Secret Mission

Secret Mission
Kenangan Masa Lalu*


__ADS_3

Di sisi lain, salah satu Rumah Sakit di Rusia, Krasnoyarsk.


Mereka bicara dalam bahasa Rusia.


William diantar oleh Maksim dan Yuri untuk melakukan control check-up mengenai perkembangan penyembuhan di kakinya.


Hasil rontgent menyimpulkan jika kondisi tulang William semakin membaik dan dilarang untuk melakukan aktivitas berat. Pen di kakinya pun tak perlu dilepas.


Maksim dan Yuri yang mengaku sebagai anggota keluarga William diberikan banyak nasehat oleh Dokter tentang apa saja yang harus mereka lakukan demi mempercepat kesembuhan pasien.


Di mobil saat perjalanan pulang ke Kastil, Rusia.


"Kita sungguh seperti baby sitter. Dokter itu pasti sengaja memberikan kita banyak petuah karena ia tak percaya jika kita keluarga William. Tentu saja kita bukan keluarga, musuh lebih tepatnya! Wajah kita saja tak mirip," gerutu Maksim yang sedari tadi marah-marah sejak berangkat.


William menghela nafas pasrah.


"Kau ingat 'kan apa yang dokter tadi katakan? Uruslah dirimu sendiri, jangan menyusahkan kami!" balas Yuri memekik dan William hanya mengangguk pelan.


William diam saja selama perjalanan pulang. Ia bahkan membiarkan jambang di wajahnya tumbuh.


Ia tak melakukan olah raga fisik selama di Kastil karena khawatir orang-orang Boleslav berpikir dirinya sedang mempersiapkan sesuatu.


William ingin terlihat normal dengan tak melakukan aktivitas apapun yang mencurigakan.


Instingnya sebagai mantan agent CIA masih terus memaksanya untuk melakukan penyelidikan, mencari tahu hal yang baginya mengganjal bahkan ada sebuah perasaan ingin melakukan sebuah tindakan nekat demi menguak sebuah misteri.


"Kau sudah bertekad untuk menjadi warga sipil, William. Kau harus meninggalkan semua hal yang berkaitan dengan aksi detektifmu itu. Tahan dirimu, tahan ...," ucap William dalam hati dengan mata terpejam mencoba untuk tetap menahan diri.


Yuri dan Maksim melirik dari kaca tengah spion mobil, melihat gerak-gerik William yang bagi mereka mencurigakan.


Sepulang dari Rumah Sakit, Roza akan memutuskan kapan melakukan interogasi lanjutan untuk menguak masa lalu William.


Boleslav dan Amanda yang telah melihat rekaman interogasi William di bawah pengaruh gas halusinasi berpikir.


Jika William memiliki petunjuk tentang siapa orang yang membunuh Miskha secara tak langsung dan mengincarnya selama ini.


Boleslav berspekulasi jika William masih dipantau oleh The Circle yang sepertinya memiliki maksud tertentu dan Boleslav ingin mencari tahu.


Kastil Antony Boleslav, Krasnoyarsk, Rusia.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"William. Remember me?"


"Yes, Roza. Salah satu anggota kelompok Red Skull," jawab William yang sudah siap untuk melakukan interogasi lanjutan tiga hari pasca control check-up.


"Dari interogasi terakhir, apa yang kau ingat?" tanya Roza menatapnya tajam.


William diam sejenak mencoba berpikir.


"Aku tak begitu yakin. Seperti mimpi, tapi aku rasa ... apakah hal itu yang kau tanyakan padaku saat interogasi? Tentang masa lalu keluargaku ketika kami pindah dari Rusia dan hidup di Amerika? Tentang ... kematian ayahku?" tanya William berkerut kening.


Roza mengangguk. William terlihat terkejut. Ia tegang seketika. Mata semua orang menatapnya tajam.

__ADS_1


"Kau sudah merekamnya?" tanya Yuri dan P-807 mengangguk.


