Secret Mission

Secret Mission
Yena & Sia


__ADS_3

Kastil Krasnoyarsk, Rusia.


Terlihat Yena begitu bahagia karena bisa bertemu lagi dengan Bibinya, Amanda, setelah lama berpisah.


Dulunya, Yena juga mengira jika Ibu dari Sia meninggal akibat kecelakaan.


Namun, setelah bergabung dengan kelompok gagak dan mengetahui jika Amanda masih hidup bahkan menikahi Antony Boleslav, Yena kaget bukan kepalang.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Bibi senang kau baik-baik saja, Sayang. Jujur, Bibi sempat mencari keberadaanmu setelah ditangkap oleh CIA. Namun, jejakmu benar-benar lenyap. Ternyata, Yes dalang dari semua ini. Orang itu benar-benar ingin kukuliti," ucap Manda yang awalnya tersenyum tiba-tiba berwajah bengis.


Yena hanya bisa meringis melihat Bibinya bersikap keji. Namun, Yena senang karena bisa berkumpul lagi dengan keluarganya.


Meski Selena dan Konstantin ada di sisinya, tapi sikap mereka membuat Yena jengah bahkan enggan mengakui sebagai kerabat.


"Lalu, di mana Selena dan Konstantin?" tanya Boleslav ikut dalam pembicaraan di ruang tengah itu.


"Mm, maaf. Bagaimana saya memanggil Anda, Tuan Boleslav?" tanya Yena sopan terlihat sungkan.


"Panggil saja Paman," jawab Boleslav tersenyum tipis.


Entah kenapa Yena terlihat senang, senyum manis terbit di wajah gadis cantik itu. Yena mengangguk pelan. Sia dan lainnya terlihat bahagia karena akhirnya Yena bisa tersenyum lagi.


Zaid memperhatikan Yena sejak pertama kali berjumpa dengannya. Banyak orang yang menyadarinya, tapi memilih diam dan menunggu untuk sebuah pengakuan dari perasaan lelaki tampan itu.


"Jadi ... soal Selena. Aku tak begitu yakin, tapi sepertinya Selena menjadi tangan kanan dari Yes. Aku sering melihat mereka berdua selalu bersama, seperti sepasang kekasih. Aku pernah menanyakan pada Paman Konstantin, tapi ia tak mau menjawab dan malah melotot padaku. Sikap mereka berdua, sungguh membuatku tak nyaman," ucap Yena terlihat sedih dengan wajah tertunduk.


"Sayang, boleh kubuat perhitungan dengan Konstantin dan Selena? Sejak dulu aku tak menyukai mereka. Konstantin dengan sadar menjodohkan Sia dan Tomy yang jelas-jelas bersaudara. Selena bahkan selalu mengusik William hingga dia tak bisa fokus menjaga Sia. Ditambah, mereka kini bekerja untuk Yes. Aku tak bisa memberikan toleransi lagi," tanya Boleslav tegas.


Manda tersenyum tipis sembari memegang punggung tangan suaminya.


"Bersabarlah, Sayang. Biar aku yang mengurus mereka berdua. Kau fokus saja pada kesehatanmu," jawab Manda lembut.


Boleslav mendengus keras. Sedang orang-orang yang berada di ruangan itu hanya bisa terdiam tak ingin ikut campur dalam urusan keluarga Theresia-Lawrence, bahkan Yena dan Sia.


"Yena, aku masih penasaran dengan apa yang kau lakukan bersama Selena di menara itu," tanya Sia menatap Yena tajam.


"Aku dan Selena diberikan tugas oleh Yes di menara tersebut untuk mencari tahu di mana Lucifer Flame meninggalkan wasiat utamanya. Aku baru berada di tempat itu selama 3 hari dan berganti jam kerja dengan Selena," jawab Yena mulai menjelaskan.


"Wasiat utama Lucifer Flame? Apa itu?" tanya Manda berkerut kening.


"Yes tak memberikan petunjuk mendetail tentang peninggalan yang harus kami cari. Namun, aku cukup yakin jika Yes berambisi menemukan wasiat itu. Dia ingin menguasai The Circle sepenuhnya. Yes sudah mencarinya di beberapa markas peninggalan para D, tapi ia belum menemukannya," jawab Yena makin mendetail.


Semua orang terlihat serius menyimak. Sedang Jonathan merasa jika apa yang Yes cari selama ini ada hubungan dengan temuannya di gua dekat Black Stone.


Jonathan langsung melipat kedua tangannya di depan dada, menyembunyikan bekas luka di telapak tangannya dengan sarung tangan yang selama ini ia pakai. Jonathan memilih diam dan tetap menyimak.


"Jadi sebenarnya, Yes ini orang The Circle atau CIA?" tanya Zaid ikut menimpali.


