
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
Akhirnya, penerbangan melelahkan itu berakhir. William tiba di Kaliningrad, Rusia dan segera mendatangi jasa penyewaan mobil di dekat Bandara.
William kembali menghubungi Sia yang sudah mendapatkan sebuah rumah di pinggir pantai. William segera melaju kencang mobilnya menuju ke Pantai dekat Baltic Sea.
Jantung William berdebar. Ia sedikit ragu jika ini sebuah jebakan, tapi ia meyakinkan hatinya bahwa Sia tak mungkin mengkhianatinya lagi.
"Aku percaya padamu, Sia. Kau tak mungkin membohongiku," ucap William saat sudah memasuki kawasan pantai.
Mata William memantau sekitar tempat itu dan terlihat waspada jikalau ada serangan tiba-tiba yang mungkin bisa membunuhnya.
Hingga akhirnya, mata biru William tertuju pada sebuah rumah kayu di mana GPS menunjukkan jika lokasi tujuannya telah sampai.
"Hmm, rumah ini mengingatkanku akan Tyumen," ucap William lirih saat memarkirkan mobilnya di depan rumah tersebut.
William turun dari mobil dengan jantung berdebar. Ia kembali melihat sekitar untuk memastikan jika keadaan sungguh aman termasuk dari bidikan sniper dan sergapan kelompok tak dikenal.
Saat William akan mengetuk pintu, tiba-tiba pintu itu terbuka dan muncul Sia yang langsung memeluknya. William terkejut dan berdiri mematung.
"Oh, ini sungguh kau, Will. Aku takut sekali," ucap Sia membenamkan wajahnya di dada kekasihnya itu.
William terhenyak, tapi dengan cepat ia balas memeluk Sia erat dan langsung mencium keningnya lembut.
William melepaskan pelukannya dan menatap Sia seksama dengan gugup.
"Sia," ucapnya dengan senyum terkembang dan Sia mengangguk pelan berlinang air mata.
"Sorry, Will," ucap Sia terlihat seperti merasa bersalah.
"Hey, it's oke. I'm sorry too, Honey," sahut William mengusap kedua pipi Sia lembut.
Sia menarik tangan William agar segera masuk ke dalam dan lelaki tampan itu pun bergegas mengikuti kekasihnya. Sia langsung menutup pintu dan William kembali memeluknya.
Cukup lama sepasang kekasih itu saling melepas rindu bahkan saling melukai satu sama lain karena perbedaan pilihan hidup.
"Kau baik-baik saja? Kenapa tiba-tiba?" tanya William penasaran.
"Entahlah, Will. Aku hanya merasa jika pilihanku salah untuk tetap berada di keluarga Boleslav. Kehidupan mafia yang kujalani ... berbeda saat bersama Rio dan ayahku dulu. Terlalu banyak tekanan dan aku selalu ketakutan setiap hari," jawabnya tertunduk terlihat sedih.
William menatap kekasihnya iba. Agent itu memegang dagu Sia lembut dan mencium bibirnya dengan penuh rasa rindu.
Sia memejamkan mata. Ia sangat merindukan sentuhan penuh cinta dari kekasihnya.
"Sia. Aku ingin memastikan sekali lagi jika semua ini benar dan aku ingin kau jujur. Alasanku datang kemari karena aku percaya padamu. Aku juga sangat yakin jika kau masih mencintaiku. Apa dugaanku salah?" tanya William menatap Sia tajam seperti mencari kebohongan di matanya.
"Aku juga sangat mencintaimu, Will. Aku sudah berusaha melupakanmu, tapi ... tidak bisa. Kau berperan terlalu banyak di hidupku," jawab Sia menatap kekasihnya sendu.
Senyum William merekah. Ia terlihat begitu bahagia karena Sia sungguh masih mencintainya.
__ADS_1
William menggenggam kedua tangan kekasihnya dan duduk di pinggir ranjang. Ia menarik tubuh Sia dan kini gadis cantik itu ada di pangkuannya.
Terlihat Sia gugup ketika William menatapnya lekat seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Sia. Will you marry me?"
Sia terkejut. Ia tak menyangka jika William masih menginginkan hal itu darinya. Sia mengangguk pelan, mata William melebar seketika.
"Sungguh? Kau mau menikah denganku? Janji tak akan kabur lagi?" tanya William merasa nafasnya seperti tercekat sejenak. Sia mengangguk dengan senyum terkembang.
"Oh!" ucapnya langsung memeluk tubuh ramping Sia dan membuat gadis cantik itu ikut mendekap kepala sang kekasih.
Sia mengecup pucuk kepala William penuh kasih. William memejamkan matanya. Ia tak menyangka jika Sia bersedia untuk menikah dengannya setelah sebelumnya ajakannya gagal hingga dua kali.
"Besok. Aku ingin kita menikah besok," ucap William tegas sembari melepaskan pelukannya.
Sia tertegun hingga matanya melebar. "Besok? Di sini?"
William mengangguk. Sia terlihat bingung, tapi William meyakinkannya jika semua akan berjalan baik-baik saja.
"Oke," jawab Sia dengan wajah polosnya. Senyum William merekah.
Malam itu, setelah keduanya melepas rindu dengan mandi bersama dan makan malam, William dan Sia tidur bersama.
Terlihat senyum keduanya merekah. William memeluk Sia dari belakang, berselimut tebal dengan suara deru ombak sebagai musik alam pengantar tidur.
