Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 114. Tak bisa ditunda lagi


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Pria itu mencium leher istrinya dengan mesra. Bagian tubuhnya berdenyut, dia merasa panas. Apalagi saat melihat istrinya dengan rambut tergerai. Leher putihnya yang cantik sudah menggodanya.


Cup!


Cup!


"Tidak bisakah, kita lakukan ini nanti saja?" Liliana menutup mulut Max dengan tangannya. Menghentikan kecupan penuh hasrat dari Max.


"Kenapa kau menundanya terus? Aku tidak mau kita menundanya lagi? Kita sudah lama menikah, bahkan Eugene dan Laura saja sudah lebih dulu akan menjadi orang tua. Mengapa aku tidak bisa mendapatkan hak ku?"


"Maxim, bukan aku sengaja untuk menundanya. Tapi, apakah nanti saja kita lakukan saat kita sudah kembali ke istana dan setelah menyingkirkan iblis itu?" saran wanita itu pada suaminya.


"Lagi-lagi kau selalu membahas pekerjaan, kita sedang berduaan seperti ini. Bukankah kau sangat tega membiarkan aku terus menahan dan berpuasa? Aku kesakitan Lily, dibawah sini sangat sakit..." Pria itu merengek dengan bibir yang mengerucut dan wajah memelas.


"Maxim..."


Bagaimana ini? Padahal aku ingin malam pertama kami dilakukan dengan suasana yang romantis ditempat yang indah. Tapi...


Max menatap Liliana dengan tatapan memelas, dia merengek meminta malam pertama mereka dilakukan sekarang juga.


Kalau tidak sekarang kapan lagi? Sudah pasti kalau kami di istana, Lily akan sibuk dengan pekerjaannya. Aku juga akan sibuk, belum lagi akan ada gangguan dari banyak orang. Tak peduli tempatnya, harus sekarang juga!


"Sayang, istriku.." lirih Max sambil memegang wajah istrinya dengan lembut.


"Baiklah, mari kita lakukan."


Tidak baik kalau aku terus menolak suamiku sendiri. Bagaimana kalau dia mencari wanita diluar sana karena tidak puas denganku?


"Benarkah? Kau tidak bohong, kan?" wajah pria itu langsung sumringah mendengar persetujuan dari Liliana.


"Ada tapinya...dengarkan aku dulu,"


"Apa lagi?"


"Kau harus memahamiku, kalau aku tidak menyiapkan sesuatu yang istimewa untuk malam pertama kita. Aku hanya begini adanya, mungkin malam ini tidak akan sempurna karena aku-"


"Istriku, malam ini akan sempurna. Bahkan tanpa semua persiapan itu, aku akan membuat semuanya sempurna." Max menggendong istrinya dan dia tersenyum manis.


"I-iya.." Liliana memalingkan wajahnya karena malu.


"Tenang saja, aku akan lembut."


Max membawa istrinya naik ke lantai atas rumah tua itu. "Kenapa kau membawaku kemari? Bukankah kita akan melakukannya di kamar bawah?"


"Tidak! Aku tidak mungkin melakukan itu di kamar usang dan buruk itu. Kita lakukan disini saja,"

__ADS_1


"Tapi bukankah kau melarang ku datang kemari? Katamu disini ada..." Liliana tidak melanjutkan perkataannya. Saat dia terpana melihat lantai dua rumah itu. Berbeda dengan lantai 1 yang suram, lantai dua rumah yang tampak tua dari luar itu memiliki dekorasi yang bagus.


Ada sofa empuk, ranjang mewah diluar ruangan. Ditutupi oleh kelambu, belum lagi pencahayaan disana mendukung untuk malam pertama mereka.


"Yang mulia, kenapa..."


"Aku tau kau memiliki banyak pertanyaan, tapi jawabannya hanya satu. Malam ini akan sempurna, tidak peduli dimana kita berada asalkan kita bersama."


Liliana tersipu malu mendengar ucapan suaminya. Dalam keadaan tak sabar dan menggebu-gebu, Max menggendong istrinya dan mereka duduk di atas ranjang.


"Sayang, apa kamu merasakannya?" tanya Max sambil memeluk sang istri dengan erat. Tangannya membuka tali gaun yang membungkus tubuh cantik Liliana.


"Merasakan apa?" tanya gadis itu polos.


"Milikku berdiri," jawabnya santai.


"K-kau.. perkataan mesum macam apa itu?!"


Memang ada sesuatunya yang keras, menusuk bagian tengah tubuhku lalu berdenyut disana. Jadi itu adalah milik Max? Sepotong daging yang akan masuk ke dalam tubuhku?


Max tidak menjawab, pria itu sudah berhasil membuka bagian atas kain yang menutupi tubuh istrinya. Kini semuanya terpampang jelas, tanpa sehelai benang pun disana.


Dua buah gunung yang menonjol itu tampak indah dipandang mata. Saliva si pria naik turun saat melihatnya.


"Jangan memandangi ku begitu! Aku malu!" cicit Liliana tersipu malu. Kedua tangannya menutupi bagian atas tubuhnya.


