
...Aku pergi bukan karena aku menyerah pada hubungan ini.....
...Aku pergi bukan karena aku lemah, bukan karena aku bodoh.....
...Tapi karena aku ingin melindungi cintaku. Semoga dirimu bahagia selalu......
...Jadilah Raja yang hebat seperti impianmu, jadilah Raja yang adil dan bijaksana.. Aku akan menantikan hari dimana semua orang memuji-muji dirimu dan saat itu aku akan ikut bahagia......
...Jika kita memang berjodoh, pasti kita akan kembali bersama......
Liliana Eissa Geraldine
...****...
Kecupan penuh kasih sayang dan kelembutan itu ada pada kening Max. Pria itu tertidur lelap karena lelah, belum lagi lilin aromatik dinyalakan oleh Liliana agar Max tidur nyenyak.
"Haruskah aku berikan kalung ini kepadamu?" tanya Liliana sambil menggenggam kalung yang diberikan Max kepadanya. "Tidak! Akan kusimpan ini sebagai kenang-kenangan. Izinkan aku memiliki yang satu ini, yang mulia."
Setelah berpakaian lengkap dan bicara dengan Max yang sedang tertidur, Liliana memantapkan hatinya untuk pergi meninggalkan kamar itu meski dia berat hati.
"Yang mulia," ucap Adrian dan Eugene sambil membungkukkan setengah badan didepan Liliana yang baru saja keluar dari kamar putra mahkota.
"Jangan panggil aku seperti itu, sekarang aku hanyalah nona. Aku bukan putri mahkota kerajaan ini lagi," ucap Liliana meralat Adrian dan Eugene yang memberi hormat padanya.
Adrian dan Eugene terlihat bingung, mereka juga ikut sedih karena Liliana sudah bukanlah putri mahkota dan istri Max lagi. "Jangan menunjukkan raut wajah seperti itu, aku tidak butuh dikasihani. Aku tidak malu turun tahta dengan cara seperti ini karena aku tidak melakukan kesalahan," kata Liliana yang merasa dikasihani oleh kedua pengawal ksatria yang paling dekat dengan sang putra mahkota itu.
Eugene memperjelas, "Yang mulia jangan salah paham, kami tidak bermaksud mengasihani yang mulia. Kami hanya sedih karena yang mulia harus mundur dari posisi ini dan meninggalkan yang mulia putra mahkota."
"Tidak bisakah yang mulia memikirkannya lagi? Kita masih bisa memikirkan jalan keluarnya, yang mulia pasti bisa mengatasinya."
"Sir Eugene, sir Adrian.. aku tidak akan bertindak egois. Jika aku tetap berada didalam posisi ini, yang mulia putra mahkota akan kesulitan karena diriku. Jika aku sudah pergi, pasti dia akan marah dan mencariku...saat itu kalian tolong berikanlah surat ini."
Mantan Putri mahkota itu menyerahkan sepucuk surat pada Eugene. Surat yang ditulisnya untuk Max. "Yang mulia!" Eugene dan Adrian berseru sedih.
"Kita pasti akan bertemu lagi, jadi jangan sedih." ucap Liliana sambil tersenyum, dia menahan air matanya.
Setelah dia berpamitan dengan semua orang terdekatnya saat berada di istana. Liliana buru-buru pergi meninggalkan istana itu. Ketika dia akan naik kereta dari depan istana, Laura berlari dan mengejarnya. Eugene juga berada dibelakang Laura.
"Putri Laura, anda harus berhati-hati!" kata Eugene mengingatkan, dia khawatir pada wanita yang sedang mengandung anaknya itu.
"Kakak ipar!" panggil Laura pada wanita cantik yang akan menaiki kereta itu.
Liliana berbalik dan melihat ke arah Laura. "Putri Laura?"
Laura memeluk Liliana sambil menangis. "Kenapa kau harus pergi? Kenapa? Hiks...hiks...kalau kau pergi bagaimana denganku dan kakak?"
"Kumohon jangan menangis seperti ini, putri Laura. Kau juga tidak boleh berlari seperti itu, nanti kau bisa jatuh. Kau harus menjaga anak didalam kandunganmu baik-baik," ucap Liliana mengingatkan.
Laura melepaskan pelukannya, dia masih menangis. Dia tidak mau Liliana pergi, kakak iparnya itu sangat baik padanya dan di istana tidak ada yang bersikap ramah padanya selain Liliana.
"Kakak...apa kakak harus pergi seperti ini? Apa kau..."
