Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 210. Jebakan untuk tersangka


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Penjagaan di istana di perketat, bukan hanya di istana tapi juga di kerajaan itu. Max memerintahkan pada semua orang untuk tidak keluar dari istana dan dari kerajaan. Dia akan mencari siapa yang sudah berani meracuni istrinya.


"Adrian! Tidak boleh ada seorang pun yang keluar dari sini, bahkan seekor tikus pun tak bisa! Dan tangkap dayang bernama Dorothy itu!" titah Max sambil menggendong istrinya berjalan di lorong untuk masuk ke dalam kamarnya.


Dorothy, menjadi tersangka karena dia yang membawa minuman untuk Liliana. Semua dayang istana bahkan beberapa orang bersaksi melihat Dorothy memasukkan sesuatu ke dalam minuman Liliana. Dorothy pun di seret ke penjara untuk di mintai keterangan.


"Yang mulia...saya tidak bersalah, saya tidak pernah memasukkan sesuatu ke dalam minuman yang mulia Ratu..." terlihat wajahnya cemas melihat Liliana yang berada di gendongan Max.


Max tidak menjawab ucapan Dorothy, saat ini pikirannya hanya tertuju pada Liliana yang tidak sadarkan diri. Dia tidak bisa percaya siapapun pada saat genting seperti ini.


Sementara itu Laura syok dan terhuyung, beruntung suaminya berada disisinya.


"Sayang," lirih Eugene cemas sambil memegangi istrinya.


"Minuman itu... minuman itu hampir saja aku yang meminumnya...kalau aku yang meminumnya, maka aku yang--" ucap Laura masih syok.


Eugene pun mulai memikirkan hal yang sama dengan apa yang Laura pikirkan. Jika Laura yang meminum minuman itu maka Laura yang akan celaka. Apakah racun itu memang sengaja ditujukan untuk Laura atau bagaimana? Eugene rasa bahwa dia harus menyelidiki ini.


"Sayang, mari kita kembali ke kamar..." ucap Eugene mengajak istrinya pergi dari sana untuk menenangkan diri.


"Laura, putriku apa kau baik-baik saja?" tanya Freya sambil memegang kedua pipi Laura dengan cemas.


"Ibu...aku baik-baik saja, ibu hampir saja aku....hiks.."


Freya memeluk putrinya seolah dia mengkhawatirkan kondisi Laura. Padahal dalam hati dia kesal karena bukan Laura yang meminum racun penggugur kandungan itu. Entah kenapa juga sekarang Eugene mulai mencurigai gelagat Ibu mertuanya, yang tiba-tiba saja berlaku baik padahal selama ini dia tidak pernah menyukai dirinya.


Pesta syukuran itu berakhir dengan kacau dan kepanikan semua orang. Para menteri dan tamu yang hadir tidak boleh pergi dari sana sebelum Liliana sadar.


"Ini gila, siapa yang berani meracuni Baginda ratu?"


"Sepertinya orang itu cari mati. Kalian lihat kan wajah yang mulia raja? Yang mulia seperti ingin membunuh orang." ucap seorang bangsawan.


"Bersiap-siaplah orang itu akan tamat! Tidak peduli siapapun orangnya."


"Benar, bahkan kita tidak bisa diizinkan pergi dari sini. Apakah kita tahanan?"


Semua orang membicarakan sikap Max yang mengurung mereka semua di dalam istana. Mereka tidak akan bisa pergi sebelum Liliana siuman, dan Max sama sekali tidak peduli dengan keadaan para tamu yang hadir.


Seorang dayang terlihat gugup saat mendengar pembicaraan itu, dia pun pergi dari aula istana dengan tergesa-gesa. Kemudian seorang pengawal membawanya pergi dari sana dengan membekap mulutnya.


******


Kini Liliana sudah berbaring diatas ranjang, dengan Max disampingnya. Terlihat gaunnya yang berdarah, juga sekitar wajahnya yang memuntahkan darah tadi.


Beberapa tabib datang ke kamar itu untuk memeriksa kondisi Liliana. "Tolong! Cepat lakukan sesuatu!" teriak Max panik sambil mengacak-acak rambutnya dengan gusar.


Lily, tidak boleh terjadi apa-apa padamu. Kau harus baik-baik saja, kalau tidak....aku akan gila.


