Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 182. Pernyataan cinta dan gosip


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Seseorang memukul Alejandro dengan bogem mentahnya cukup kuat, dia adalah Eugene.


"Kau...kau pikir dirimu siapa bisa memukulku seperti ini?!! Aku adalah adik dari Baginda Ratu!" Alejandro tidak terima jika dia di pukul oleh orang yang bahkan tak memiliki gelar dan bawahan putra mahkota.


Eksistensi Liliana masih berada disana, dia ketakutan setelah apa yang dialaminya itu. Dia berlindung di belakang Eugene karena hanya pria itu satu-satunya yang berada disana. "Saya tau tuan count adalah adik Baginda Ratu, tapi saya adalah bawahan yang mulia putra mahkota calon raja negri ini.


Tidak disangka bahwa count Alejandro memiliki karakter seperti binatang. Dia bahkan berani mengincar seseorang yang spesial untuk yang mulia.


"Hah! Kau benar-benar sombong, apa kau tidak takut kalau aku melaporkanmu para kakakku, hah?!" Alejandro bersembunyi dibalik nama Freya. Dia tak terima di lawan oleh Eugene.


Eugene tersenyum percaya diri, matanya menatap Alejandro tanpa rasa takut. "Silahkan laporkan saja! Saya tidak takut, tapi sebelum itu...saya akan melaporkan anda lebih dulu karena anda sudah menganggu dayang pribadi yang mulia putra mahkota!"


Alejandro tercekat, dia melotot ke arah Eugene dengan marah. Sial! Rasanya harga dirinya saat itu hancur oleh Eugene dan Liliana. Tidak mau berdebat lagi karena takut dengan otoritas putra mahkota. Dia memilih pergi dari sana sambil mendengus kesal.


Tiba-tiba saja tubuh Liliana ambruk ke rerumputan, dia terjatuh lemas seraya memegang dadanya. "Haaahh...."


"Nona Liliana, apa kau baik-baik saja?" Eugene jongkok dan mengulurkan tangannya untuk membantu Liliana berdiri.


Sepertinya dia syok.


"Te-terima kasih." Gadis itu menyambut uluran tangan Eugene, dengan tergugup.


Eugene menatap gadis itu dengan iba, padahal sebelumnya dia sangat ceria.


#FLASHBACK


Beberapa menit yang lalu, Max baru saja kembali dari rapat bersama para menteri mengenai pengobatannya sebagai Raja yang akan dilakukan dalam beberapa hari lagi.


Dia hendak pergi ke kamarnya, namun tiba-tiba saja langkahnya terhenti. "Hem...jam segini dia pasti sedang berada di dapur atau dimana ya?" gumam Max pelan.


Mengapa yang mulia tiba-tiba bicara sendiri begitu?. Eugene membatin.


"Eugene!"


"Ya, yang mulia?"


"Kau....carilah si pelayan itu di dapur, atau dimanapun di istana ini. Kalau sudah bertemu, bawa dia padaku!"


"Baiklah yang mulia," jawabnya patuh.


Akhir-akhir ini yang mulia sering berada didalam kamar. Apa itu karena wanita itu?


Ya, akhir-akhir ini Max memang lebih sering menghabiskan waktunya di istana. Bersantai di kamar atau di teras, terdengar bukan seperti dirinya yang selalu suka berada di luar istana. Namun sekarang istana menjadi nyaman untuknya, nyaman karena istana atau nyaman karena Liliana?


Yang jelas, Eugene melihat Max lebih nyaman di dalam kamar dan itu saat dia bersama Liliana.


#END FLASHBACK


"Benarkah kau baik-baik saja?" Eugene bertanya sekali lagi.


"Iya, saya baik-baik saja." jawab Liliana sambil tersenyum dipaksakan.


Mana mungkin baik-baik saja. Kau gemetar seperti ini. Eugene melihat Liliana masih gemetar.


Demi mencairkan suasana yang hening, Eugene mengajak pergi dari sana dan mengobrol. "Yang mulia memerintahkanmu untuk menghadap kepadanya,"


"Baiklah tuan Eugene."


Sambil berjalan, Eugene melihat raut wajah Liliana yang pucat pasi. Dia mengajak Liliana mengobrol lebih dulu. "Oh ya, tentang perkataanmu waktu itu...aku akan melakukannya,"


"Ya? Yang saya bilang kalau tuan harus berjuang dulu?" Liliana menoleh ke arah Eugene.