Pagi menjelang.
Sia mencium aroma nikmat kopi dan wangi vanilla sebuah kue. Sia membuka matanya dan melihat sarapan lezat di hadapannya.
"Good morning, Sweet heart. Tidurmu nyenyak sekali. Kau membuat kita terlambat," ucap William sembari memakai sepatu, terlihat bersiap untuk pergi.
"Terlambat? Kita mau kemana?" tanya Sia bingung dan bangun perlahan dengan mata sayu.
Senyum William sirna. "Kau lupa? Kita akan menikah."
Mulut Sia langsung menganga. Ia baru ingat akan janjinya semalam. Senyum Sia terpancar dan mengangguk pelan.
"Aku akan bersiap," ucapnya segera beranjak dari kasur malasnya.
Sia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. William keluar dari rumah pondok dan masuk ke mobilnya. William menatap pergerakan dalam pondok dari bangku kemudi.
William penasaran akan fungsi dari jam tangannya itu. Ia mengotak-atik jam tangan tersebut dan ia terkejut, saat ponsel milik lelaki rambut mohawk yang melakukan barter dengannya berbunyi.
Tak ada nomor di sana. William ragu saat menerima panggilan itu.
"Hallo?"
"Apa yang kau butuhkan, Will?" tanya seseorang dari sambungan telepon.
__ADS_1
William terkejut. Suara dari balik ponsel itu sangat familiar dengannya. Suara dari salah satu agent yang dikenalnya.
"Liev? Apa ini kau?" tanya William menebak.
"Hai, Will. Tak kusangka kau mengenali suaraku. Jadi, apa yang bisa kubantu?" tanya Agent Liev.
"Aku akan meninggalkan Rusia bersama Sia hari ini. Pastikan penerbangan kami lancar. Sejauh ini, para mafia itu tak muncul untuk membawa Sia kembali," jawab William gugup karena ia mengira panggilan itu dari Yes, bos barunya.
Namun, kecurigaan baru muncul di pikiran William akan keterlibatan Agent Liev.
"Aku sudah mengunci posisimu. Hanya saja, Sia tak bisa terbang dengan pesawat komersil. Para mafia itu memiliki semacam sistem komputer yang bisa melacak keberadaan seseorang. Sia pasti masuk dalam daftar pencarian utama. Satu-satunya cara dengan berlayar. Aku akan mengirimkan yacht untuk menjemput kalian," jawab Agent Liev menginformasikan.
"Oke, Liev. Aku serahkan padamu. Jemput kami saat tengah malam. Aku ada urusan penting pagi ini."
"Urusan penting? Apa itu?" tanya Liev penasaran.
"Nanti akan kuberitahu. Terima kasih dan sampai jumpa," ucap William menutup panggilan teleponnya.
Beruntung, saat pembicaraan itu selesai, Sia sudah terlihat bersiap. Senyum William merekah dan segera keluar dari mobil, kembali masuk ke rumah pondok.
"Kau dari mana saja? Ku kira kau meninggalkanku," tanya Sia terlihat kesal.
"Mana mungkin. Yang ada, kau pergi meninggalkanku," balas William menatap kekasihnya tajam.
Sia memonyongkan bibirnya, tapi William dengan cepat mencium bibir kekasihnya. Sia sebal dan memukul lengan kekasihnya itu. William terkekeh. Ia tak bisa menahan godaan untuk tak menjahili kekasihnya.
Mereka berdua menyempatkan sarapan sebelum pergi. William membawa Sia ke sebuah Gereja untuk mendaftarkan pernikahan mereka.
Hanya saja, karena mereka berdua warga negara Amerika dan tak ada saksi yang bisa dihadirkan, Pendeta tersebut tidak bisa menyanggupi permintaan William.
Mereka bicara bahasa Rusia.
"Sebaiknya kalian segera kembali ke Amerika dan melaksanakan pernikahan di sana. Jangan terburu-buru, aku bisa melihat kalian saling mencintai. Hanya saja, pernikahan tanpa saksi bagi kami dianggap tidak sah. Maaf sebelumnya," ucap Pendeta itu menasehati dan William mengangguk paham.
Keduanya pun keluar dari Gereja terlihat lesu.
"Kali ini aku berjanji akan menikah denganmu, Will. Mm, bagaimana jika kita minta kepada wanita yang pernah berpura-pura menjadi suster saat itu?" tanya Sia merangkul lengan kekasihnya saat menuruni tangga.
Kening William berkerut mencoba mengingat kejadian saat Sia menolak menikah dengannya.
"Oh, Cecil maksudmu?" tanya William memastikan dan Sia mengangguk.
"Baiklah. Kita akan meminta Cecil dan mungkin Ibu angkatku, Rika untuk menjadi saksi kita berdua saat menikah nanti," ucap William setuju dengan usulan Sia.
William lalu mengajak Sia kembali ke rumah pondok untuk segera bersiap. Ia mengatakan jika akan membawa Sia keluar dari Rusia untuk kembali ke Amerika melalui jalur air.
Sia tak keberatan dan ingin segera pergi dari benua itu. William membawa Sia pergi dari rumah pondok ke lokasi yang diberikan oleh Liev.
Mobil William melaju kencang. Mereka berdua menyamar dengan wig dan kacamata agar tak dikenali oleh para mafia yang mencari keberadaan Sia atas saran dari Liev.
__ADS_1