Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 141. Pesta penyambutan


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Entah apa keputusan yang diambil Liliana untuk bertemu dengan Max, dia terlihat banyak pikiran. Namun, dia memutuskan untuk tetap pergi ke pesta itu dengan menyamar.


Malam itu, Liliana masih menggunakan gelang sihir penyamarannya. Rambutnya berwarna perak dan dia membawa topeng. Gadis itu tampak cantik dengan gaun biru menawan dan perhiasan yang cocok dengannya.


"Nona, mari ikut saya! Tuan Aiden sudah menunggu nona." Dorman membungkuk seraya memberi hormat pada Liliana.


"Tuan Dorman, tidak perlu bersikap formal seperti itu. Saya tidak enak, saya kan hanya wanita biasa." Kata Liliana merasa tidak nyaman dengan pria yang memberi hormat padanya itu.


"Maaf nona, saya hanya menjalankan perintah tuan Aiden." kata Dorman sambil tersenyum.


Tidak mungkin anda adalah wanita biasa, jika anda wanita biasa... tidak mungkin sikap nona seperti bangsawan. Dan kemungkinan besar Nona akan menjadi pendamping Baginda Raja, bagaimana bisa aku bersikap tidak sopan.


Liliana melihat kereta emas yang mewah itu, dia tercengang karena merasa hal ini sangatlah aneh. Sekaya apapun Aiden, dia tidak akan menggunakan kereta dari emas karena kereta emas hanya digunakan oleh keluarga kerajaan.


"Tuan Dorman."


"Ya nona Bella?"


"Ini tidak benar, sebaiknya aku tidak naik kereta ini. Menaiki kereta ini, artinya aku melanggar hukum."


"Kenapa bisa begitu nona? Kereta ini adalah kereta yang dikirimkan oleh tuan Aiden untuk nona..." Dorman mengerutkan keningnya.


"Kereta ini adalah kereta emas yang harusnya hanya digunakan oleh keluarga kerajaan saja. Orang sepertiku tidak pantas untuk naik kereta ini." Liliana menolak untuk naik kereta emas itu.


Dorman kebingungan bagaimana membujuk Liliana untuk naik kesana. Dia juga lupa mengingatkan Aiden untuk tidak mengirim kereta emas.


Setelah Dorman mengatakan bahwa waktunya semakin sempit, Liliana pun akhirnya naik ke dalam kereta itu. Andreas juga ikut dengannya, dia duduk di kursi depan.


Liliana berada sendirian didalam kereta. Dia terlihat degdegan, memegang dadanya dengan was-was.


"Nak, hari ini aku akan memberitahu pada ayahmu kalau kau ada di dalam rahim ibumu. Ya, ibu harus bicara pada ayahmu bukan?" tangan Liliana memegang perutnya yang datar itu.


Liliana cara mengambil keputusan besar untuk bertemu dan bicara dengan ayah dari bayinya, seperti apa kata


*****


Di istana Gallahan, aula kerajaan. Para tamu undangan sudah banyak yang datang kesana, untuk menyambut baik kunjungan kerajaan Istvan. Rencananya mereka akan melakukan kerjasama persahabatan.


Terlihat Aiden dan Max sedang berdiri sambil mengobrol bersama dengan santai. Disisi lain terlihat beberapa wanita bangsawan yang melihat kedua pria tampan itu dengan tatapan membara terpesona.


"Yang mulia Raja Istvan, lihatlah para wanita itu disana...mereka sepertinya terpesona padamu." Aiden tersenyum tipis, sambil menatap pria yang ada didepannya itu.


"Bukankah mereka menatap dirimu? Kau kan masih jomblo.." Max membalikkan perkataan Aiden.


"Ah...aku sudah terbiasa dengan semua tatapan mengerikan itu.Tapi sayangnya hatiku sudah ada yang memiliki." Kata Aiden sambil tersenyum dan meminum sampanyenya.


"Benarkah? Jadi sebentar lagi kerajaan Gallahan akan segera memiliki ibu negara? Jadi kapan?" Max penasaran kapan Aiden akan mengakhiri masa lajangnya.


"Ahhh... sebenarnya aku masih bingung apakah dia mau menerimaku atau tidak?"

__ADS_1


"Apa? Jadi ingin cinta bertepuk sebelah tangan?" tanya Max tercekat, dia terlihat penasaran dengan kisah cinta Raja Gallahan itu.


