Secret Mission

Secret Mission
Kemunculan Tak Terduga


__ADS_3

Sia tak menyangka jika William bisa menerima kenyataan tentang dirinya yang kini menjadi warga sipil.


William bahkan sangat bersemangat agar bisa mendatangi bengkelnya.


Dengan sigap, P-807 segera menginformasikan ke beberapa pihak yang terlibat dalam skenario kembalinya William.


Sia selalu menemani sang suami kemanapun ia pergi. Terlihat, William menikmati kehidupan barunya.


Hari itu, William mengajak Sia untuk pergi membeli perlengkapan kelahiran bayinya. Sia terlihat begitu bahagia karena ini salah satu momen yang ia tunggu selama masa kehamilannya.


P-807 mengirimkan para Black Suit untuk melindungi keduanya meski menjaga jarak. Sia tak ingin terlihat terlalu mencolok dengan banyak penjaga di sekitarnya.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Jadi, mana mobilmu, Sayang?" tanya William sembari membawakan tas jinjing milik Sia, berjalan berdampingan dengannya ke basement parkiran mobil.


"Itu dia," jawab Sia sembari menekan layar pada jam tangan mewahnya.


BROOM!!


"Wow! I-ini ... mobil ini memiliki pengendali jarak jauh? Dikendalikan dengan jam tangan di tanganmu itu?" tanya William terkagum-kagum saat mobil BMW Hitam i8 itu mendatanginya bahkan pintunya langsung terbuka.


"Yes, Honey. Namun, ini bukan rancanganmu, melainkan partner kerjamu. Jonathan," ucapnya sembari duduk di bangku penumpang samping sopir.


"Jonathan. Siapa dia?" tanya William sembari masuk ke dudukkan kemudi dan terlihat kagum akan mobil sang isteri.


"Bisa dibilang investor utama sekaligus pencetus pembuatan mobil modifikasi ini. Dia orang yang sangat disegani di kalangan ma ...," ucap Sia terpotong dan hampir keceplosan.


"Ma? Ma apa?" tanya William menoleh ke arah isterinya terlihat penasaran.


Sia menelan ludah. "Di kalangan mama muda," jawabnya asal memperlihatkan giginya yang putih.


"Hmm, dari caramu menilainya, pasti dia seorang duda tampan dan kaya," sahut William yang terlihat siap mengendarai mobil keren itu.


"Haha, ya begitulah. Namun percayalah, Sayang. Dia sangat berbakat," ucap Sia memuji dan William makin tak sabar bertemu orang-orang yang bekerja dengannya selama ini.


Namun, tujuan utama William adalah belanja keperluan calon buah hatinya di sebuah toko perlengkapan bayi.


Sia terlihat begitu senang saat memilih perlengkapan bayi-bayi yang lucu.


"Oia, anak kita perempuan atau laki-laki?" tanya William penasaran saat melihat sang isteri mengambil beberapa barang bercorak feminim.


"Menurutmu?" sahut Sia sembari memasukkan selimut bayi berwarna merah muda.


"Perempuan."


Sia tersenyum dan mengangguk. William ikut tersenyum dan terlihat bahagia.


"Lalu, apa kita sudah menyiapkan nama, untuk gadis kecil kita?" tanya William sembari mengambil sepasang kaos kaki imut berwarna ungu.


"Irina. Irina Tolya. Sesuai nama belakangmu," jawab Sia tersenyum tipis.


William terlihat begitu senang. Senyumnya tak meredup sejak ia tahu kehidupannya meski hilang ingatan.


Sia dan William memilih banyak barang. William merasa cocok dengan semua hal yang Sia sampaikan atau pilihkan untuknya.


William semakin yakin jika Sia memang seorang isteri yang sangat mengerti dirinya.

__ADS_1


"Will, aku lelah. Aku ingin ice cream," rengek Sia saat William mendorong dua buah troli besar menuju ke mobil para bodyguard mereka.


"Mm, oh. Aku tadi lihat di seberang sana ada toko ice cream. Ayo," ajaknya dengan senyum merekah sembari menggandeng tangan sang isteri.


Sia mengangguk dan berjalan berdampingan dengan suaminya.


P-807 mengikuti William dan Sia dari belakang, sedang ketiga bodyguard lainnya memasukkan barang ke dalam mobil.


Sia dan William tiba di toko ice cream yang tak begitu ramai pengunjung. William mengajak Sia untuk makan di sana karena tempat itu cukup nyaman.