"Ya, jangan menilai akhir dari sebuah cinta sebelum kau tau bagaimana rasanya berjuang. Kata-kata itu terngiang-ngiang terus di kepalaku dan aku berterima kasih atas doronganmu."


Jujur dari dalam hati Eugene, dia memang akan berjuang untuk Laura karena sebagian dorongan kata-kata dari Liliana dan dia berterimakasih pada gadis itu.


"Sama-sama tuan, saya akan sedih kalau orang yang saling mencintai berpisah. Jadi, saya harap tuan dan yang mulia putri bisa bersatu walau jalan diantara kalian tidaklah mudah."


Paham.


Walau dia hanya orang luar, dia tau kalau cinta antara bangsawan dan rakyat jelata akan melalui jalan yang sulit. Liliana mendoakan agar Laura dan Eugene bisa bersatu.


"Terima kasih, semoga aku dan dia mendapatkan ending bahagia..." Eugene tersenyum simpul. "Oh ya, apa bisa kita berteman?"


"Teman? Tentu saja bisa."


Eugene dan Liliana berjabatan tangan. Eugene mulai terlihat tenang karena Liliana sedikit tenang tidak gemetar seperti tadi. "Oh ya...karena kita sudah berteman, bolehkah aku bertanya satu hal padamu?"


"Ada apa?"


"Maaf pertanyaan ini agak menyinggung, tapi aku mengatakannya karena peduli padamu. Apa....tuan count selalu melakukan ini? Apa dia sudah melakukan--"


Liliana memegang erat kedua tangannya sendiri. "Dia..."


"Katakan saja! Apa dia sudah melakukan hal yang lebih dari barusan? Aku janji tidak akan mengatakannya kepada siapapun," Eugene berupaya membujuk Liliana untuk mengatakannya, dia hanya takut oleh Alejandro kembali menyerangnya.


"Tidak....tapi dia hampir,"


"Apa? Jadi... dia pernah melakukan ini sebelumnya padamu?" Eugene terperangah, terlihat kepedulian di wajahnya untuk Liliana.


"Bukan pernah, tapi sering. Setiap kali aku sedang sendirian atau yang mulia putra mahkota sedang pergi meninggalkan istana, dia selalu datang padaku dan mencoba melakukan itu...tapi dia tak pernah berhasil." tutur gadis itu jujur.


Eugene terdiam sejenak, wajahnya tampak marah. Ia menyangka bahwa pria yang terkenal dengan budi luhurnya, melakukan pelecehan terhadap dayang istana.


"Tuan, kau sudah berjanji padaku untuk tidak mengatakannya kepada siapapun....jadi tolong ini hanya menjadi rahasia kita berdua saja. Yang mulia putra mahkota juga tidak boleh tahu,"


"Baiklah, kau tenang saja... aku pasti akan merahasiakannya."


Pantas saja, akhir-akhir ini yang mulia selalu mengoceh... bahwa nona Liliana terlihat lebih pendiam. Mungkin, count Alejandro adalah penyebabnya. Kurang ajar sekali dia! Beraninya dia menyentuh wanita yang dicintai oleh yang mulia.


Mereka berdua pun sampai di depan kamar Putra mahkota, Liliana segera menghadap sementara Eugene memilih menunggu di luar.

__ADS_1


"Salam hormat saya, yang mulia..."


"Kau sudah datang? Aku ingin mandi."


"Saya akan segera menyiapkan airnya. Yang mulia ingin mandi dengan air hangat atau air dingin?" Tanya Liliana pada Max.


"Karena cuaca yang panas seperti ini, Aku ingin mandi dengan air dingin saja." ucapnya sambil tersenyum.


"Baik, yang mulia."


Max melihat Liana yang berjalan menuju ke kamar mandi, sedari tadi keningnya berkerut. Hatinya bertanya-tanya kenapa Liliana yang biasanya cerewet kini berubah menjadi pendiam. Apa mungkin wanita itu ada masalah?


Ngomong-ngomong soal segel iblis di dalam tubuhnya, setiap Max kambuh. Dia sudah mempunyai cara tersendiri untuk meredakannya, yaitu dengan cara mencium Liliana. Memang dia masih memakan darah hewan, namun dia tidak memakan darah manusia saat dirinya menyentuh Liliana dengan intim tanpa sepengetahuannya.


Makanya, terkadang Max sengaja membuat Liliana ketiduran di kamarnya. Saat dia kambuh, dia akan pergi diam-diam keluar dari kamarnya.


