Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 71. Hukuman untuk Adara dan Arsen


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Lizzy berlari dan langsung memeluk Liliana. "Lily, kau sangat cantik...dulu juga kau sudah cantik," Lizzy terlihat bahagia bertemu kembali dengan Liliana, temannya saat berada di desa lain.


"Hehe," Liliana tersenyum lebar dan membalas pelukan Liliana.


"Lizzy, yang sopan..panggil nona," ucap Geordo pada anaknya dengan tegas.


"Nona Liliana, maaf atas ketidaksopanan saya!" Lizzy langsung melepaskan pelukannya dari Liliana dan membungkukkan setengah badannya dengan hormat.


"Kalian tidak perlu bersikap seperti ini padaku. Atau kita akan menjadi canggung,"ucap Liliana sambil tersenyum.


"Tentu saja kita harus sopan pada nona Liliana, karena nona adalah bangsawan kelas atas sekarang!" kata Geordo sambil tersenyum ramah.


"Saat kita sedang bersama, tolong jangan bersikap formal padaku tuan Geordo. Aku benar-benar tidak nyaman.. bukankah kalian adalah keluargaku juga?" Liliana tersenyum ramah.


Gadis itu sama sekali tidak sombong walau sudah berstatus sebagai nona bangsawan kelas atas. Liliana masih bersikap rendah hati seperti sebelumnya.


Dia menjamu Lizzy dan Geordo dengan ramah, sebaik-baiknya. Mereka juga mengobrol, saling merindukan satu sama lain.


"Maafkan kami nona Liliana," ucap Geordo sopan.


"Tuan Geordo, panggil saja aku Lily.. sama seperti biasanya!" seru Liliana sambil melihat Lizzy yang sedang asyik memakan cemilan yang berada diatas meja.


Lizzy makan lahap sekali.


"Nona.."


"Kalau tuan tidak memanggilku seperti itu, aku akan marah pada tuan Geordo dan Lizzy.. aku juga tidak mau mengenal kalian lagi.." ancam gadis itu dengan bibir yang mengerucut.


"Baiklah Lily, kami minta maaf karena kami datang kemari. Tapi kami tidak punya maksud apa-apa, kami hanya ingin memastikan keselamatanmu.." jelas Geordo pada Liliana.


"Keselamatan ku? Mengapa?" tanya Liliana bingung.


"Lily, beberapa hari yang lalu ada beberapa pria bertubuh besar yang sedang mencarimu. Mereka sangat menyeramkan," Lizzy bercerita dengan mulut yang penuh dengan makanan.


"Benarkah? Siapa mereka?" tanya Liliana sambil menoleh ke arah Geordo.


"Kami juga tidak tahu, tapi kami bisa melihat kalau tujuan mereka tidak baik. Mereka pasti orang jahat,"

__ADS_1


"Hem..." Liliana menunduk sambil berfikir.


Siapa yang mencariku ya? Apa mungkin suruhan madam Morena?


"Benar! Mereka pasti orang jahat!" Seru Lizzy sambil mengangguk-angguk.


"Tapi syukurlah kau baik-baik saja, kami merasa lega karena mereka tidak datang kemari. Sebaiknya kau berhati-hati bila bertemu dengan mereka,"


"Ayah, pasti keselamatan Lily terjamin disini. Banyak para kstaria yang berjaga, pasti Lily akan baik-baik saja..." ucap Lizzy sambil tersenyum.


"Lizzy benar, tuan Geordo tidak perlu khawatir. Saya akan baik-baik saja disini," ucap Liliana seraya menenangkan ayah dan anak itu.


Liliana meminta Daisy dan pelayan lainya agar menyiapkan kamar kosong untuk Geordo dan Lizzy yang akan menginap selama 2 malam di mansion Geraldine.


Sebelum itu, Liliana juga meminta izin pada Duke Geraldine agar kedua orang itu bisa tinggal disana. Sore itu, Lizzy dan Geordo dilayani oleh para pelayan disana.


Mereka sangat senang karena Liliana tetap rendah hati. Padahal sebelumnya, mereka mengira jika Liliana sudah kaya maka dia akan melupakan mereka. Tapi nyatanya, Liliana masih sama.


"Kalau kalian membutuhkan sesuatu, kalian bisa katakan pada salah satu pelayan yang disini. Ah.. Lucy, kau layani nona Lizzy dengan baik ya?" kata Liliana meminta pada Lucy, salah satu pelayan pribadinya untuk melayani Lizzy.


"Baik nona," jawab Lucy patuh.


"Sama-sama.. selamat beristirahat Lizzy," ucap Liliana sambil tersenyum.


