
...🍁🍁🍁...
Max membisikan sesuatu ke telinga Adrian, entah apa yang dia bisikkan pada pria itu. Matanya mengarah tajam pada seseorang yang berada didalam kereta yaitu Julia.
"Yang mulia, apa anda yakin akan melakukan ini?" tanya Adrian terperangah dengan apa yang Max bisikkan kepadanya.
"Benar, aku tidak mau salah paham ini terus berlanjut. Dengan merusak reputasinya, maka aku akan terlepas darinya." Max mengatakannya dengan tegas, seolah keputusan dan tekadnya sudah bulat.
Lily, jika kau berada disini...aku harap kau tidak melihat nona Julia ada disini. Dan jika kau melihatnya, aku harap kau tidak salah paham...karena aku punya rencana.
"Baiklah yang mulia, saya akan membantu anda. Walaupun ini adalah cara ekstrim.." ucap Adrian sambil tersenyum sedikit.
"Aku percayakan padamu, Adrian!" Max menepuk bahu Adrian.
Entah apa yang akan dilakukan Max pada Julia, tetap saja Liliana sudah terlanjur salah paham. Max sudah terlihat tak tegas dimatanya.
*****
Liliana kembali ke rumahnya, dia melihat Dorman ada didepan pintu rumahnya. Dia membawa kotak besar berwarna merah yang di bungkus pita. "Tuan Dorman.."
"Nona Bella, anda sudah datang?" sambut Dorman sambil tersenyum ramah pada wanita itu.
"Apa tuan Dorman sedang menungguku? Ada apa?" tanya Liliana pada pria muda yang selalu mendampingi Aiden kemanapun dia pergi.
"Iya nona. Saya datang kemari untuk memberikan ini." Dorman menyerahkan kotak berwarna merah itu pada Liliana.
Liliana mengambil kotaknya, dia melihat sebuah undangan diatasnya. "Kenapa tidak dia sendiri yang mengantarkannya padaku?" tanya Liliana heran karena pria itu selalu datang sendiri ke rumahnya. Kali ini dia malah menyuruh orang.
Yang mulia raja sedang sibuk menyambut nona, bagaimana mungkin aku bilang begitu. batin Dorman.
"Yang mu-, maksud saya tuan Aiden sedang sibuk di istana."
Yang mulia memang sedang sibuk di istana, tapi dia masih sempat memperhatikan nona.
Bibir Liliana membulat, dia merasa alasan Aiden tidak datang karena pria itu sibuk di istana. Liliana hanya tahu bahwa Aiden adalah salah satu bangsawan di kerajaan itu, tapi dia tidak tahu identitas Aiden yang sebenarnya adalah seorang raja.
"Benar juga, sebagai bangsawan dia pasti sibuk...apalagi dia pernah mengatakan kepadaku, bahwa dia dekat dengan raja."
"PFut...apa tuan Aiden bilang begitu?" Dorman menahan tawa.
"Benar, dia bilang begitu." ucap Liliana dengan mata polosnya.
Dan nona Bella percaya saja padanya. Dibalik sikapnya yang tangguh, ternyata nona adalah wanita yang polos. Mungkin sisi inilah yang membuat yang mulia Raja tertarik padanya. Dorman hanya tersenyum melihat kepolosan Liliana.
"Kalau begitu saya permisi dulu ya nona. Nanti akan ada kereta yang menjemput nona dari istana." ucap Dorman menjelaskan.
"Kereta? Ah, tidak usah repot-repot...aku akan pergi bersama tuan Andreas saja." Liliana menolak kereta dari istana yang akan menjemputnya nanti.
Dorman menatap Liliana dengan penuh hormat. "Maaf nona, tapi ini adalah perintah dari tuan Aiden."
__ADS_1
"Hem...baiklah, hanya naik kereta saja kan?" Liliana pun menerima niat baik Aiden.
Dorman pamit pergi dari rumah Liliana. Gadis itu pun segera masuk sambil membawa kotak yang berikan Dorman sebelumnya. Liliana membuka kotak itu, dia melihat ada gaun berwarna biru tua yang tampak indah dihiasi permata. Disana juga ada sepasang sepatu dengan heels pendek berwarna sama dengan gaunnya.
