
...πππ...
Adara melihat Liliana dengan terpana, karena yang memanggilnya my sweetie hanyalah Adaire saja. Panggilan kesayangan Adaire kepadanya adalah my sweetie.
"Kau... ini tidak mungkin, kau tidak mungkin kakakku!" Adara berteriak, memekik rasa yang tidak masuk akal ini. Namun setelah dia memikirkannya baik-baik, banyak sekali kebiasaan Adaire yang mirip dengan Liliana.
Liliana tersenyum, kemudian dia jongkok di depan Adara dengan posisi yang masih terluka. Dia tahan rasa sakit itu untuk mengancam Adara. Tangan Liliana memegang dagu gadis itu dengan kasar, "Adikku yang baik, sweetie Adara.. aku akan membalas semua perbuatan mu dan suami bejatmu itu. Ah, apa aku harus bilang dia masih berstatus suamiku? Kalian yang sudah membunuhku di kapal itu, harus mendapat balasannya!" Liliana menampar Adara dengan kasar dan penuh amarah.
"Kau.. kau tidak mungkin si gemuk bertompel jelek itu! Dia sudah mati, dia sudah mati!" Adara tidak dapat mempercayai fakta yang ada didepannya. Bahwa Adaire adalah Liliana.
"Tenang saja Adara, aku tidak akan membunuhmu sekarang. Itu karena aku masih memiliki rasa kasih sayang untukmu sebagai kakak. Kau akan tetap hidup, tapi... hahaha, aku tidak akan memberitahumu." Liliana tertawa sinis, dia terkekeh melihat adik tirinya menderita.
Liliana menyimpan banyak dendam didalam hatinya untuk Adara dan Arsen. Terutama Arsen yang selama ini sudah menjadi musuh dalam selimut.
"Aku tidak bisa memaafkan semua kesalahan mu Adara, apalagi kau sudah membuat hubunganku dan ayah merenggang selama ini! Aku tidak bisa memaafkan semua itu. Sebagai gantinya, aku akan membuatmu menderita dan membayar semuanya. Jadi kau tidak boleh mati dulu!" Liliana tersenyum sinis.
Liliana tidak kuat untuk berbicara lebih banyak lagi dengan Adara, apalagi pembicaraan yang menguras emosi.
Aisshh.. sepertinya luka di punggungku terbuka lagi. Aku bisa merasakan basah dibelakangnya.
"Aku.. aku akan beritahukan pada semua orang kalau kau masih hidup!" ujar Adara mengancam Liliana.
"Silahkan saja, itupun kalau mereka percaya padamu," ucap Liliana menantang.
Adara menangis, kemudian dia tertawa sendiri. Dia tak mempercayai apa yang baru saja dia dengar dari Liliana, bahwa dirinya adalah Adaire yang sudah mati.
Kini Adara harus mendekam di penjara sampai putusan pengadilan dijatuhkan kepadanya. Adara kesal sendiri karena Arsen sang suami, belum menemuinya sama sekali.
...****...
Gadis berambut merah itu berjalan pergi dari sana dengan sempoyongan, wajahnya tampak pucat. Setelah melewati tangga untuk naik ke lantai atas dari penjara bawah tanah itu. Liliana menangis tak terkendali di lorong, dia jatuh terduduk. Beruntungnya tidak ada penjaga di sekitar sana.
"Hiks... huuuhuuu...kenapa...kenapa kau sangat jahat kepadaku Adara? Padahal aku sangat menyayangimu, kenapa...hiks..." Liliana memegang dadanya yang sesak. Dia baru tau bahwa mencintai dan menyayangi seseorang ternyata bisa membuatnya terluka seperti ini.
Dalam hatinya dia menyayangi Adara dengan tulus, begitu pula dengan Arsen yang sudah dianggapnya sebagai penyelamat hidupnya. Mereka berdua menyakiti Liliana/ Adaire dengan cara yang paling kejam. "Kenapa? Kenapa aku tidak bisa menghentikan air mata ini?"
"Jangan menangis," ucap Max yang sudah jongkok dihadapannya. Dia memakai tampilan topengnya. Tangan pria itu menyeka air mata Liliana dengan lembut. "Menangis tidak cocok untukmu, lihatlah kau jadi jelek begini... air mata malah membuat matamu sembab," dengan gaya barbarnya, Max menjilat air mata yang membasahi pipi Liliana. "Rasanya asin juga ya," ucap Max dengan wajah konyolnya.
__ADS_1
Eugene?
Sontak saja hal itu membuat Liliana menatap Max dengan tajam. "Apa kau orang mesum?" bentaknya pada Max. Pria itu malah tersenyum dan mengulurkan tangannya. "Ayo berdiri!"
Akhirnya dia berhenti menangis, ya marah-marah mungkin lebih baik untuknya saat ini. Sebenarnya hatiku sakit melihatmu menangis.
Max membantu Liliana untuk berdiri, namun kaki wanita lemas. Tubuhnya oleng dan menimpa tubuh Max. "Auw.."
