
Suasana persidangan makin panas karena semua mafia saling menuding dengan lontaran dari isi pemikiran masing-masing.
Mereka bahkan mulai beradu fisik dan meninggalkan kursi di mana mereka seharusnya tak diizinkan melakukan hal tersebut.
Namun, kasus kali ini membuat jiwa dan hati para mafia itu memberontak karena saling bertentangan dalam memihak antara yang kubu Axton dan Raja Khrisna.
Hanya Sia dan Boleslav saja yang tak ikut serta dalam bertikai. Sia memilih tetap duduk karena ia sedang hamil, sedang Boleslav menjaga emosinya agar tak memicu penyakit jantung.
Bahkan suara ketukan palu dari Amanda untuk menghentikan pertikaian tersebut seakan tiada artinya.
Amanda mendesah kesal. Wilson dan Robert melirik Vesper dengan tatapan penuh maksud. Vesper pun ikut mendesak malas.
Seketika, DOR!
Orang-orang langsung terdiam. Mata mereka kini menangkap sosok Vesper yang mengarahkan tangan kanannya ke atas dengan sebuah pistol dalam genggaman.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Diam dan kembalilah duduk. Apa otak kalian menjadi tumpul karena insiden ini? Ada yang namanya vote, Saudara-saudara. Salurkan suara kalian dalam bilik pemilihan suara. Biarkan GIGA yang akan memutuskan apakah Raja Krisna dan orang-orangnya akan mati atau tetap hidup. Sandara hanya melakukan tugasnya sebagai seorang penyidik. Keputusan mereka yang menganggap Raja Krishna dan orang-orangnya tidak bersalah harus kalian hormati. Itu sebagai bahan perbandingan, bukan keputusan mutlak. Keputusan yang sebenarnya berada di tangan kalian semua. Oleh karena itu, kalian hadir dalam persidangan ini untuk memutuskan kehidupan dari seorang terdakwa," ucap Vesper tenang menatap wajah orang-orang yang terlihat saling membenci itu.
Orang-orang itu pun akhirnya sadar dengan apa yang mereka lakukan. Mereka langsung merapikan pakaian yang mereka kenakan dan kembali duduk dengan tenang.
"Thank you," ucap Vesper dengan senyum manis dan meletakkan pistol Vesper di meja.
Amanda, Robert dan Wilson tersenyum melihat Vesper yang akhirnya mampu meredakan ketegangan di dalam ruang persidangan meski awalnya mereka khawatir jika Vesper malah akan menghajar mereka semua.
"Silakan melakukan vote untuk keputusan pengadilan hari ini atas kasus penyerangan di mansion Tuan Adrian Axton Giamoco," ucap Lopez yang sudah berdiri di depan bilik vote suara.
Orang-orang mulai berdiri dan berjalan dengan rapi. Secara bergantian, mereka memasuki bilik tersebut dan melakukan pemilihan suara.
Sekitar 30 menit, akhirnya proses pemilihan suara selesai. Lopez memberikan kode kepada Monica. Dengan sigap, istri dari Eiji melakukan penghitungan suara dari hasil pemeriksaan GIGA.
Model pemungutan suara yang dilakukan dalam bilik tersebut berupa sebuah lembar kertas digital dengan dua kolom yang berada pada sebuah papan layar sentuh sebesar 21 inch.
Kolom pada kertas digital yang berwarna putih sebelah kiri adalah pilihan untuk memberikan ampunan bagi terdakwa.
Sedang kolom berwarna hitam di sebelah kanan adalah pilihan untuk memberikan hukuman bagi terdakwa.
Seorang pemilih yang memasuki bilik tersebut akan diidentifikasi dengan kesepuluh jari di kedua tangannya yang ditempelkan pada sebuah papan sensor.
Selanjutnya, pemindai pada wajah berikut kornea mata dan juga mengenal suara untuk memastikan jika pemilih tersebut memang orang yang sudah terdaftar dan masuk dalam database GIGA.
Setelah GIGA memutuskan orang tersebut terverifikasi, pemilih bisa melakukan vote dengan sebuah pulpen khusus yang diketuk pada layar kolom pilihannya.
Jika tidak, pemilih dianggap penyusup atau gugur dan tidak bisa melakukan vote.
Sistem ini diberlakukan oleh Pengadilan 13 Demon Heads atas saran dari Sandara dan Jordan untuk mengurangi kesalahan serta kecurangan dari pemilih jika menggunakan cara manual.
Mereka lebih mempercayakan hasil vote dengan sistem komputer GIGA dan disetujui oleh Dewan Tertinggi Pengadilan.
Akhirnya, saat yang dinantikan tiba. Semua mata kini tertuju pada dua layar besar yang tadi menyiarkan rekaman hasil interogasi.
__ADS_1
"GIGA, katakan hasil perhitunganmu," ucap Amanda dari earphone khusus yang ia pakai untuk berkomunikasi dengan GIGA SIA, tapi suara di persidangan dibuat menjadi suara wanita dewasa berkesan tegas.
