
Andreas dan Liliana yang ternyata sedang hamil selama kurang lebih satu bulan itu, pergi ke sebuah rumah makan. Liliana menggunakan rambut perak ketika pergi keluar dari rumahnya. Dia tinggal di sebuah kerajaan yang jauh dari kerajaan Istvan yaitu kerajaan Gallahan, lebih tepatnya di sebuah pulau kecil tengah lautan bernama pulau Jarvara yang indah dan cocok untuk bersembunyi atau menenangkan diri dari keramaian.
Andreas berdiri di belakang Liliana selagi wanita itu sedang duduk di kursi meja makan menanti makanannya.
"Sir Andreas, duduklah! Kita makan bersama." ucap Liliana sambil mengajak
"Nona, mana bisa saya makan bersama dengan nona."
"Sir Andreas, disini aku bukanlah nona Liliana tapi nona Bella seorang gadis desa biasa dan ketua pemilik serikat dagang yang misterius." bisik Liliana pada Andreas.
"Tapi...nona."
"Duduklah Andreas, kita harus segera makan agar bisa cepat kembali ke rumah." ucap Liliana sambil tersenyum.
Mereka makan bersama, Liliana terlihat banyak makan. Mungkin karena dia sedang hamil, jadi makannya lebih banyak dari biasanya.
"Nona, anda jangan terlalu banyak makan. Nanti nona akan muntah-muntah lagi."
"Doakan saja supaya aku tidak muntah-muntah lagi," ucap Liliana sambil tersenyum.
Ya, dia memang selalu memuntahkan makanannya tanpa sebab. Mungkin ini bawaan ibu hamil, kepalanya juga sering pusing dan dia sering kelelahan.
Setelah makan disana, Andreas dan Liliana kembali melanjutkan perjalanan mereka ke tempat tinggal mereka selama berada di pulau Jarvara itu. Sebuah rumah sederhana yang berada di tepi pantai, rumah impian Liliana. Didalam perjalanan pulang, Liliana dan Andreas melihat ada beberapa orang ditengah hutan yang bersiap merampok sebuah kereta.
"Nona! Sepertinya mereka adalah bandit yang selalu berkeliaran dan meresahkan warga itu." ucap Andreas sambil menyiapkan pedangnya.
"Bandit-bandit itu! Mereka sudah menyakiti para wanita di desa ini, tidak cukup dengan merampas harta, memperkosa, mereka juga membunuh. Bejat dan biadab!" Liliana mengepalkan tangannya dengan geram. Dia tak tahan dengan kekejaman para bandit itu sudah banyak meresahkan warga yang tinggal di pesisir pantai.
Liliana keluar dari keretanya, dia menyiapkan pedang untuk menyerang bandit-bandit itu. Mereka mendekati kereta lewat dari arah berlawanan dengan kereta yang dinaiki oleh Liliana.
"Heh! Kalian para sampah masyarakat!" Ujar Liliana pada para bandit itu.
"Nona, kenapa anda bergerak sendiri?" Andreas cemas karena Liliana turun dari kereta lebih dulu.
10 orang pria bertubuh besar itu melirik ke arah Liliana, dari gayanya mereka seperti ingin menganggu Liliana dan Andreas. "Apa kau memanggil kami, tuan?" tanya seorang pria pimpinan bandit itu yang mengira Liliana sebagai pria. Sebab, Liliana memakai celana dan topi untuk menutupi rambut panjangnya.
"Iya, aku memanggil kalian para bandit jalanan! Sampah masyarakat yang harusnya dibuang ke tempat sampah,"
__ADS_1
Beberapa orang dari mereka berjalan menghampiri Liliana dan Andreas. Liliana sama sekali tidak terlihat takut, tapi Andreas yang takut. Bukan karena dirinya penakut, tapi dia takut terjadi sesuatu pada Liliana.
"Nona, biar saya yang tangani ini! Nona dibelakang saya saja," Andreas maju ke depan Liliana, bersiap untuk melindunginya.
"Mereka ada 10 orang, bagaimana bisa kau menghadapinya sendiri? Bagaimana kalau kita bagi dua saja, sir Andreas?" Wanita itu menyunggingkan senyuman manisnya.
"Nona! Mengapa anda masih bisa bercanda disaat seperti ini?" tanya Andreas heran.
Nona sedang hamil, tidak boleh terjadi sesuatu padanya dan bayinya.
Liliana terlihat santai, dia bersiap dengan pedangnya. "Aku lawan tujuh, kau tiga saja ya?"
