Secret Mission

Secret Mission
Pusing


__ADS_3

Semua orang panik kecuali orang-orang dalam kubu Jonathan karena mereka sudah terbiasa dengan hal ini.


Sia bahkan langsung terlihat pucat dan ngeri akan tontonan yang baru saja ia saksikan.


Mereka berbicara dalam bahasa Inggris.


"Gila! Para mafia ini sungguh gila! Bahkan mereka memiliki ikan piranha! Lalu ... warna-warna lainnya apa?" pekik William dalam hati ikut tegang, melihat lelaki dalam satu agensinya tewas mengenaskan bahkan potongan tubuhnya terlihat mengapung di permukaan, tapi kembali menjadi rebutan untuk santapan para ikan piranha.


"Kak Sia! Akan aku tunjukkan warna-warna kematian lainnya yang sengaja aku sediakan di markasmu ini. Yah, untuk berjaga jikalau kalian menemukan penyusup, pengkhianat dan bingung bagaimana menyingkirkan mayat mereka atau bahkan ingin menginterogasi, kau bisa menggunakan fasilitas tambahan ini. Kemarilah," ajak Jonathan dengan senyum terkembang seakan apa yang baru saja terjadi adalah hal biasa.


Sia dan William saling berpandangan. Keduanya mengangguk. Jason sudah diamankan di mana sebenarnya Sia juga shock dan hampir pingsan.


Bykov mendorong kursi roda William karena Sia terlihat lesu. BinBin terlihat santai duduk di sofa panjang sembari menikmati susu tulang kemasannya.


"Nah. Kau lihat tabung kaca besar di dekat dinding itu? Itu adalah tabung gas. Ada warna hijau, hitam dan putih. Kau sudah melihat fungsi dari gas warna hitam di Kastil Borka 'kan? Nah, gas putih cocok untuk interogasi," ucap Jonathan menunjuk tabung transparant besar di dekat dinding.


Sebuah tabung setinggi 2,5 meter yang muat untuk satu orang. Ada lubang-lubang kecil seperti shower mandi di bagian atas yang terhubung dengan sebuah pipa tempat gas-gas tersebut disalurkan.


Sia mengangguk paham. William masih diam menyimak.


"Kalau gas hijau?" tanya William penasaran.


"Nah, gas hijau memiliki 2 fungsi. Interogasi dan penyiksaan. Selama orang tersebut terkena dampak dari fase 1, kau bisa melakukan interogasi dengan waktu maksimal 10 menit. Orang itu masih bisa diselamatkan dengan serum penawar. Namun, jika orang tersebut tak mau bekerja sama, biarkan saja ia terus merasa gatal dan pada akhirnya tersiksa akibat ulahnya sendiri yang menggaruk tubuhnya hingga lecet, berdarah dan pada akhirnya tak bisa diselamatkan lagi," ucap Jonathan menjelaskan dengan santai dan bertolak pinggang.


"Orang itu akan mati?" tanya William memastikan.


"Belum. Namun, pemandangan itu akan sangat mengerikan untuk dilihat. Jika kau ingin langsung membunuhnya, cukup tekan tombol warna merah. Ia akan mati dalam potongan tubuh karena laser di sisi kanan dan kiri tabung akan muncul dari balik besi penyangga," ucap Jonathan sembari berjalan dan memegang besi yang menutup sisi kanan dan kiri tabung setinggi benda itu dengan lubang-lubang kecil.


Sia dan William mengangguk mengerti. Bykov dan lainnya ikut tegang karena tak menyangka jika Vesper Industries telah mengembangkan metode penyiksaan hingga sedemikian rupa.


"Sisa potongannya berikan saja pada piranha. Nanti, noda darah di tabung akan dibersihkan oleh mesin ini. Cukup tekan tombol biru dan tabung akan kembali bersih," ucap Jonathan menunjuk tombol warna biru di dinding dengan berbagai macam tombol warna kematian lainnya.


Kelompok Sia terlihat tegang saat Jonathan menjelaskan.


