Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 105. Penyerangan (1)


__ADS_3

Meski hatinya enggan melepaskan suaminya untuk pergi, namun dia tidak punya pilihan lain selain rela dan ikhlas. Demi kepentingan negeri, demi tugas mulia dan demi kewajiban yang diembannya sebagai calon Raja negeri itu.


Tak lama setelah kepergian Max dan pasukannya ke wilayah Utara. Liliana mengajak Laura untuk bicara berdua tentang bayi Laura dan masa depannya bersama Eugene.


Kedua wanita itu berbicara di ruang kerja putri mahkota. Tempat yang tidak bisa dimasuki sembarang orang. Disana hanya ada Laura dan Liliana saja.


"Yang mulia putri mahkota, tuan putri..ini teh dan cemilannya." Kata Bianca, sekretaris pribadi Liliana yang selalu membantu dia dalam menyelesaikan pekerjaannya.


Bianca menyimpan dua gelas teh dan cemilan kue di atas meja itu.


"Terimakasih nona Bianca, kau bisa pergi sekarang." Ucap Liliana sopan diiringi dengan senyuman ramah dibibirnya.


"Ya, yang mulia." jawab Bianca patuh, dia membungkukkan setengah badannya didepan kedua putri itu dengan rasa hormat. Kemudian dia pergi keluar dari ruangan itu dan menutup pintu.


KLAK!


"Yang mulia, apa yang ingin kau bicarakan denganku?" Tanya Laura pada kakak iparnya itu.


"Maafkan aku sebelumnya putri Laura, ini mengenai anak yang berada didalam kandunganmu dan juga hubunganmu dengan sir Eugene."


Laura tercekat, dia menatap kakak iparnya itu dengan kening berkerut. "Ya kakak ipar, bicaralah?"


"Sebelumnya aku minta maaf karena aku sudah memberitahukan ini pada yang mulia putra mahkota dan kami sepakat akan membantumu untuk bersama sir Eugene." Ucap Liliana sambil tersenyum.


"Kakak ipar tidak usah minta maaf, diantara suami istri tidak boleh ada yang disembunyikan. Sudah sewajarnya kakak memberitahukan ini pada kakakku, aku tidak masalah. Aku percaya kalau kakak akan membantuku. Aku malah sangat berterimakasih pada kalian berdua!" Laura tersenyum bijak, dia mengambil teh hangat yang ada di atas meja, kemudian menyeruputnya.

__ADS_1


"Aku pikir kau akan marah kepadaku, putri. Ternyata kau sangat bijak...tidak heran Sir Eugene sangat mencintaimu. Tapi, tentang baginda Ratu dan Baginda Raja...apa mereka sudah tau tentang hal ini?" Tanya Liliana sembari menatap gadis didepannya itu.


Melihat dari sikap Ratu, alangkah baiknya jika dia tidak tau tentang kehamilan putri Laura. Aku tidak yakin dia akan tetap diam saja jika dia tau semua ini.


"Belum, ibuku...dia jangan sampai tahu dulu. Tapi, aku berencana memberitahukan ini pada ayah." Laura memegang perutnya, dia menatap perutnya yang masih datar itu dengan resah.


"Ya, sebaiknya Ratu jangan tau dulu tentang hal ini. Soal Raja, aku dan putra mahkota berencana memberitahu padanya setelah putra mahkota dan pasukannya kembali dari Utara. Kau tenang saja dan pikirkan kesehatanmu nya bayimu baik-baik." Jelas Liliana sambil melihat ke arah Laura dengan senyuman.


"Terimakasih kakak ipar, kau dan kakak sangat memahami ku."


"Sudah seharusnya, karena kau sudah sama seperti adikku sendiri. Jadi, jika kau perlu sesuatu atau ada apa-apa...kau harus beritahu padaku ya?" Liliana memegang tangan Laura, dia ingin menjadi tempat bersandar Laura dan bayinya.


Laura mengangguk sambil tersenyum. "Terimakasih kakak ipar!"


...****...


2 hari telah berlalu sejak Max dan pasukannya pergi ke wilayah Utara. Mereka baru sampai di wilayah Utara itu. Desa disana terlihat seperti desa mati, tidak ada seorang pun disana.


"Yang mulia, ini sangat aneh...mengapa desa ini terlihat sepi tanpa penduduk?" Tanya Eugene pada putra mahkota kerajaan Istvan itu.


Ya benar, desa itu bersih seperti disapu badai. Tidak ada seorang pun disana, bekas darah atau penyerangan monster juga tak terlihat.


Max turun dari kudanya, dia melihat-lihat ke sekelilingnya dengan mata terbuka lebar. Pendengarannya yang cukup tajam itu membuat dia bisa mendengar suara aneh. Bahkan dia mencium bau darah yang menyengat, namun tak nampak apapun disana.


Ada suara erangan dan bau darah.

__ADS_1


"Desa ini terlalu tenang. Justru sangat aneh karena tidak ada siapapun disini. Kalian, sisir semua wilayah ini, temukan seseorang! Masuki setiap rumah!" Titah Max pada para pasukannya yang ikut serta dalam penyerangan itu.


"Baik, yang mulia!" Jawab para prajurit dengan patuh.


Mereka menyusuri jalan disana dan memasuki setiap rumah di desa itu. Namun disana tak ada siapapun dan mereka hanya menemukan bercak darah berceceran.


"Yang mulia! Saya menemukan sesuatu!" Ucap seorang prajurit melapor pada Max.


"Bawa aku kesana," ucap Max dengan wajah dinginnya. Ketika dia sedang melakukan tugas negara, dia memang terlihat serius dan fokus.


Prajurit itu membawa Max ke salah satu rumah penduduk dan disana terlihat seorang anak laki-laki tergeletak dengan bersimbah darah.


"Yang mulia, saya pikir dia masih hidup! Tadi saya mendengar dia bernapas," ucap Prajurit itu menjelaskan.


Max memeriksa sendiri anak laki-laki dan satu-satunya orang yang ditemukan di tempat itu. Saat tangan Max mendekat pada tubuh anak itu, tiba-tiba saja anak itu terbangun dan berdiri dengan tubuh membungkuk.


"Arrghhhhhhhhhh...." Anak laki-laki itu mengerang, wajahnya berlumuran darah dengan gigi hitam bertaring.


"Mundur!" Teriak Max pada para para prajuritnya. Semua orang disana kaget melihat anak laki-laki berwujud menyeramkan itu.


...-----******-----...


TBC...


Jangan lupa like, komen, vote dan gift kalian ya.. author mau crazy up kalau komennya banyak..🥺

__ADS_1


__ADS_2