"Bajunya sangat indah dan mencolok...apa aku boleh memakai ini?" tanya Liliana bingung. "Kebaikan seorang teman tidak boleh ditolak...dia kan sudah banyak membantuku." ucap Liliana.
Saat Liliana mengambil gaun itu dari kotak, dia melihat ada sesuatu terjatuh ke lantai dari gaunnya. "Eh, apa itu?"
Liliana mengambil kotak kecil itu, dia membukanya. Terlihat sebuah kalung permata berwarna biru dan juga anting-antingnya yang berwarna sama dengan gaun dan sepatunya.
"Woah...cantik sekali." Liliana terpanas saat melihat keindahan perhiasan itu. Di balik kotaknya ada secarik kertas kecil terlipat disana.
Dia membuka kertasnya, lalu dia membaca tulisan yang ada di kertas itu.
...Aku tidak mau tau, kau harus memakai semuanya ya! Kau sudah janji padaku. Oh ya, nanti akan ada kereta yang menjemputmu. Satu lagi, kalau kau merasa sepatunya terlalu tinggi, kau jangan memakainya....
"Dia menyiapkan semuanya dengan hati-hati, dia tau aku sedang hamil dan aku tidak boleh memakai sepatu tinggi karena takut aku terjatuh. Bahkan gaunnya juga tidak terlalu panjang, dia adalah teman yang baik." Liliana tersenyum, dia menganggap Aiden hanyalah temannya saja dan tidak lebih dari itu.
*****
Siang itu, di istana kerajaan Gallahan di pulau Jarvara. Max dan rombongannya disambut oleh pihak kerajaan. Aiden berada di barisan paling depan menyambut Max.
"Selamat datang di kerajaan kami, Raja Istvan." Aiden tersenyum ramah, terlihat ketegasan di dalam wajahnya. Dia tampak berbeda ketika berhadapan depan Max dan Liliana. Saat bersama Liliana dia terlihat sebagai pribadi yang bebas dan santai, didepan Max dia terlihat serius.
"Terimakasih Raja Gallahan...atas undangannya dan penyambutan ini." ucap Max sambil tersenyum tipis.
Kedua pria berkedudukan tinggi di dua kerajaan itu saling berjabatan tangan dan saling menatap satu sama lain dengan tajam.
Raja gallahan terlihat masih sangat muda. Hebat sekali, dia juga tampan...pasti semua wanita akan terpesona dengan wajahnya. Sepertinya akan bagus jika aku berteman dengannya. Max memuji Aiden dalam hatinya dan mengharapkan hal yang sama dengan Aiden.
"Aku harap yang mulia Raja Istvan dan semua pengikut anda akan nyaman selama tinggal di istana ini." kata Aiden dengan sopan.
"Iya, aku pasti akan nyaman berada disini." Max tersenyum tipis.
Setelah saling bertegur sapa antar anggota keluarga kerajaan. Max dan pengikutnya makan siang bersama dengan keluarga kerajaan.
Mereka makan bersama di sebuah meja besar penuh dengan makanan. Max sangat berterimakasih pada Raja dan ibu suri Gallahan yang telah menyiapkan semua ini untuknya.
"Tolong maafkan kekurangan kami, hanya segini saja yang bisa kami siapkan untuk Raja Istvan dan yang lainnya." kata Ibu suri sambil tersenyum ramah dan sopan.
"Tidak apa yang mulia ibu suri, ini lebih dari yang saya harapkan. Persiapan ini sangat mewah." Max menjawab ibu suri dengan sopan.
Max melihat kasih sayang seorang ibu pada anaknya didepan matanya. Dia agak iri karena Aiden memilki ibu yang sangat baik kepadanya dan Aiden yang masih bisa merasakan kasih sayang ibunya di usia dewasa.
*****
Sore itu, saat semua sedang beristirahat. Duke Geraldine bertemu dengan Andreas secara diam-diam didekat istana kerajaan Gallahan.
"Andreas? Apa itu kau?" tanya Duke Geraldine pada seseorang yang bertudung hitam.
__ADS_1
"Iya, ini saya yang mulia Duke." jawab Andreas sambil menurunkan tudungnya. Dia memberikan hormat pada Duke Geraldine dengan sopan.
