Secret Mission

Secret Mission
Rencana Terselubung


__ADS_3

Sia mendatangi dua mobil yang sudah diselimuti asap tebal dari balik mesin. Sia mengarahkan pistolnya ke mobil terdekat di mana terlihat seorang lelaki mencoba merayap keluar dari jendela yang pecah.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"You! Siapa yang mengutus kalian?!" tanya Sia lantang.


Lelaki yang sudah terluka dengan darah mengucur di kepalanya terlihat hampir tak sadarkan diri mendongakkan wajah perlahan.


"Kau ... Sia, hah ... salah satu anggota dewan 13 Demon Heads termuda. Kau ... empgh, hah, William belum tahu jika kau sudah menjadi salah satu dari mereka 'kan? Hehe, apa yang akan kau katakan pada suamimu itu, Sia?" tanya lelaki itu terkekeh dengan mulut sudah berlumuran darah menutupi giginya.


Sia terkejut. Tiba-tiba, terdengar suara deru mesin mobil menuju ke arahnya. Sia menoleh dan mendapati konvoi yang ia yakini adalah William. Sia panik.


GRAB! BRUKK!


"Agh!" rintih Sia saat kedua pergelangan kakinya dicengkeram kuat oleh lelaki tersebut hingga membuatnya jatuh di aspal cukup keras.


Lelaki itu berusaha merebut pistol dari tangan Sia yang kini ikut terbaring di sampingnya. Lelaki itu merayap di atas tubuh Sia, menggunakan berat tubuhnya agar Sia tak bisa berkutik.


"Agh! Lepaskan!" teriak Sia lantang saat lelaki itu memegangi tangan kanannya yang memegang pistol dan berusaha merampasnya.


Sia tak bisa bergerak. Lelaki itu menindihnya dengan tubuh sebesar Igor. Sia berusaha untuk mempertahankan pistolnya.


"Akan kuberi tahu William kalau kau membohonginya. Hehehe," kekeh lelaki itu dengan wajah tepat berada di hadapannya.


Sia panik. Seketika, DUAKK!!


"AGH!" rintih lelaki itu saat Sia nekat membenturkan dahinya dan tepat mengenai hidung pria tersebut.


Pria itu memejamkan mata seketika. Cengkeramannya melemah, Sia dengan sigap mengarahkan pistolnya ke kepala lelaki itu. Sia memejamkan mata.


DOR! BRUKK!


"SIA!" teriak William saat turun dari mobil dan mendatanginya tergesa dengan tongkat penyangga.


Orang-orang dari kubu William segera turun dan berlari mendatangi dua mobil yang berasap untuk mengecek siapa saja yang masih hidup.


Maksim dan Yuri dengan sigap menyingkirkan tubuh lelaki yang telah tewas di tembak Sia. Terlihat nafas Sia tersengal. Yuri membantu memberdirikannya dan Sia mengangguk berterima kasih.


"Sia! Kau tak apa?" tanya William panik memegangi wajah isterinya yang terkena lumuran darah dari pria tadi.


"Yah," jawabnya dengan nafas tersengal memeluk William erat.


"Bos!" teriak Bykov saat ia menyeret seorang lelaki yang selamat meski mengalami luka di wajahnya ke hadapan William.


Para anggota lainnya ikut menarik para lelaki yang masih sadarkan diri meski terluka cukup parah.


Mereka mengumpulkannya dan memborgol kedua pergelangan tangan mereka di balik pinggang.


Para lelaki itu dipaksa berlutut dan dijejerkan di bawah terik matahari. Sia dan William menatap empat orang itu seksama.


"Siapa kalian?" tanya William melihat empat orang itu bergantian.


Namun, orang-orang itu tak menjawab. Lelaki punk kesal dan menendang dada salah seorang lelaki yang berlutut di paling pinggir hingga jatuh terlentang.


"Hei! Jangan buang energimu. Kami punya cara yang lebih bagus," ucap Bykov melirik lelaki punk bernama Okb sembari memberikan kode untuk membangunkan pria tersebut.

__ADS_1


Okb menurut dan memegangi kepala pria berseragam hitam dengan pakaian tempur lengkap erat. Tiga lelaki lainnya juga diperlakukan sama.


Bykov mengambil sebuah tabung kecil dari saku rompi anti pelurunya dengan masker gas pada ujung tabung.