Mereka mendekati Liliana dan Andreas. Liliana menggunakan cara lembut dulu untuk membuat para bandit itu mengakui kejahatan mereka dan rela ditangkap oleh petugas.
"Hahahaha...kau ingin kami menyerahkan diri kami? Apa kau bodoh?" seorang pimpinan bandit itu menertawakan ucapan Liliana yang memintanya dan komplotan itu menyerahkan diri.
"Hahahaha.." Bandit-bandit lainnya juga ikut menertawakan Liliana, dia menganggap ucapan gadis itu adalah lelucon.
"Tidak, aku tidak bodoh...tapi kalianlah yang bodoh."
Mata para bandit itu menatap tajam meremehkan ke arah Liliana dan Andreas.
Tanpa mereka sadari, orang didalam kereta itu melihat ke arah Liliana,Andreas dan para bandit. Mereka hanya menonton didalam kereta, tampaknya yang berada didalam kereta itu adalah bangsawan.
"Baginda, apa kita akan tetap menonton disini? Jumlah mereka banyak dan-" ucap seorang pria berkumis yang duduk didalam kereta. Dia cemas melihat Liliana dan Andreas berada di luar sana bersama para bandit.
"Biarkan saja dulu, aku ingin tau bagaimana si kecil itu menghadapinya." ucap pria tampan berambut pirang itu sambil tersenyum tipis.
Heh! Aku ingin lihat bagaimana mereka menghadapi bandit itu.
Liliana tidak punya pilihan lain selain menggunakan cara kasar. Dia meminta Andreas mengurus 3 orang dan dia tujuh orang. Andreas pun protes karena perhitungannya tidak adil.
"Ah kau ini! Masih saja sempat protes! Baiklah, aku 6 kau empat!" kata Liliana bersiap dengan pedangnya.
Hyat!!
Hyatt!!
__ADS_1
Terjadilah pertarungan berdarah disana antara para bandit, Liliana dan Andreas. Jumlah 10 lawan 2, sungguh tidak seimbang. Namun, perlahan-lahan dan satu persatu mereka mulai tumbang ditangan Liliana.
"Nona, anda terlalu cepat!" Kata Andreas tegas.
"Kau harus lebih meningkatkan stamina mu," sahut Liliana sambil tersenyum. Dia menikmati menghabisi bandit-bandit itu.
"Nona...saya mohon berhati-hatilah." Kata Andreas yang khawatir dengan kandungan Liliana.
Pertarungan itu dimenangkan oleh Liliana dan Andreas. Setelah pertarungan selesai dan pemimpin bandit itu dilumpuhkan di bawah kaki Liliana. Orang-orang yang berada di dalam kereta, keluar dari kereta mereka dan menghampiri Liliana. Dia bersama dengan para prajuritnya menangkap bandit.
"Tuan, anda sangat terlambat." ucap Liliana pada pria itu sambil tersenyum sinis.
Pria ini sangat licik, dia pasti ingin memasang wajah baik dimata semua orang. Cih! Dia datang disaat kami sudah selesai.
"Maafkan saya tuan, sepertinya anda marah pada saya." ucap pria itu sambil tersenyum ramah.
"Andreas, ayo pergi!" ajak Liliana pada Andreas.
Wanita itu mengacuhkan pria yang sedang bicara dengannya, dia melangkah pergi meninggalkannya. Seseorang disisi pria tampan itu terlihat kesal. "Baginda, bagaimana bisa dia..."
"Sssttt...diam kau! Tidak boleh ada yang tau aku adalah seorang Raja." ucap pria itu pada orang yang ada disampingnya.
Pria yang disebut sebagai Raja itu mendekati Liliana dan Andreas. "Permisi, apakah boleh kita bicara sebentar?"
"Apa kau menghabiskan waktumu untuk bicara saja? Lebih baik kau urus mereka, bukankah tujuanmu kemari ingin menangkap mereka?" Liliana menatap pria itu dengan tajam.
"Oh...saya minta maaf, sepertinya tuan marah pada saya dan sepertinya ada kesalahpahaman."
"Heh! Aku tidak peduli kau siapa, tapi aku benar-benar tidak suka dengan caramu ini! Kalau kau ingin menangkap para bandit, jangan bersembunyi dibelakang orang lain dan menjadikannya umpan. Lain kali, kau tidak boleh menggunakan cara seperti itu!" Kata-kata Liliana terdengar tajam dan sinis pada pria itu.
"Tuan, saya benar-benar.."
Uwekkk...uwekkk...
Liliana tanpa sengaja muntah di baju pria itu. Sontak saja pria itu terkejut melihat ada muntahan dibajunya.
...-----****-----...
__ADS_1