Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 48. Max dan Laura


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Chris akan mengobati Liliana, dia menumbuk tanaman herbal itu. "Nona, mohon tunggu sebentar," ucap Chris ramah.


Entah siapa wanita ini, aku harus memperlakukannya dengan baik dan hati-hati.


"Baiklah, tenang saja tuan." ucap Liliana sambil tersenyum hangat.


BRAK!


Pintu itu kembali terbuka lebar, "Ada apa?" tanya Liliana heran melihat Max kembali dan berada di dekat pintu.


"Tuan Chris, kau tidak boleh menyentuh dia! Aku yang mengobatinya, kau jangan macam-macam!" ancamnya pada Chris sambil melotot.


"Kau ini apa-apaan? Dasar gila!" Liliana menatap Max yang mengancam Chris dengan geram.


Max kembali menutup pintunya. Dia melihat ke arah Laura yang berdiri didepannya. Laura senyum-senyum pada kakaknya, "Sepertinya kita harus berbicara ya sir Eugene,"


"Kau menyindirku nona Eve?" Max membalas sindiran Laura dengan sindiran.


"Apa kita harus bicara kakak?" tanya Laura sambil tersenyum ramah.


"Jangan panggil aku kakak. Aku bukan kakakmu!" Max menatap Laura dengan sinis, di memang tidak menyukai adik tirinya ini. Seorang anak yang terlahir dari ibu tirinya.


"Baiklah kalau kau tidak mau berbicara padaku. Maka aku akan masuk ke dalam dan memberitahukan kepada nona Lily tentang sir Eugene ini," ucap Laura sambil tersenyum tipis, dia memandang kakaknya dengan tajam.


Kakak, aku harap kau bisa memandangku.


"Apa kau sedang mengancam ku putri Laura Evania de Istvan?" Max menatap tajam ke arah Laura.


Kalau dia sampai tau aku adalah putra mahkota, dengan sikap keras kepalanya itu. Dia pasti akan menjauhiku, aku harus


"Terserah kalau itu anggapan kakak," jawab Laura santai.


"Baiklah, kau sudah berhasil mendapat perhatianku. Mari kita bicara ditempat yang lain, nona EVE." ucap si pria bertopeng itu sebal.


"Mari kita bicara di tempat lain, sir EUGENE," Laura terkekeh di dalam hati melihat Max menurutinya.


Max dan Laura pergi ke tempat di bagian lain istana kerajaan yang megah itu. Mereka pun berbicara di dekat balkon. "Jadi apa tujuanmu melakukan ini? Kenapa kau berpura-pura didepannya nona Eve?"


"Apa aku tidak salah dengar? Harusnya pertanyaan itu untuk kakak juga," ucap Laura heran


Max menajamkan pandangannya pada sang adik, "Jawab saja! Apa kau punya niat buruk padanya dengan melakukan ini? Kalau kau punya niat seperti itu, aku akan menghabisi mu lebih dulu."

__ADS_1


"Apa nona Lily adalah orang yang penting untuk kakak? Sampai kakak seperti ini?" tanya Laura yang merasa bahwa Max sangat peduli pada Liliana.


"Laura Evania de Istvan!" bentak Max pada adiknya itu.


"Tenanglah kak, jangan marah-marah terus. Aku tidak punya niat seperti itu padanya, malah aku sangat menyukai dia. Aku hanya ingin berteman dengannya," jelas Laura dengan kepala yang menunduk sedih.


"Kau sedang berbohong padaku kan? Berteman? Apa seseorang seperti dirimu ingin punya teman?" tanya Max menaikkan alis, tatapannya penuh ketidakpercayaan pada Laura.


Laura menghela napas, wajahnya terlihat sedih. "Kak, apa kakak tetap menilaiku seperti ini? Aku dan ibu berbeda!" Laura menekankan pada Max bahwa dia dan Ratu Freya berbeda. Dia menyayangi Max sebagai kakaknya. Sejak kecil Max selalu mengabaikan Laura, padahal Laura menyukainya. Laura juga berbeda dengan ibunya yang jahat penuh intrik dan konspirasi.


"Kau tetap saja anaknya, tidak ada yang membuat dirimu berbeda darinya. Sekali lagi kau memanggilku kakak, aku akan-"


"Kakak akan apa? Membunuhku? Jika kakak ingin membunuhku, sudah sejak dulu kakak melakukannya. Tapi, kakak hanya mengancam ku saja dan aku masih hidup sampai sekarang," katanya santai.


"Jadi kau benar-benar ingin mati?" tanya Max dengan aura dingin dan tatapan membunuh.


Kakak sangat menyeramkan, sepertinya dia benar-benar menyukai wanita itu. Tapi aku juga menyukainya, aku ingin dia menjadi temanku.


