Secret Mission

Secret Mission
Perselisihan*


__ADS_3

Di sisi lain. Krasnoyarsk, Rusia, Kediaman Antony Boleslav.


BRUKK!


William terkejut ketika mendengar sebuah benda digeletakkan dengan kasar di samping tempat tidurnya.


William membuka matanya perlahan yang masih terasa berat dan duduk di atas ranjang dengan tergesa.


Ia langsung tersadar dan menatap koper yang dikenalinya. Yuri berdiri di depannya dengan wajah garang. William berusaha untuk tetap tenang.


Mereka bicara bahasa Inggris.


"Aku sudah mengurus semuanya. Aku bilang pada petugas Hostel dan sopir yang membawamu kemari jika kau tewas. Aku mengaku sebagai kawanmu dari Amerika dan mengambil perlengkapanmu yang tertinggal di sana. Aku bahkan membayar sisa tagihanmu," ucap Yuri terlihat kesal.


William mengangguk dan berterima kasih dengan suara lirih.


"Tuan Boleslav mengatakan. Kau tak bisa pergi dari Kastil ini sampai kakimu sembuh. Ia juga meminta kau mengatakan semua yang kau ketahui tentang CIA dan militer lainnya pada kami saat sesi interogasi dilakukan besok pagi," ucap Yuri masih berdiri tegap di depannya.


"Lalu ... di mana Tuan Boleslav? Kapan aku bisa bicara dengannya lagi?" tanya William yang sudah di sekap dalam kamar itu seharian sejak kedatangannya.


Namun, Yuri tak menjawab. Saat Yuri akan pergi, William memanggilnya.


"Yuri, wait. Mm ... bisakah aku minta tolong sesuatu?" pintanya sungkan.


"Minta tolong? Kau musuhku bukan kawanmu. Kau ini sandera!" tegasnya kesal.


"Aku tahu, hanya saja. Bisakah kau cari tahu apa yang terjadi pada kawan-kawanku? Ara, Jack dan Catherine? Serta ibu asuhku Rika dan Cecil?" tanya William penuh harap.


"Lupakan saja, aku tak mau melakukannya," jawab Yuri ketus dan menutup pintu. Ia menguncinya dari luar.


William menghembuskan nafas panjang. Ia tak bisa menghubungi Cecil dan lainnya selama beberapa hari ini.


Ponsel dan dompetnya juga disita oleh orang-orang Boleslav. Hanya obatnya saja yang ditinggalkan.


William merangkak menuju ke koper dan membukanya dengan susah payah karena kakinya yang sakit. Ia membongkar koper untuk mengecek perlengkapannya.


Ternyata yang dikatakan Yuri benar. Bahkan sampai peta yang ia gambar untuk mencari keberadaan kediaman Boleslav juga ada. Hanya saja, laptop-nya ikut disita, William menghela nafas pasrah.


Tak lama, Maksim muncul sembari membawa makan malam untuknya. William duduk di pinggir ranjang dengan gugup saat Maksim meletakkan makanannya di atas meja.


"Mm, Maksim. Bolehkah aku ...."


CEKREK!


William menghembuskan nafas lagi. Ia sungguh seperti tahanan meski kamar tempat ia disekap lebih nyaman ketimbang kamar Hostel yang disewanya selama di Krasnoyarsk.


William yang lapar segera menyantap makanan itu. Entah kenapa, ia tak curiga makanannya diracuni atau tidak. Ia segera menghabiskannya dan meminum obat.


William mendekat ke arah jendela yang ternyata dikunci dan dilapisi besi penghalang agar tak kabur. Gelapnya malam dan hanya pepohonan sebagai pemandangannya.


Rasa sepi menyelimuti hatinya. Sia tak ada disisinya. William sangat berharap Sia selalu bersamanya, layaknya seorang isteri yang menemani sang suami.


William tak mau kesedihannya semakin berlarut. Ia fokus pada kesembuhannya dan tujuannya untuk bisa memperbaiki hubungannya dengan Sia.


William sibuk menata isi kopernya dan meletakkan di almari yang tersedia di kamar tersebut.


Di Kastil Borka, Kaliningrad, Rusia.


Malam itu, acara pelantikan anggota Dewan 13 Demon Heads dilangsungkan tanpa sepengetahuan William.


Sia yang sudah sadar dari pingsan akibat presentasi mendebarkan Jonathan, kini kembali tegang karena harus duduk menggantikan kursi ayah tirinya, Antony Boleslav.


TOK! TOK! TOK!

__ADS_1


"Nona Sia, kau sudah siap? Semua orang sudah berkumpul," tanya Red setelah mengetuk pintu dari luar.