Okb menatap gerak-gerik Bykov saat ia memaksa memakaikan masker gas yang menutup hidung dan mulut tentara tersebut.


"Emmphhh!" erangnya mencoba memberontak. Namun, Bykov tak peduli.


Bykov melanjutkan ke tiga lelaki berseragam militer secara bergantian dengan cara yang sama.


Para rekrutan baru itu terlihat bingung saat melihat empat lelaki itu seperti orang linglung.


"Gas halusinasi?" tanya Sia menebak dan Maksim mengangguk.


Bykov memberikan kode pada William jika ia bisa melakukan interogasi.


"Siapa yang mengirim kalian?" tanya William curiga.


"Yes," jawab keempat lelaki itu bersamaan.


"What? CIA yang mengutus kalian?" tanya William terkejut.


Empat lelaki itu mengangguk pelan. Sia berkerut kening.


"Lelaki yang berhasil menyusup ke markas Rio, apakah itu orang suruhan Yes juga?" tanya Sia ikut menginterogasi dan keempat lelaki itu mengangguk dengan wajah tertunduk.


"Dugaan Jonathan benar, Will. Jangan-jangan, selama ini mereka mengawasimu," ucap Sia menatap suaminya seksama yang terlihat kaget dengan hal ini.


"Aku sudah keluar dari CIA. Apa yang Yes inginkan?"


William tertegun. Ia tak percaya jika Yes mempermainkannya. Sia mendekati salah seorang lelaki yang berada di hadapannya, ia berjongkok di depannya.


"Di mana Jack, Catherine, Ara, Rika dan Cecil?" tanya Sia tajam yang mengejutkan William.


"Yes menangkap dan memenjarakan mereka di sebuah tempat. Kami tak tahu di mana. Hanya Yes yang tahu. Kami tak dilibatkan dalam hal itu," jawab lelaki berambut pirang yang kepalanya naik turun seperti orang bingung.


Sia menoleh ke arah William dan terlihat lelaki bermata biru itu memejamkan mata seperti berpikir keras.


"Yes bisa melakukan hal seperti itu? Dengan jabatannya sekarang, ia tak bisa melakukan hal semacam ini. Terlebih Jack dan lainnya masih dalam kesatuan CIA. Ini aneh," ucap William heran sampai keningnya berkerut.


"Apa ada pasukan lain selain kalian?" tanya Sia yang belum puas menginterogasi lelaki di depannya.


Lelaki itu menggeleng, sedang sisanya hanya bergeleng-geleng dengan pandangan tak menentu dan air liur mulai menetes dari mulut mereka.


"Bykov," panggil Maksim mengingatkan akan dampak negatif dari gas halusinasi.


Bykov mengangguk paham, tapi bukan serum penawar yang akan ia berikan melainkan moncong pistol di arahkan ke kepala empat agent CIA.


William melebarkan mata.


"Wait! Wait! Aku ... punya ide bagus. Gas halusinasi bisa untuk mencuci otak 'kan?" tanya William mengulurkan tangan mencoba menahan Bykov yang siap membunuh empat lelaki di hadapannya.


"Yes. Apa yang kau rencanakan, Will?" tanya Bykov meliriknya tajam. William tersenyum licik.


Akhirnya, empat lelaki itu dibawa ke markas Rio di Krasnodar dan dijaga ketat oleh Bykov serta kelompoknya. William mengendarai mobil BMW bersama Sia.

__ADS_1


Sia lega karena ini sudah berakhir. William membiarkan agar mayat-mayat itu bergelimpangan di jalan agar nantinya militer Rusia menyalahkan CIA karena dianggap menyusup dan membuat gara-gara di negara mereka.


"Hem, aku tak sabar melihat berita akan perseteruan CIA dan SVR," ucap William tersenyum licik.


"Kau jahat," sahut Sia dengan senyum terkembang.


"Aku penasaran peran Yes dalam kasus ini, Sayang. Dia muncul tiba-tiba, bahkan Cecil dan Rika saja tak mengenalnya. Aku curiga, jika Yes seperti orang suruhan seseorang dalam CIA, tapi ... siapa? Gila, aku mencurigai agensiku sendiri," ucap William tak habis pikir dengan analisisnya.


"Sepertinya, agensimu memiliki banyak rongga dan cacat, William. Orang seperti Yes bagiku seakan sudah dipersiapkan. Namun, apa tujuannya, kita harus mencari tahu. Ini akan sulit, Will. Kita berurusan dengan badan intelegensi paling hebat di dunia. Kita butuh strategi matang. Jika salah sedikit, nyawa kita menjadi taruhannya," sahut Sia terlihat pusing.