"Perhitungan selesai. Hasil vote untuk kolom pengampunan sebanyak 2 suara. Hasil vote untuk kolom hukuman sebanyak 148 suara. Pengadilan memutuskan, terdakwa bersalah dan dijatuhi hukuman mati."
Semua orang yang merasa melakukan vote hukuman mati terlihat puas. Sedang Raja Krishna, Rohan dan kedelapan anak buahnya panik setengah mati.
Jordan tersenyum miring. Ia langsung berdiri sembari menyiagakan pedang Silent Red yang sedari tadi disarungkan.
Raja Khrisna panik. Tiba-tiba, ia berteriak lantang saat Jordan sudah dihadapannya dengan pedang Silent Red dalam genggaman.
"Tunggu! Tunggu dulu! Aku minta keringanan dari hukuman ini," ucap Raja Khrisna dengan nafas tersengal di mana seluruh tubuhnya dibelenggu, ia tak bisa kabur kemanapun.
"Keputusan pengadilan sudah dijatuhkan. Kau tidak bisa meminta pengampunan, Raja Khrisna," ucap Amanda tegas dari tempatnya duduk.
"Aku tahu, aku tahu. Namun, aku meminta belas kasih dari jiwa manusia kalian, bukan dari sebuah komputer. Tolong, dengarkan aku dan pertimbangkan," pinta Raja Krisna memelas.
Amanda melirik Vesper, Wilson dan Robert. Mereka mengangguk mengizinkan. Jordan terlihat kesal. Ia harus kembali menunggu.
"Lima menit. Manfaatkan dengan baik, Raja Krishna," ucap Vesper tegas.
Raja Krishna mengangguk cepat. Amanda memerintahkan GIGA untuk melakukan timer.
Mata semua orang melirik sekilas kedua layar besar di mana kini waktu berjalan mundur dari 5 menit yang diberikan oleh Vesper.
Raja Krisna tanpa gugup. Ucapannya kali ini sungguh akan menentukan nasib hidupnya, anaknya dan orang-orang ya yang akan dihukum mati saat itu juga.
"Aku mengakui jika aku bersalah, tapi tolong lepaskan Rohan."
Sontak, Rohan terkejut. Ia menoleh dan menatap wajah Ayahnya seksama. Raja Khrisna menatap wajah orang-orang yang terlihat samar karena tak diterangi cahaya.
Rohan terlihat seperti akan menangis. Ingin rasanya ia memeluk sang Ayah, tapi kedua tangannya terbelenggu, ia tak bisa melakukan apapun selain memandangi wajah sang Ayah yang berusaha untuk tetap tegar meski kematian sudah berada tepat di hadapannya.
"Aku mohon. Lepaskan Rohan. Biarkan ia hidup. Aku mohon dengan sangat pada kalian semua," ucap Raja Khrisna penuh permohonan.
Rohan menangis, wajahnya tertunduk. Semua orang terdiam mendengar ucapan Raja Khrisna yang begitu tulus. Empat Dewan Tertinggi saling melirik.
"Baiklah. Vote akan dilakukan, tapi tidak perlu menggunakan bilik suara. Yang bersedia jika Rohan dilepaskan dan dibiarkan untuk tetap hidup tanpa dijatuhi hukuman apapun oleh pengadilan, silakan berdiri dan mengangkat tangan ke atas," ucap Vesper tegas.
Orang-orang saling berpandangan. Amanda kembali menginstruksikan kepada GIGA untuk menghitung jumlah orang-orang yang berdiri. GIGA segera melaksanakan perintah Amanda.
Namun, belum ada satu orang pun yang berdiri. Tiba-tiba, Vesper berdiri dan mengangkat tangannya. Semua orang tertegun dengan yang Vesper lakukan.
"Aku seorang Ibu dan aku memiliki anak. Aku membayangkan jika raja Krisna adalah aku dan salah satu anakku duduk di sana seperti Rohan. Sudah cukup lama bagiku hidup di dunia fana ini, biarkan penerusku yang belum merasakan kejamnya dunia untuk tetap hidup hingga akhirnya dia memutuskan seperti apa caranya ia akan mati nanti," ucap Vesper tenang dari tempat yang berdiri.
Keempat anak Vesper yang ikut dalam persidangan terdiam seketika. Mereka tak menyangka jika Ibu mereka bisa bicara demikian.
Perlahan, keempat anak Vesper ikut berdiri dan memberikan suara yang sama untuk memberikan Rohan pengampunan.
"Jika bukan karena Mamaku, jangan harap aku akan mendukungmu, Rohan," ucap Arjuna dari tempatnya berdiri.
Rohan hanya bisa terdiam. Tak lama, banyak orang ikut berdiri dengan memberikan suara yang sama seperti Vesper.
__ADS_1
Raja Krisna menangis, ia tak menyangka jika pengampunan untuk anaknya akan diterima.
