidak akan pergi lama-lama, sebelum satu minggu itu... akan kupastikan, aku sudah bisa membawa wanita pujaanku kesini." Max tersenyum, dia sudah tidak sabar bertemu dengan kekasihnya.


Ah, memang kalau sudah menjadi budak cinta. Apapun pasti akan dilakukan untuk orang yang dicintai.


"Yang mulia...." pria itu masih saja mengeluh. Kini rupa dan suaranya sudah mirip dengan Max.


"Semangat Eugene!" Max mengepalkan tangannya, seraya memberi selamat pada Eugene.


Max pun pergi dari istananya secara diam-diam tanpa bantuan siapapun. Dia tidak mau Freya dan orang-orangnya tau kalau dirinya meninggalkan istana itu.


Tak berselang lama setelah kepergian Max dari istana. Terdengar seseorang mengetuk pintu malam-malam begini ke ruang kerja raja.


Tok, tok,tok!


Eugene yang saat ini berwajah Max, mendadak panik sendiri. Entah apa yang dia khawatirkan itu, yang jelas dia salah tingkah. "Oh.. apa yang harus aku lakukan? Si-siapa yang mengetuk pintu malam-malam begini?!"


"Yang mulia, saya pamit undur diri." Brieta tersenyum di wajah keriputnya itu, dia menggoda Eugene yang saat ini menjadi sang raja.


"Nyonya Brieta, anda senang sekali ya menggoda saya? Bukannya membantu saya untuk keluar dari situasi ini!" Eugene menatap Brieta dengan tajam, keningnya berkerut.


"Haha...maaf, saya hanya membantu sampai sini saja. Ah tapi, tiga hari lagi saya akan datang kemari... untuk memberikan ramuan yang barusan karena efek ramuan itu hanya bertahan selama 3 hari." Brieta


Mata Eugene membulat, mulutnya menganga karena terkejut. "APA? Jadi aku harus meminum ramuan sialan itu lagi? Ramuan yang memiliki rasa kotoran hidung?!" memikirkannya saja Eugene sudah merasa sangat mual, lantaran saat meminumnya saja perutnya langsung bergejolak. Lalu dia harus meminum itu untuk kedua kalinya? Oh tidak! Mungkin dia akan mati jika meminum ramuan itu untuk kedua kalinya.


Brieta langsung menghilang begitu saja dari pandangannya. Kemudian Eugene mulai melakukan aktingnya sebagai raja, dia bertanya siapa yang mengetuk pintu ruang kerjanya malam-malam seperti ini.


"Siapa disitu?!" Tanya Eugene dengan nada suara menirukan seperti Max.


"Kakak, ini aku Laura!" Seru Laura dengan suara panik.


Eugene terperangah begitu mendengar suara kekasihnya berada di depan pintu ruang kerja itu. 'Putri Laura? Mau apa dia kemari malam-malam begini?'


"Kakak, tolong bukakan pintunya! Pengawalmu sir Adrian, tidak mengizinkanku masuk! Ada sesuatu yang penting, yang ingin aku bicarakan dengan kakak." Pintanya dengan suara lantang seraya memohon kepada Max untuk membuka pintunya.


"Adrian, persilahkan Putri Laura untuk masuk!" Titah Eugene kepada Adrian yang sedang menjaga pintu.

__ADS_1


"Baik, yang mulia." Jawab Adrian.


Rasanya geli, mendengar kata yang mulia dari Adrian yang ditujukan kepada dirinya. Eugene menyunggingkan senyuman tipis di bibir sensualnya. Dengan wajah Max.


Pintu ruang kerja itu terbuka lebar, Eugene melihat Laura langsung menerobos masuk ke dalam sana. Tak lupa gadis itu menundukkan kepalanya dan membungkukkan setengah badannya seraya memberi hormat kepada Eugene dianggapnya sebagai Max.


Eugene berusaha menghilangkan kegugupannya di depan gadis itu. "Ada apa kau datang malam-malam begini ke ruang kerjaku?!" Tanya Eugene dengan suara yang berat.


Apa apaan aku? Bukankah suaraku sudah terdengar seperti yang mulia raja, kenapa aku masih berusaha meniru suaranya?


"Maafkan aku kakak, maaf karena aku tidak sopan datang kemari malam-malam untuk menemui kakak."


"Hem...pasti kau punya alasan mengapa kau melakukan itu? Kau bilang ada sesuatu yang penting kan? Apa?" Eugene menatap Laura, dia berusaha berakting sebagus mungkin sebagai Max.


