Secret Mission

Secret Mission
Hilang Satu


__ADS_3

Kwkwkw ada yang kasih tips lagi dan ketinggalan SS-nya. Makasih ya. Lele padamu loh. Jangan lupa untuk terus vote biar bisa dobel eps terus tiap hari sampai menjelang tamat nanti.



----- back to Story :


Tak terasa, kehamilan Sia sudah memasuki 4 bulan. Orang-orang dalam jajaran Boleslav dan Amanda mulai terlihat sibuk untuk menyelesaikan semua persoalan yang mengusik kedamaian mereka karena sosok Sierra Becca yang disinyalir oleh Boleslav masih hidup dan harus segera dilenyapkan.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"He, what? Boleslav berpikir jika Sierra Becca yang dulu dibebaskan Lucifer adalah ketua dari The Circle selama ini? Begitu maksudmu?" tanya Vesper dengan wajah terlihat tegang dari video call karena informasi yang diberikan sahabatnya, Amanda.


"Ya. Aku sudah menelusuri jejak untuk mencari tahu tentang Sierra Becca, tapi tak ada hasil apapun. Vesper, bisa kau tanyakan hal ini pada Buffalo. Bukankah dia dulu salah satu anggota The Circle? Aku sudah mencari tahu dari Wilson, hanya saja ia juga tak tahu tentang hal ini. Malah ia bilang hal itu sangat mustahil jika Sierra Becca masih hidup karena ia pasti sudah sangat tua. Satu-satunya jalan jika Buffalo tak bisa memberikan petunjuk adalah Cecil. Hanya orang itu saksi hidup terbentuknya The Circle selama ini. Cecil bersama William dan pasti ia terlibat dengan wanita yang dicurigai bernama Madam," ucap Amanda serius dan Vesper mengangguk setuju.


"Baiklah. Aku akan mencoba mencari tahu dari Buffalo. Terima kasih sudah memberikan sarapan buruk untukku di hari yang masih pagi, Amanda. Kau memang sahabat baik, menghancurkan mood-ku," ucap Vesper kesal dan Amanda malah tersenyum lebar.


Vesper menutup panggilannya. Amanda ikut terlihat pusing memikirkan dendam berantai yang terus terjadi sejak terbentuknya 13 Demon Heads puluhan tahun silam.


Amanda berjalan menyusuri koridor dan berhenti di samping pintu ruang kerja anak perempuannya.


Ia mendapati Sia yang sedang hamil masih harus bekerja untuk menghimpun pasukan. Amanda iba padanya. Bukan seperti ini harapan dan bayangannya akan masa depan Sia.


"Mommy tak pernah menginginkanmu menjadi seorang mafia, Sia. Cukup Mommy saja dan nenekmu yang meneruskan pekerjaan keji ini. Mommy ingin memutus jalan mafia di hidupmu, anakmu dan cucumu nanti," ucap Amanda sedih mengintip di balik pintu saat Sia terlihat sibuk dengan Yena membahas perekrutan yang dilakukan oleh anak buah mereka di berbagai negara.


Diam-diam, Boleslav ikut mendengar ucapan lirih sang isteri saat ia akan melangkahkan kakinya untuk mengajak Amanda makan siang bersama. Boleslav tertunduk terlihat murung memikirkan sesuatu.


Hingga akhirnya, mantan ketua dewan itu menarik nafas dalam dan mencoba untuk tetap terlihat tenang. Ia berjalan perlahan dengan tongkat yang membantunya.


"Sayang."


"Oh, hai. Hai," jawabnya kaget karena Boleslav tiba-tiba menepuk pundaknya dan membuat Amanda terperanjat seketika.


"Apa yang kau lakukan? Beritahu Sia dan Yena jika sudah waktunya makan siang," ucap Boleslav lalu mencium pundak isterinya lembut.


Amanda mengangguk dengan senyum terkembang dan segera masuk ke ruang kerja Sia.


Dua wanita cantik itu terkejut melihat kedatangan Amanda dengan Boleslav menunggu di balik pintu.


