Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 197. Lily, kau indah


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Pasangan kekasih itu pergi ke atas atap istana, Max merengkuh tubuh Liliana membawanya naik ke atas sana. "Ya ampun! Astaga! Apa yang kau lakukan?!"


"Aku hanya ingin berduaan denganmu mencari ketenangan." Max mendudukan Liliana di pangkuannya. "Dari tadi, kita sulit sekali untuk berduaan." suara pria itu terdengar kesal.


"Kenapa kau marah-marah terus dari tadi? Nanti kau cepat tua," gadis itu memegang pipi Max dan mengelusnya dengan lembut. Ditatapnya pria itu penuh cinta.


"Bagaimana aku bisa tidak marah? Para badut itu, berani sekali mereka meremehkan aku! Mereka menghapus seperti anak kecil, mereka tidak tahu saja siapa yang mereka hadapi. Huh! Mereka sangat menyebalkan!" gerutu pria itu yang masih belum melupakan jadian saat makan malam tadi, yang berkaitan dengan pangeran William.


"Sudahlah, lupakan saja semua itu. Bukankah kau menari-ku kemarin untuk berduaan denganku?" Tanya Liliana sambil memegang tangan Max dengan lembut.


"Oh...apa kau sedang menggodaku?" Max mencium pipi Liliana dengan lembut.


"Anggap saja begitu, tapi--bungkusan apa yang kau bawa ini?" atensi Liliana pada bungkusan yang dibawa oleh Max.


Bisa-bisa dia terus mengoceh dan meledak kalau aku tidak bisa mengalihkan perhatiannya saat ini.


"Oh ya! Bungkusan ini, adalah berisi makanan untukmu." jawab Max, kemudian dia membuka bungkusan itu.


"Benarkah? Mana coba, aku ingin melihatnya!" ujar Liliana tak sabar.


Di dalam bungkusan itu ada daging tusuk dan mie goreng yang sudah dilengkapi dengan bumbu pedas, kesukaan Liliana. Namun sayangnya makanan itu sudah dingin. Liliana sungguh terharu karena Max masih ingat makanan kesukaannya bahkan sampai membawakan makanan kesukaannya itu.


"Sepertinya ini sangat lezat ..wow..." matanya berbinar-binar manakala dia melihat makanan yang ada di hadapannya.


"Aku tidak tahu makanannya lezat atau tidak, tapi... makanan ini sudah dingin. Lebih baik jangan di makan." Pria itu baru menyadari bahwa makanannya sudah dingin. Dia melarang Liliana untuk memakannya.


"Dingin juga tidak apa-apa, pasti rasanya masih enak... karena kau kan yang membelikannya untuk diriku." Gadis itu mengambil sumpit, kemudian dia menggulung mie goreng dengan sumpit itu dan di lahapnya mie goreng tersebut.


Ini memang dingin, tapi perhatian Max membuatnya menjadi hangat.


"Eh.. tapi kan itu dingin." Max mengerutkan keningnya, dia melihat Liliana memakan mie goreng itu.


"Walau dingin, tetap enak...apalagi kalau makanannya bersamamu. Ayo kita makan bersama," Liliana menyodorkan sumpit pada Max.

__ADS_1


Pria itu mengangguk, dia mengambil sumpit dan memakan mie goreng itu bersama Liliana. Setelah menghabiskan setengah mie goreng dan setengah daging tusuk itu, Max mengambil minuman untuk mereka berdua.


"Haahhhh...tuh kan, apa aku bilang? Enak kan?" Liliana mengacungkan satu jari jempolnya, seraya tersenyum memuji makanan yang baru saja di makanannya itu.


"Ya, rasanya memang enak. Syukurlah aku tidak salah pilih pedagang makanan," ucap Max.


"Tidak, bukan begitu. Kau tidak salah pilih makanan, tapi kau tidak salah memilih momen saat kita berduaan."


Ucapan Liliana membuat Max tersipu, wajahnya memerah, dia terpesona untuk ke sekian kalinya ketika melihat gadis itu di bawah sinar bulan. Kata-katanya juga selalu memabukkannya.


Cup!


Max mengecup bibir Liliana sekilas, terlihat kabut gairah diantara mereka berdua ketika empat mata itu bertemu. "Maxim..."


"Jangan memancingku, kalau kau tidak mau menyesal. Aku tidak ingin menodai cinta kita karena--"


Liliana mendekati Max, dia mengalungkan kedua tangannya di leher pria itu. Dia pun membenamkan bibirnya dengan berani pada benda kenyal berwarna merah milik Max. Awalnya hanya sebuah kecupan biasa, namun lama kelamaan menjadi ciuman intens. Max balas mencium Liliana dengan menuntut, liar penuh hasrat.