"Iya kak, memang ada sesuatu yang penting---ughh..." tiba-tiba tubuh Laura terhuyung.


Dengan sigap Eugene menangkapnya. "Yang mu--ah...Laura, apa kau baik-baik saja?" Tanyanya cemas pada wanita itu.


Hufttt... hampir saja aku keceplosan memanggil namanya dengan sebutan yang mulia.


"Aku tidak apa-apa, Kak."


"Mari kita duduk dulu," ajak Eugene sambil membawa Laura untuk duduk di sofa.


Wajah Laura terlihat pucat, apa dia sakit?


Mereka berdua pun duduk di sofa, Eugene minta salah seorang dayang untuk mengambilkan minum. Dia cemas melihat Laura yang terlihat pucat itu. Laura pun minum dulu segelas air putih yang ada di atas meja.


"Kau kenapa? Apa kau sakit?" Tanya Eugene.


"Aku baik-baik saja, hanya sedikit kurang tidur. Tapi kakak, itu tidak penting! Aku kemari untuk membicarakan sesuatu dengan kakak." jelas Laura terburu-buru. "Aku tidak bisa menemui kakak di siang hari, nanti ibu tau. Jadi aku memilih waktu saat ini, agar ibu tidak tahu." sambungnya.


"Jadi...apa yang ingin kau bicarakan?"


"Eugene, tentang dia. Kak, apakah kau akan membantu kami sampai akhir?" Tanyanya sembari menatap Eugene dengan wajah kakaknya.


Eugene sempat terdiam sejenak, lalu dia berkata. "Tentu saja, aku akan membantumu Eugene."


Ya, ini memang yang dikatakan yang mulia Raja kepadaku. Bahwa dia agar menyatukan kami setelah dia mendapatkan cintanya.


"Benarkah kak? Lalu kapan kau akan menikahkan kami?" Laura sedikit bernafas lega mendengar ucapan Eugene.

__ADS_1


"Secepatnya, kau jangan khawatir." Eugene berusaha menenangkan kerisauan gadis itu.


"Iya kak, tolonglah....ibu sangat marah padaku, dia menentangku untuk menikah dengan Eugene. Dan dia juga mengatakan padaku, bahwa dia akan menikahkanku dengan pangeran dari kerajaan lain!"


Eugene tercengang, dia langsung terperan jat dari kursinya. "Apa?! Ini benar-benar tidak bisa dibiarkan!"


Yang mulia putri, akan menikah dengan pria lain? Tidak boleh!


Laura heran mengapa kakaknya begitu emosi, bahkan sampai berteriak seperti itu. "Kakak..."


"Ah...iya, kau tenang saja. Aku akan menikahkanmu dan Eugene secepatnya!" Kata Eugene tegas.


Yang mulia cepatlah kembali. Aku tak sabar ingin menikah dengan putri Laura. Aku tidak mau putri Laura menikah dengan pria lain.


"Terima kasih kakak! Kalau begitu aku bisa tenang, tapi tolong berikan lagi kepastian padaku ya kak. Kapan tepatnya kakak akan menikahkan aku dengan Eugene?"


"Ya, nanti aku akan mengabarimu lagi. Secepatnya!" Kata Eugene sambil tersenyum.


"Terima kasih sekali lagi kak, kalau begitu aku pamit undur diri." Laura kembali berdiri, dia memberi hormat pada Eugene lalu keluar dari ruang kerja Raja.


Di sepanjang perjalanan, Laura merasa ada yang aneh dari Max. Namun dia tak tahu keanehan apa itu?


Sementara itu Max sedang berada dalam perjalanan menuju ke kerajaan Gallahan. Dia berada di sebuah kapal laut. "Lily sayang aku datang....Dewi Fortuna...tolong restu aku." Max tersenyum lebar, menatap langit malam penuh bintang itu.


...*****...


Hai Readers, aku mau bagi kabar pemenang give away pulsa nih...Bagi nama-namanya yang tertera disini, bisa dm Ig ku : irmanurhayati41, atau chat dengan follow akunku ya 😍🙏😁


Pemenangnya adalah :


1. Riani


2. Ramadhani Kania


3. Erni Hidayat


4. Wira BP


5. Anne Rukpaida


Selamat kepada pemenang, ditunggu kabarnya sampai besok siang ya 🙏😁

__ADS_1


__ADS_2