"Nah, tugasku sudah hampir selesai. Namun, aku memutuskan untuk tetap berada di sini dan pada akhirnya nanti, kita akan berangkat bersama ke Amerika. Berani mengusirku, akan kuledakkan tempat ini dan pastinya kalian semua akan mati mengenaskan karena di atas markas terdapat banyak bangunan. Yup itu saja, kalian bisa kembali ke markas Red Skull untuk melanjutkan pelatihan pasukan," ucap Jonathan yang malah berkesan mengusir.


Sia dan William saling memandang sembari menghembuskan nafas panjang.

__ADS_1


"Oh, kami ... kami sudah menyerahkannya pada Olya dan orang-orang Red Skull. Kami akan beristirahat dan kembali esok," jawab Sia gugup dan semua orang di kubunya mengangguk.


"Baiklah, tapi kalau berisik jangan protes! Hari ini jadwal untuk memasang senjata sepanjang lorong. Jadi, kalian hanya boleh berada di kawasan ini. Jalan satu-satunya keluar masuk adalah tempat kalian datang tadi. Kalian mengerti?" tanya Jonathan menunjuk orang-orang di depannya.


William dan lainnya mengangguk paham. Jonathan tersenyum dan mengusir dengan lambaian tangan. William dan Sia kembali ke kamar.


Bykov yang masih penasaran dengan sistem keamanan serta penyiksaan, mendatangi Jonathan untuk mempelajari lebih lanjut. Jonathan dengan penuh kebanggan menjelaskannya.


Di kamar Rio, tempat Sia dan William beristirahat.


"Kau lihat, Will? Tadi itu sungguh ... Oh, aku tak pernah melihat hal seperti itu sebelumnya. Bagaimana denganmu?" tanya Sia terlihat pusing memegangi kepalanya.


"Yup, cukup ekstrim. Namun kuakui, itu hebat. Pantas saja militer pemerintah dibuat geram dengan aksi kalian. Ternyata kalian ini kumpulan para mafia cendikia. Kalian jenius, memiliki inovasi baik dalam senjata ataupun kimia. Sangat berbeda dengan para mafia yang kujumpai sebelumnya yang biasanya lebih ke hal klasik. Narkoba, senjata ilegal, perdagangan manusia dan sebagainya. Namun ini, lain, sangat lain," jawab William terlihat kagum, tapi juga ngeri.


Sia tersenyum.


"Well, aku sampai sekarang masih selalu dibuat terkejut akan hal-hal yang dilakukan oleh para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads. Will, sebaiknya kita cepat menyelesaikan misi kita. Aku ... ingin ini segera berakhir," ucap Sia sembari mendatangi suaminya dan kini duduk di pinggir ranjang, terlihat lesu.


"Aku tahu, Sayang. Aku juga berpikir demikian. Oleh karena itu, aku mengajakmu untuk bagi tugas. Bagaimana?" tanya William sembari meraih tangan isterinya dan menciumi jemarinya lembut.


"Apa itu, Will?" tanya Sia penasaran.


Sia mengangguk setuju. William dan Sia akhirnya fokus membahas rencana mereka di kamar tentang apa saja yang harus dilakukan.


"Baiklah, aku mengerti, Will. Aku sangat beruntung kau mau membantuku meski aku tahu, hati kecilmu bertentangan dengan yang kau lakukan saat ini," ucap Sia merasa bersalah.


William tersenyum sembari mengelus pipi isterinya lembut.


"Yah, untuk mewujudkan sebuah mimpi indah memang harus melewati penderitaan dulu, Sayang. Dan aku akan selau berada di sampingmu untuk membantu mewujudkan mimpi kita," jawab William dengan senyum manis. Sia mengangguk senang.


William mencium bibir isterinya lembut dan Sia menyambutnya. Namun, ajakan William lebih dari itu dan Sia mengetahuinya.


Dengan sigap, Sia langsung berdiri dan menanggalkan pakaiannya di depan sang suami. William menahan senyum saat Sia melakukan pose-pose nakal di hadapannya.


William mendorong kursi rodanya menuju pintu dan menguncinya. Ia tak mau Jonathan tiba-tiba datang dan merusak adegan panasnya seperti waktu itu.


William dengan sigap segera melepaskan pakaiannya di mana Sia sudah polos tak berbalut pakaian kini mendatanginya.

__ADS_1


William beranjak dari kursi roda dan segera naik ke ranjang. Sia dengan penuh gairah merebahkan William dan melepaskan celananya.