"Apakah sudah waktunya makan siang?" tanya Sia dengan dokumen dalam genggaman.


"Ya, Sayang. Bayimu lapar. Mommy tak ingin calon cucu Boleslav dan Theresia kurus. Apa kata orang nanti jika dia seperti bayi tak terawat? Kau ingin mempermalukan kami berdua?" tanya Amanda tiba-tiba sewot.


Sia dan Yena terkekeh. Mereka merapikan beberapa dokumen yang masih berantakan di atas meja dan menumpuknya dengan rapi. Amanda kembali kepada suaminya dan membantunya berjalan.


Sia tersenyum melihat Ibunya begitu perhatian kepada Ayah tirinya. Ia bisa melihat jika Boleslav sangat mencintai Ibunya begitupula sebaliknya. Yena melirik Sia seperti merindukan sosok William di kehidupannya.


Di ruang makan, terlihat Boleslav menatap wajah isterinya dan Sia bergantian ketika dua wanita yang disayanginya itu tersenyum manis dalam obrolan ringan mereka. Boleslav menarik nafas dalam.

__ADS_1


"Sia," panggilnya lirih.


Sia langsung menatap Ayah tirinya yang memandanginya dengan wajah datar. Sia meneguk gelas air mineralnya lalu mengelap bibirnya dengan serbet.


"Yes, Dad?"


Namun, Boleslav malah terdiam. Amanda menatap suaminya seksama begitupula Yena. Boleslav terlihat gugup seperti ingin mengatakan sesuatu.


"Ada apa, Tony?" tanya Amanda ikut menimpali.


"Tak ada. Aku hanya penasaran. Apakah ... sudah ketahuan jenis kelamin dari bayimu?"


Sia spontan terkekeh begitupula Amanda dan Yena.


"Sayangnya belum terlihat, Sayang. Namun, jika seperti itu mungkin bayinya perempuan," jawab Amanda dengan wajah berbinar. Boleslav tersenyum lebar lalu melanjutkan makannya.


Sia dan Yena tersenyum merekah melihat Boleslav ternyata hanya ingin mengetahui jenis kelamin calon cucunya nanti.


Amanda menatap wajah suaminya lekat yang begitu hebat dalam menyembunyikan sesuatu. Namun, Amanda memilih diam dan kembali melanjutkan makan.


Di sisi lain, tempat William dan Cecil berada.


"Lukamu sudah pulih, William. Fisikmu kuat. Kemampuan bertempurmu juga meningkat bahkan lebih baik dari sebelumnya. Kau siap menjalankan misi," ucap Nokomis mendatanginya yang baru saja usai dengan latihan menyelam.


"Jadi. Siapa targetku selanjutnya?" tanya William sembari mengambil handuk yang diletakkan di atas meja samping kolam renang.


Nokomis memberikan sebuah foto dan William menerimanya dengan kening berkerut.


William mengangguk mantab.


"Bunuh dia. Lelaki itu ikut andil dalam memporak-porandakan The Circle selama ini. Banyak orang-orang kita tewas karena ambisinya untuk menjadi penguasa, William. Dia penjahat, mafia keji dan musuh terbesar kita, mantan anggota Dewan 13 Demon Heads," jawab Nokomis dengan wajah bengis.


William mengangguk dan meremat foto itu dengan satu genggaman tangan.


"Anggap saja dia sudah mati. Berikan aku detail misi. Aku tak akan mengecewakan The Circle," jawab William melemparkan gumpalan kertas itu ke dalam kolam renang.


Nokomis tersenyum dan memberikan kacamata khusus berbentuk seperti scuba. William segera duduk di kursi pinggir kolam renang lalu memakai kacamata seperti penyelam.


Nokomis berdiri di samping William menatapnya seksama yang sedang melihat detail misi dari targetnya, Antony Boleslav.


Diam-diam, Cecil melihat yang Nokomis lakukan bersama William di balik dinding. Cecil pura-pura tak mendengar apa yang terjadi dan berjalan mendekati keduanya.