"Ada apa dengannya? Kenapa dia banyak melamun dan diam?"


Di dalam kamar mandi, Liliana sedang menyiapkan air dingin di dalam bak mandi yang luas itu. Dia terlihat melamun, wajahnya kadang marah dan wajahnya kadang sedih


"Jika dia bukan... saudara dari Ratu, aku pasti sudah melawan. Tapi, aku masih sayang nyawaku. Jika tidak ada tuan Eugene hari ini, mungkin dia sudah..."


"Liliana!"


Gadis itu langsung menoleh ke belakang. "Ya, yang mulia?"


"Hey...kau menangis?" Tanya Max begitu dia melihat mata Liliana yang berembun.


"Saya tidak apa-apa yang mulia," Gadis itu memaksakan sebuah senyum di bibirnya.


"Jangan bilang tidak apa-apa padahal kau ada apa-apa. Katakan padaku, apa kau memiliki masalah? Atau ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"


Pertanyaan beruntun itu menunjukkan betapa perhatiannya Max kepada Liliana. Perhatiannya pada Liliana, bukanlah perhatian yang menunjukkan seorang atasan kepada bawahannya. Atensinya tertuju pada Liliana yang terus menundukkan kepalanya. "Saya--baik-baik saja yang mulia, tolong jangan bertanya seolah-olah anda peduli pada saya."


"Tapi aku memang peduli padamu,"


"Kenapa? Kenapa yang mulia begitu perhatian kepada saya?" Liliana mempertanyakan sikap Max selama ini yang selalu memperlakukannya dengan spesial. Itulah yang dia rasakan.


"Bagaimana kalau aku bilang , karena aku suka padamu?"


"Ya?!"


Suka? Padaku?


Kedua mata itu saling menatap dengan gairah yang menggebu. Max dengan berani mengungkapkan perasaannya. "Jangan sembarangan mengatakan suka kepada saya! "


Max berjalan mendekati Liliana yang berada di dekat bak mandi, tangannya merengkuh pinggang Liliana. Membuat tubuh mereka bersentuhan. "Liliana, aku suka padamu! Dalam kehidupan yang maupun kehidupan kali ini aku tetap menyukaimu. Tidak... bukan suka, tapi cinta."


Ditatapnya pria itu dengan mata berkaca-kaca, entah bagaimana perasaan yang saat ini. Yang jelas, dia berdebar-debar ketika berada di dekat pria itu. Rasanya dia tak percaya bahwa pria itu akan mengungkapkan cinta kepadanya.


Max memang sengaja menyatakan cinta pada hari itu agar alur cerita cinta mereka bisa jadi lebih cepat. Takut juga, Aiden akan segera kembali dan mengacaukan segalanya.


"Yang mulia mencintaiku? Apa yang mulia sedang mempermainkan saya? Mana mungkin yang mulia--hmph--"


Pria itu menekan tengkuk Liliana, dia membenamkan bibirnya pada bibir ranum nan cantik milik Liliana.


Alih-alih menghindar, Liliana justru dalam suasana itu dan membalas pagutan bibirnya. Posisi Liliana jadi terduduk di dalam bak mandi. Masih dalam posisi berciuman.


Basah.


Manis.


Hangat.


Rasanya sungguh luar biasa tatkala bibir itu menyatu. Hingga beberapa detik kemudian pagutan itu terlepas. "Aku mencintaimu, Lily..."


"Yang mulia...saya--"


Tok, tok, tok!


Pintu kamar yang di ketuk keras itu membuat Max dan Liliana tercekat. Liliana langsung berdiri dari tempat bak mandi itu. Dia membenahi wajahnya yang bingung itu.


Siapa yang menganggukku?


Tok, tok, tok!


"Ish!" dengus Max kesal.


"Yang mulia, biar saya yang buka pintunya." Liliana berjalan pergi meninggalkan Max sendirian di sana.


Liliana membuka pintu kamar itu, matanya terbelalak melihat pria yang kini berdiri dihadapannya itu.


Tuan Alejandro? Kenapa dia...


Eugene berdiri di belakang Alejandro, dia terlihat waspada pada pria itu. Liliana langsung menanyakan apa maksudnya datang ke kamar Max. "Sampaikan pada putra mahkota, bahwa aku ingin bicara dengannya. Ah ya...dan tolong siapkan makanan yang manis-manis untuk teman berbincang kami." Alejandro mengedipkan sebelah matanya dengan genit pada Liliana. Dia sama sekali tidak merasa bersalah dan tidak takut dengan ancaman Eugene. Padahal baru saja dia telah berbuat salah pada gadis itu.