"Wow, aku sungguh tak menyangka jika kau bisa membawaku sampai sejauh itu. Kejadian itu ... sudah lama sekali. Aku ...," ucapnya terlihat sedih.


Roza diam mendengarkan.


"Aku berterima kasih. Bayang-bayang wajah ayah dan ibuku terasa begitu jelas di ingatanku. Aku kira itu mimpi, rasanya ... sungguh nyata. Seperti dejavu," ucapnya terlihat bahagia.


Roza mengangguk. Semua orang yang mendengar ungkapan hati William ikut tersenyum. Entah kenapa mereka juga ikut senang mendengar hal ini.


"Jadi, ingin kembali ke masa lalu lagi?" tanya Roza dan William mengangguk cepat.


"Yes. Aku ingin mengingat masa kecilku lagi, Roza. Meskipun itu menyakitkan, tapi ... ada sebuah perasaan yang mengganjal di hatiku. Tentang ... kematian ayahku," jawabnya serius.


Roza mengangguk.


"Oke. Ingat. Biarkan gas halusinasi membawamu ke ingatan terdalammu yang hampir terlupakan. Jangan kau paksakan, atau kau akan mengalami gangguan syaraf di otakmu," ucap Roza memperingatkan dan William mengangguk.


Maksim dan Roza menyuntikkan serum penawar. William terlihat siap kali ini tak seperti sebelumnya. Kali ini, ia sungguh menginginkan interogasi ini.


William mulai memejamkan mata dan menghirup gas halusinasi yang menyeruak di ruangan.


William kembali merasakan seperti masuk dalam dunia ilusi, tapi kali ini ia sadar jika hal inilah yang akan membuatnya menemukan kenangan terpendam.


Satu menit kemudian ....


"William, do you hear me? Who am I?"


"Good. William. Bisa kau ceritakan, setelah kematian ayahmu. Apa yang terjadi dengan kehidupanmu selanjutnya bersama ibumu?"


William mengangguk. William mengatakan jika hidupnya bersama sang ibu sangat sulit.


Ia tak melanjutkan sekolah karena tabungan kedua orang tuanya telah habis untuk membiayai pengobatan sang ayah yang tak kunjung sembuh dan malah berakhir dengan kematian.


Rasa iba dalam hati para mafia itu ikut mengalir seperti yang dirasakan oleh William.


Semua terhanyut akan cerita William yang terasa nyata dan menyayat hati ketika ia bersama sang ibu mati-matian bertahan hidup.


"Lalu ... setelah kematian ibumu, bagaimana kau bertemu dengan agent Rika?" tanya Roza usai mendengar kesaksian William dan membuat lelaki tampan itu meneteskan air mata, mengenang sosok ibunya.


"Rika ... dia ... menemukanku ... oh, no ... sebelumnya aku bertemu seseorang ... dia ... ya ... itu lelaki yang sama. Yang mengintai rumahku dan datang ke pemakaman ayahku. Namun, aku menolaknya. Ia lalu pergi dan tak pernah muncul lagi," jawab William seperti orang mabuk dalam bercerita.


"Bisa kau diskripsikan seperti apa sosok lelaki itu?" tanya Roza dan William mengangguk.


P-807 dengan cepat memberikan kode pada anak buah Boleslav yang bisa menggambar sketsa dalam kertas.


Lelaki itu dengan sigap melakukan coretan hingga akhirnya mendapatkan sebuah gambaran tentang sosok pria yang William maksud.


"Gaya itu, The Circle. Mereka sungguh mengincar William. Namun, untuk apa?" tanya Yuri gemas karena kelompok parasit itu selalu menggerogoti jajaran 13 Demon Heads.


Roza yang mendengar ucapan Yuri segera menanyakan pada William.


"Apa yang lelaki itu inginkan darimu, William?" tanya Roza penuh selidik.

