Secret Mission

Secret Mission
Bertemu Mereka*


__ADS_3

ILUSTRASI


SOURCE : PINTEREST



----- back to Story :


William akhirnya memutuskan untuk membuatkan Sia ice cream sebagai permintaan maafnya.


Sia malah terlihat sedih, ketika William terlihat sibuk di dapur sembari mempraktekkan cara membuat ice cream dari tutorial video di internet.


Sia teringat akan kenangannya bersama Boleslav saat ia dibuatkan ice cream olehnya, begitupula sebaliknya. Sia meneteskan air mata tanpa sepengetahuan William.


Sekitar 30 menit kemudian, William yang telah memasukkan adonan ice cream ke freezer untuk dibekukan, mendatangi sang isteri yang duduk di kursi meja ruang makan menyaksikan pembuatan ice cream olehnya.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Besok aku akan pergi bekerja. Aku sebenarnya, agak sedikit ragu tentang cara pengecetan mobil. Entah kenapa aku bisa mengatakan hal sembrono itu saat di bengkel tadi? Hempf, aku dalam masalah," ucapnya sembari menggaruk kepala terlihat pusing.


Sia terkekeh lalu menggenggam tangan William erat. William menatap wajah cantik sang isteri yang selalu tersenyum manis padanya.


"Orang-orang bengkel akan mengerti. Kau jujur saja jika mengalami kesulitan ketika bekerja bersama mereka. Mungkin, kau bisa belajar lagi dari awal dan siapa tahu, itu akan membuatmu mengingat semuanya," jawab Sia dengan senyuman.


William mengangguk pelan. "Aku sangat beruntung memiliki isteri cantik dan pengertian sepertimu, Sia. Baiklah, aku akan berusaha sebaik mungkin agar tak mengecewakanmu dan orang-orang yang mengandalkanku," jawabnya kembali bersemangat.


William lalu mengajak Sia untuk kembali ke kamar sembari menyiapkan perlengkapan untuk calon buah hatinya nanti. Keduanya terlihat begitu antusias ketika mendekorasi kamar.


Sia sampai lupa akan ice cream-nya karena terlalu asyik menata ruangan. William yang pada akhirnya mengambilkan ice cream untuk sang isteri dan menyuapinya.


"Istirahat dulu, Sayang. Nanti kau lelah," pinta William khawatir karena Sia sampai berkeringat.


"Sedikit lagi," jawabnya sembari menerima suapan ice cream.


William tersenyum melihat isterinya yang cantik begitu telaten dalam menata satu persatu perlengkapan untuk calon anak perempuan mereka di kamar itu.


Tak terasa, hampir dua jam lamanya pekerjaan itu selesai dan Sia mulai terlihat lelah.


"Sudah, cukup, cukup. Sisanya biar aku saja yang selesaikan. Ice cream-mu sudah habis. Sebaiknya kau istirahat, tapi jangan lupa makan siang dan minum vitamin kandunganmu dulu," ucap William mengingatkan sembari memegangi lengan sang isteri agar menjauh dari perlengkapan bayi yang masih ingin disusunnya.


Sia terkekeh karena William menarik tubuhnya dan membuatnya duduk di sofa. William mengelap kening Sia yang sudah bercucuran keringat dengan tisu.


"Aku ingin makan cream sup brokoli dengan roti. Lalu alpukat salad dan cheesecake. Aku ingin memakan itu semua di restoran langgananku. Bawa aku ke sana, Will," rengek Sia.


William mengedipkan mata, tapi mengangguk menyanggupi. Sia terlihat senang. Ia segera mengganti pakaiannya bahkan tak sungkan ketika melepaskannya di hadapan sang suami yang mengalami amnesia.


William memandangi tubuh Sia yang baginya terlihat lucu dengan perut buncitnya. William tersenyum geli saat sang isteri terlihat gembira ketika memilih pakaian yang akan ia kenakan untuk pergi makan siang.

__ADS_1


Lelaki bermata biru itu malah terlihat menikmati gerak-gerik sang isteri.


