Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 214. Pesta bayi


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Tentang Brieta? Kemana perginya wanita tua itu setelah dia banyak menolong Max, Liliana dan juga kerajaan Istvan. Selama dua tahun, tidak ada kabar dari Brieta. Bahkan Max sudah mencarinya selama ini, sebab dia belum sempat berterimakasih padanya dan berniat memberikan wanita tua itu hadiah karena jasa-jasanya.


"Tapi Maxim, tidak ada kabar darinya selama ini...tidak ada yang tau dia masih hidup atau sudah mati. Namun aku berharap dia baik-baik saja."


"Iya sayang, dia pasti baik-baik saja...ah atau mungkin dia sedang bertapa di suatu tempat?" gumam Max berpikir.


"Mungkin saja." jawab Liliana sambil mengangguk.


"Sudah ya, kita Jangan memikirkan tentang itu dulu...aku ingin kau relaks Lily," ucap


"Namun tetap saja hal ini membuatku cemas, bagaimana jika aku tidak bisa memberikanmu keturu-- hmphh--"


Liliana bungkam manakala Max menyatukan bibirnya dengan bibir cantik ranum milik sang istri. "Hentikan itu! Berpikir positif lah! Bukankah tabib Chris mengatakan bahwa kau kesulitan mengandung bukan tidak bisa mengandung, camkan itu sayang!" Kedua tangannya meraup wajah Liliana dengan lembut.


"Baiklah, Aku akan mencoba untuk berpikir positif."


"Ya sudah, mari kita tidur sayang." ajaknya sambil merebahkan tubuh sang istri di atas ranjang. Tak lupa dia menyelimuti istrinya dengan selimut hangat.


"Hem...baiklah."


"Tidurlah sayang," tangan Max membelai rambut panjang wanita itu.


"Tapi aku sudah tidur." gumamnya dengan bibir mengerucut.


"Mau aku nyanyikan sebuah lagu?" tawarnya pada sang istri, sambil memandangi kecantikan Liliana.


Liliana menatap suaminya, ia pun tersenyum kemudian mengangguk.


"Baiklah aku akan menyanyi untukmu sayang, ingatlah bahwa suaraku mahal. Aku akan meminta bayarannya." Terlihat senyuman indah nan menggoda dibibirnya.


"Kau mau bayaran apa?" tanyanya.


"Nanti saja aku mintanya, sekarang aku minta amunisi terlebih dahulu." Ucap pria itu sambil mencondongkan wajahnya mendekat pada Liliana.


Cup!


Liliana mengecup pipi Max sekilas. "Sudah?"


"Bukan di pipi, sayang." Tunjuk Max pada bibirnya.


"Dasar manja!" Liliana berdecih namun ia tersenyum. Tak lama kemudian, dia mengecup bibir suaminya dengan lembut. Keduanya tersenyum.


Max pun duduk diatas ranjang, dengan tangan yang membelai lembut wajah sang istri. Dia mulai bernyanyi tanpa musik, ya suara Max memang indah.


...Heart beats fast...


...Colors and promises...


...How to be brave?...


...How can I love when I'm afraid to fall?...


...But watching you stand alone...


...All of my doubt suddenly goes away somehow...


...One step closer...


...I have died every day waiting for you...


...Darling, don't be afraid...


...I have loved you for a thousand years...


...I'll love you for a thousand more...


...Time stands still...


...Beauty in all she is...


...I will be brave...


...I will not let anything take away...


...What's standing in front of me...


...Every breath, every hour has come to this...


...One step closer...


...I have died every day waiting for you...

__ADS_1


...Darling, don't be afraid...


...I have loved you for a thousand years...


...I'll love you for a thousand more...


...And all along I believed I would find you...


...Time has brought your heart to me...


...I have loved you for a thousand years...


...I'll love you for a thousand more.....


Max tersenyum melihat wajah cantik itu sudah tertidur pulas dalam damainya. "Good night sayang, i love you...my Liliana."


Dikecupnya kening itu sebelum dia pergi tidur bersamanya. Mereka tidur dengan tenang, sambil berpelukan. Liliana terlihat sangat nyaman di dalam dekapan itu.