"Yang mulia, tenanglah...kami akan memeriksa kondisi Baginda Ratu!" Seru tabib Chris sebagai pemimpin tabib di istana itu. Dia berusaha menenangkan hati seorang suami yang mencemaskan istrinya.


"Tolong! Kumohon... selamatkan dia!" teriak Max berseru meminta pertolongan. Tanpa sadar buliran air mata jatuh membahasi tentang pipinya. Dia sungguh takut akan terjadi sesuatu pada Liliana seperti masa lalu.


Sungguh membuatnya panik dan tidak dapat membayangkannya. Rasanya sakit mengingat masa lalu ketika Liliana tiada. Jangan sampai dia merasakan hal itu untuk kedua kalinya. Cukup! Semua itu jadi mimpi buruknya saja.


"Ya yang mulia, kami akan melakukan yang terbaik." ucap Chris menyahut.


Chris dan beberapa tabib memeriksa kondisi Liliana dan berupaya untuk menolongnya. Namun di saat pemeriksaan, Chris ingin meminta gelas yang sebelumnya Liliana minum dari sana. Kemudian Adrian menyerahkan gelas itu pada Chris. Pria paruh baya itu memeriksa kandungan yang ada didalam gelas tersebut.


"Ini obat penggugur kandungan." ucap Chris yang sontak saja membuat semua orang tercengang di sana. Terutama Max.


Obat penggugur kandungan? Apa artinya bukan Liliana yang hendak diracuni tapi Laura yang sedang hamil? Sudah jelas, Max pun mengambil kesimpulan bahwa Freya yang ada di balik semua ini.


Freya...wanita iblis itu! Aku tidak akan pernah membiarkanmu lolos kali ini.


Max mengepalkan tangannya dengan erat, seraya menahan marah. Dia sungguh tidak tahan ingin segera menemui Freya untuk meminta pertanggungjawabannya, namun Liliana istrinya masih belum sadarkan diri dan membuatnya harus tetap tinggal di sana.


"Obat penggugur kandungan ini di berikan dengan dosis yang tinggi dan menyebabkan Baginda Ratu tidak sadarkan diri." ucap Chris kemudian.


"Apakah ini berbahaya untuk nyawanya? Kau harus menyelamatkan dia! Kumohon!'' Max memohon kepada tabib tabib itu.


Setelah 2 jam melakukan penanganan untuk Liliana. Akhirnya para tabib itu berpamitan pergi, wajah Liliana yang pucat itu masih terbaring lemah.


Kini hanya ada Chris saja ada yang ada di sana bersama Max. "Tabib, kau yakin istriku baik-baik saja? Lalu mengapa dia masih belum sadarkan diri?" tanya Max sambil mengusap lembut wajah istinya dengan perasaan yang sama yaitu cemas.


"Yang mulia tenang saja, nyawa Baginda ratu baik-baik saja. Baginda ratu hanya perlu banyak beristirahat, karena pendarahan yang dialaminya. Akan tetapi--" ucap Chris tiba-tiba menggantung saja di sana dan membuat Max penasaran.


"Apa? Katakan!"

__ADS_1


Chris membukukan setengah badannya wajahnya terlihat cemas."Maafkan saya yang mulia, saya terpaksa harus mengatakan ini. Mohon ampuni saya--"


"Jangan banyak bicara, katakan saja!"


"Akibat dari pendarahan ini, rahim yang mulia Ratu menjadi lemah dan yang mulia Ratu akan kesulitan untuk mengandung." jelasnya yang masih menundukkan kepalanya.


Deg!


Max terperangah mendengar penjelasan Chris, dia langsung memasang atensi tajamnya pada Chris. "Apa kau tidak berbohong? Kau berani bertaruh dengan nyawamu bahwa apa yang kau katakan padaku ini benar-benar kejujuran!" tegasnya.


"Sa-saya tidak mungkin berbohong soal kondisi Baginda Ratu kepada yang mulia raja, saya masih sayang nyawa saya." ucapnya serius.


Melihat dari reaksi Chris, tabib itu sama sekali tidak menunjukkan kebohongan dalam kata-kata maupun raut wajahnya. Apalagi gak seperti ini adalah hal yang sensitif dan juga serius, jadi mana mungkin dia berani berbohong apalagi kepada matahari kekaisaran itu?