"Entahlah, aku juga tidak begitu yakin. Semua hal tentang Yes ditutup rapat oleh orang-orang yang selama ini bekerja di sekitarku. Aku yang sudah tidak punya pilihan hidup lagi memilih untuk mencari tahu dan tidak peduli," jawab Yena terlihat kesal.


Semua orang terdiam menatap Yena seksama. Amanda tersenyum di hadapan keponakannya.


"Baiklah. Kita lanjutkan besok lagi pembicaraan ini. Hanya saja, kamarmu belum selesai dipersiapkan. Bagaimana jika kau tidur di kamar Sia untuk malam ini? Kau tak keberatan 'kan, Sia?" tanya Amanda menaikkan salah satu alisnya.

__ADS_1


"Sure. Ini akan sangat menyenangkan, Yena. Seperti saat kita masih kecil. Kita bisa begadang semalaman," jawab Sia terlihat begitu gembira.


Yena mengangguk cepat dengan senyum merekah. Dua gadis cantik itu akhirnya pamit mohon diri untuk beristirahat.


Siap mengajak Yena ke kamar dengan menggandeng tangannya. Mereka berdua tampak begitu akrab seperti kakak beradik. Tanpa disadari senyum Boleslav merekah.


Di kamar Sia.


"Aku senang akhirnya kau akan tinggal bersama kami, Yena. Aku sangat merindukanmu," ucap Sia gembira duduk bersama Yena di atas kasur.


"Aku juga, Sia. Aku tak menyangka bisa bertemu denganmu lagi. Bahkan kau kini menjadi salah satu anggota dewan 13 Demon Heads," jawab Yena dengan ekspresi terkejut.


Sia terkekeh. Namun, perlahan senyum Sia meredup. Iya terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu pada sepupunya.


"Mm, Yena. Ada yang ingin kutanyakan. Apa kau ingat dengan William?" tanya Sia gugup.


Praktis, senyum Yena sirna seketika.


"William agent CIA brengsek itu? Lelaki bermata biru yang memenjarakanku? Ya, tentu saja aku mengingatnya. Kenapa?" tanya Yena langsung emosi.


Sia makin gugup, ia menelan ludah.


"Aku menikah dengan si brengsek itu."


"WHAT?!" pekik Yena kaget setengah mati dengan mata melotot lebar dan mulut menganga.


Sia meringis.


"Seriously? Bagaimana bisa? Apakah Bibi tahu tentang hal ini? Bagaimana dengan respon Tuan Boleslav?" tanya Yena antusias.


"Ceritakan. Aku mau dengar," pinta Yena memaksa.


Sia akhirnya menceritakan kisahnya usai kejadian beberapa tahun silam setelah kematian Julius dan Rio.


Yena terlihat shock mendengar pengakuan sepupunya. Berulang kali Yena membungkam mulut dan mengusap dahinya.


Hampir dua jam lamanya Sia bercerita dan Yena masih setia mendengarkan dengan seksama.


Sia juga kerap berlinang air mata karena tak sanggup menerima tekanan saat upayanya mempertahankan cintanya pada William, tapi tak ingin mengecewakan keluarga mafianya.


Hingga akhirnya, cerita perpisahan dirinya dengan William. Sia terlihat begitu sedih dan khawatir, takut jika William terluka atau dimanfaatkan oleh musuh.


"Oh, Sia. Kenapa dari dulu hidupmu selalu penuh dengan tekanan?" keluh Yena mengulurkan kedua tangan, memeluk sepupunya yang sedang bersedih.


Sia hanya bisa menangis dalam pelukan Yena. Namun, Sia lega setelah menceritakan semua kecuali pembicaraannya pada Vesper kala itu.


"Aku sangat mencintainya, Yena. William juga sangat mencintaiku. Dia berkorban banyak bahkan sampai keluar dari CIA agar kami bisa hidup bersama," ucap Sia tak kuasa menahan air matanya yang terus mengalir.


"I know ... I know ... Baiklah. Kita akan pikirkan cara untuk menemukan suami brengsekmu itu. Eh, maaf. Maksudku William," ucap Yena meringis keceplosan karena mengatai suami sepupunya.


Sia tersenyum. Ia memaklumi jika Yena masih membenci suaminya karena masa lalunya dulu sebagai agent yang harus memenjarakannya.


Perlahan, Yena melepaskan pelukannya dan menatap Sia dalam. Sia menghapus air matanya dengan tisu di samping ranjang, atas lemari kecil dekat ia meletakkan ponselnya.


"Aku sudah kembali dan aku memutuskan untuk setia pada keluargaku. Bagaimanapun, Bibi sangat baik padaku. Aku masih mengingat kenanganku dengannya. Hanya saja, kau ... entahlah, Sia. Kadang aku sering merasa jika Rio dan paman Julius seperti mencuci otakmu," ucap Yena berkerut kening.

