
...🍀🍀🍀...
Si dayang yang tadi diperintahkan oleh ketiga nona itu untuk memanggil pengawal atau siapapun yang bisa menolong Liliana. Dia tak kunjung kembali.
"Nona Liliana! Nona Liliana!" Shopia mencoba menolong Liliana dengan menyodorkan kayu panjang kesana, tapi tak tergapai olehnya.
"Dayang itu kemana? Mengapa tidak kunjung datang juga!" Seru Arina panik karena Liliana tenggelam, hanya terlihat tinggal tangannya saja yang diatas air.
"Aku akan panggil seseorang!" Kata Keira sambil berlari mencari seseorang yang bisa menyelamatkan Liliana.
Sedangkan Liliana masih berjuang naik ke permukaan. Gaunnya yang basah, membuat tubuhnya semakin sulit untuk naik karena beratnya gaun itu.
Apa aku akan mati lagi? Tuhan.. aku tidak bisa bernafas, dadaku sesak lagi.. kumohon.. Aku tidak mau mati lagi..
Di dalam air danau itu, Liliana meringis sedih meratapi nasibnya yang mungkin akan mati dua kali. Dia melihat bayangan dirinya yang dulu alias Adaire berada disana sambil memegang tangannya.
Tidak, aku tidak mau ikut denganmu...aku ingin... hidup.. aku tidak mau tenggelam. Tolong...siapapun tolong aku.. Maximilian.. tolong...Ayah...
Keira merasa aneh karena tidak ada satupun pengawal di dekat danau itu seperti disengaja. Keira berlari ke tempat yang agak jauh, disanalah dia menemukan Laura dan Annie sedang berjalan-jalan di sekitar sana.
"Hormat saya yang mulia putri," Keira langsung memberikan hormat pada Laura. Keira bicara dengan napas terengah-engah dan wajah panik.
"Ada apa? Kenapa nona terlihat panik?" tanya Laura heran.
"Yang mulia, tolonglah teman saya nona Liliana. ...dia...dia..."
"Tenang dan bicaralah perlahan nona," ucap Laura sambil menenangkan Keira.
"Nona Liliana tenggelam di danau!" Jawab Keira cepat.
Laura tercengang, dia tersentak mendengar temannya tenggelam di danau. Laura segera memerintahkan Annie untuk memanggil salah satu pengawal disana.
Eugene dan Adrian kebetulan berada paling dekat disana, mereka berdua akan berangkat dan menemani Max pergi ke kerajaan Lostier.
"Sir Eugene! Sir Adrian! Tolong..!" Annie meminta tolong pada Eugene dan Adrian untuk menyelamatkan Liliana yang terjatuh ke danau.
"Ada apa?" Tanya Max yang baru saja selesai bicara dengan Julia.
"Yang mulia putra mahkota, nona...nona Liliana tenggelam! Tolong..."
__ADS_1
"APA?"
Wajah Max langsung pucat pasi setelah mendengar kekasihnya tenggelam. Dia berlari dengan cepat, hanya dalam beberapa detik Max sudah sampai di danau itu.
Dia melihat Liliana sudah mengapung diatas danau dalam keadaan tidak sadarkan diri. Max turun ke dalam danau, lalu dia membawa Liliana kepinggir danau.
Laura, ketiga nona bangsawan, Annie, Adrian dan Eugene juga ada disana melihatnya dengan cemas. "Nona Lily," gumam Laura khawatir.
Seluruh tubuh mereka basah kuyup. Max mencoba membuat nafas buatan untuk menyelamatkan Liliana. "Lily, ayo bangunlah! Lily..." Max menekan dada gadis itu, namun Liliana sama sekali tidak menunjukkan respon.
Tubuh gadis itu dingin, wajahnya pucat seperti kehabisan darah. Max semakin panik melihatnya. "Lily.. kumohon .. Lily.."
Max tidak menyerah sampai disana, dia menggunakan sihirnya untuk mengeluarkan air dari tubuh Liliana. Air itu berhasil keluar dari mulut Liliana, namun tetap saja wanita itu belum membuka matanya.
"Arghh!! SIALAN!!" Max mengumpat kesal, dia panik dan takut saat itu
Dia tidak bernafas.. tidak ini pasti salah...tapi..
Upaya apapun yang dilakukannya tidak membuat gadis yang berada di pangkuannya itu membuka mata. Max juga tidak merasakan ada tanda-tanda kehidupan darinya.