"Baiklah, Lily hanya kesulitan mengandung bukannya yg tidak bisa." gumam pria itu pada dirinya sendiri. "Kalau begitu tabib Chris, kau harus tutup mulut! Jangan sampai berita ini tersebar, kau juga harus rahasiakan ini dari Ratu." ucapnya tegas.


Alasan Max merahasiakan hal ini dari Liliana karena dia takut kuliahan merasa sedih dengan keadaannya. Meski mendengar diagnosis dari Chris, Liliana akan kesulitan mengandung. Bagi Max tidak masalah, Iya masih berpikiran positif tentang hal itu dan tak mau mempermasalahkannya. Tapi jika Liliana tau hal ini, maka dia akan berubah menjadi sensitif dan emosional. Dia lebih memilih untuk menjaga perasaan istrinya.


"Baik yang mulia, saya akan merahasiakannya." jawab Chris berjanji.


"Kalau berita ini sampai tersebar keluar, maka kepalamu dan juga keluargamu yang akan menjadi taruhannya. Paham kau?!" Tegasnya pada Chris.


"Ya yang mulia," jawab Chris berjanji.


"Pergilah!" titahnya.


Chris membukukan badannya seraya memberi hormat, kemudian dia pergi meninggalkan kamar itu. Kini hanya Liliana dan Max saja yang berada di dalam ruangan itu.


"FREYA! Kau akan mati kali ini!" Max gusar pada Freya karena melihat kondisi istrinya saat ini.


Pria itu pun meninggalkan istrinya disana bersama seorang Daisy dan penjagaan ketat karena dia akan pergi ke penjara.


Daisy cemas melihat Liliana yang terbaring tidak sadarkan diri karena racun. Daisy menemani Liliana di kamarnya dan berharap agar gadis itu cepat siuman.


"Yang mulia, cepatlah siuman...saya mencemaskan yang mulia." ucap


*****


Di penjara istana...


Dorothy sedang di interogasi disertai dengan penyiksaan. Wajahnya lebam, tangan dan kakinya di ikat. Kini dia bersiap untuk timah panas yang akan mendarat ke wajahnya. "Katakan! Siapa yang menyuruhmu melakukannya?!" tanya seorang algojo penjara, yang sudah menyiapkan besi panas ditangannya.


"Jangan berpura-pura memelas dan menanyakan kondisi Baginda Ratu! Kaulah yang membuat Ratu begini. Sekarang, katakan padaku! Siapa yang sudah memerintahkanmu untuk meracuni Ratu? Kalau kau tidak mau mengaku, maka timah pada sini akan merusak wajah cantikmu itu!" ancam si algojo.


"Sa-saya tidak akan pernah mengakui kesalahan yang tidak pernah saya perbuat! Saya tidak pernah melakukan itu dan saya tidak pernah diperintahkan oleh siapapun juga!" tegasnya. "Saya hanya ingin memberikan minuman untuk Putri Laura dan juga pangeran Eugene karena mereka terlihat kehausan dan lelah di sana." tutur Dorothy.


"Beraninya kau berbohong! Jelas-jelas kau sudah--"


Saat algojo itu akan meletakkan timah panas di wajah Dorothy, gadis itu memejamkan matanya ketakutan. Kemudian seseorang mengumumkan kedatangan Raja kesana. "Yang mulia Raja telah tiba!"


Algojo itu menghentikan aktivitas penyiksaan alias interogasinya. Dia menyimpan timah panas itu, kemudian segera memberi hormat pada Max.


"Pergilah! Tinggalkan aku disini bersamanya!" titah sang Raja pada algojo dan para sipir penjaga yang ada disana.


Dorothy tercekat melihat Max. Lalu semua orang pergi dari sana meninggalkan Max dan Dorothy di sel itu. Posisi Dorothy masih terikat kuat dengan tali di atas sebuah kursi.


"Yang mulia...saya tidak melakukan itu, saya benar-benar tidak meracuni yang mulia Ratu." Dorothy menangis sesenggukan.


"Aku tau kau bukan pelakunya, kau tidak mungkin melakukan itu pada istriku. Kau di jebak!" ucap Max pada Dorothy.