Lelaki bermata biru itu terkekeh karena Sia terlihat begitu bersemangat mengajaknya bercinta.


William pasrah ketika Sia mulai menelusuri tubuh bagian bawah dengan menciuminya lembut.


William menarik nafas dalam ketika Sia mulai memanjakan kejantanannya dengan permainan lidah di dalam mulutnya.


Sia melakukan pijatan lembut di kedua paha sang suami hingga William akhirnya mendesah karena merasakan kenikmatan di sana.


William terlena akan gaya bercinta Sia yang makin ahli dalam melakukan banyak gaya. Kakinya yang patah dan masih masa penyembuhan, membuatnya tak bisa melakukan banyak gaya, tapi Sia mampu memuaskannya.


Waktu terasa begitu lama bagi keduanya karena tak banyak gerakan dilakukan, tapi sodokan kuat dan goyangan pinggul yang saling beradu, membuat sepasang suami isteri itu menikmati waktu intim mereka.


Hingga akhirnya, adegan panas itu pun berakhir setelah William melepaskan semua dan membuat keduanya tersenyum lebar setelah lelah bertarung.


"Aku mau tidur dulu. Lalu bagaimana jika setelah makan malam, kita pergi ke markas Red Skull dan tinggal di sana sementara waktu. Sepertinya ucapan Jonathan benar, berisik di sini," ucap Sia memonyongkan bibir, berbaring di samping suaminya.


"Ya, aku setuju. Kita akan tinggal di rumah bibimu itu sampai Jonathan selesai dengan pekerjaannya. Aku harap, kita juga bisa tepat waktu. Jujur, aku juga sebenarnya penasaran akan satu hal tentang gadis bernama Sierra," ucap William serius sembari menatap langit-langit kamar.


"Apa itu, Will?" tanya Sia menoleh dan menatap wajah rupawan sang suami.


"Tessa dan Denzel menginginkanku. Bahkan keduanya tak sungkan membawaku ke markas mereka. Bisa jadi, Sierra ada hubungannya dengan garis keluarga dua orang itu. Sierra keturunan Flame, salah satu anggota The Circle. Aku tak ingat ada nama Flame selama ikut bekerja di sana, tapi kita bisa mencari tahu setelah kita berkunjung ke rumah ibuku bekerja dulu," jawab William menganalisis.


"Ahh, kau benar, Sayang. Apa mungkin, kau menyimpan sebuah rahasia besar selama tinggal dengan keluarga itu, lalu ... Denzel dan Tessa mencoba mencari tahu darimu? Namun, mereka menyadari jika kau masih terlalu kecil untuk mengingat semua. Sehingga mereka seperti mengulur waktu meski pada akhirnya kau akan diinterogasi juga. Mungkinkah ... seperti itu?" tanya Sia ikut menebak.


"Hmm, bisa jadi. Namun sungguh, aku tak ingat apapun. Selama bekerja di sana, tak ada hal mencurigakan atau bisa jadi aku terlalu cuek sehingga tak menyadari hal-hal aneh tersebut," jawab William mencoba mengingat kehidupannya saat di rumah tersebut.


Sia mengangguk setuju.


"Oleh karena itu, kita akan menyelidiki rumah nyonya besar. Aku harus menemui Tessa. Sebaiknya soal Tessa, biar aku saja. Kalian awasi dari kejauhan agar tak menimbulkan kecurigaan. Dia sepertinya percaya padaku," ucap William yakin.


"Oke. Oh, aku merasa akan terjadi hal tak terduga kali ini, Will. Kau benar-benar terlibat akan suatu hal yang bahkan kau sendiri tak menyadarinya. Semoga, kita mendapatkan titik terang dari semua masalah ini. Aku ... ingin ini segera berakhir," ucap Sia semakin memeluk William erat dan lelaki bermata biru itu mengangguk setuju.


 


hehehe, maaf telat lagi upnya. capek sumpah. nguantuk. tapi seharusnya mulai besok upnya udah kembali normal.

__ADS_1


lele pasti sibuk di hari sabtu dan minggu dengan kegiatan tak terduga.


Jadi, jangan lupa votenya biar lele makin semangat up. lele padamu


__ADS_2