__ADS_1


"What? Benarkah? Kau tahu dari mana?" tanya Sia langsung melebarkan mata.


"Aku sering menginap di rumahmu, begitupula kau saat di rumahku dulu. Namun, ketika aku menanyakan tentang beberapa hal yang dulu kita lakukan bersama saat ada ibumu, kau tak ingat. Saat itu aku merasa jika kau pura-pura melupakannya agar tak sedih. Namun, akhirnya aku tahu jika kau sungguh tak ingat. Aku semakin yakin saat Rio dan paman Julius pernah membawamu ke sebuah rumah sakit dengan alasan therapi. Kau tak sakit, tapi katanya kau pernah jatuh dan mencederai kepalamu. Mereka, ugh ... Sungguh jahat, Sia," geram Yena jika mengingat masa-masa itu.


Mulut Sia menganga lebar. Ia tak percaya jika yang dikatakan oleh beberapa orang kalau dulu ia dekat dengan Boleslav serta orang-orangnya saat kecil adalah benar.


"Mereka menghapus memoriku? Jahat sekali ... Mereka jahat sekali," ucap Sia terlihat kesal dan berusaha tak menangis.


Yena langsung meraih tangan Sia dan memegangnya erat. Sia menaikkan pandangan dan menatap Yena lekat.


"Aku akan membantumu mengingat kembali. Pasti ada cara. Kau sudah lama tak diterapi. Seharusnya, ingatan-ingatan itu akan kembali dengan sendirinya," ucap Yena yakin.


Sia mengangguk setuju. Ia juga merasa demikian. Banyak bayangan yang sering muncul di kepalanya meski awalnya ia mengira hanya mimpi dan seperti ilusi.


Namun, Sia semakin yakin jika bayangan itu adalah nyata tentang kisah masa lalunya dulu. Sia tersenyum tipis.


"Baiklah, kita tidur dulu. Aku lelah sekali. Aku yakin jika besok tuan Boleslav, eh ... maksudku, Paman, akan menginterogasiku dengan banyak pertanyaan," ucapnya mendesah malas.


Sia terkekeh karena baginya benar. Saat Sia membaringkan tubuhnya, ia malah terlihat seperti tak nyaman dengan dirinya. Yena menyadarinya.


"Kau kenapa?" tanya Yena menoleh ke arah Sia yang membaringkan tubuh di sebelahnya.


"Mulutku terasa asam. Agak sedikit mual. Aku ... Aku ke dapur dulu. Aku ingin makan ice cream. Kau tidurlah, tak usah menungguku," ucap Sia beranjak dari kasur dan bergegas pergi.


Kening Yena berkerut. Ia mengikuti Sia di belakangnya menuju dapur. Sia sibuk mencari es krim, tapi petugas dapur mengatakan tak ada makanan lezat itu di sana.


Entah kenapa, Sia malah merengek dan minta dibuatkan saat itu juga. Petugas dapur pun tak bisa menolak, ia segera membuatkan.


Sia menunggu dengan sabar di kursi meja makan sembari melihat petugas dapur itu membuatkan ice cream untuknya. Yena mendekati Sia perlahan.


"Sia," panggil Yena yang kini berdiri di sampingnya.


Sia menoleh dan menatap Yena dengan wajah lugu.


"Kau hamil?"


Sontak, Sia terkejut.


"What? Sepertinya tidak. Terakhir aku melakukan test pack hasilnya negatif," jawab Sia polos.


"Kapan terakhir kali kau berhubungan dengan William sebelum ia pergi?" tanya Yena menatapnya tajam.


Sia terlihat serius seketika. Tiba-tiba, matanya melebar. Ia menarik tangan Yena dan mengajaknya kembali ke kamar.


"Nanti bawakan ice cream itu ke kamarku ya! Terima kasih!" teriak Sia sambil berlari.


Petugas dapur itu pun hanya bisa mengangguk dan terus mengocok campuran bahan membuat es krim di mangkok.


Setibanya di kamar, Sia segera mengambil test pack di laci dekat wastafel kamar mandi dan bergegas melakukan tes. Yena dengan sabar menunggu di luar pintu toilet.


Tak lama, Sia keluar. Ia terlihat gugup saat memandangi benda kecil dalam jepitan dua jarinya itu. Yena ikut melihatnya dengan jantung berdebar.


Hingga tiba-tiba, wajah keduanya berubah dengan mata melotot dan mulut menganga. Sia dan Yena saling berpandangan dengan senyum merekah.


"Aaaaaa!" teriak Sia histeris dan Yena ikut melompat kegirangan seakan dua garis merah adalah hal baik bagi keduanya.

__ADS_1


__ADS_2