Jika Lily melihat Dorothy seperti ini, dia pasti akan merasa sedih. Lily, maafkan aku...aku melakukan ini agar bisa mengakhiri kejahatan Freya.


"Tapi siapa yang ingin menjebak saya yang mulia? La-lalu bagaimana kondisi baginda Ratu sekraang? Apa Baginda Ratu baik-baik saja?" tanya dayang itu pada Max. Dia sangat mencemaskan kondisi Liliana.


"Ratu belum siuman. Nah Dorothy, aku butuh bantuanmu...untuk menangkap pelaku sebenarnya. Tapi kau harus berpura-pura dan berkerjasama denganku."


"Saya akan melakukan semua titah yang mulia raja, orang itu...orang yang sudah mencelakai yang mulia Ratu, dia harus tertangkap dan mendapatkan hukuman yang seharusnya!"


Dayang itu bersedia untuk bekerja sama dengan Max, dengan satu tujuan yang sama yaitu menangkap pelaku alias tersangka yang sebenarnya.


"Baiklah, maka dengarkan aku baik-baik dan jawablah pertanyaanku dengan jujur. Apa yang sebenarnya terjadi sebelum minuman itu kau sajikan untuk putri Laura dan pangeran Eugene?" tanya Max dengan tatapan tajam pada Dorothy.


Dorothy pun menceritakan semua yang ia tahu dan yang terjadi sebelum dia menyajikan minuman itu untuk Laura dan suaminya. Tanpa ada yang ditutupi ataupun yang di tambahkan dalam cerita itu. Max manggut-manggut, mencerna apa yang diceritakan oleh Dorothy. Kemudian Max mengambil kesimpulan tentang dayang istana yang saat itu berada di dapur. Pasti ada salah satu orangnya ratu disana.


"Baik, kan aku sudah mendengar semua ceritamu... sekarang kau harus melakukan sesuatu. Yaitu pengorbanan." ucap Max tajam.


Max membicarakan tentang pengorbanan itu pada Dorothy, entah apa yang dia rencanakan bersama dayang setia Liliana itu.


Setelah itu Max keluar dari sel Dorothy, dengan wajah marah dia memerintahkan agar Dorothy di hukum gantung di alun-alun kota besok.

__ADS_1


"Siapkan hukuman gantung untuk dayang istana itu! Besok pagi dia harus kehilangan Nyawanya dan semua orang harus melihatnya!" titah sang Raja kepada algojo penjara tersebut.


Algojo dan beberapa pengawal istana yang mendengarnya langsung tercengang. Apa maksud dari ucapan Rajanya itu? Apakah Dorothy telah mengakui bahwa dia memang bersalah?


"Baik yang mulia."


Mereka tidak banyak berkomentar hanya melakukan kepala dan patuh pada ucapan yang mulia rajanya.


****


Sementara itu Freya terlihat sedang berbicara dengan seorang pria berjubah hitam dia tempat sepi istananya. "Bagaimana dengannya? Sudah kau bereskan?"


"Sudah yang mulia,"


"Baguslah, jangan sampai meninggalkan jejak. Pergilah dari sini dan jangan pernah kembali!" Freya memberikan satu karung yang tak apa isinya kepada laki-laki itu.


Laki-laki itu tersenyum simpul, dia sangat senang menerima karung tersebut dari Freya. Lalu laki-laki itu pun pergi meninggalkan istana Ibu suri.


Tak lama kemudian Margareth datang beritahukan kepada Ibu suri bahwa Dorothy akan di hukum gantung. Freya senang mendengarnya, Ternyata semua tepat pada sasarannya dan dayang yang itulah yang menjadi kambing hitam.


"Kalau begini, aku bisa tidur dengan nyenyak karena ada kambing hitam. Besok aku akan menyaksikan hukuman gantung si dayang setia Ratu." gumam Freya sambil merebahkan tubuhnya ke atas ranjang empuk.


Dia tidak tahu saja bahwa akan ada hal besar yang menantinya esok hari.


*****


Keesokan harinya, Liliana membuka matanya. Dia melihat langit-langit yang tidak asing, lalu matanya lihat ke sekelilingnya. Ah rupanya dia berada di kamarnya.