*****


Di sebuah pegunungan yang menjulang tinggi ke langit, disanalah Brieta berada. Kabut tebal menutupi gunung itu. Memang benar apa tebakan Max, wanita tua itu sedang bertapa dan dia juga mempunyai tujuan yang lain selama bertapa itu.


Dia mencoba melihat masa depan, entah masa depan siapa yang dia lihat. Wanita tua itu akhirnya mengakhiri pertapaannya.


"Sudah waktunya, aku memberitahu Baginda Raja dan baginda Ratu tentang kabar ini. Sudah cukup cobaan untuk mereka, kini langit dan Tuhan akan memberkati mereka dengan kebahagiaan melimpah. Namun dalam setiap kebahagiaan itu, ada yang harus di pertimbangkan."


Brieta tersenyum di wajahnya yang keriput itu, matanya memandangi langit yang saat itu sedang gelap. Hanya ada cahaya bulan dan bintang meneranginya.


"Bulan, matahari, bintang...mereka akan segera tiba...entah kehadirannya akan menjadi bencana ataukah sebuah keberuntungan." gumam Brieta yang kini menunjukkan wajah rasa gelisah. Entah apa yang dia gumamkan tentang bulan, matahari dan bintang.


Brieta pun turun dari gunung dan berjalan entah kemana. Walaupun usianya sudah lebih 100 tahun, dia masih tetap sehat bugar.


*****


Keesokan harinya, siang itu Brieta telah sampai di kerajaan Istvan dan dia rencana untuk menemui Raja juga Ratu Istvan.


Dia pun berhasil memasuki istana Istvan, namun sayangnya saat itu Liliana sedang tidak berada ditempat begitu juga dengan Max. Hanya Laura yang menyambut kedatangan Brieta.


"Mohon maaf nyonya Brieta, tapi yang mulia Raja dan yang mulia Ratu belum kembali dari pekerjaan mereka." Laura memohon maaf.


"Tidak apa-apa, saya bisa menunggu. Yang mulia putri..."


Sesekali Brieta lihat ke arah perut buncit Laura. Dia tersenyum, lalu dia mulai bicara dan mengatakan tentang kelahirannya. "Yang mulia, tidak lama lagi seorang putri akan hadir ke dunia ini. Dia akan menjadi bunga, yang dicintai oleh semua orang." tutur Brieta seraya tersenyum.


"Kita lihat saja nanti," jawabnya dengan senyuman lembut.


Tak berselang lama, Annie mengatakan kepada Laura bahwa Max dan Liliana telah kembali. Brieta dan Laura segera beringsut dari tempat duduk di mereka. Namun ketika Laura baru melangkah beberapa langkah, tiba-tiba saja dia memegang perutnya. "Aahhh....haahhh....ughh..."


Wanita hamil itu pemegang perutnya yang tiba-tiba saja mengencang. Sontak saja hal itu membuat semua dayang yang ada di sana menjadi panik. "Yang mulia putri, apa yang terjadi yang mulia?"


"Aku....aku tidak tahu... tiba-tiba saja perutku...ahh..." rintih wanita itu sambil memegangi perutnya.


"Tuan putri akan segera melahirkan, ayo kita bawa dia pergi ke kamar!" ujar Brieta sambil memegangi tangan Laura. Disisi lain ada Annie yang juga sedang memegangi Laura, menopang agar tubuh Laura tidak jatuh.


Keringat Laura mulai bercucuran, rasa sakit di perutnya semakin menjadi-jadi. Setelah beberapa langkah dia berjalan, akhirnya dia sampai di dalam kamarnya. Ada Max dan Liliana juga di sana, mereka menyusul Laura yang katanya akan melahirkan.


Di dalam kamar itu, terlihat ada Brieta, Liliana, seorang tabib wanita dan beberapa dayang membantu persalinannya. Laura akan benar-benar melahirkan saat ini, tapi bagaimana bisa? Padahal saatnya melahirkan butuh waktu dua minggu lagi.


"Tenanglah tuan putri, tarik nafas dalam-dalam...hembuskan perlahan...lakukan seperti itu, yang mulia." kata seorang tabib wanita memandu.


