
Markas Red Skull, California.
Mereka bicara dalam Bahasa Inggris.
"Jadi yah, begitulah. Aku berterima kasih kepada kalian semua terutama Merry yang memimpin aksi penyelamatanku kala itu," ucap Sia yang duduk di sebuah bangku kayu terlihat grogi.
Merry Red Skull mengangguk bangga.
"Wow, sangat seru sekali," sahut Manda dengan wajah berbinar, memeluk sandaran kursi kayu.
"Kau sangat pintar mencari peluang, Sia. Kau mengaktifkan ponselmu dan membuat GIGA merasa kau dalam daerah bahaya. Bagaimana kau tahu jika GIGA memiliki fiture darurat?" tanya Monica yang menangkap sinyal GIGA saat Sia dibawa Rahul begitu dipisahkan dari William.
"Ya. GIGA bisa memindai jika sekitarku tidak aman dan tak bisa melakukan komunikasi. Saat itu aku hanya berpikir jika Ibu akan menemukan lokasiku di Portsmouth. Aku membiarkan GIGA terus memindai selama ponsel berada di jasku. Hingga saat Rahul menemukan sebuah rumah dan aku diberikan kamar sendiri, aku telah tersambung denganmu," jawab Sia tersenyum tipis.
"Tapi, saranmu meminta kami menjemput di titik penjemputan para polisi itu sungguh kejam, Sia. Beruntung Red dan aku bisa melumpuhkan para polisi tepat waktu," keluh Galina kesal menyilangkan kedua tangan.
"Maaf. Aku berpikir untuk mengajak William ikut bersamaku dan membawanya pergi dari CIA. Aku melihat dia seperti dimanfaatkan oleh Yes. Aku curiga dengan lelaki itu. Liev berusaha membunuhku dan dia dekat dengan Yes. Namun, siapa sangka aku malah mendengar kesaksian Denzel," ucap Sia dengan pandangan tak menentu terlihat kecewa.
"Ya. Aku yakin saat itu Denzel sengaja berteriak lantang dan membeberkan kesepakatannya dengan William di hadapan semua orang ketika tahu kau menikah dengannya. Mungkin firasat. William ada di sana jadi pasti Sia juga. Mungkin begitu pikirnya," sahut Roza berasumsi.
Semua orang mengangguk setuju.
"Ya. Kami juga beruntung bisa membawa helikopter militer di titik penjemputan tanpa dikejar polisi. Meskipun akhirnya harus diledakkan," sahut Galina.
"Kau benar. Helikopter jemputan Axton datang tepat waktu dan Rajesh berhasil selamat. Dia berhutang budi padamu, Sia," ucap Merry menambahkan.
Sia mengangguk terlihat malu karena terus dipuji.
"Rajesh bahkan tak menyangka kedatangan kami saat ia ikut terdesak karena kedatangan para polisi yang menyerang konvoi muatan Denzel. Beruntung kami datang tepat waktu dan berhasil membawanya pergi meski anak buahnya tewas karena melindunginya," ujar Julia.
"Ya. Ia tak percaya jika William menjebaknya. Ia terlihat sangat membenci suamimu ketika tahu Rahul tewas akibat serangan para polisi itu," imbuh Roza.
Amanda melirik anak buahnya tajam dan mereka mengangguk paham. Amanda dan lainnya sengaja tak membeberkan pada Sia jika sebenarnya Rahul tewas karena peluru granat tabung.
Manda dan Axton setuju dengan strategi William yang diceritakan Sia untuk mengumpankan Rahul ke pihak militer.
Axton berambisi melenyapkan anak kedua Raja Khisna mengingat lelaki itu bagaikan ngengat yang akan mengganggu hidupnya dan Nandra kelak.
"Setelah kau membeberkan misi dan strategimu padaku, tentu saja hal itu membuat kepanikan di jajaran kami. Bahkan masker Nyonya Vesper sampai retak karena ikut andil dalam misi penyelamatanmu. Kami sungguh tak menyangka William bisa menemukan kediaman Denzel padahal kami sudah memburunya hingga berbulan-bulan lamanya," sahut Monica meneruskan pembicaraan.