"Kakak! Lebih baik bawa nona Liliana ke pada tabib!" Kata Laura menyarankan.
Max yang resah langsung menggendong Liliana ke dalam ruang perawatan istana. Tak peduli dengan keadaan disekitarnya atau Pierre yang terus menyuruhnya untuk pergi ke kerajaan Lostier. Dia mengabaikan semuanya dan hanya berfokus pada sang kekasih.
BRAK
Pintu ruang rawat itu hancur seketika ketika Max menendangnya bukan membukanya dengan tangan. Chris terperangah melihat Max datang dengan membawa Liliana yang tidak sadarkan diri ke dalam ruangan itu.
"Chris! Tolong!" Seru Max panik dengan nafas terengah-engah.
Dibelakang Max juga ada Laura dan Eugene.
"Yang mulia putra mahkota, baringkan nona disini!" Seru Chris yang langsung cepat tanggap akan situasi darurat itu.
Max membaringkan Liliana di salah satu ranjang yang berada disana. Chris langsung memeriksa kondisi Liliana, dari mulai denyut nadi.
Putra mahkota kerajaan Istvan itu masih menunggu dengan resah tak jauh dari sana. Dia memperhatikan raut wajah pria tua yang sudah lama menjadi tabib di istana.
Chris menggeleng-geleng, "Ini...."
__ADS_1
"Ada apa tabib Chris?" tanya Laura pada tabib itu.
"Maafkan saya yang mulia putra mahkota, tuan putri... tapi nona Liliana sudah tidak tertolong," ucap Chris dengan wajah sedih.
Max dan Laura terperangah mendengar diagnosa Chris. Apa katanya? Tidak tertolong?
Max menarik baju pria tua itu dengan kasar, "Apa maksudmu tidak tertolong? Katakan yang jelas Chris!" Teriak Max pada pria tua itu.
"Kakak... tenanglah.." ucap Laura yang berusaha memadamkan kemarahan Max.
"Ampuni saya yang mulia, tapi no-nona Liliana sudah tiada," jelas Chris yang tidak berani melihat ke arah Maximilian.
"Tiada?! Siapa yang kau katakan itu?!" Teriak Max emosi.
Sementara itu Laura melangkah mundur, dia menangis melihat Liliana yang terbaring kaku diatas ranjang dalam kondisi tidak bernyawa. "Nona Lily..hiks.."
"Mohon maafkan saya yang mulia, tapi nona Liliana benar-benar sudah tidak tertolong lagi.." ucap Chris menyesal.
Deg!
Jantung Max seakan berhenti saat itu juga, mendengar kekasihnya tiada. Dia melepaskan pegangannya dari Chris. Kemudian dia menghampiri gadis yang terbaring kaku diatas ranjang itu.
"Tidak, ini tidak mungkin...Lily baik-baik saja, dia tidak mungkin. Kau baik-baik saja kan Lily?" tanya Max sambil memegang tangan Liliana yang terasa dingin itu.
Ini tidak mungkin, kau masih hidup...tidak mungkin kau mati seperti ini! Kau sudah berjanji untuk hidup denganku selamanya.
"Yang mulia..nona Liliana sudah tiada sebelum dibawa kemari. Dia sudah terlalu lama berada didalam air," ucap Chris menjelaskan.
"Panggilkan semua tabib terbaik di kerajaan ini! Kalau perlu pendeta juga! Dia harus selamat!" Teriak Max memberi perintah pada Eugene yang berada disana.
"Baik yang mulia," Eugene patuh pada perintah. Dia pergi dari ruangan itu untuk menjalankan apa yang diperintahkan oleh Max.
Mata pria itu berkaca-kaca melihat Liliana, dia terus menggenggam erat tangan Liliana. Berharap gadis itu akan segera bangun. "Lily, aku mohon jangan seperti ini... bangunlah.. kumohon bangun..." pinta Max pada gadis itu.
Tubuh Max bergetar hebat, dia yang terlihat tenang diluar ternyata sangat syok. Dia tak percaya bahwa Liliana akan meninggalkannya begitu mendadak. Namun ia percaya bahwa Liliana akan kembali bangun dan ini hanya mimpi buruknya saja.
Berita jatuhnya Liliana ke dalam danau, juga sampai ke telinga Duke Geraldine lewat Nicholas. Duke Geraldine segera pergi ke istana meninggalkan pekerjaannya untuk menemui Liliana.
...----****----...
__ADS_1