Lizzy dilayani mandi oleh Lucy. Liliana juga memberikan bajunya yang berukuran besar saat dia menjadi Adaire. Baju itu cukup untuk Lizzy karena tubuh gadis itu juga gemuk.


Setelah selesai belajar dengan Jackson, Liliana menerima pesan dari sir Adrian. Pesan itu berkaitan dengan Adara dan Arsen.


Adrian mengatakan bahwa hukuman untuk Adara dan Arsen sudah dijatuhkan oleh Baginda Raja. Hukuman pancung untuk Arsen yang sudah terbukti menjadi dalang pembunuhan Adaire dan hukuman seumur hidup untuk Adara, karena dia sedang hamil. Maka hukuman mati untuknya dibatalkan.


"Hukuman.. pancung?" Liliana terpana mendengar hukuman itu. Tubuhnya tiba-tiba lemas.


Adrian memegangi Liliana dan melihatnya dengan cemas. "Nona, apa anda baik-baik saja?"


"Sir Adrian.. tolong bawa aku ke penjara istana," ucap Liliana.


Ya, aku harus menemuinya sebelum dia dijemput oleh ajalnya.


"Tapi nona, keadaan anda..." Adrian ragu karena melihat wajah Liliana yang tiba-tiba pucat.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja, tidak apa-apa...antar aku kesana sekarang," ucap Liliana seraya memohon pada Adrian untuk mengantarnya.


Adrian pun mengangguk, dia mengawal Liliana ke penjara istana. Mereka berangkat dengan kereta kuda. Sesampainya disana, Liliana langsung menemui Adara lebih dulu. Dia melihat kondisi Adara yang lusuh, tubuhnya penuh dengan luka. Wajah cantiknya tertutup oleh kotoran dan bibit pucatnya.


"Mau apa kau datang kesini? Apa kau ingin menertawakanku?" tanya Adara dengan seringai dibibirnya.


"Tidak, aku disini untuk memberi selamat padamu." Liliana menatap remeh pada Adara dengan tatapan sinis.


"Harusnya selamat itu untukmu, kakak.. selamat karena kau sudah berhasil membalas dendam," ucap Adara dengan tatapan penuh kemarahan pada Liliana.


"Hahaha.. berhasil membalas dendam? Belum, aku belum berhasil. Sebelum kau mati, dendam diantara kita masih tetap ada! Sayang sekali, karena kau selamat dari kematian, tidak seperti suamimu yang besok akan di eksekusi. Berterimakasih lah pada bayi yang ada di perutmu itu!" seru Liliana dengan senyuman pahit dibibirnya.


Kedua mata Adara melebar, dia menatap Liliana dengan terpana. "Apa maksudmu? Arsen akan di eksekusi?" Adara mendekati jeruji besi itu dengan mata penasaran menatap Liliana.


Apa dia tidak tau tentang Arsen?


Liliana mendongak, dia pikir Adara sudah tau tentang hukuman Arsen. "Jawab! Apa maksudmu Arsen akan di eksekusi?" tanya Adara dengan suara yang meninggi.


"Kau tidak tau? Besok Arsen akan dipancung," jawab Liliana sambil tersenyum.


"A-apa?"


Adara jatuh terduduk, dia kaget mendengar hukuman untuk suaminya. Adara menangis, orang yang dia cintai akan dihukum mati. Liliana melihat tulusnya air mata Adara untuk Arsen dan tidak dibuat-buat.


"Hiks.. Arsen.. Arsen akan dihukum pancung, tidak.. Arsen.." Adara menangis tersedu-sedu sambil duduk di tanah yang kotor dalam penjara.


Dalam hati Liliana merasa sakit hati, karena Adara menyayangi Arsen tapi tidak dengan dirinya, kakaknya sendiri.


Tidak, Liliana kau tidak boleh sedih. Kau tidak boleh lemah oleh air mata! Balas dendam ini akan berakhir. Kau harusnya senang.


"Kalau begitu, selamat menghadapi hukuman seumur hidupmu.. Adara. Dan ucapkan selamat tinggal juga untuk suamimu," ucap Liliana sambil tersenyum sinis, namun matanya berkaca-kaca.


Saat Liliana akan melangkah pergi meninggalkan Adara. Sepasang tangan yang kotor memegangi rok nya. Liliana menoleh ke arah Adara.


"Kakak.. aku mohon kak, selamatkan Arsen.. dia tidak boleh mati..hiks.."


Liliana menatap Adara dengan tatapan mata sedih, ada rasa tidak nyaman dihatinya melihat Adara menangis didepannya.


Tahan hatimu Liliana, tahan!

__ADS_1


...-----*****---...


__ADS_2