
...🍀🍀🍀...
Ketika pasangan pengantin baru sedang sibuk dengan bulan madu mereka. Eugene dan Laura juga sibuk dengan urusannya di istana Istvan. Selama Max pergi bersama Liliana, Eugene dan Laura diberikan tanggung jawab untuk mengurus masalah internal kerajaan. Laura sekarang juga sibuk dengan pekerjaannya sebagai seorang istri dan juga menghandle pekerjaan Liliana yang nantinya akan kembali dari bulan madu sebagai permaisuri.
"Masih banyak sekali undangan yang harus dihadiri dan banyak juga surat yang menunggu balasan," ucap Laura bergumam pelan begitu melihat tumpukan surat yang menumpuk di atas meja kerjanya, lebih tepatnya meja kerja calon permaisuri. "Katanya kakak dan kakak ipar akan kembali setelah 3 hari, tapi mereka sudah 2 Minggu belum pulang juga?" gerutu Laura teringat surat yang dikirimkan oleh Liliana kepadanya, yang mengatakan bahwa dia dan suaminya akan kembali dalam kurun waktu 3 hari. Namun, bukannya 3 hari tapi dua minggu mereka belum pulang juga.
Semua surat ini nantinya akan menjadi pekerjaan Liliana, setelah dia kembali dari bulan madunya. Namun saat ini pekerjaan itu diambil oleh Laura.
"Yang mulia, anda sudah berada disini dari tadi pagi. Anda belum makan apapun, saya akan siapkan makanan untuk yang mulia sekarang ya?" Annie, si dayang setia Laura itu merasa khawatir karena dari tadi pagi Laura belum sarapan dan makan apapun. Hanya sibuk di meja kerja saja.
Dia takut kalau hal ini akan menganggu kesehatan Laura. Annie sudah berada bersama Laura sejak lama dan dia sangat dekat dengan Laura.
"Annie, nanti saja. Kau tidak lihat betapa banyaknya surat yang harus aku balas? Nanti saja ya," Laura masih sibuk dengan pekerjaannya.
Mendengar penolakan dan keras kepala dari Laura yang tidak mau makan, Annie tidak tahan. Dia pun memutuskan untuk bicara dengan Eugene yang saat ini berada di ruang kerjanya, mengerjakan pekerjaan Max.
Eugene sama sibuknya dengan Laura, ditemani Gustaf dia memeriksa dokumen setiap harinya. Memantau kegiatan para ksatria dan pertemuan dengan berbagai penentangan dari menteri karena kekuasaan di alihkan pada Eugene sementara. Namun mereka perlahan-lahan menerima Eugene karena takut dengan Max. Pengetahuan Eugene juga luas dan dia bisa menjadi pemimpin yang baik.
"Yang mulia pangeran ," Adrian membungkukkan badannya di depan Eugene yang masih duduk di meja kerja.
Mengapa Adrian memanggilnya yang mulia pangeran? Itu karena Eugene menikahi seorang putri dan otomatis dia diangkat menjadi pangeran.
"Ada apa sir Adrian?"tanya Eugene dengan wajah serius penuh wibawa.
"Dayang dari istana putri datang, katanya dia ingin bertemu dengan yang mulia pangeran untuk membicarakan masalah tuan putri." tuturnya menjelaskan.
"Putri? Apa terjadi sesuatu kepada istriku?" tanya Eugene dengan kening berkerut cemas. "Izinkan dia masuk," ucap Eugene.
"Baik yang mulia," jawab Adrian sopan.
Adrian menundukkan kepalanya dan berjalan ke arah luar ruangan itu. Tak berselang lama, Annie datang menghadap kepada Eugene, langsung saja pria itu menanyakan apa yang terjadi pada Laura.
"Ada apa Annie? Apa terjadi sesuatu pada istriku?" tanya Eugene dengan tatapan cemas pada Annie.
"Yang mulia, saya ingin melaporkan bahwa yang mulia putri belum makan dari tadi pagi, belum makan apapun." Tutur Anie mengadu.
"APA? Bagaimana bisa?" tanya Eugene tersentak kaget mendengarnya. "Baiklah, aku akan menemuinya." ucapnya.
"Tuan Gustaf, aku akan pergi menemui Putri dulu...kau juga pergilah makan siang," titah Eugene pada Gustaf yang masih berada di ruang kerjanya.
Namun ternyata hari itu bukanlah siang lagi, melainkan sore. Eugene pun pergi ke istana putri, istana tempat istrinya bekerja di sana. Dia melihat istrinya masih sibuk dengan tumpukan dokumen di mejanya dan sampai tidak menyadari kehadiran Eugene disana.
__ADS_1
"Istriku..." lirih Eugene yang langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Eu-Eugene...kau mengagetkanku! Kapan kau datang?"
Eugene yang tadinya berada di belakang Laura, kini dia beralih ke depan Laura. "Dari tadi, tapi kau tidak menyadari kehadiranku. Kenapa kau belum makan? Apa kau terus bekerja sepanjang hari seperti ini tanpa makan?" tanya Eugene cemas.
"Apa Annie mengadu padamu?" tanya Laura dengan mencebikkan bibirnya.
"Dia tidak mengadu, dia hanya mengatakan apa yang harus dia katakan kepadaku. Dia hanya mengkhawatirkan dirimu, jangan salahkan dia dan ayo kita pergi makan!" Eugene memegang tangan istrinya, seraya mengajaknya untuk makan bersama. "Ya, walaupun bukan siang lagi...tak apa kan makan terlambat sedikit?"