Raja Krisna menatap Rohan seksama selama proses perhitungan dilangsungkan.
"Rohan. Jaga keluarga kita. Jangan melakukan kesalahan seperti yang Ayah lakukan. Ayah tidak ingin jika kau memiliki keluarga nanti, nasib anakmu atau bahkan cucumu akan berakhir tragis sepertiku. Maafkan Ayah, karena sudah melibatkanmu dan ikut menyeretmu ke pengadilan ini. Ayah menyayangimu Rohan seperti ayah dan juga menyayangi kakakmu Rahul. Jangan khawatir, Ayah akan baik-baik saja di sana. Rahul sudah menunggu Ayah."
Praktis, ucapan Raja Krisna membuat Rohan menangis sedih. Rohan hanya bisa memejamkan matanya rapat dan membiarkan wajahnya tergenang air mata.
Raja Krisna tersenyum. Ia berusaha mendekatkan tubuhnya ke sang anak, mencoba untuk mencium kepalanya, tapi usahanya gagal karena jarak kursi di antara mereka cukup jauh.
Hingga akhirnya, hasil vote sudah terakumulasi. GIGA menghitung jika seluruh orang-orang yang ikut dalam persidangan memberikan pengampunan kepada Rohan.
Pasukan berbaju abu-abu segera mendatangi Rohan dan melepaskan belenggu di tubuhnya.
Jack, Ara, Catherine dan Rohan kini didudukan pada kursi khusus di belakang para terdakwa yang akan dieksekusi mati.
Mereka dijaga ketat oleh pria-pria berseragam berwarna abu-abu dengan senjata penyetrum dalam genggaman.
Jordan mulai melangkah sembari mengayunkan pedang Silent Red miliknya. Suasana berubah tegang seketika.
Bahkan Sandara langsung memejamkan mata dan menutup kedua telinga dengan kedua telapak tangannya.
Jamal, Rajesh dan Rohan membelalakkan mata ketika Jordan mengayunkan pedang Silent Red tanpa laser dan menebas kepala Raja Krisna dengan wajah dingin tanpa terlihat ketakutan di matanya.
"Harrgghhh! Hiks ... Hargghh! Ayah!" teriak Rohan lantang menyuarakan seluruh kesedihan yang kini menyelimuti hatinya atas kepergian sang ayah untuk selama-lamanya berikut 8 orang yang ikut terkena hukuman mati, penggal kepala karena aksi mereka yang menyebabkan tewasnya Axton, Sergei dan orang-orang dalam jajaran Giamoco.
Jamal dan Rajesh menangis. Mereka langsung menutup wajah karena tak sanggup melihat tubuh Raja Khrisna masih menggelinjang hebat saat kepalanya terpenggal dan darah mengucur deras dari leher yang terpotong.
Sia bahkan langsung shock. Daniel dengan sigap membawa Sia keluar dengan Boleslav mengikuti di belakangnya.
Amanda melihat kepergian suami dan anaknya dari ruang persidangan. Namun, karena ruangan yang masih ditutup rapat, tiga orang itu tak bisa pergi.
Tiba-tiba, Vesper memberikan kode untuk membuka penutup pada pintu dan jendela ruang persidangan agar tiga orang itu bisa keluar karena persidangan telah usai.
Boleslav mengangguk berterima kasih dari kejauhan karena diizinkan pergi bersama Sia dan Daniel.
Tiga kawan William shock seketika. Mereka langsung pingsan di tempat setelah melihat adegan keji yang tak pernah dilihat sebelumnya.
Jordan mengelap bila pedangnya yang terkena darah dari para terdakwa dengan sebuah kain yang sudah ia persiapkan dari saku celana.
Jordan kembali menyarungkan pedangnya dan memberikan kepada Mix untuk disimpan. Lelaki berwajah garang itu menerimanya dibarengi anggukan kepala.
Jordan mendatangi Sandara yang masih memejamkan matanya rapat dengan kedua tangan menutup telinga.
Tiba-tiba, Jordan mengecup kepala Sandara lembut. Sandara tertegun dan langsung membuka matanya.
Gadis cantik itu mendapati Jordan berdiri di hadapannya sembari mengulurkan tangan kanan.
Sandara bingung, tapi ia menerima uluran tangan itu. Sandara berdiri perlahan dan kini berada di samping Jordan merangkul lengannya.
Sandara diam saja saat Jordan membawanya pergi dari persidangan. Vesper dan lainnya hanya bisa menghembuskan nafas pelan dan tidak mau ikut campur dalam hal ini.
__ADS_1
"Aku ingin es krim rasa vanila dan stroberi," ucap Sandara lirih sembari berjalan berdampingan dengan Jordan.
"Aku tahu," jawab Jordan santai dan kini keduanya telah sampai di sebuah mobil yang akan membawa mereka ke toko ice cream langganan Jordan selama di Italia.