"Pemberian Madam," ucap Cecil sembari menyerahkan sebuah koper besar berwarna hitam kepada Nokomis.


"Hem, dia mau memberikannya juga ya? Bagus. Siapa yang bisa menolak perintah Madam bahkan Tobias sekalipun," ucap Nokomis menerima koper itu lalu meletakkan di atas lantai kolam.


William mematikan kacamata khusus tersebut dan melepaskannya. Ia melihat Nokomis sedang membuka koper di hadapannya dengan berjongkok.

__ADS_1


Cecil mundur beberapa langkah dengan kedua tangan dilipat di depan perutnya untuk ikut melihat isi dari koper itu. William duduk dengan santai sembari melingkarkan handuk di lehernya.


Namun tiba-tiba, KLEK!


DUAARRRR!!


BYURR!!


William terlontar dari kursinya terkena gelombang ledakan yang cukup besar dan mengejutkan, begitupula Cecil.


Mantan agent CIA itu sampai tersungkur di lantai kolam dengan luka-luka di sekujur tubuhnya.


William berusaha sekuat tenaga untuk naik ke lantai pinggiran kolam meski ia merasakan sakit di kepalanya.


"Ohok! Ohok! Hah, Cecil ... agh, Nokomis?" panggil William yang berhasil naik ke pinggir kolam dan berusaha membuka matanya lebih lebar karena kesadarannya belum pulih sepenuhnya.


Cecil mencoba bangun meski telinganya berdengung dan terasa sakit. Ia mencoba fokus untuk melihat apa yang terjadi.


Mata William dan Cecil terbelalak saat melihat tubuh Nokomis sudah hangus terbakar bahkan tercerai-berai terkena ledakan dahsyat dari koper yang dibukanya tadi.


"William ...," panggil Cecil merangkak di lantai mencoba mendatangi junior-nya itu.


"Hah, hah!"


Nafas William tersengal dan tubuhnya gemetaran saat melihat Nokomis masih hidup meski sudah kejang-kejang dengan mata terbelalak di atas lantai.


William shock melihat beberapa bagian tubuh Nokomis sudah menghilang dari tempatnya dan tercerai-berai.


Tak lama, para bodyguard seperti suku Indian masuk ke ruangan tersebut. Mereka kaget bukan kepalang melihat kondisi Nokomis yang memprihatinkan.


Salah satu wanita Indian mendekati Nokomis terlihat miris tak sanggup melihat keadaan kawannya yang menyedihkan. Seketika, DOR! DOR!


William tertegun dan langsung menatap wanita Indian yang menembak Nokomis tepat di wajahnya dua kali hingga wanita itu tak bergerak lagi.


"Selesaikan misimu, William. Kini aku sebagai perantaramu. Bersiap dan besok kau pergi bersama Cecil. Go," ucapnya santai dengan pistol dalam genggaman.


William mengangguk dan berusaha berdiri meski ia masih shock dengan apa yang dilihatnya.


William mendekati Cecil yang duduk di lantai terlihat pusing karena memegangi kepala.


"Cecil," panggil William membantunya berdiri dan Cecil segera melingkarkan tangan di bahunya.


Cecil dan William berjalan berdampingan meninggalkan ruang pelatihan tersebut. Para bodyguard seperti suku Indian itu menatap Nokomis dengan wajah sendu.


Mereka lalu berdiri melingkari mayatnya sembari bergandengan tangan. Terdengar seperti suara lantunan kesedihan dari orang-orang yang bernyanyi dengan mata terpejam.


William dan Cecil menoleh sejenak untuk melihat yang dilakukan oleh orang-orang itu.

__ADS_1


"Cepat pergi, William. Semakin sedikit yang kau lihat, akan semakin bagus," ucap Cecil meski masih terlihat linglung.


William diam saja dan membawa seniornya itu kembali ke kamar di mana mereka berdua kini tinggal sekamar sebagai partner dalam menjalankan misi.


__ADS_2