"Entah kenapa, hal sederhana ini membuatku bahagia. Isteri yang cantik, pekerjaan yang bagus, rumah yang indah, mobil keren. Aku merasa ... ini sungguh sempurna. Aku lolos dari maut dan masih hidup, meski melupakan semua kenangan. Namun, aku bersyukur karena semua orang bisa menerimaku dengan baik. Semoga kebahagiaan ini akan berlangsung selamanya. Aku merasa tak masalah jika tak mengingat masa laluku. Aku suka dengan diriku yang sekarang," ucapnya dalam hati dan tanpa di sadari, Sia sudah berdiri di depannya dengan dress cantik dan sebuah bando menghias kepalanya.


"Kau sangat manis, Sayang. Sudah siap? Ayo pergi," ajak William menggandeng tangan sang isteri untuk makan siang bersama.


P-807 dan para bodyguard kembali siaga. Mereka mengawal di belakang mobil Sia untuk memastikan semua berjalan sesuai dengan skenario sampai dipastikan jika William bisa menerima kehidupan barunya.


William mengikuti arahan GPS yang sudah ditandai sang isteri ke restoran pilihannya. Mobil parkir dengan sempurna termasuk ketika mereka duduk dan memesan makanan.


Sia dan William duduk berhadapan terlihat begitu bahagia. Senyum keduanya tak memudar hingga tiba-tiba, muncul sosok tak dikenal William di hadapannya.


"Hay, Anda Nona Theresia Lawrence bukan?" tanya seorang gadis muda menunjuknya.


Sia mengangguk terlihat canggung termasuk William yang menatap dua wanita di depannya bergantian.


William melihat gadis pirang itu mengulurkan tangan mengajak sang isteri berjabat tangan. Sia menyambutnya dengan gugup dan senyuman.


"Aku Yena. Ibuku yang membeli mansion mendiang ayahmu, Julius Adam yang berada di Virginia. Kau ingat?"


"Oh! Nyonya Amanda Theresia? Wah, aku tak menyangka bisa bertemu dengan anaknya. Maaf, aku tak ikut saat pelelangan karena aku dalam proses pemindahan kekuasaan pemimpin perusahaan," jawab Sia sedih.


William diam menyimak. Tiba-tiba, gadis bernama Yena memanggil seorang wanita yang baru saja keluar dari toilet, menuju ke arah mereka. Sia langsung berdiri.


"Anda pasti Nyonya Amanda Theresia. Sekilas, nama kita hampir sama," ucap Sia terlihat sungkan.


"Oh, siapa lelaki tampan bermata biru itu? Apakah itu suamimu?" tanya Amanda menunjuk William seakan tak mengenalnya.


William langsung berdiri dan mengajak jabat tangan. Amanda dan Yena menyambutnya dengan senyum terkembang, menyalami bergantian.


"Ya, Nyonya. Saya William Tolya. Suami Sia," jawabnya sungkan. "Apa Anda sudah makan siang? Bergabunglah bersama kami. Ada dua kursi kosong jika Anda berkenan," ajak William yang malah mengejutkan tiga wanita itu.


"Kau baik sekali, William. Baiklah, aku tak akan menolaknya," jawab Amanda setuju dan menarik kursi di samping Sia.


Yena duduk di samping Amanda yang mengaku sebagai Ibu, bukan Bibinya.


"Namun kudengar, kau mengalami kecelakaan dan koma. Aku tahu dari pengacara Nona Sia ketika penjualan mansion kala itu," tanya Yena yang kini menoleh ke arah William sembari membuka buku menu.


"Ya, begitulah kata orang-orang," jawabnya terlihat bingung dalam bersikap.


Tiga wanita itu menatap William seksama dalam diam. Amanda dan Yena tetap terlihat normal sembari berakting memilih menu.


"Puji Tuhan, kau terlihat baik-baik saja, William. Kau bahkan terlihat ... sangat sehat," ucap Amanda sembari menunjuk menu pilihannya dan pelayan yang berdiri di sebelahnya, menuliskan pesanan di tablet yang ia genggam termasuk pesanan Yena.


"Hanya saja ...," jawabnya menggantung. "Aku mengalami amnesia. Aku tak mengingat kejadian setelah aku sadar," jawab William jujur.


Amanda diam sejenak. "Oh, William. Hal itu mungkin akan terasa sangat membingungkan, tapi jika kau merasa kehidupanmu yang sekarang baik-baik saja, aku rasa hal itu tak perlu dipermasalahkan. Bagaimana menurutmu, Sia?" tanya Amanda yang kini melirik anak perempuannya meski ia berpura-pura hanya mengenal Sia sebagai mitra.