"Sudah lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu? Bagaimana kabar putriku?" tanya Duke Geraldine pada Andreas dengan cemas. Sudah dua bulan lebih dia tidak bertemu dengan putrinya.
"Nona meminta saya untuk menjemput tuan Duke," jawab Andreas.
"Baiklah, mari kita pergi sekarang-" Duke Geraldine bergegas untuk menemui Liliana.
"Yang mulia Duke, anda mau kemana?" tanya Adrian yang datang entah darimana. Dia menghampiri Duke Geraldine dan Andreas.
"Sir Adrian!" Duke Geraldine terlihat terkejut saat melihat Adrian. Dia berpikir kalau Adrian diminta oleh Raja untuk mengawasinya.
Pasti dia diperintahkan oleh yang mulia raja untuk mengawasi ku. Kalau begini caranya, aku tidak bisa bertemu dengan Liliana.
Adrian menatap tajam ke arah Andreas dengan tajam. "Dan...anda siapa?" tanya Adrian pada Andreas yang menutupi wajahnya dengan tudung.
"Saya hanya orang yang menanyakan jalan, tuan." jawab Andreas sambil menunduk.
Andreas berpura-pura sebagai orang yang sedang menanyakan jalan.
"Maafkan saya, saya bukan berasal dari kerajaan ini...jadi saya tidak tau tentang jalanan disini. Maafkan saya karena tidak bisa menjawab pertanyaan anda tuan." Duke Geraldine berpura-pura tidak mengenal Andreas didepan Adrian.
Sepertinya aku tidak bisa bertemu dengan Lili sekarang. Kalau aku pergi sekarang, sir Adrian pasti akan mengikutiku.
"Tidak apa-apa tuan, kalau begitu saya permisi. Maaf menganggu tuan!" Andreas menundukkan kepala lalu dia pergi dari sana.
Adrian masih menatap mereka dengan curiga. Namun Duke Geraldine langsung membawa Adrian kembali ke istana dan mengajaknya bicara. Diam-diam Duke Geraldine menyelipkan secarik kertas di tangan Andreas tanpa sepengetahuan Adrian.
Setelah menempuh setengah jam perjalanan, Andreas sampai di rumah Liliana. Gadis itu sedang bersama Doris di dapur, dia baru saja selesai memasak desert.
"Tuan Andreas, kau sudah kembali? Dimana ayahku?" Liliana hanya melihat Andreas sendirian disana tanpa ayahnya.
"Maafkan saya nona, yang mulia Duke tidak jadi datang." Andreas menyesal.
"Ayahku tidak jadi datang? Tapi kenapa?" tanya Liliana sedih. Padahal dia sudah membuat desert kesukaan ayahnya, namun ayahnya tidak datang kesana.
Andreas masuk ke dalam rumah dan menjelaskan situasi yang terjadi di dekat istana Gallahan. Liliana paham, kenapa ayahnya tak bisa datang. Itu karena seseorang masih mencarinya.
"Oh ya nona, yang mulia Duke menitipkan ini kepada saya." Andreas merogoh saku jubahnya, dia memberikan secarik kertas pada Liliana.
Liliana langsung membuka dan membaca sesuatu yang tertulis diatas kertas itu.
...Lily, maaf ayah tidak bisa bertemu denganmu. Ayah pikir kau harus bertemu dengannya. Tolong carilah waktu untuk bertemu dengan yang mulia Raja. Selesaikan urusan kalian, agar yang mulia Raja tidak menganggumu lagi. Ada sesuatu yang masih belum bisa kalian selesaikan. Maka selesaikanlah! Jangan sembunyi, katakan juga padanya bahwa ada bayi kalian didalam rahimmu. Dia ayahnya dan dia berhak tau tentang anaknya. Lily, aku harap kau bisa menemui dia......
"Haahhh..." Liliana mengambil nafas berat ketika membaca surat dari ayahnya yang meminta dia bertemu dan bicara dengan Max.
Apakah harus bertemu denganmu? Apa aku egois menyembunyikan anak ini darimu? Jika aku katakan kalau aku mengandung anak kamu, lalu apa setelahnya?
"Nona, ada apa?"
__ADS_1
"Andreas, bersiaplah untuk pergi ke pesta malam ini."
...****...