"Ehem, tentu saja aku ingin hidup. Kakak juga ingin hidup, kan?" Laura menyilangkan tangan di dada. Dia menatap sang kakak dengan berani.


"Apa maksudmu?" Max masih dengan tatapan dinginnya pada Laura.


"Bagaimana kalau kita buat kesepakatan kak?" Laura memiliki ide di kepalanya.


Max menghembuskan napas kemudian bertanya dengan singkat, "Apa?"


"Untuk apa aku bekerjasama denganmu?" tanyanya sinis.


"Jadi kakak tidak mau ya? Ya sudah, tidak apa-apa kan kalau aku bilang pada nona Lily bahwa EUGENE adalah putra mahkota. Kira-kira bagaimana reaksinya?" ucap Laura sambil tersenyum dan mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di pipi.


Pria itu mengepalkan tangannya, dia menahan kesal dihatinya pada Laura yang mengancamnya. "Baiklah, sesuai keinginan mu!" Seru Max setuju dengan wajah terpaksa.


"Akhirnya kakak paham juga maksudku, jadi kita bekerjasama ya untuk saling menutupi rahasia. Tapi kak.."


"Apalagi?" tanyanya garang.


"Kakak kan suka padanya, kenapa kakak tidak langsung melamarnya saja? Bukankah ayahanda raja sudah berjanji untuk mengabulkan permintaan kakak?" tanya Laura peduli dengan hubungan Max dan Liliana.


"Permintaan itu sudah aku gunakan. Dan juga tidak semudah itu meminta pernikahan, sepertinya masih terlalu jauh." Max terlihat galau.


"Kenapa? Apa nona Lily menolakmu?" Laura menggoda Max.


"Sembarangan saja kalau bicara!" Max terlihat kesal dengan pertanyaan Laura.

__ADS_1


Maximilian Gallan Istvan tidak mungkin ditolak seorang wanita. Aku selalu mendapatkan apa yang ku mau dan aku juga akan mendapatkan dia.


Max melangkah pergi setelah dia melakukan kesepakatan bersama adik tirinya. "Oh ya, awas kalau kau sampai mengingkari janjimu!"


"Baiklah kakak, tenang saja."


Max, Laura dan dayang nya ( Anie) kembali ke ruang perawatan, disana mereka melihat Liliana sedang tertidur dengan kondisi tubuh meminggir. Wajahnya terlihat pucat.


"Salam yang mulia putri, yang mulia putra mahkota.." Chris membungkuk hormat pada putri dan putra dari kerajaan Istvan itu.


"Lain kali kau tidak boleh memanggil kami seperti itu di depan gadis ini. Kau paham?" Laura menatap tajam ke arah Chris.


"Baik yang mulia putri," jawab Chris patuh.


Kenapa mereka memiliki sikap berbeda pada nona ini?. Chris tidak banyak bertanya, dia hanya seorang tabib.


Disisi lain Laura melihat Liliana, dia ingin mengobrol banyak dengan Liliana tapi gadis itu malah tertidur. "Sayang sekali," gumam Laut pelan.


"Chris, bagaimana keadaannya?" tanya Max sambil melihat Liliana yang sedang tertidur.


"Nona Liliana tertidur setelah meminum obat yang saya racik, tapi saya belum mengoleskan obat herbal ke punggungnya," Jelas Chris pada Max.


"Bagus, dimana obatnya? Aku yang akan lakukan," ucap Max sambil menyembunyikan senyum mesumnya.


"Disini yang mulia," ucap Chris sambil memberikan obat yang sudah dia tumbuk pada Max.


Laura langsung menyerobot obat itu dari tangan Chris. "Kakak, kakak kan laki-laki. Jadi biarkan saja sesama perempuan yang melakukannya," ucap Laura sambil tersenyum.


"Putri Laura, KAU!" Max mengepalkan tangannya dengan kesal.


"Biar aku saja kakak!" Laura memaksa. Mereka saling berebut mangkuk obat itu.


"Tidak usah repot-repot biar aku saja!" kata Max tak mau kalah. Tatapan keduanya sama-sama tajam.


Mereka berdua seperti terlihat sedang berkompetisi. Chris menatap kedua keturunan keluarga kerajaan itu dengan bingung dan keringat bercucuran. Dia merasa seperti ada hawa panas disekelilingnya.


...****...


Di tempat lain, masih di istana.


Arsen dan Duke Geraldine masih berbicara berdua di ruangan itu. "Arsen, hanya kau yang tau apa yang terjadi pada Adaire disaat-saat terakhirnya. Apa dia benar-benar terjatuh atau Adara yang mencelakainya?" tanya Duke Geraldine dengan menajamkan pandangan pada Arsen.


Deg

__ADS_1


Arsen tersentak kaget mendengar pertanyaan Duke Geraldine.


...----****-----...


__ADS_2