"Haahh... huuhh...huuhh...." Laura berusaha mengikuti instruksi dari tabib tersebut.


Eugene, suamiku...kau ada dimana? Kenapa kau belum datang?


Laura belum melihat sosok suaminya bahkan sampai saat ini, Padahal dia sangat berharap ditemani saat melahirkan anak mereka. Eugene memang ada tugas ke pusat kota, dan dia belum kembali juga.


"Aaakhh!!"


Laura menjerit, manakala perutnya seperti ditendang tendang. Seperti ada yang mau keluar dari sana. Di saat dia kesakitan akan melahirkan anaknya, suaminya datang tepat waktu.


"Sayang, aku disini!" Seru Eugene seraya memegang tangan istrinya.


"Suamiku..." Lirihnya, dengan mata berembun menatap wajah sang suami.


"Iya sayang, aku ada disini...kau pasti bisa sayang!" serunya menyemangati.


Laura menjadi tenang dengan eksistensi pria yang ia cintai di sana. Dia berjuang sekuat tenaga untuk melahirkan bayinya. Setelah melalui persalinan selama 2 jam, terdengarlah suara tangisan bayi yang membuat semua orang bahagia. Liliana adalah orang pertama yang menggendong bayi itu.


Owa....owaaa...


"Bayinya seorang perempuan, dia sangat cantik..." ucap Liliana sambil tersenyum melihat bayi mungil itu.


Laura dan Eugene tersenyum lebar melihat sosok bayi mereka. Brieta dan semua orang di sana bahagia dengan kehadiran bayi mungil yang lahir disertai cahaya indah, kulitnya putih bersih.

__ADS_1


Pasangan suami istri dan orang tua baru itu melihat bayi mereka dengan bahagia. Disisi lain Max juga tersenyum bahagia.


Max dan Liliana pergi dari kamar Laura, bersama dengan Brieta juga. Setelah itu perasaan Liliana menjadi campur aduk, antara sedih dan bahagia bersatu.


"Lily, kau kenapa?" Max bertanya karena ia melihat raut wajah Liliana yang berkaca-kaca.


"Aku bahagia karena putri Laura melahirkan, tapi--"


Air mata Liliana terus menetes, hingga membuat pria itu cemas. "Sayang..." lirih pria itu sambil menyeka air mata gadisnya, sepertinya dia merasakan apa yang dirasakan oleh istrinya.


Perasaan haru, bahagia bercampur sedih memang sangat menyakitkan.


"Yang mulia Raja dan yang mulia Ratu akan segera menyusul putri Laura dan pangeran Eugene." timpal Brieta yang berdiri dibelakang pasangan kerajaan Istvan itu.


Sontak saja Liliana dan Max melihat ke arah Brieta. "Mohon maaf atas kelancangan saya, hormat saya pada yang mulia ratu dan yang mulia raja." Brieta membungkukkan setengah badannya seraya memberi hormat pada Raja ratu Istvan itu.


Mereka bertiga pun berbincang di istana Raja dan Ratu sambil menghilangkan rasa lelah mereka karena membantu persalinan Laura.


Brieta tiba-tiba saja membahas soal pertapaannya pada Liliana dan Max. Dimana dia mendapatkan lamarannya.


"Akan ada matahari, bulan dan bintang yang menyinari kerajaan ini. Mereka tidak berada di waktu yang sama, tapi tugas mereka sama....yaitu sama-sama menyinari bumi dan berada di langit. Mereka saling melengkapi..."


"Brieta, apa maksud ucapanmu ini?" tanya Max tidak mengerti dengan ucapan Brieta.


Apa maksud Brieta?


Brieta tersenyum, kemudian dia meminta izin pada Liliana agar mengelus perutnya. Dia juga memberikan sebuah obat untuk Liliana dan Max, tak lupa sebuah gelang seperti jimat. "Pakailah ini setiap kalian akan berhubungan...jangan lupa." ucapnya sambil tersenyum.


"Terima kasih Brieta." ucap Max dan Liliana seraya tersenyum.