"Baik, tuan."


Gadis itu patuh Dan dia memanggil mix yang masih berada di dalam kamar mandi. "Yang mulia,"


"Siapa?" Max terlihat tidak senang karena ada orang yang mengganggu pembicaraannya bersama Liliana.


"Count Alejandro, beliau datang untuk menemui yang mulia."


"Haaahhh... baiklah."


Max mengecup bibir Liliana sekilas dan membuat gadis itu tercekat. "Aku... akan menunggu dan mendengar jawaban dari pernyataan cintaku,"


Gadis itu tersipu malu dengan wajah merahnya. "Hem..."


"Sampaikan padanya, untuk bertemu denganku di ruang istirahatku. Aku akan pergi mandi dulu dan Jangan lupa untuk menyiapkan bajuku."


"Iya yang mulia," Liliana mengangguk. Max tersenyum padanya.

__ADS_1


*****


Di dapur istana, seperti biasanya Daisy sedang mengawasi para dayang yang bekerja disana. Dia mendengar beberapa dayang membicarakan Liliana dan Alejandro.


"Eh...apa kau tau tentang dayang baru yang berambut merah itu?"


"Ya, benar... dayang yang cantik itu, kan?" sahut seorang dayang yang sudah lama bekerja di sana. Ya, bisa disebut juga sebagai senior.


"Ish...dia itu tidak cantik sama sekali. Apa kalian tau? Beberapa hari yang lalu, aku melihat dia keluar dari kamar count Alejandro, bukan hanya sekali tapi 3 kali!"


Atensi para dayang dapur disana menuju ke salah satu dayang yang tengah bicara itu. Mereka menatapnya dengan penasaran. "Kalian tau....aku dan beberapa dayang di istana tamu melihatnya keluar dalam keadaan berantakan!"


"Ah ya! Benar, aku juga pernah melihatnya keluar dari sana. Bajunya berantakan dan rambutnya acak-acakan," kata seorang dayang membenarkan.


"Benar! Dia pasti menggoda count dengan kecantikannya, dia emang kecentilan!" Kata seorang dayang yang tak suka dengan Liliana dan iri padanya.


"Tapi aku melihatnya menangis, wajahnya juga merah. Aku yakin dia tidak menggoda count, namun count lah yang memaksanya!" Kata Chloe membela Liliana.


"Alah! Kau kan tak tahu apa-apa dan kau adalah teman dekatnya, wajar saja kalau kau membelanya!"


"Tidak, Chloe tidak membelanya! Liliana memang menangis, hampir setiap malam dia menangis....tapi aku tak tahu kenapa!" Amber ikut bicara, dia sering melihat Liliana menangis tengah malam.


"Ah...dia pasti menangis karena tidak bisa menggoda count,"


"Benar...dia kan pelacur, haha."


Dayang dayang senior yang itu pada Liliana, terus saja mengejek Liliana. Hal itu membuat Keyra, Chloe dan Amber teman dekatnya merasa marah, tak terima teman mereka di ejek seperti itu.


Keyra mengepal tangannya, dia angkat bicara."Hey! Kalian--"


"Kenapa kalian malah bergosip?! Bukannya bekerja!!" Pungkas Daisy setengah berteriak, dia tetap tajam kepada para dayang yang ada di sana.


"Baik nyonya," jawab para dayang istana sembari menundukkan kepala mereka di depan Daisy.


"Kau, kau dan kau! Kalian ikut aku!" Daisy menunjuk kepada dayang yang menjadi provokator dari gosip itu.


Ketiga dayang itu terlihat panik, kemudian Daisy juga menunjuk ke arah Amber. "Kau juga ikut aku!"


Daisy dan keempat dayang istana itu masuk ke dalam sebuah ruangan khusus dayang. Disanalah Daisy mengintrogasi kepada para dayang itu, tentang gosip yang tersebar. Ketiga dayang itu menjelaskan apa yang mereka lihat beberapa hari yang lalu dan beberapa hari terakhir. Bahwa Mereka melihat Liliana keluar dari kamar count Alejandro dalam keadaan berantakan.


"Apa kalian berani mempertaruhkan pekerjaan kalian, bawa kalian tidak berbohong padaku?"


"Iya nyonya, kami tidak berbohong. Kalau nyonya tidak percaya dengan ucapan kami, nyonya bisa tanyakan kepada seorang pengawal yang berada di istana tamu."