"Tidak usah malu, aku kan suamimu.." ucap Max sambil menyingkirkan kedua tangan yang menghalangi pandangannya.


Sambil berciuman, tangan Max bergerilya meremas kedua buah gunung indah milik istrinya itu. Memijit bahkan memelintir kecil bagian tengahnya yang berwarna merah muda.


"Umh.. AHHHh.." suara indah Liliana terdengar indah. Hal itu semakin menaikan titik rangsang pada diri Max yang sedang menggebu itu.


Gadis itu bersuara karena kegelian. Max melepaskan bibirnya dari Liliana, kemudian bibirnya menjelajahi leher, hingga ke dadanya. Sampai bermain-main dengan titik berwarna merah muda.


"Maxim..uhmm.. geli.."


"Sabar sayang, kalau tidak seperti ini. Kamu tidak akan bisa menanggung milikku,"


"Apa maksudmu?" tanya gadis itu tak mengerti.


"Kamu memang polos, tapi aku suka. Tak apa, aku akan mengajarkanmu bagaimana cara melayaniku." ucap pria itu dengan seringai di wajahnya. Lidahnya masih berputar-putar di titik merah muda gunung yang tampak menyembul itu.


"Maxim.. uhhhh..."


Max belum puas bermain disana. Tangannya yang lain mulai meracau kemana-mana, meraba perut sang istri lalu mulai kebagian bawah. Namun tangannya tertahan disana, sebab rok gadis itu belum dilepas dari tubuhnya.


Max mendesis kesal, dia menghentikan aktivitasnya mengemut dua buah gunung yang manis itu.

__ADS_1


"Rok ini menganggu saja!"


Srek


Srek


"Hey! Kenapa kau merobek gaunku?" Liliana terkejut, sebab Max telah mengoyak hancur gaunnya. Kini dia sudah telanjang bulat.


"Aku akan belikan kau 10, gaun yang persis dengan itu. Tidak...aku akan belikan dengan tokonya juga, saat kita sampai di istana!" Janji Max pada istrinya.


"Bu-bukan itu masalahnya, aku kan hanya punya satu baju dan kau malah merobek-robeknya. Bagaimana aku akan kembali nanti?" gerutu Liliana pada suaminya.


"Kita pikirkan itu nanti, sekarang bereskan ini dulu. Aku sudah tak tahan," ucap Max sambil menatap istrinya dengan tatapan nanar.


"Ya baiklah, silahkan lakukan suamiku." ucap gadis itu dengan tatapan mata yang sensual.


Tanpa berlama-lama dan malam yang tidak bisa ditunda lagi pun akan terjadi. Jari-jemari Max memasuki lubang surgawi yang tidak pernah terjamah oleh siapapun juga.


Berkali-kali dia memasuki lubang itu dengan jarinya, bahkan sampai jarinya basah. "Ahhh.. Maximilian..." tangan Liliana mencengkram punggung sang suami, hingga kuku kuku cantiknya membuat punggung Max terluka. Namun dia tidak sadar akan hal itu.


"Kau sudah basah, Lili... sekarang giliran ku," ucap Max sambil melepaskan celananya.


"Oh! Astaga!" Pekik Liliana terkejut, melihat senjata suaminya berdiri dan mengeras. Persis seperti apa yang dia katakan sebelumnya.


Apa benda itu akan memasuki tubuhku? Bukankah itu sangat besar? Entahlah.. aku tidak tahu juga besar atau tidak, tapi sepertinya aku akan kesulitan.


"Kenapa? Baru ditunjukkan saja, sudah takut." Max terkekeh, dia mendekati tubuh sang istri yang sudah tanpa sehelai benang. Dia siap untuk melakukan pelepasan.


"Maxim... bagaimana kau bisa menahannya selama ini?" tanya gadis itu penasaran bagaimana Max bisa menahan hasrat akan dirinya. Apalagi hasrat benda keras miliknya itu, bagaimana dia melepaskannya.


"Aku bermain solo," ungkap jujur suaminya.


"Apa?" Liliana terperangah mendengar ungkapan suaminya.


"Apa kau pikir aku melepaskan ini dengan wanita lain? Ini hanya milikmu saja, sayang."


"Kau tidak bohong, kan?" kening Liliana berkerut.


"Sumpah demi dewa, aku memang sering bermain dengan wanita.. tapi bagian ini masih bersegel, sama seperti milikmu." Max tersenyum dan menatap pada Liliana.


Sepertinya dia tidak bohong.


Tanpa bicara apa-apa, Max langsung memasukkan senjata itu ke dalam lubang surgawi. Dia tidak percaya bahwa sekarang dirinya tidak bermain solo seperti biasanya. Dia bisa menuntaskan semua hasratnya bersama Liliana.


"Akhh!!" Liliana terkesiap karena serangan mendadak itu. Tangannya meremas bahu Max dengan keras.


Ternyata awalnya sakit.

__ADS_1


"Lily, aku akan menggerakkannya."


...----******----...


__ADS_2