Sia setuju di mana ia juga merasa kakinya pegal karena lelah memilih barang untuk buah cintanya.


William dengan penuh perhatian memijat kaki sang isteri. Keduanya duduk di sofa panjang sembari menunggu pesanan mereka di antarkan.


"Silakan," ucap pelayan sembari meletakkan dua buah mangkok ice cream ke hadapan dua pelanggannya.


"Thank you," jawab Sia dengan senyum merekah.


Saat William akan menyuapi Sia, tiba-tiba ....


"Sia? Dan kau, William 'kan? Oh, my God! Aku dari tadi memperhatikan kalian. Aku kira salah lihat, tapi ternyata benar. Jadi, kalian menikah? Wow," ucap seorang gadis muda tiba-tiba saja muncul di hadapan keduanya.


Sia menatap wajah cantik gadis di sampingnya itu seksama. "Oh my God! Bella! Kau Bella 'kan? Teman kuliahku dulu?" jawab Sia langsung melebarkan mata dan menunjuk kawan lamanya.


"Aaaa! Kau hamil! Ya Tuhan, sudah lama sekali kita tak bertemu! Aku sangat merindukanmu," jawab Bella langsung memeluk Sia yang berdiri membalas pelukannya.


William bingung, tapi ia merasa jika gadis bernama Bella mengenalnya. William hanya bisa tersenyum.


Sia mengajak Bella duduk di sampingnya. Keduanya terlihat sangat akrab seperti sahabat karib. William menatap dua perempuan cantik yang duduk di hadapannya dengan seksama.


Sia pucat seketika, senyumnya sirna. Kening William berkerut, ia menatap Bella penuh selidik.


"Mm, aku sedikit lupa, Bella. Bisa kau ceritakan lagi? Sepertinya, jika kau yang bercerita terdengar seru," sahut William tiba-tiba yang mengejutkan Sia.


Bella menahan senyum, tapi mengangguk pelan. Sia diam mematung saat Bella menceritakan kisahnya ketika masa kuliah dulu.


Sosok William di hadapan kawan-kawan Sia dan sikapnya yang dingin, hingga kabar mengejutkan saat Bella serta teman geng Sia mengetahui jika kakak Sia dan ayahnya tewas karena dibunuh.


William terlihat serius seketika. Sia tak bisa bicara apapun bahkan menyangkal saat Bella menceritakan semuanya. William melirik Sia tajam terlihat curiga padanya.


"Namun jujur, aku bisa melihat jika Sia menyukaimu sejak awal, Will. Aku bahagia karena pada akhirnya Sia menikah denganmu, bukan si Tomy playboy itu. Ah, masa-masa itu sungguh membuatku kangen," ucap Bella menutup ceritanya, tapi membuat shock dua pendengarnya.


Tiba-tiba, ponsel Bella berdering. Ia meminta maaf karena harus segera pergi karena kekasihnya sudah datang menjemput.


Bella meninggalkan kartu namanya agar bisa berhubungan dengan Sia lagi dan gadis cantik itu menerimanya dengan senyum paksa.


William menatap Sia tajam setelah kepergian Bella. Sia diam tertunduk tak berani menatap wajah suaminya.


Tiba-tiba, William mengajak Sia pergi dari tempat itu bahkan mengabaikan ice cream yang dipesannya.


"Kita pulang. Aku ingin kejelasan semuanya," jawabnya berwajah dingin, menggandeng tangan sang isteri erat kembali ke mobil.


Sia berlinang air mata. P-807 yang melihat dari kejauhan terlihat waspada akan tindakan tak terduga dari kejadian tak disangka ini.


William membawa Sia masuk kembali ke mobil. Sia terlihat seperti orang ketakutan dengan mata berlinang menahan tangis.


"Bisa kau jelaskan dari cerita kawanmu tadi? Apa maksudnya? Aku seorang bodyguard? Lalu ayahmu dan kakakmu tewas karena dibunuh? Kau dijodohkan dengan Tomy di mana kalian adalah saudara sepupu? Kegilaan apa ini, Sia? Apa kau berbohong padaku selama ini?" tanya William menatap Sia tajam dengan intonasi tinggi.