"Sepertinya kau semakin mahir dalam menembak, Sia. Nyonya Vesper bahkan memujimu karena berhasil menembak Denzel tepat di tiga titik fatal. Apakah ... Verda yang mengajarimu?" tanya Galina penasaran dan Sia mengangguk.
__ADS_1
"Ah, Mommy bangga padamu, Sayang. Kau mendapatkan kursi menggantikan Daddy-mu. Dia hampir terkena serangan jantung karena bahagia. Tak henti-hentinya dia memujimu. Mommy pusing mendengarnya jadi kabur ke sini menyusulmu," ucap Manda geleng-geleng kepala mengingat kelakuan suaminya yang makin ajaib.
Semua orang terkekeh karena sikap Boleslav berubah semenjak kepulangan Sia. Terlihat, Sia terharu mendengar ayah tirinya mengelu-elukannya.
"Jadi ... Daddy bangga padaku? Aku tak mengecewakan orang-orang lagi?" tanya Sia takut-takut menatap mata orang-orang di sekelilingnya.
"Tanpa kau membunuh Denzel, kami sudah bangga padamu, Sia," jawab Manda tersenyum manis sembari mengelus kepala anaknya lembut.
Senyum Sia merekah. Perasaan lega muncul di hatinya. Semua orang ikut bahagia. Namun, suasana kembali serius saat Manda mengutarakan pemikirannya.
"Aku merasa Denzel mengincar William. Ia memiliki tujuan dengan menggunakannya. Hanya saja William membelot dan tetap mendukung CIA."
Semua orang mengangguk setuju.
"Oh iya. Kalian bilang Denzel memiliki kesepakatan dengan William termasuk membunuh Boleslav. Lalu ... siapa 4 sisanya?" tanya Manda penasaran, tapi semua orang menggeleng.
"Apakah CIA tahu kesepakatan itu?" tanya Manda lagi dan semua orang menggeleng.
"Haruskah kita menangkap William dan menanyainya?" tanya Merry, tapi hal itu malah membuat raut wajah Sia berubah murung.
Monica melotot tajam padanya dan Merry meringis karena keceplosan.
"Akan kita pikirkan nanti. Sebaiknya, kita bersiap untuk pelantikan Sia sebagai salah satu calon anggota dewan menggantikan Boleslav," ucap Manda semangat dan semua orang bersorak gembira.
Rajesh sudah dipulangkan ke India setelah singgah di rumah Axton selama 3 hari.
Tentu saja, kematian Rahul membuat duka mendalam di jajaran Khrisna. Salah satu anggota dewan itu bertekat untuk memburu William dan membunuhnya.
Krasnoyarsk, Rusia.
Akhirnya setelah penerbangan panjang, William tiba. Ia sudah memesan sebuah hostel sederhana di kota itu untuk tempat tinggal sementara sampai ia menemukan kediaman Antony Boleslav.
Sebelum terbang, ia mencoba menghubungi Rika dan Cecil untuk mencari tahu, tapi tak ada balasan dari dua pensiunan itu entah apa yang terjadi.
William curiga jika terjadi sesuatu pada mereka berdua, hanya saja ia sudah memutuskan untuk tak terlibat lagi dengan CIA apapun alasannya.
William yang masih masa penyembuhan dari patah kaki tak bisa berbuat banyak. Ia merasa seperti dulu. Sendirian dan tak berdaya.
Ia sangat berharap bisa menemukan Sia, tapi satu-satunya cara kali ini adalah dengan bertemu Boleslav.
Ia berpikir untuk meluruskan hal ini dengan salah satu anggota 13 Demon Heads meski ia tak yakin akan berbuah manis.
__ADS_1
Selama seminggu, William berkeliling kota itu untuk mencari tahu kediaman Boleslav, tapi tak ada satupun warga yang tahu.