"Ya, kau benar, Sayang. Bukannya kita menyelamatkan Jack dan lainnya, tapi kita malah membuat mereka terbunuh. Kenapa hal seperti ini bisa terjadi? Pasti ada orang dalam yang melakukan tipuan licik dalam jajaran petinggi CIA atau bahkan sampai ke Gedung Putih," ucap William berasumsi.


"Yah, bisa jadi. Aku akan membantumu mencari tahu, Will. Kita harus menuntaskan semua," ucap Sia melirik suaminya sekilas dan William mengangguk setuju.


Markas bawah tanah Rio, Krasnodar.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Wow! Kenapa mereka dibawa ke sini?" tanya Jonathan langsung berdiri dari sofa empuknya ketika melihat empat lelaki berseragam militer terluka parah dengan tangan terborgol.


"Kita akan memanfaatkan mereka, Jo. Kami ingin tahu rencana busuk Yes," jawab Sia yang berjalan mengikuti empat orang yang kini di masukkan dalam penjara khusus.


"Wah, cerdik! Oia, apakah informasi tentang Jack bisa di dapat dari mereka?" tanya Jonathan sembari mendekati keempat orang yang duduk dengan linglung.


"Mereka tak tahu di mana Jack dan lainnya. Oleh karena itu, kita akan gunakan mereka untuk mencari tahu. Bersabarlah sedikit dan percayakan hal ini padaku," sahut William berjalan tergopoh dibantu Sia di sampingnya.


"Oh, oke! Oia, Will. Apa ... kau tak menyadari sesuatu saat kau tidur?" tanya Jonathan sembari menggaruk ujung hidung.


"Jika aku tidur mana tahu apa yang terjadi di sekitarku. Kenapa?" tanya William heran.


Jonathan mengangguk. Ia lalu menunjuk Monica dan isteri Eiji itu mendekati William sembari memberikan beberapa lembar foto. Kening William berkerut.


"Itu di dapat dari kamera CCTV tersembunyi di balik markas. Kau diawasi, Will. Sesuai dugaanku. Lelaki yang tewas dimakan ikan piranha kemarin mengikutimu sejak kau meninggalkan Virginia. Ia bahkan bisa masuk kemari. Lalu, kau tahu yang membuatku kesal? Kau tahu?" tanya Jonathan bertolak pinggang dan menatap semua orang seksama.


William dan lainnya menggeleng.


"Lelaki itu bahkan menjadi salah satu Black Armys yang dikirim kemari olehku untuk membawa persenjataan milik Vesper Industries! Ia orang The Circle! Dia agent ganda! Dia CIA dan dia The Circle!" pekik Jonathan kesal dan praktis, semua orang tertegun.


"Wow, wait. The Circle? Kami pernah didatangi oleh orang-orang itu. Namun, bukan untuk melakukan perekrutan melainkan hanya bertanya," ucap wanita berambut merah bernama Anya.


"Maksudmu?" tanya Sia bingung.


"Yah, sekitar satu tahun yang lalu. Para lelaki berseragam layaknya eksekutif muda menyeramkan mendatangi kami malam itu. Mereka bertanya, apakah kami ditawarkan untuk masuk dalam pasukan Black Armys Vesper? Kami jawab tidak. Orang-orang itu lalu pergi begitu saja. Jadi, kami mengabaikannya. Apakah ini ada sangkut pautnya dengan kejadian tadi?" tanya Nika.


William dan Sia saling berpandangan. Orang-orang mulai saling berbisik membicarakan hal ini.


William melirik ke empat lelaki yang dipenjara dan mendekatinya dengan tergopoh. William menggunakan tongkat penyangga untuk memukul jeruji besi penjara.


"Hei! Kalian utusan Yes. Kalian CIA atau The Circle?" tanya William yang pertanyaannya mengejutkan semua orang.


"Keduanya," jawab keempat orang itu dengan pandangan tak menentu dan liur tak berhenti menetes.


Praktis, semua orang yang mendengar shock seketika.


***

__ADS_1


hayoo jangan lupa vote vocer poin dan koinnya. jangan pelit napa. heran akuh😑 di MT baca gratis loh gak kaya app sebelah yg buka eps kudu bayar.


__ADS_2