Rasanya perih sekali luka dipunggung ku ini. Pantas saja aku sampai tidak sadar selama beberapa hari. Adara memang bukan manusia.
Max melihat punggung Liliana yang berdarah. "Sudah kubilang kan untuk banyak beristirahat," gumam Max cemas. Dia memegang tangan Liliana, memegangi gadis itu agar tidak jatuh. "Ayo, aku akan membawamu pada tabib istana. Lukamu harus diobati," ajak Max pada Liliana.
"Tidak perlu, tadi lukaku sudah diolesi salep. Aku hanya ingin pulang dan beristirahat," ucap Liliana menolak dengan suara yang tegas sambil menepis tangan Max yang memeganginya.
Bagus Liliana, kau harus menolaknya karena inilah yang terbaik. Kau tidak boleh percaya atau jatuh cinta pada siapapun.
"Siapa yang mengoleskan salepnya?"
"Apa itu penting?"
"Tentu saja, bagaimana bisa kau masih terluka jika dia mengoleskan salepnya dengan benar." Max mengoceh.
"APA?" Max terbelalak mendengar jawaban dari Liliana. Dia menatap tajam ke arah gadis yang sedang berjalan didepannya itu.
Astaga! Apa yang aku katakan barusan? Ah sudahlah, apa juga yang aku pikirkan? Dia tidak akan marah karena cemburu padaku kan? Dia tidak mungkin begitu.
Gadis itu terus berjalan tanpa memedulikan Max yang wajahnya memerah. Hatinya panas, seakan kepalanya akan meletus disana.
"Yang mulia, seperti ada api yang akan keluar dari kepala anda," bisik Blackey dengan ukuran kecil, dia berada didekat Max dan tidak terlihat oleh Liliana.
"Kau mengejekku?" Max menoleh ke arah burung peliharaannya itu. "Mau ku jadikan kau santapan Zero?" ancamnya dengan seringai.
"Ampuni saya yang mulia.. saya tidak mengejek yang mulia," Blackey langsung menciut mendengar nama Zero disebutkan oleh Max.
Max kesal, dengan berapi-api dia menggendong Liliana tiba-tiba. "Ahh! Apa yang kau lakukan? Hey, turunkan aku!"
"Aku mau melakukan pembersihan," ucap Max dengan suara dingin. Liliana kaget melihat Max marah seperti itu.
__ADS_1
Beraninya pria itu melihat tubuh wanitaku sebelum aku! Sekarang waktunya menghukum mu dulu, lalu aku akan menghukum dia!
"Kau sudah gila ya? Bagaimana jika ada orang yang lihat? Turunkan aku Eugene!" pinta gadis itu seraya memukul-mukul tubuh kekarnya.
"Kau diam saja!" Ujar Max marah.
"Apa kau tidak ada kerjaan lain selain mengikuti aku? Padahal kau ini adalah pengawal putra mahkota?" tanya Liliana heran karena Max selalu ada disekitarnya.
"Oh benar aku memang pengawalnya. Tapi kau tenang saja, putra mahkota sangat menurut padaku. Jadi aku bebas pergi kemanapun aku mau dan kapanpun aku mau," ucapnya sambil berjalan dengan kedua tangan yang masih menggendong wanita itu.
"Masa ada yang seperti itu? Apa kau makan gaji buta?" Liliana mengerutkan keningnya dengan curiga.
Max tidak menggubris perkataan Liliana. Dia membawa gadis itu ke ruangan perawatan di istana. Dia melihat ada pria tua disana, "Oh.. salam saya yang-" Chris akan membungkuk, tapi Max memelototinya meminta dia untuk diam.
Max mendudukkan Liliana disalah satu ranjang pasien yang ada disana.
Apa yang mulia sedang menyamar? Siapa pula gadis cantik ini?
"Halo," Liliana menyapa pria tua yang tidak dikenalnya itu dengan sopan.
"Kau tunggu disini, aku akan bicara dengan tabib sebentar! Kalau kau berani pergi, aku akan mengikatmu!" Max menunjukkan jarinya pada wajah Liliana, seraya mengancam gadis itu.
Liliana kesal dengan ancaman Max, kemudian Max dan Chris pergi keluar dari ruangan itu. Walaupun kesal dengan Max, Liliana tetap menunggu pria itu disana dengan patuh.
"Eugene sebenarnya walaupun kau menyebalkan, tapi kau sangat baik padaku. Tapi maaf, aku tidak bisa menerima hatimu. Hidupku saat ini hanya untuk balas dendam," gumam Liliana sambil tersenyum sinis.
Cekret!
Pintu ruangan itu terbuka, "Eugene, kau darimana saj-"
Liliana terkejut melihat seorang gadis cantik berambut panjang berwarna perak, tengah berdiri didepannya. Dia lah yang membuka pintu itu.
Cantik sekali wanita ini..
Wanita berambut perak, menatap Liliana dengan tajam.
...*****...
__ADS_1
Kira-kira siapa ya wanita itu?
Author mau up lagi ah, jangan lupa like komennya yang banyak βΊοΈβΊοΈπ