"Jika ada kesempatan, kita pasti akan bertemu lagi. Jadi, sampai saat itu tiba...kau harus bahagia saja. Hidup bahagia bersama sir Eugene dan anak kalian," ucap Liliana sambil mengusap air mata Laura sambil tersenyum.
__ADS_1
Semakin kau tersenyum, aku bisa melihat kesedihan dimatamu kakak ipar.
Liliana tidak bisa berlama-lama, dia pun pergi naik kereta setelah berpamitan pada Laura. Eugene dan Laura berharap agar Liliana bisa kembali ke kerajaan dan merebut posisinya kembali.
Pada tengah malam itu, Liliana diantar Duke Geraldine pergi ke perbatasan kerajaan. Mereka sampai di dermaga. Liliana membawa barang-barang dan dia seperti akan bepergian jauh. Liliana pergi bersama kstaria pengawal Duke yang bernama Andreas.
"Apa kau yakin ayah tidak perlu mengantarmu sampai kesana?" Duke Geraldine terlihat sedih saat akan melepas kepergian anaknya.
"Tidak bisa ayah. Jika ayah ikut denganku, maka yang mulia bisa tau dimana aku berada. Ayah, aku pamit!" Liliana memeluk ayahnya, tanpa air mata dan hanya senyuman saja.
Duke Geraldine membalas pelukan putrinya dengan hangat. "Kau harus baik-baik saja, jangan lupa untuk mengirimkan kabar."
"Ya ayah," ucap Liliana sambil tersenyum. "Ayah juga harus mengirimkan kabar padaku,"
"Ayah menyayangimu Adaire."
Hati Liliana berdebar kencang saat Duke Geraldine memanggilnya dengan nama aslinya. Dia memeluk lagi ayahnya, mengingatkan Duke untuk selalu menjaga kesehatan dan jangan memikirkan tentang dirinya.
Liliana sudah memutuskan akan memulai hidup baru dan mencari kebahagiaan juga kekuatan. Hingga saat dia kembali, dia sudah menjadi orang yang kuat dan tidak diremehkan oleh orang lain lagi.
"Andreas, tolong jaga putriku baik-baik. Aku mohon padamu." ucap Duke Geraldine pada kstaria pengawalnya itu.
"Baik yang mulia, saya akan menjaga nona dengan nyawa saya." ucap Andreas sambil membungkukkan setengah badannya didepan sang Duke.
"Ayah, tolong jaga Adara dan bayinya. Jika Adara sudah melahirkan, tolong beritahu padaku."
Duke Geraldine tersenyum, dia pikir Liliana sudah melupakan adiknya. Ternyata, dia masih memikirkan Adara. "Kau jangan cemas, kita akan saling bertukar surat!"
Andreas membawakan barang-barang Liliana, mereka berdua menaiki kapal pesiar yang akan membawa mereka pergi jauh.
"Walaupun kita berpisah jauh, kita masih menatap langit yang sama." ucap Liliana sambil tersenyum pahit.
"Nona.."
"Andreas, mari kita masuk ke dalam." ucap Liliana sambil berjalan masuk ke dalam kamar pesiar, menuju ke tempat tidur Liliana.
Wanita itu masuk ke dalam kamarnya, ruangan kecil yang berbeda jauh dengan kamarnya di kediaman Duke. "Maxim...semoga kau.."
Uwekk...uwekk..
Tiba-tiba saja Liliana merasa mual, kepalanya pusing. "Aku harus beristirahat, sepertinya aku masuk angin." ucap Liliana sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
*****
Pagi itu, Max terbangun diranjangnya. Dia meraba-raba ke sampingnya. Ranjang itu terasa dingin. "Lily?"
Max duduk diatas ranjang, tubuh telanjang dada dan otot-ototnya terlihat dibawah sinar mentari yang masuk melalui jendela kamarnya. "Lily? Dimana dia?" tanya Max keheranan karena tidak menemukan Liliana dikamarnya. "Kenapa dia sudah bangun sepagi ini?" gumam pria itu bingung.
Kemudian dia memanggil Adrian yang berada di luar ruangan itu setelah dia memakai bajunya. "Adrian, dimana putri mahkota?" tanya Max sambil meneguk segelas air minum.
"Yang mulia...itu..." Adrian tergagap.
Aku harus jawab apa?
__ADS_1
"Adrian apa kau belum sarapan? Kenapa kau gugup seperti itu?" Max menatap tajam ke arah Adrian.
"Yang mulia... sebenarnya..."