Sia segera bergegas membuka pintu. Red diam sesaat ketika menyadari jika Nonanya terlihat begitu cantik malam itu. Sia menunjukkan senyum menawannya dengan dress pemberian Amanda.



"Bagaimana penampilanku? Apakah berlebihan? Apa Daddy dan Mommy sudah datang?" tanya Sia terlihat gugup dengan kedua tangan menggenggam di depan perutnya.


"Kau cantik," jawab Red dengan senyum terkembang.


Sia terlihat lega. Ia merapikan rambutnya sembari merangkul lengan Red yang mendampinginya ke Ballroom.


Match menutup pintu kamar Sia dan berjalan di belakangnya. Sia terlihat berulang kali mengatur nafasnya.


Entah kenapa, Sia merasa, jabatan barunya sebagai calon anggota dewan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, akan menjadi beban sampai akhir hidupnya. Ia merasa sungguh tak siap akan hal ini.


Namun, saat Sia tiba di Ballroom. Ia melihat Daddy-nya seperti bersiteru dengan Jonathan. Terlihat tim Jonathan seperti menjelaskan sesuatu kepada Boleslav.


Sia yang penasaran itu pun mendekati Ayah tirinya ditemani Red dan Match.


"Daddy? Ada apa?" tanya Sia dengan bahasa Inggris.


"Jonathan memberikanmu mobil dengan warna menyakitkan mata. Itu sangat mencolok. Bukankah tugasnya untuk membuat keberadaanmu selama berkendara tersamarkan dan terlindungi? Jika warna mobilmu menghebohkan seperti itu, kau langsung ditandai militer," tegas Boleslav menyalahkan Jonathan.


"Tapi Kak Sia menyukainya! Gadis cantik suka warna merah muda! Itu bahkan cet khusus! Mobil yang dipakai Kak Sia hanya ada satu dan paling sempurna diantara yang lain. Anda ini sungguh tak mengerti arti modis," jawab Jonathan tak mau disalahkan.


"Aku, tak mau, membayarnya," ucap Boleslav melotot di hadapan Jonathan.


Mata Jonathan melebar. Sia panik. Ia melihat Jonathan seperti akan marah.


Tiba-tiba, Jonathan mengeluarkan sebuah kotak warna merah muda berisi jam tangan. Boleslav dan semua orang melihat Jonathan yang mengenakan jam tangan itu.


"Nathan!" pekik Sia panik.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Boleslav menatap gerak-gerik Jonathan seksama yang berwajah bengis terlihat begitu marah di hadapannya.


"Aku tanya apa yang akan kau lakukan?!" teriak Boleslav memegang tangan Jonathan yang mulai mengaktifkan jam tangan di pergelangan tangan kirinya.


"Aku, paling benci, dengan orang, yang tidak menghargai, jerih payahku," jawabnya ketus penuh penekanan dan menampik tangan Boleslav kuat.


"Nathan!" panggil BinBin ikut panik.


"DIAM! JANGAN HALANGI AKU!" teriaknya lantang dan mengejutkan semua orang.


Vesper dan Amanda yang baru datang dari pintu lain terkejut, melihat orang-orang keluar dari Ballroom seperti mengikuti seseorang.


"Hei, ada apa?" tanya Vesper menarik pundak Yusuke Tendo.


"Jonathan mengamuk, Nyonya. Tuan Boleslav tak mau membayar mobil yang ia buat untuk Sia," jawabnya tegang.


"WHAT?!" pekik Vesper dan Manda bersamaan.


Dua Nyonya Besar itu pun segera berlari dengan high heels mereka untuk melihat apa yang akan terjadi. Amanda dan Vesper panik, takut dua lelaki itu bersiteru.


"Jonathan! Kau mau apa?" teriak Boleslav mengikuti dengan kaki robot terpasang di kedua kakinya.


Jonathan mengacuhkan panggilan Boleslav. Tiba-tiba, mobil merah muda milik Sia yang di parkir di halaman depan Kastil melaju karena Jonathan yang mengendalikannya dari jauh.


Semua orang terlihat tegang saat tiba-tiba bagian belakang mobil BMW tersebut terbuka dan muncul pelontar misil.


Mata Boleslav terbelalak. Sia ikut panik dan berdiri di samping Ayahnya. Seketika, SWOSHH!!


"JONATHAN!" teriak Boleslav lantang, tapi ... sudah terlambat.

__ADS_1


BLUARRRR!!


Semua orang yang melihat ledakan itu segera memalingkan tubuh. Jonathan meluncurkan dua misil mini-nya ke helikopter yang Boleslav kendarai.


"Selanjutnya, pesawatmu," ucap Jonathan keji yang kini mengeluarkan sebuah kacamata dan menggunakannya.