"Benar nyonya, bukan hanya kami saja yang melihat itu. Tapi beberapa pengawal di sana juga melihatnya." jelas seorang dayang sambil tersenyum.


Daisy diam sejenak kemudian dia menatap Amber. "Lalu Apa benar kau melihat Liana menangis tiap malam? Apa dia mengatakan sesuatu?"


"Ya nyonya, saya selalu melihat Liliana sedih akhir-akhir ini. Hampir setiap malam dia menangis, namun saya tidak berani bertanya. Takutnya akan membuat Liliana semakin terluka. Jadi saya hanya...memperhatikannya saja. Saat dia menangis, dia mengatakan sesuatu tentang..."


Hiks...hiks...kalau dia bukan anggota keluarga kerajaan, aku pasti sudah...hiks...dasar bajingan.


Daisy dan ketiga dayang lainnya yang ada di sana tercengang mendengar ucapan Amber. Daisy pun mau minta semua orang untuk pergi keluar dari ruangannya. Namun sebelum itu dia meminta agar semua orang merahasiakan tentang ini, jangan sampai gosipnya tersebar lebih jauh lagi.


"Aku harus bicara dengan Liliana tentang hal ini, apa dia diganggu olehnya atau bagaimana? Walaupun dia seorang dayang istana dengan status rendah, tidak boleh ada yang melecehkan wanita!" Daisy mengepal tangannya dengan erat. Entah mengapa dia sangat peduli pada Liliana seolah mereka sangat dekat.


****


Ruang istirahat putra mahkota, Max dan Alejandro saling berhadapan. Mereka membicarakan masalah penobatan Raja yang akan diadakan tiga hari lagi. Alejandro menjadi salah satu penanggung jawab di acara itu.


Dia memaparkan bagaimana acara itu akan berlangsung dan di mana akan dilaksanakannya. "Yang mulia, apakah anda setuju dengan rencana yang saya buat?"


"Tidak buruk. Karena kau sudah diberikan tanggung jawab oleh Ratu, maka aku akan mencoba percaya padamu." Ucap Max sambil mengambil cangkir berisi teh lalu menyeruputnya.


Aku ingin lihat apa yang Ratu rencanakan di hari penobatanku nanti.


"Baiklah yang mulia, saya akan mempersiapkan segalanya." Alejandro tersenyum, tatapan matanya mengarah pada Liliana yang berdiri di belakang Max.


Liliana memalingkan muka ketika pria itu melihatnya. Dia sangat benci dengan yang namanya Alejandro itu. Pria yang sudah berusaha melecehkannya selama beberapa kali.


Kemudian setelah perbincangan itu, Alejandro pamit dari sana. "Maaf, karena saya sudah mengganggu waktu yang mulia."


"Tidak apa."


"Oh ya, hey kau!"


Tiba-tiba saja Alejandro memanggil Liliana dan membuat gadis itu tercengang dengan mata membelalak.


Kenapa dia memanggil Lily?


"I-iya tuan,"


Alejandro memegang tangan Liliana dengan modus mengembalikan sapu tangannya. "Ini milikmu, kau menjatuhkannya..."


"Terima kasih tuan," Liliana tangannya dari genggaman Alejandro.


Dasar pria kurang ajar.


Max melihat ada kegugupan, keresahan di wajah cantik Liliana ketika berhadapan dengan Alejandro. Kini dia mulai merasakan sesuatu yang aneh.


Setelah Alejandro pergi meninggalkan istana putra mahkota. Max mengajak Liliana bicara.


"Apa kau memiliki masalah dengannya?"


"Eh...em...tidak.."


Mengapa dia tiba-tiba bertanya begitu?


"Kenapa langsung jawab tidak? Kau bahkan belum tahu siapa yang kumaksud. Tapi... sepertinya kau sudah tahu siapa yang kumaksud,"


"Yang mulia, saya benar-benar tidak mengerti apa maksud anda." Kata Liliana sambil tersenyum canggung.


Aku tau ini tidak akan mudah, bagaimana dia bisa percaya begitu saja kepada orang yang bahkan belum dia kenal dengan baik.

__ADS_1


Max menghela nafas kemudian dia berkata, Liliana bisa menceritakan masalahnya ketika dia sudah siap. Ya, Max hanya bisa menunggu untuk saat ini, karena dia belum sedekat Itu dengan Liliana. Hatinya belum sepenuhnya terbuka kepada Liliana.


...****...


__ADS_2