
Sia kembali ke Kastil bersama orang-orang yang menemaninya. Namun, Sia bukannya kembali ke kamar, tapi mendatangi William. Ternyata hal itu menyulut pertikaian dengan adik tirinya lagi, Jordan.
Mereka bicara bahasa Rusia.
"Kau sungguh tak tahu malu! Daddy sakit karena ulahmu dan lelaki itu," ucap Jordan frontal mengejar Sia.
Semua orang tertegun. Sia langsung membalik tubuhnya dan menatap Jordan tajam dengan nafas menderu.
"Kau belum menikah. Cintamu bertepuk sebelah tangan. Tau apa kau soal cinta, huh? Kau kira yang kau ucapkan padaku selama ini baik? Kau kira yang kau lakukan selama ini benar? Tidak, Jordan. Pengalaman hidupmu hanya seumur jagung dan kau berlagak seolah-olah kau sudah dewasa sepertiku atau bahkan seperti Daddy. Bercerminlah."
PLAK!!
Mata semua orang melotot karena Jordan menampar Sia. Jason panik karena ia melihat jika Jordan marah.
Nafas Sia menderu, ia memegangi pipinya yang sakit dan perlahan pandangannya kembali pada Jordan.
"Perlakuanmu, mengingatkanku akan Julius Adam, Jordan. Kau, sama sepertinya. Seenaknya sendiri dan kasar bahkan pada anggota keluarganya. Begini caramu memperlakukan seorang wanita? Oh, pantas saja jika Sandara meninggalkanmu dan memilih Afro! Kau lelaki terburuk bahkan lebih buruk dari Rio!" teriaknya lantang tepat di wajahnya.
Jordan tertegun saat Sia melotot tajam padanya, mendatanginya dan memepet tubuhnya. Jordan terpaksa melangkah mundur.
"Tampar lagi! Lakukan lagi! Berbuatlah kasar padaku sebanyak yang kau mau! Kau ingin menyakitiku 'kan? Lakukan saja! Aku tak takut padamu," ucap Sia terlihat begitu membenci saudaranya.
Jordan berpaling dan bergegas pergi, tapi Sia malah mengejarnya.
"Jangan lari, Jordan! Kau bukan lelaki! Kau melakukan kesalahan dan tak mau mengakui kesalahanmu! Teruslah menyalahkan orang lain! Jangan kau pikir yang kau lakukan itu adalah hal benar! Kau hanya membuat dirimu semakin buruk dengan membuat orang-orang membencimu!" teriak Sia lantang menunjuknya saat Jordan semakin cepat berjalan menjauh.
Nafas Sia menderu. Ia meluapkan seluruh perasaannya pada adik tirinya yang baginya tak memiliki perasaan.
Orang-orang dibuat panik. Sia berjalan dengan gusar menuju ke kamar William, ia tak ingin diganggu.
Jason kebingungan, tapi ia memutuskan untuk mendatangi Jordan. Ia iba padanya.
William yang sedang tertidur kaget ketika pintu kamarnya dibuka kasar. Ia langsung duduk dan mencoba untuk sadar saat Sia masuk dan terlihat marah, mondar-mandir bertolak pinggang.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Kau kenapa, Sayang? Bagaimana ayahmu?" tanya William cemas.
"He's fine, tapi si Jordan. Agh! Kenapa aku harus memiliki saudara seperti dia? Anak itu sungguh menyebalkan!" teriak Sia lantang dengan emosi meluap-luap.
William bingung, tapi ia segera menyingkirkan selimutnya. Ia membawa dirinya mendekat ke arah Sia dengan berpegangan pada pinggir ranjang.
Sia melihat suaminya yang berusaha bangun dan mendekatinya. Sia bergegas menghampiri William dan mengajaknya duduk bersama di pinggir ranjang.
"Kau berselisih dengan Jordan? Sudahlah, dia masih remaja. Kau mengalahlah, kulihat anak itu memang sedikit berbeda," ucap William menenangkan hati sang isteri yang dirundung amarah.
__ADS_1
Sia mengangguk dan mulai bisa meredam amarahnya. William memeluk sang isteri dan mengelus kepala belakangnya lembut.
"Will, ada yang ingin kusampaikan padamu dan aku ingin kau mendukungku. Ini ... permintaan Daddy juga," ucap Sia sembari melepaskan pelukan William perlahan.
"Apa itu?"
"No Face. Maukah kau bekerjasama denganku menumpas kelompok itu? Jujur, Will. Selama ini kelompok The Circle ancaman terbesar di keluargaku. Bahkan, kakek nenekku tewas karena dibunuh oleh mereka. Orang-orang itu sungguh kejam. Hanya saja, setahuku Denzel keturunan terakhir. Jadi seharusnya sudah tidak ada D lagi. Tinggal No Face yang tersisa," ucap Sia serius.
"Kau ingin membunuh Tessa?" tanya William memperjelas.
"Itulah yang ingin kupastikan. Aku belum mengenal sosok Tessa, sedang kau sudah. Aku ingin tahu tujuan dari No face. Jika ternyata kelompok itu sebuah ancaman, kita harus menumpasnya, tapi jika tidak ... biar para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads yang memutuskan," ucap Sia serius.
William diam sejenak.
"Oke, tapi bagaimana caranya? Aku bukan orang CIA lagi. Aku tak punya bala bantuan bahkan pasukan khusus untuk menggempur mereka," jawab William menaikkan kedua pundaknya.
Sia tersenyum.
