
...πππ...
Nafas gadis itu sudah berada di ujung, Lucia mencekiknya semakin dalam. Leher Liliana sampai berdarah dibuatnya.
"Kkkeuuukkkk.... Kkkeuuukkkk.."
Ya Tuhan, apa aku akan mati sekarang? Aku tau semua manusia pasti akan mati, tapi aku tidak mau mati sekarang...aku ingin bertemu dengan Maxim.
"Mati saja KAU! Jika Maximilian tau kalau kau mati, mungkin dia akan menjadi gila!" Lucis menyeringai, gerakan tangannya seperti ingin memutuskan leher Liliana.
Tubuh gadis itu yang tadinya gemetar, kini terdiam. Matanya tertutup dan air mata jatuh membasahi pipinya.
Ya Tuhan, ampuni semua dosa dosaku. Semoga Maxim dan ayah, tidak terlalu bersedih saat aku pergi nanti.
Sebuah cahaya yang muncul entah darimana, membuat Lucis melepaskan cekikannya dari Liliana. Didalam cahaya itu, muncul seorang pria yang menangkap tubuh Liliana yang ambruk.
"Maxim...ini dirimu?" Tanya Liliana sambil mendongakkan kepalanya ke arah pria yang memeluknya itu.
"Iya ini aku," jawab Max sambil menatap istrinya yang sedang dalam keadaan tidak berdaya itu.
__ADS_1
"Apa ini surga?" Liliana berfikir pertemuannya dengan sang suami adalah mimpinya. Dia berfikir dirinya sudah mati. Matanya tertutup rapat, gadis itu pun tak sadarkan diri.
"Lily! Lily sadarlah!!" Ujar Max pada istrinya itu.
"Aku pikir siapa, ternyata anda yang mulia putra mahkota kerajaan Istvan yang terhormat!" Kata Lucis sambil menunjukkan sosok aslinya sebagai iblis di depan Max dan Liliana. Lidahnya menjulur panjang, giginya bertaring, kuku kukunya juga memajang.
Pria ini jelas-jelas adalah iblis! Apa dia raja iblis yang aku cari? Kenapa dia seperti tidak asing bagiku? Dia bahkan tau aku adalah putra mahkota kerajaan ini.
Max melihat beberapa iblis yang terkurung di sisi lain tahanan itu. Niat hati ingin melawan iblis didepannya, namun Max tidak mau membahayakan Liliana yang saat ini tak sadarkan diri.
"Maaf, kita bertarung nanti saja!" Max langsung memakai sihir teleportasinya.
Cahaya membuat Liliana dan Max menghilang dalam sekejap mata didepan Lucis. Lucis tampak kesal, padahal dia sudah ingin menghabisi pria itu.
Wushh~~~
Liliana dan Max sampai disebuah tempat asing bagi mereka, bukannya di istana. Mereka berada disebuah Padang rumput. "Sial! Kenapa kekuatan teleportasiku harus tersendat dan eror disaat seperti ini? Dimana ini?" Gerutu Max sambil menggendong istrinya. "Aku harus mencari seseorang atau rumah disekitar sini. Keselamatan istriku adalah yang utama." Ucap Max sambil memandangi Liliana.
Malam itu, Max menggendong sang istri sambil mencari jalan keluar dari padang rumput yang luas itu. Dia tidak bisa menghubungi Blackey saat ini, karena mana dari sihirnya sudah dia gunakan untuk melakukan teleportasi dan menembus sihir Lucis.
__ADS_1
Kekuatan Max terkuras habis dan dia harus memulihkan kekuatannya. Dia terus berjalan mencari seseorang atau rumah untuk berteduh. Pada akhirnya setelah berjalan beberapa menit, tak jauh dari Padang rumput itu, Max menemukan sebuah rumah tua.
Max masuk ke dalam rumah tua itu, karena pintunya tak terkunci. Kemudian dia membaringkan Liliana diatas ranjang yang sudah usang, tapi sebelum itu dia membersihkan ranjangnya agar tidak terlalu kotor.
"Lily, istriku? Bangunlah! Ini aku, suamimu.." Max memegang kedua tangan istrinya, dia tidak bisa sihir pengobatan. Dia sangat bingung apa yang harus dia lakukan untuk membuat istrinya sadar. "Seandainya si pak tua Almoore ada disini. Dia pasti bisa menyembuhkanmu dengan cepat. Baiklah, pertama-tama aku harus cari air!"
Max meninggalkan istrinya sendirian didalam kamar, kemudian dia mencari air di luar. Dia yakin istrinya belum minum ataupun makan sejak disekap.
Ketika Max sedang mencari air dan sesuatu untuk dimakan. Liliana membuka matanya perlahan-lahan. Dia melihat langit-langit usang seperti akan runtuh didepan mata. Ranjang yang dia tiduri juga terasa keras.
"Oh Tuhan, apa surga memang seperti ini? Mengapa tidak ada ranjang empuk, cahaya yang indah, atau makanan yang enak disini. Aku seperti berada di antah berantah." Gerutu Liliana sambil memegang lehernya. "Atau jangan-jangan aku masuk NERAKA??!"
Liliana beranjak duduk dan berteriak panik saat menyadari dirinya berada di sebuah ruangan yang sama sekali tidak indah itu. Dia memegang lehernya yang terasa sakit karena Lucis.
Mendengar teriakan sang istri, membuat Max langsung buru-buru menghampirinya di kamar. "Lily.. kau sudah sadar?"
"Maxim? Kenapa kau ada disini juga?"
...*****...
__ADS_1
Maaf guys, author up segini dulu. Author sedang kurang sehat π€§ besok author up lagi ya..
See you βΊοΈ