"Kakak! Kakak ipar, kau sudah bangun? A-aku akan panggilkan tabib dan aku akan menyuruh seseorang untuk memanggil kakak!" Laura melepaskan tangannya dari Liliana, lalu dia beranjak dari tempat duduknya untuk segera memanggil tabib dan Max. Namun Liliana menahan tangannya. "Putri Laura..." lirih Liliana lemas.


"Ya?"


"Apa kau baik-baik saja? Apa kau...bayimu?" wanita yang baru saja siuman itu melihat ke arah perut datar Laura.


Laura kembali duduk di kursi yang tak jauh dari ranjang Liliana. Dia memegang tangan Liliana. "Aku baik-baik saja kak, maafkan aku kak... karena ku kakak jadi seperti ini." ucap Laura merasa bersalah pada Liliana.


Ratu kerajaan Istvan itu menggelengkan kepalanya, "Tidak! Kumohon... jangan mengucapkan kata maaf padaku, kau sama sekali tidak melakukan kesalahan kepadaku. Daripada kata maaf aku lebih butuh kata terimakasih." Liliana tersenyum seraya menggoda Laura yang menangis. Agar keadaan wanita hamil itu menjadi lebih tenang dan lebih baik.


Terbukti!


Laura kini tersenyum dan mulai menyeka air matanya. "Kakak...aku dan anakku berhutang kepadamu seumur hidup kami. Terima kasih sudah menyelamatkannya." ucap Laura berterimakasih.


"Syukurlah kalau kau baik-baik saja...tapi dimana Raja?" Tanya Liliana sambil beranjak duduk di ranjangnya. Tangannya memegang perut yang masih sakit.


Kenapa rasanya seperti saat aku kehilangan bayiku dimasa lalu?


"Kakak sedang--" Laura menggantung ucapannya di sana.


"Sedang apa putri Laura?" tanya Liliana penasaran seraya menata putri kerajaan itu.


"Kakak sedang berada di alun-alun kota, dia akan menghukum...eungh...dia akan..."


"Kenapa kau bicara terbata-bata seperti ini? Apa terjadi sesuatu? Mengapa yang mulia Raja pergi ke alun-alun?" kening wanita itu berkerut.


Tak lama kemudian, Daisy datang ke ruangan itu sambil membawakan makanan untuk Liliana. Daisy tersenyum bahagia melihat Liliana sudah sadar dan dia tepat waktu membawakan makanan kesana.


"Yang mulia syukurlah anda sudah siuman." ucap Daisy lega.


"Daisy...aku akan pergi menemui Raja." ucap Liliana sambil beranjak dari ranjangnya. Kemudian dia memegang perutnya. "Ughh..."


"Nanti saja kita temui Baginda Raja, kakak ipar masih harus beristirahat dulu." ucap Laura cemas melihat Liliana masih kesakitan.


"Aku harus bertemu dengannya sekarang!" Liliana mengambil baju dan merapikan sedikit rambutnya. Dia tak sabar bertemu dengan Max untuk segera berbicara dengannya.


Ketika Liliana sampai di depan kamarnya, dia mendengar perbincangan tentang dayang setianya yang akan di hukum gantung. Liliana sangat syok dan dia pun segera pergi ke alun-alun untuk menghentikan hukuman mati Dorothy.


Liliana menangis, dia tidak menyangka bahwa Max akan menghukum dayang setianya.


"Eugene, tolong! Yang mulia Ratu pergi ke alun-alun dengan menunggangi kuda sendirian, para pengawal sedang mengejarnya!" seru Laura cemas.


"Kau tidak usah cemas, aku akan menyusul Ratu. Kau disini saja, jangan kemana-mana." ucap Eugene yang lalu mengecup kening Laura.


Jantungnya berpacu dengan jalannya kuda, dalam keadaan sakit dan wajah pucat. Liliana pergi ke alun-alun kota, dibelakangnya ada pengawal istana juga.


"Yang mulia hentikan! Yang mulia..." ucap salah satu pengawal, tapi tidak mengindahkannya.


Dia tetap berjalan maju dan membuat kudanya berlari semakin kencang. Kemudian dalam beberapa menit, dia pun sampai di alun-alun kota. Dia melihat Max, Dorothy, semua rakyat berada di alun-alun kota.


"Tidak... Dorothy..." Liliana menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2