Adrian kebingungan darimana dia akan menjelaskannya bahwa Liliana telah meninggalkan istana dan mungkin untuk selamanya.
"Adrian? Apa kau tuli?" tanya Max dengan suara membentak.
Tak lama kemudian, Eugene datang menghampirinya seperti seorang penyelamat. Dia membawakan surat yang dititipkan Liliana untuknya.
"Apa ini?"
"Yang mulia, ini adalah surat dari nona Liliana."
"Beraninya kau memanggil putri mahkota negri ini dengan sebutan nona?" Max marah mendengar Eugene memanggil Liliana dengan sebutan nona, bukan putri mahkota. "Aku akan memaafkanmu kali ini, tapi tidak ada lain kali."
Max membuka surat dari Liliana. Dia membaca surat itu dengan seksama.
...Salam yang mulia putra mahkota Maximilian... cintaku.....
...Mungkin saat kau membaca surat ini,...
...Aku akan menceritakan sedikit tentang masa lalu kita. Di bawah pohon itu aku melihatmu menangis, disitulah tempat pertama kita bertemu. Kemudian ketika kita dewasa, kita kembali bertemu dalam keadaan tidak terduga. Aku berada dalam wujud yang lain, wujud Liliana. Kau sudah tau identitasku dan kau selalu melindungiku. Aku jatuh cinta padamu, aku sangat mencintaimu dan akan selalu mencintaimu....
...Aku harap kau menepati janjimu dan menjadi raja yang hebat! Kau harus menjadi raja dan mempertahankan posisimu! Maafkan aku karena aku tidak bisa bersamamu lagi, mungkin jika kita berjodoh.. langit akan kembali mempertemukan kita. Aku harap kau sehat selalu dan jangan lupa untuk melepas sepatumu saat kau akan tidur, karena kau selalu lupa melakukannya. Aku harap kau selalu bahagia dan sehat. Lalu...tolong jangan cari aku. Karena aku akan baik-baik saja...pikirkan saja dirimu sendiri dan rakyat negeri ini....
...Salam cinta, Liliana Eissa Geraldine....
Max meremas surat itu dengan gemas, wajahnya dipenuhi amarah yang mendidih. Dia merasa dibohongi oleh wanita itu yang katanya akan menyelesaikan masalah berdua dengannya. Tapi Liliana malah pergi meninggalkannya.
"Kau bilang kau akan bersamaku, kau bilang kau akan selalu dengan ku didalam keadaan apapun. Tapi..." gumam Max dengan tangan bergetar dia meremas surat itu.
Adrian dan Eugene tersentak kaget melihat Max tiba-tiba seperti itu. Tidak pernah mereka melihat Max semarah ini.
Setelah itu Max mendengar bahwa Ratu telah mengesahkan penurunan putri mahkota. Dia juga bersama para menteri telah setuju dengan penurunan ini. Max merasa dikhianati oleh Liliana, sebab wanita itu meninggalkan dia seperti sudah merencanakan semuanya.
1 bulan telah berlalu sejak menghilangnya Liliana. Max telah menjadi seorang Raja, namun dia tak memiliki pendamping karena dia belum menikahi Julia.
Di sisi lain Duke Geraldine maupun orang yang berada di kediamannya tidak memberitahukan pada Max tentang keberadaan Liliana.
Max selalu berusaha mencarinya, namun Liliana tak kunjung ditemukan juga. Para menteri selalu mengoceh tentang pemilihan Ratu yang baru dan orang itu haruslah Julia. "Yang mulia, ini sudah satu bulan sejak kepergian mantan putri mahkota. Kapan anda akan memilih Ratu yang baru?"
"Aku tidak perlu menikah! Aku akan hidup menjadi Raja lajang satu-satunya di negeri ini." kata Max menjawab tegas pertanyaan para bangsawan tentang pemilihan Ratu.
*****
Di tempat yang jauh dari kerajaan Istvan, Liliana dan Andreas sedang berada didalam perjalanan menuju ke rumah yang Liliana tempati selama 1 bulan itu.
Kruuuukkkk..
"Nona, apa kah nona lapar?" Andreas bertanya karena dia mendengar suara yang keras itu.
"Hem, sepertinya anak ini lapar. Lebih baik kita dari rumah makan sebelum kembali." Liliana memegang perutnya sambil tersenyum.
__ADS_1
Satu bulan setelah aku meninggalkan istana, aku mendapat fakta bahwa ada malaikat kecil yang berada didalam rahimku.
...****...