"Tapi pekerjaanku belum selesai, Eugene!"
Chup
Eugene memagut bibir istrinya dengan lembut, kemudian dia tersenyum manis. "Makan dulu istriku, ayo... tinggalkan dulu pekerjaanmu sejenak."
"Baiklah." balas Laura seraya tersenyum.
Akhirnya kedua orang itu makan bersama di ruang makan istana putri. Ketika makanan sudah tersaji di depan mata, tiba-tiba saja Eugene mual-mual. Saat dia mencium bau dari mangkuk sup.
"Uwekk... uwekk..."pria itu menutup mulutnya dan menahan mual.
"Suamiku? Kau kenapa?" tanya Laura cemas.
"Aku tidak apa-apa, hanya saja bau sup ini... aku benar-benar tidak menyukainya, sayang." ucap Eugene yang masih menutup mulutnya menahan rasa mual dari perutnya.
"Sepertinya aku masuk angin, tidak apa-apa."
Kenapa aku mual terus ya? Ada apa ini?
"Ini semua gara-gara kakak dan kakak ipar. Kenapa mereka belum juga kembali dari bulan madu mereka? Jadi kita kan yang sibuk mengerjakan semua pekerjaan istana." gerutu Laura kesal.
Setelah itu Eugene terus mual-mual tak terkendali, apalagi saat ia mencium bau masakan yang berkuah. Dia jadi susah makan dan membuat Laura cemas. Pekerjaan istana pun jadi agak tertunda selama 2 hari Eugene sakit. Dia tetap memaksakan dirinya untuk bekerja dan Laura selalu berusaha membujuknya untuk makan.
Ketika Laura dan Eugene sedang beristirahat di ruang kerja, Liliana dan Max mendatangi mereka. Pasangan pengantin baru itu setelah kembali dari perjalanan mereka untuk berbulan madu. Rencana bulan madu yang tadinya 3 hari, menjadi dua minggu lebih.
"Yang mulia Raja, yang mulia Ratu!" Eugene duduk di headboard ranjangnya, buru-buru dia memberi hormat kepada raja dan ratu kerajaan Istvan tersebut.
"Hormat kami Baginda raja dan Baginda ratu." Laura membungkukkan setengah badannya seraya memberi hormat kepada raja dan ratu.
"Kudengar kau sakit, maafkan kami ya...putri Laura dan pangeran Eugene," ucap Max memohon maaf.
"Iya, kami benar-benar minta maaf kepada kalian berdua. Kami sudah merepotkan kalian." Liliana juga merasa tidak enak karena telah membuat kedua orang itu menjadi kerepotan akibat pekerjaan yang menumpuk.
"Iya kakak ipar, suamiku sampai sakit karena dia terus-terusan saja bekerja siang dan malam. Mohon yang kakak dan kakak ipar, mengizinkan suamiku untuk beristirahat." pintanya pada Laura, tercetak kecemasan di wajahnya.
__ADS_1
"Istriku, aku baik-baik saja..."
Aku sungguh baik-baik saja, hanya aku kesulitan makan.
"Kau diamlah! Beberapa hari ini kau tidak bisa makan dengan benar, jangan katakan kau baik-baik saja!" seru Laura kesal dan cemas pada suaminya.
"Baiklah, tentu saja aku akan memberikan kalian waktu beristirahat. Kau tenang saja Eugene, beristirahatlah sampai kau sembuh dan siap untuk mengerjakan pekerjaan kembali. Aku akan mengirimkan hadiah untukmu dan juga Laura." tutur Max pada pasangan suami-istri itu.
"Terima kasih kakak," ucap Laura seraya tersenyum.
Kemudian Laura memegang kepalanya, dia pun jatuh tidak sadarkan diri menimpa tubuh Liliana. Eugene dan Max terkejut melihat itu.
"Putri Laura!" Liliana memegangi dan menopang tubuh Laura yang jatuh tidak sadarkan diri itu.
"Istriku!" Eugene panik.
Beberapa saat kemudian, Laura sudah berbaring dan diperiksa oleh tabib. Disampingnya ada Freya, Max, Liliana dan Eugene.
"Kalau sampai terjadi sesuatu kepada putriku, kau lihat saja! Aku akan menghabisimu!" Ujar Freya menatap tajam ke arah Eugene.
"Ibu mertua, maafkan aku...aku--"
"Cih!" Freya berdecih, tak suka dia mendengar nama panggilan ibu mertua dari menantunya.
Ya, sejahat apapun seorang ibu tidak akan mampu menyakiti anaknya. Apalagi anaknya sedang sakit seperti ini. Yang ada hanya rasa cemas.
Eugene terdiam dan merasa bersalah karena Laura sakit seperti ini karena mengurus dirinya juga
Tabib Chris memeriksa denyut nadi Laura. Raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran. "Apa yang terjadi pada istriku?"
"Selamat yang mulia pangeran!"
Senyum tabib paruh baya itu mengembang dengan indah.
"Selamat apa?" tanya Freya bingung.
"Selamat karena tuan putri sedang mengandung," jelas tabib Chris yang membuat kedua mata Freya melebar.
Eugene, Max dan Liliana awalnya tercengang, namun sesaat kemudian mereka tersenyum bahagia mendengar kabar itu. Bahkan Max dan Liliana langsung memberikan selamat kepada Eugene yang akan segera menjadi seorang ayah.
"Wah...selamat, kau akan segera menjadi seorang ayah!"
"Pangeran Eugene selamat." ucap Liliana tulus.
Apa? Anakku hamil anak orang rendahan itu?!
__ADS_1
*****