Ia mengendalikan mobil BMW menuju ke gerbang keluar Kastil Borka. Para Black Armys penjaga bingung.


Jonathan kembali menyiagakan misilnya yang masih tersisa untuk membobol gerbang.


"JONATHAN! ENOUGH!" teriak Vesper lantang dan seketika mobil itu berhenti.


Jonathan berdiri mematung dengan kacamata dan telunjuk kanan masih menempel di layar jam tangan.


"Ya Tuhan, ada apa ini?" tanya Amanda panik mendekati suaminya dan Sia.


"Mom," jawab Sia ikut bingung.


Vesper mendekati anaknya dan berdiri di hadapannya dengan kening berkerut. Vesper melihat jika Jonathan begitu marah, tapi diam saja.


"Jangan seperti itu. Mama tahu kau kesal, tapi hal ini bisa dibicarakan baik-baik," ucap Vesper lirih menatap anaknya seksama, tapi Jonathan diam saja menundukkan wajah.


Vesper langsung memeluk anaknya erat dan mengelus punggungnya lembut. Sia melihat Boleslav yang terlihat marah karena helikopternya diledakkan.


"Daddy, aku menyukai mobil itu. Mobilnya cantik dan sangat keren. Jika menurutmu warna merah mudanya terlalu mencolok, kita bisa merubah warnanya. Benar 'kan?" tanya Sia melirik tim Jonathan.


The Kamvret dan Paman BinBin mengangguk cepat.


"Ya Tuhan, aku kira ada apa. Hanya masalah warna mobil. Kalian berdua benar-benar membuat malu," ucap Amanda mengusap dahinya terlihat frustasi.


Sia meringis dan berjalan perlahan mendekati Jonathan yang sedang ditenangkan oleh Ibunya.


Vesper melepaskan pelukannya karena melihat kedatangan Sia. Vesper membiarkan Sia bicara pada anaknya.


Vesper melepaskan kacamata dan jam tangan pengendali itu dari tubuh anaknya. Ia pergi meninggalkan keduanya.


"Jonathan. Aku suka mobil itu. Sungguh. Aku juga suka modifikasi Mustang seperti yang pernah aku kendarai bersama William saat itu. Karyamu sungguh mengagumkan. Kau tampan dan jenius," ucap Sia memuji, tapi Jonathan masih diam saja dan memalingkan wajah.


"Namun, setelah aku pikir-pikir. Apa yang dikatakan Daddy-ku benar. Merah muda terlalu mencolok. Nanti mobilmu diambil pemerintah lagi. Teknologimu dicuri dan dikembangkan oleh mereka. Kau akan semakin rugi. Mereka akan mengklaim apa yang seharunya menjadi idemu. Apa kau mau itu terjadi?" imbuh Sia bicara perlahan takut Jonathan tersinggung.


"Kau benar juga," sahutnya tiba-tiba menoleh ke arah Sia dengan wajah lugu.


Sia terkejut, tapi ia senang karena Jonathan mau mengerti.


"Bagaimana jika warna hitam saja? Bukankah ... mafia identik dengan warna hitam? Hitam itu keren, misterius dan terlihat garang. Apa ... kau bisa merubah warnanya seperti yang kubilang tadi?" tanya Sia menunjukkan gigi putihnya dengan senyum lebar.


"Hah! Cuma ganti warna itu hal mudah. Namun, itu biaya tambahan," tegas Jonathan menunjuknya.


"Katakan saja. Aku yang akan bayar," sahut Amanda tiba-tiba di kejauhan yang ternyata mendengar yang dikatakan anak ketiga Vesper.


Jonathan menunjukkan jempolnya. Sia terlihat lega karena Jonathan tak lagi marah. Namun, Boleslav masih kesal karena helikopternya hancur.


"Sayang sekali malam ini kita tak ada pesta barbeque. Itu api unggun mahal, bara apinya senilai jutaan dolar," ledek Vesper dan Boleslav meliriknya tajam, tapi Vesper malah tersenyum lebar.


"Kau seperti tak pernah muda saja, Tuan Boleslav. Bertengkar dengan anak muda," sindir Vesper sembari melihat jam tangan merah muda yang baginya cukup nyentrik itu.


"Jangan mulai, Vesper," tegasnya menunjuk.


Namun, Vesper hanya tersenyum. Ia berpaling meninggalkannya. Amanda menghembuskan nafas panjang.


Orang-orang terlihat sedikit kecewa karena Jonathan tak jadi meledakkan pesawat Boleslav. Padahal, mereka sangat menantikan fenomena langka itu.


ILUSTRASI

__ADS_1


SOURCE : PINTEREST


__ADS_2