__ADS_1


"Hem, aku setuju. Aku melihat jika suamiku yang sekarang lebih santai, tak tegang seperti dulu. Aku malah bersyukur dia amnesia, yah mungkin terdengar kejam, tapi ... aku senang melihatnya seperti orang bebas tak tertekan seperti dulu. Perjuangan hidupnya dulu ... cukup membuatku bersedih jika mengingatnya. Aku tak ingin William merasakan masa-masa sulit itu lagi. Dia patut mendapatkan kebahagiaan sekarang dan selamanya," jawab Sia sembari menatap mata sang suami lekat.


William balas tersenyum. Entah kenapa, ucapan Sia begitu menyentuh hatinya.


William yang pernah mendengar pengakuan Sia, Rohan, Bella dan beberapa orang tentang masa lalunya, merasa jika ucapan Sia benar. Ia yang sekarang merasa seperti tak memiliki beban.


"Terima kasih, Sayang. Kau tak menyerah padaku. Kau selalu mendampingiku padahal aku tak mengingat satupun kenangan bersamamu. Aku sungguh berterima kasih pada Tuhan karena menghadirkan malaikat sepertimu di kehidupanku," ucap William yang membuat Amanda dan Yena langsung terdiam.


Keduanya terlarut dalam rasa haru, ditambah, William mencium kening Sia penuh perasaan hingga mata keduanya terpejam.


Yena melirik Bibinya saat ia merasakan, tangan Amanda menggengam salah satu tangannya erat yang berada di atas pahanya. Yena tersenyum.


"Mereka sudah menemukan kebahagiaannya. Ini adalah sebuah mimpi yang menjadi kenyataan," ucap Yena lirih dan Amanda meneteskan air mata meski cepat-cepat ia hapus agar tak ketahuan sepasang suami isteri di depannya.


Tak lama, makan siang itupun datang. William mempersilakan dua mitra sang isteri untuk segera menikmati sajian yang telah tersedia.


Keempat orang itu akhirnya mengobrol ringan penuh canda tawa seperti keluarga sesungguhnya.


Dua jam setelahnya, makan siang itu usai. William bahkan membayar semua tagihan itu. Amanda dan Yena merasa tak enak hati, tapi William meyakinkan jika itu bukan masalah besar.


"Aku merasa, kita bagaikan keluarga, Sia, William. Jika kau nanti sudah melahirkan, bolehkah jika kami menjenguk bayimu? Anakku masih lama melangsungkan pernikahan. Dia belum bisa memberikanku cucu dalam waktu dekat ini," ucap Amanda memelas, tapi membuat Yena kesal dan mencubit lengan Bibinya gemas.


Amanda berteriak dan melotot keponakannya, tapi Sia dan William malah terkekeh.


"Aku akan senang jika kalian berdua berkunjung ke rumahku. Pasti akan kuberikan kabar menggembirakan saat anakku lahir nanti," jawab Sia sembari merangkul pinggul William mesra.


"Semoga kalian selalu bahagia. Sampai jumpa lagi," ucap Amanda terlihat sedih.


Sia berterima kasih sembari menerima kartu nama pemberian Yena.


William melambaikan tangan saat Amanda dan Yena sudah berada di dalam mobil, siap melaju meninggalkan sepasang suami isteri yang mengantarkan kepergian mereka di parkiran mobil.


BROOM!!


"Ayo pulang, Sayang. Hem, kau sepertinya cukup terkenal ya? Banyak yang mengenalimu," ucap William sembari membuka pintu mobil untuk sang isteri tercinta.


"Mungkin mereka kira aku mirip artis," jawab Sia bercanda dan William terkekeh.


Keduanya terlihat begitu bahagia saat mengendarai mobil modifikasi Jonathan untuk membawa mereka pulang ke mansion peninggalan Boleslav yang kini di tempati oleh Sia dan William untuk selamanya.


***


Lele nguantuk abis berkunjung ke rumah uyut biar gak jadi cucu durhaka😆


Ngetiknya udah malem banget ini mumpung sempet. Kalo ada tipo2 koreksi aja ya.


Oia, karena gak ada tips masuk jadi besok 1 eps aja😁Tengkiyuw 💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2