"Ya begitulah," ucap Aiden sambil menundukkan kepalanya.


"Mana mungkin ada wanita yang berani menolak Baginda raja ini? Apakah wanita itu sudah buta? Raja muda, memiliki segudang prestasi dan sangat hebat ini...tidak mungkin ada berani yang menolakmu."


"Ya begitu kan? Faktanya dia masih belum menerimaku, mungkin karena aku belum mengatakan perasaan padanya."


"Jadi...kau belum mengatakan cintamu padanya? Kenapa tidak cepat-cepat katakan?" tanya Max heran.


"Aku takut waktunya terlalu cepat karena kami baru saling mengenal kurang lebih satu bulan." jelas Aiden dengan kening berkerut.


Mendengar penjelasan Aiden, Max langsung tertawa kecil. Aiden bertanya kenapa pria itu malah tertawa. "Baginda raja Gallahan, tidak peduli dan tidak penting seberapa lama kau mengenalnya yang penting adalah perasaanmu kepadanya. Kalau kau terlambat menyatakan cintamu, bisa bisa dia diambil orang atau kau kehilangan dia. Kau akan menyesal bila saat itu terjadi. Aku harap masalah percintaanmu tidak rumit sama sepertiku." Max tersenyum pahit, mengingat dirinya yang masih belum berhasil bertemu dengan Liliana.


Aiden berpikir keras setelah mendengar ucapan Max, dia jadi mendapat ide untuk mengungkap identitasnya sekaligus menyatakan perasaannya pada Liliana. "Kau benar juga. Tapi, apakah kisah cintamu benar-benar rumit? Bukankah kau dengan Ratumu baik-baik saja?" Aiden melirik ke arah Julia yang sedang menikmati pesta bersama wanita bangsawan yang ada disana.


"Hah? Ratuku? Maksudmu adalah putri Duke Norton?" Max mendesah sinis saat tatapannya tertuju pada Julia. Tatapan penuh kebencian dan jijik.


"Iya, bukankah dia adalah Ratumu?" tanya Aiden pada Max.


"Tidak! Dia tidak akan menjadi ratu, jika kau jomblo...kau boleh menampungnya." Max meneguk minumannya dengan cepat. Melihat Julia dia menjadi kesal lagi.


Kenapa Raja Istvan terlihat sangat membenci nona Julia? Apa semua itu hanya rumor belaka?


"Apa? Tapi, aku mendengar kalau kalian akan segara menikah, apa itu tidak benar?"


"Tidak benar. Ratuku cuma satu, hanya dia saja." ucap Max dengan mata berkaca-kaca dia mengingat Liliana.


"Ibu, apa ibu menghentikan percakapanku dengan raja Istvan, demi menanyakan tentang wanita itu padaku?" tanya Aiden mendesah tidak percaya.


"Aiden, putraku...wanita itu adalah hal terpenting kita saat ini.Wanita yang sudah membuat anakku jatuh cinta dan tidak membuatnya alergi, tentu saja aku harus tau. Tapi Aiden, benarkan dia seorang perempuan?" Ibu suri masih takut bahwa Aiden di rumorkan berbelok.


Aiden tertawa kecil. "Ibu tenang saja, dia seorang perempuan dan dia sangat cantik."


Masalah tentang Bella yang sedang hamil, lebih baik aku bicarakan belakangan saja.


"Syukurlah! Ibu senang sekali Aiden, jika dia sudah datang...tolong segera beritahu ibu ya. Ibu harus menyambutnya."


Tidak peduli seperti apa keluarga gadis itu, statusnya atau segala macam. Asalkan dia seorang gadis dan dia mencintai anakku, aku akan menerimanya sepenuh hati. Yang penting anakku menikah!


"Baik ibu, aku pasti akan memberitahu ibu." Aiden tersenyum lebar melihat raut wajah ibunya yang terlihat bahagia menyambut gadis yang disukai oleh Aiden.


Detik-detik saat pesta itu akan dimulai, Liliana baru saja turun dari keretanya. Dia menanyakan dimana Aiden dan kenapa pria itu tidak berada didepan istana.


"Nona, sepertinya tuan Aiden berada didalam sana." kata Dorman sambil menatap istana megah yang dipenuhi gemerlap lampu.


Liliana mendongakkan kepalanya melihat banyaknya anak tangga menuju ke dalam istana. "Tuan Dorman, aku tidak bisa masuk seperti ini tanpa seorang pendamping." ucap Liliana merasa gugup.