Mereka hanya pernah mendengar namanya, tapi sosok dan kediamannya tak ada yang tahu. William semakin kusut dengan pencariannya, tapi ia tak menyerah.
Ia menggunakan seluruh kemampuannya saat bekerja menjadi agent CIA dulu meski tanpa bantuan dari agensi dan alat-alat canggih.
William memetakan titik-titik tujuannya. Ia menandai dalam sebuah peta besar kota Krasnoyarsk di mana saja ia sudah berkunjung meski hasilnya nihil.
Ia memperkuatnya dengan melihat dalam artikel berita di kota tersebut tentang pelaku bisnis ternama, public figure bahkan kriminalitas untuk mencari petunjuk keberadaan Boleslav.
Bahkan ia mencari dalam buku pengguna telepon dan berharap menemukan nama Boleslav di sana, tapi semua hasilnya negatif.
Boleslav sungguh sangat hebat dalam menyembunyikan identitasnya. William sungguh letih baik fisik ataupun mental.
Tak terasa, dua minggu berlalu. Hingga akhirnya, hari itu William akan mengunjungi salah satu Rumah Sakit untuk memeriksakan perkembangan kesehatan kakinya.
William menggunakan sebuah mobil yang ditawarkan pihak Hostel karena iba pada kondisi kesehatannya.
Mereka bicara dalam bahasa Rusia.
"Hati-hati, Tuan Tolya. Anda datang sendirian ke kota ini jauh-jauh dari Amerika hanya untuk mencari keberadaan keluarga Anda. Maaf jika saya lancang, tapi kabar tentangmu sebagai turis di komplek ini cukup menarik perhatian," ucap sopir yang aman mengantarkan William ke Rumah Sakit.
"Aku minta maaf jika kedatanganku membuat kalian tidak nyaman. Sepulang dari Rumah Sakit aku akan berkemas," jawab William tak enak hati.
"Oh, tidak-tidak, bukan begitu. Kami bukan bermaksud untuk mengusirmu. Malah kami ingin membantumu," sahut sopir itu cepat karena William malah salah sangka.
"Sungguh? Oh, aku sangat berterima kasih," sahut William lega.
"Ya. Para sopir taxi yang kau minta berkeliling semua mengenalku. Maaf, bukannya sok bermain detektif-detektifan, tapi aku menyimpulkan jika kau mencari seorang keluarga kaya. Apa itu benar?" tanya sopir tersebut yang membuat William terkejut. William mengangguk cepat.
"Wah, tebakanku benar. Hahaha, aku pintar juga," pujinya pada diri sendiri dan William mengangguk dengan senyum merekah.
"Baiklah. Usai dari Rumah Sakit, aku akan mengantarkanmu ke sebuah tempat. Hanya saja, aku tak yakin dengan tempat itu. Namun, kau pasti belum pernah ke sana. Itu satu-satunya Kastil termegah di tempat ini. Konon, tempat itu berhantu dan jalan buntu. Cerita orang-orang di sini sejak zaman nenekku, orang yang masuk ke sana tak pernah kembali, bahkan polisi. Jadi ... jika kau tertarik, aku bisa mengantarmu, tapi aku menunggu di bawah. Kau harus naik sendiri. Maaf, tapi aku juga takut," ucapnya panjang lebar.
William merasa jika ucapan sopir adalah petunjuk akurat tentang ciri kediaman Boleslav.
"Aku yakin itu rumahnya. Boleslav pasti tinggal di rumah besar dan jauh dari pemukiman," batin William yakin.
"Oke, antar aku ke sana. Aku akan terima resikonya," jawab William mantab dan sopir itu mengangguk setuju.
Akhirnya, William tiba di Rumah Sakit yang dituju dan segera melakukan pengecekan pada kakinya.
__ADS_1
Sekitar 1 jam, akhirnya pemeriksaan William selesai termasuk konsultasi dokter, pembayaran dan penebusan obat.
"Hai. Ayo, kita ke Kastil angker itu," pinta William tak sabaran mendatangi sopir tersebut dan lelaki itu mengangguk mantab.