"Percayalah, tuhan akan memberikan yang terbaik kepada orang-orang yang mau berdoa dan berusaha. Matahari, bulan dan bintang akan hadir dalam kehidupan kalian." Brieta tulus mendoakan Liliana dan Max.


Keduanya tersenyum dan berterima kasih atas kehadiran Brieta dalam hidup mereka.


*****


1 bulan kemudian,Laura dan Eugene mengadakan pesta bayi di istana. Semua tamu dari bangsawan dan teman-teman terdekat mereka menghadiri pesta itu. Max dan Liliana juga mengadakan pesta itu, mereka turut membantu pelaksanaan pestanya. Apalagi Liliana yang turun langsung menyiapkan semua pesta itu.


Ditengah keramaian pesta, Liliana dan Max duduk di singgasana mereka. "Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya Max yang melihat wajah istrinya begitu pucat.


"Aku baik-baik saja, yang mulia." jawabnya sambil tersenyum.


Ugh...ada apa denganku? Mengapa aku pusing dan mual?


"Ratuku lebih baik kau--"


"Yang mulia Raja, mohon maaf...ada Duke Geraldine ingin bicara sesuatu dengan yang mulia, katanya penting dan darurat!" kata Gustaf pada Max.


"Sayang, aku pergi dulu ya...kau beristirahatlah." Max berpamitan pada istrinya, tak lupa dia mengecup dulu kening istrinya itu.


"Iya." jawabnya lemas.


Max pergi bersama Gustaf untuk menemui Duke Geraldine. Mereka membicarakan masalah pertahanan negara di perbatasan. Sementara itu Liliana pergi bersama Dorothy dari aula kerajaan, Liliana tidak tahan dengan keramaian yang membuatnya pusing.


"Yang mulia, sepertinya yang mulia butuh tabib..." ucap Dorothy cemas.


"Aku baik-baik saja, aku hanya sedikit pusing. Dengan beristirahat, aku akan baikan." ucap Liliana menolak.


Saat berjalan melewati lorong menuju ke kamarnya, Liliana dan Dorothy berpapasan dengan seorang pria tampan. Dia adalah Duke Armodinte.


Pria itu tampak duduk sendiri di dekat balkon. Dia melihat Liliana berjalan terhuyung-huyung, "Yang mulia Ratu, apa anda baik-baik saja?" tanyanya cemas.


"Oh...Duke Armodinte, aku tidak apa-apa." Kata Liliana lemas.


Penglihatan wanita itu mulai kabur, dia seperti kehilangan arah. Kemudian tubuhnya ambruk, matanya terpejam lemah. Dengan cepat Duke Armodinte memegang tubuh sang Ratu yang tidak sadarkan diri itu.


"Yang mulia RATU!" teriak Duke Armodinte panik.


"Yang mulia!" Dorothy juga panik melihat ratunya yang tidak sadarkan diri.


Dengan sigap, dengan kedua tangan kekarnya. Armodinte menggendong tubuh Liliana. "Hey! Dimana kamar Baginda Ratu? Atau dimana ruang perawatan istana?" tanya Armodinte.


"A-ada tak jauh dari sini yang mulia Duke, akan saya antar!" kata Dorothy panik.


Armodinte membawa Liliana pergi ke ruang perawatan istana. Disana ada Chris dan seorang tabib wanita. Armodinte membaringkan Liliana di atas ranjang. "Baginda Ratu!" ujar Chris dan tabib wanita itu.


"Tolong yang mulia ratu!" ujar Armodinte, dengan terlihat kecemasan di keningnya. "Dan kau dayang, beritahu Baginda Raja soal ini!" titah Armodinte pada Dorothy.


Dorothy menganggukan kepala kemudian dia melangkah pergi dari sana untuk memberitahu sang raja tentang kondisi ratunya.


Sementara itu Chris dan tabib wanita disana memeriksa kondisi Liliana dan Armodinte masih berada di sisi lain ruangan itu. Entah kenapa Armodinte terlihat begitu cemas kepada Liliana.


Tak berselang lama kemudian, Max sudah datang ke ruangan perawatan istana. Dia melihat istrinya terbaring tak sadarkan diri.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2