Dia menelan ludah berkali-kali. Jika dia melangkahkan kakinya ke dalam sana, maka dia akan bertemu dengan Max dan semua orang dari kerajaan Istvan termasuk Julia.


"Lebih baik aku pulang saja." Liliana membalikkan badannya, mendadak mentalnya kembali jatuh.

__ADS_1


"Nona...saya mohon, jangan kembali! Tuan Aiden sudah menunggu anda!" Dorman melarang Liliana untuk pergi darisana.


Bisa mati aku oleh yang mulia, jika nona Bella pergi dari sini!


"Tapi aku..."


"Nona...saya mohon." Dorman memohon kepada Liliana untuk masuk ke dalam istana dan pesta itu.


"Aku tidak enak karena aku hanya sendirian kesana tanpa tuan Aiden yang mengundangku." ucap Liliana resah.


Dorman tersenyum, dia mengatakan bahwa dialah yang akan mengantar Liliana ke dalam sana. Liliana memberanikan dirinya untuk melangkah masuk ke dalam sana, walau dia sangat tegang.


Begitu sampai di depan pintu utama aula kerajaan itu, pesta sudah dimulai. Terlihat dari beberapa pasangan yang sedang berdansa. Hati Liliana semakin berdebar saat berada didepan pintu. Dia malah memakai topeng, seperti tidak ingin ada yang mengenalinya.


"Nona, ini bukan pesta topeng...anda tidak boleh memakai topeng."


Benar juga, kenapa aku memakai topeng? Ini adalah tindakan tidak sopan, jika anggota keluarga kerajaan sampai tau...tuan Aiden yang mengundangku akan terkena masalah.


"Baiklah," jawab Liliana yang pada akhirnya menyimpan topengnya.


"Nona, anda tunggulah disini...saya akan memanggil yang mu...tuan Aiden!" hampir saja Dorman keceplosan mengatakan bahwa Aiden adalah Raja.


"Baiklah."


Liliana dengan patuh menunggu di dekat pintu masuk aula itu. Dorman pergi untuk memberitahukan kepada Aiden, bahwa Liliana sudah datang ke pesta itu.


Selagi menunggu, Liliana linglung sendiri karena dia tidak kenal siapapun disana. Hingga beberapa wanita bangsawan menghampirinya, memperhatikan gaya bajunya.


"Maaf nona, apakah berlian yang kau pakai di bajumu itu adalah berlian asli dari pegunungan Alcabra?" tanya seorang gadis berambut hitam sambil melihat tajam ke arah berlian yang ada didepan baju Liliana.


"Eh...mana mungkin. Ini pasti imitasi, berlian langka di pegunungan Alcabra tidak mungkin bisa didapatkan dengan mudah." kata seorang wanita menepisnya.


"Oh ya kau benar juga, mungkin hanya keluarga kerajaan saja yang bisa membelinya." ucap seorang gadis sambil menatap Liliana dengan sinis.


"Ngomong-ngomong gaun imitasinya sangat indah." kata seorang gadis dengan sinis.


Liliana tidak bicara, dia tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh gadis-gadis bangsawan itu dan lebih memilih untuk mengabaikannya.


Perhatian para gadis-gadis itu mulai teralihkan saat melihat pasangan yang sedang berdansa ditengah aula. Liliana tercengang melihat siapa pasangan itu, Max dan Julia berdansa didepan sana.


"Percuma saja aku datang kemari, apa yang perlu kita bicarakan? Sepertinya tidak ada lagi." ucap Liliana perih hatinya.


Dia memutuskan untuk pergi dari pesta itu dengan perasaan sakit hati. Namun, hal mencengangkan berikutnya terjadi. Saat dia membalikkan badannya, dia melihat Aiden berdiri didepannya dengan memakai jubah Raja.


"Tuan Aiden... syukurlah kau ada disini, tapi kenapa kau.." Liliana terlihat bingung dengan pakaian yang dikenakan oleh Aiden.


Semua orang memperhatikan Liliana dan Aiden dengan tajam. Termasuk Max yang merasa familiar dengan gadis bergaun biru itu. Dia meninggalkan pasangan dansanya dan berjalan menghampiri Liliana.


"Berani sekali wanita itu memanggil nama yang mulia Raja?" bisik-bisik orang yang ada disana.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2