__ADS_1


"Dia menawarkanku untuk masuk dalam kelompoknya. Ia menjanjikan banyak hal. Ia mengatakan ingin menjadikanku salah satu D. Namun, aku tak percaya orang itu. Ia tak menolong ayahku saat sedang sakit. Ia juga tak membantu ibuku saat kami hidup dalam kesulitan. Ia mengatakan hanya menginginkanku dan aku menolaknya lalu ... dia menurunkanku di jalanan," jawab William dengan pandangan tak menentu.


Roza melirik Maksim tajam dan lelaki bertato itu terlihat kesal.


"Lalu ... kau bertemu Rika?" tanya Roza dan William mengangguk dengan kepala menoleh ke sana kemari seperti mencari sesuatu.


Roza melihat jika William mulai menunjukkan tanda-tanda dari efek samping gas halusinasi.


Maksim dengan cepat menyuntikkan serum penawar sebelum William terperangkap di kenangan masa lalunya dan lupa akan kehidupannya sekarang.


"William! Hey. Who am I?" tanya Roza saat William kembali mengedipkan mata berulang kali dengan wajah tertunduk.


William menaikkan pandangan dan menatap Roza lekat.


"Roza?"


Roza tersenyum dan mengangguk. Maksim dan lainnya lega karena William tak mengalami masalah di syaraf otaknya. Maksim membawa William kembali ke kamar untuk beristirahat.


"Aku tak tertarik dengan cerita William saat diasuh Rika dan pada akhirnya masuk ke CIA. Aku tak mau mendengar kisah menyedihkan hidupnya lagi," ucap Roza kesal karena hampir menangis saat William menceritakan kesulitan hidup saat bersama ibunya dulu.


"Hem, aku setuju. Meskipun aku penasaran bagaimana CIA melatihnya. Namun, sejauh ini yang kutangkap. William bisa mengingat kenangan masa lalunya dengan jelas. Itu berarti, dia pintar. Daya ingatnya kuat, tapi seperti sengaja dilupakan agar tak bersedih," sahut Yuri menilai.


"Hah, tumben kau pintar," ledek Roza dan Yuri langsung spontan marah-marah karena diremehkan.


"Baiklah, akan aku kirim rekaman ini ke Nyonya Manda dan Tuan Boleslav. Semoga Tuan Boleslav tak menangis," sahut P-807 yang diam-diam berani meledek mantan anggota dewan 13 Demon Heads itu.


Roza dan lainnya yang mendengar tertawa terbahak. Mereka penasaran bagaimana reaksi Boleslav saat mengetahui kisah sedih William.


Los Angeles, Mansion Antony Boleslav.



"Oh, sayang. Dia sungguh menderita. Aku merasa bersalah pada keluarga Miskha," ucap Amanda menangis saat menonton tayangan itu di kamarnya bersama sang suami dari layar laptop.


Boleslav diam saja tak ada ekspreksi apapun di wajahnya, sedang Manda sudah menghabiskan setengah kotak tisu.


"Aku akan siapkan daftar pertanyaan untuk interogasi selanjutnya," ucap Boleslav meninggalkan kamar dan berjalan menuju ke kamar mandi.


Manda heran. Boleslav bukannya ke ruang kerja, tapi malah ke kamar mandi. Ternyata, mantan ketua 13 Demon Heads itu ikut bersedih.


Ia mencuci wajahnya yang tergenang air mata setelah ia berusaha mati-matian agar tak meneteskan air sialan itu saat melihat rekaman interogasi William.


"Keparat kurang ajar. Kenapa harus memiliki kisah dramatis seperti itu? Membuatku jadi teringat akan ayah dan ibu," gerutu Boleslav membasuh wajahnya lagi dengan kedua tangan.


Boleslav diam sejenak menatap wajahnya yang sudah ia keringkan dengan handuk dalam genggaman.


Ia memikirkan ucapan Sia tentang memanfaatkan William untuk mencari tahu tentang No Face melalui Tessa.


"Oke, kali ini saja. Hanya kali ini aku memberikanmu kesempatan, William," ucap Boleslav kesal menatap wajahnya di cermin.


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


__ADS_2