"Eungh...." lenguh wanita itu menikmati setiap sentuhan dari Max, pria yang bertubuh kekar itu.


Gawat! Bisa berbahaya kalau diteruskan.


"Tidak apa-apa, aku tidak masalah. Banyak yang sudah melakukan itu sebelum menikah," ucap Liliana dengan polosnya.


Max terperangah, dia tidak menyangka bahwa wanitanya begitu agresif sekarang. "Lily, ada apa denganmu? Apa kau kerasukan hantu mesum?!"


"Ish...aku ingin menyerahkan diriku padamu, tapi kau malah mengira aku kerasukan?"


"Haha..hanya saja kenapa kau tiba-tiba begini? Lily ku yang polos dan selalu menjaga jarak denganku, kenapa begitu menginginkanku?" Max mengusap-usap lembut rambut panjang Liliana.


"Aku tidak ingin berpisah denganmu lagi Max, aku ingin bersamamu selamanya." ucap gadis itu sedih. Mengingat masa lalu cintanya yang tragis. Dia tidak ingin kehilangan Max untuk kedua kalinya, tidak mau berpisah dengan pria itu.


"Kita tidak akan berpisah lagi, tunggu saja... kurang dari satu minggu, aku akan mendapatkanmu. Aku akan menikahimu dan melewati para badut itu."


Max memeluk Liliana, mereka melihat bulan yang indah berdua saja diatas atap. Sementara di bawah sana orang-orang sedang bingung mencari mereka berdua.

__ADS_1


"Maxim, lihatlah...bulan itu sangat indah bukan?" Tunjuk Liliana pada bulan yang bulat sempurna itu, menampakkan cahaya indahnya.


Max menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak indah."


"Apa? Mengapa tidak indah?" Liliana mendongak ke arah pria itu.


"Yang indahnya ada disini," ucap Max seraya menatap Liliana dengan sayang. Liliana malu dibuatnya, dia semakin tersipu dan tenggelam dalam setiap kata dan tindakan Max. "Lily, kau indah dan aku sangat mencintaimu..." sambungnya lagi.


"Aku juga sangat mencintaimu." balas Liliana seraya tersenyum simpul.


Tanpa mereka sadari, di sana ada seseorang pria bersayap hitam tengah memperhatikan mereka dari kejauhan. Pria itu tersenyum tipis, perawakannya tinggi dan matanya berwarna merah. Dia berada di dalam kegelapan, jauh dari cahaya.


Setelah menghabiskan waktu lama bersama Liliana di atap, gadis itu tertidur pulas. Max pun hendak memindahkan Liliana ke kamarnya secara diam-diam tanpa ketahuan orang lain. "Apa yang terjadi pada putriku yang mulia Raja?"


"Salam yang mulia ibu suri," Max yang masih menggendong Liliana. Dia melihat ibu suri disana dan langsung menyapanya dengan hormat.


"Salam." balas ibu suri." Aku tanya--apa yang terjadi pada putriku?" Ibu suri mengulang lagi pertanyaannya.


"Yang mulia anda jangan khawatir, putri Liliana baik-baik saja. Dia hanya tertidur."


"Baiklah, kalau begitu bawalah dia ke kamarnya. Aku tidak akan memberitahukan tindakanmu pada orang-orang, tapi kau harus ingat kalau kau masih belum menjadi suami putriku. Jadi tolong jaga tindakanmu!" ucap ibu suri tegas.


"Saya paham yang mulia, terima kasih atas peringatannya. Dan saya berterimakasih karena yang mulia ini suri, menyayangi putri Liliana dengan tulus.


"Ya, aku sayang padanya." Ibu suri tersenyum mendengar ucapan Max padanya.


Tak lama kemudian, sampailah Max di kamar Liliana. Dia membaringkan Liliana di atas ranjang itu. "Aku mencintaimu," lirih pria itu lalu mengecup kening Liliana dengan lembut.


Wush~~


Tiba-tiba saja terlihat bayangan hitam di kamar itu. Max memperhatikan arah bayangan itu, kemudian dia memanggil Blackey untuk mengikuti bayangan itu.


"Blackey, ikuti bayangan itu!"


"Ya, yang mulia." jawab si burung gagak itu patuh.

__ADS_1


...****...


__ADS_2