"Maukah ... kau membantuku menghimpun pasukan? Maksudku ... pasukan yang kita bentuk sendiri untuk menumpas No Face. Tak perlu melibatkan orang-orang Boleslav. Aku ingin kita menunjukkan pada daddy dan jajarannya tentang kemampuan kita. Kau memiliki kemampuan dalam dunia militer, yah seperti menjadi mata-mata, menggunakan senjata, strategi tempur dan sebagainya. Kau bisa menjadi pelatih untuk pasukan kita nantinya. Aku bisa memfasilitasi. Aku 'kan kaya," ucap Sia berlagak.
William tertegun sampai tubuhnya tersentak kebelakang.
"Wow, wait ... wait ... maksudmu ... kita seperti melakukan perekrutan lalu membentuk pasukan khusus untuk melenyapkan No Face, begitu?" tanya William memastikan dan Sia mengangguk mantab.
"Kenapa? Kau tak mau? Ya sudah, kalau begitu aku akan melakukannya sendiri. Kau di sini saja dan jika terjadi hal buruk padaku, jangan menangisiku," ucap Sia sebal dan langsung berdiri.
William kaget dan menarik tangan Sia cepat hingga gadis cantik itu kembali duduk. William mendesis, tapi Sia malah cemberut.
"Jangan gegabah, biarkan aku berpikir dulu," ucapnya kesal.
Sia menarik tangannya tak mau disentuh sang suami. William menarik nafas dalam melihat Sia yang memalingkan wajah.
William mengusap mulutnya dengan satu tangan terlihat serius memikirkan ucapan Sia.
"Oke. Aku akan membantumu. Namun, pastikan jika semuanya benar-benar terkoordinasi dengan sempurna. Jangan gegabah, aku melihat jika Tessa itu cukup pintar. Dan kita, akan membutuhkan, sangat, banyak, pasukan," ucap William menekankan dan Sia kembali menunjukkan senyum di wajahnya.
"Thank you, Will," ucapnya manja dan memeluk William erat dengan senyum terkembang.
William menghela nafas pelan. Impiannya agar tak terlibat dalam dunia militer lagi sepertinya tertunda.
Sia malah memiliki rencana untuk memulai pertempuran dan kini, ia akan membantunya.
"Namun, kau lihat? Kakiku masih terluka. Aku tak bisa melakukan banyak hal," ucap William menunjuk kakinya yang patah.
Sia diam sejenak dan tiba-tiba tersenyum licik. William bingung menatap isterinya.
__ADS_1
"Kau bisa memakainya, tapi ... aku meminta persetujuan dari daddy dulu. Sebaiknya, kita pergi ke Krasnodar. Aku memiliki teman di sana yang mungkin bisa membantu kita mendapatkan pasukan," ucap Sia dengan senyum terkembang.
Kening William berkerut, ia mengangguk pelan. William yang merasa Sia merencanakan banyak hal, kali ini mengikuti ritmenya. Ia penasaran dengan pemikiran Sia yang baginya tak biasa itu.
Semenjak William berada di Kastil Krasnoyarsk, Sia tak pernah tidur di kamarnya. Ia selalu tidur bersama William di kamarnya yang sempit dan sederhana.
William merasa jika Sia mulai bisa menerima kondisi kehidupan mereka nantinya jika harus hidup sederhana.
"Will, daddy sudah pulang dari rumah sakit. Aku sudah minta pada paman Daniel untuk meminta waktu bicara dengannya dan sekaranglah waktunya. Ayo, bersiaplah," ucap Sia riang saat membuka pintu di mana William sedang menuliskan metode apa saja yang akan ia terapkan dalam perekrutan pasukannya nanti.
"Oke," jawab William sembari membawa buku catatannya dan meletakkan di pangkuan.
Sia membantu merapikan penampilan William. Keduanya terlihat bersiap dan segera mendatangi Boleslav yang berada di kamarnya ditemani Daniel.
TOK! TOK! TOK!
"Daddy," panggil Sia saat membuka pintu dan melongok.
"Masuklah, Nona Sia," jawab Daniel berjalan mendatangi pintu dan membukanya lebih lebar.
Sia tersenyum dan membantu William mendorong kursi rodanya. Boleslav duduk di ranjang, menyender pada bantalan yang menopang punggungnya.
"Sir," sapa William sopan dan Boleslav diam saja.
Sia cemberut karena Ayahnya masih belum bisa bersikap ramah pada menantunya.
"Ada apa?"
"Dad, ini soal rencanaku melakukan perekrutan anggota baru untuk pasukan penyerang No Face. William mau membantuku. Jadi, kapan kami bisa pergi ke Krasnodar?" tanya Sia semangat.
Daniel melirik bosnya dan Boleslav menghembuskan nafas pelan.
"Besok kau bisa pergi. Aku akan bicara pada Bykov dan Olya. Oia, kau jangan tinggal di rumah Konstantin. Jangan ganggu kegiatan Jason, jangan sampai ia terlibat," ucap Boleslav menegaskan.
Sia dan William mengangguk paham.
"Lalu di Krasnodar, tepatnya di mana? Maaf jika saya lancang," tanya William gugup.
"Kau pernah ke markas milik Rio 'kan? Kalian akan menggunakan tempat itu sementara waktu untuk mengumpulkan pasukan dan melakukan pelatihan. Rahasiakan hal ini dari siapapun, baik dari anggota 13 Demon Heads ataupun militer pemerintah, terutama CIA. Jangan biarkan mereka ikut campur," ucap Boleslav mengingatkan dan sepasang suami isteri itu menganggu paham.
"Thank you, Dad," ucap Sia mendatangi sang Ayah dan memeluknya erat.
Boleslav tersenyum dan balas menepuk punggung anak gadisnya pelan. William ikut tersenyum.
Ia semakin yakin jika Boleslav sangat menyayangi Sia, tak seperti ingatannya akan perlakuan buruk Julius pada Sia saat ia masih menjadi bodyguard-nya dulu.
__ADS_1