__ADS_1


Sia menangis, tapi ia tak bisa menyangkal lagi. "Ya, itu semua benar, Will. Kau dulu memang bodyguard-ku. Kau melindungiku hingga akhirnya kita berdua saling jatuh cinta. Namun ternyata, cinta kita malah membuat petaka. Ayahku terlibat dengan dunia mafia termasuk kakakku, Rio. Kau menyelamatkanku dari kejadian itu," jawab Sia tertunduk sedih.


DOK! DOK! DOK!


William dan Sia terkejut ketika mendapati lelaki berwajah India tersenyum pada mereka. William menurunkan kacanya terlihat waspada.


"Hmm, boleh menumpang? Kebetulan aku melihat mobil kalian dan maaf, aku sedikit menguping pembicaraan kalian tadi," sambungnya santai.


William menatap Sia seksama. Sia turun dan mempersilakan lelaki itu masuk lalu duduk di bangku belakang.


William menutup semua jendela rapat dan kembali menatap dua orang di hadapannya dengan serius.


"Hai, Will. Pasti kau lupa padaku. Aku Rohan Khrisna. Salah satu partner bisnismu atau bisa dibilang, aku yang membawamu mewujudkan mimpimu untuk memiliki bengkel, menjadi montir dan pembalap. Salam kenal kembali," ucap Rohan mengajak berjabat tangan.


William terlihat bingung, tapi menyambut jabat tangannya. Sia berusaha menenangkan hatinya yang kalut dan menghapus air matanya dengan tisu yang tersedia di mobil.


Rohan melirik Sia dalam diam dan kini pandangannya terfokus pada William yang balas menatapnya tajam.


"Usai kejadian tewasnya Julius Adam dan Rio, Sia hidup sebatang kara. Ia sudah kehilangan ibunya saat masih kecil. Kau iba padanya, tapi kau juga tak memiliki pekerjaan untuk menghidupinya. Kau juga yatim piatu. Sia belum bisa menjabat dan meneruskan usaha ayahnya karena ia belum lulus kuliah," ucap Rohan menatap William seksama dan mantan agent CIA itu terlihat serius mendengarkan. Sia terdiam dengan wajah tertunduk.


"Kebetulan, aku salah satu investor di perusahaan Asuransi Julius Adam. Aku tahu kesulitan Sia dan ingin membantunya. Hanya saja saat itu, aku sedang membutuhkan seseorang untuk menjadi sopirku. Kau melamar pekerjaan kepadaku dan kau kuterima," sambungnya terlihat bersemangat dalam bercerita.


Kening William berkerut.


"Namun, siapa sangka? Kau ternyata memiliki kemampuan lebih dari seorang sopir. Kau bisa memperbaiki mobil dan sangat jago mengemudi. Aku memberikanmu kesempatan untuk menghidupkan salah satu usahaku yang terbengkalai dengan membuka sebuah bengkel modifikasi mobil. Dan, hahaha! Kau berhasil, William," jawabnya terlihat senang menepuk lengan William kuat.


William tersenyum tipis karena dipuji akan hal yang tak diingatnya.


"Kau sukses dari usaha kerasmu itu. Jadi, aku menghadiahkan tempat usaha itu padamu. Namun, kau merasa balas budi padaku. Kau malah mengusulkan untuk mengembangkan usaha ini hingga akhirnya, kita memiliki banyak rekanan dan konsumen. Kau sangat hebat, Will. Kau orang yang memilki keteguhan hati dan pekerja keras," sambung Rohan panjang lebar dan diakhiri dengan meremat kedua pundak William mantab.


Lelaki bermata biru itu terdiam. Ia tertegun akan cerita yang tak pernah disangkanya. Ia menoleh dan melihat isterinya bersedih. William memejamkan mata sejenak dan mulai tenang.


"Sia, aku minta maaf sudah mencurigaimu dan marah padamu. Aku ... hempf, aku minta maaf, Sayang. Aku hanya terkejut karena ini sangat diluar dugaan. Aku tak ingat tentang masa lalumu dan masa laluku. Semuanya masih terasa asing. Hanya kau satu-satunya yang kupercaya. Aku minta maaf karena sudah meragukanmu," ucap William meraih kedua tangan Sia dan menatapnya lekat.


Sia masih meneteskan air mata dalam diam. William memeluk Sia erat merasa bersalah.


Rohan bernafas lega karena skenarionya berhasil dan membuat William percaya dengan kisah modifikasinya. Rohan tetap berusaha untuk terlihat normal.


"Jadi, kalian mau memberikanku tumpangan? Melihat William sudah sehat, bagaimana jika kita ke bengkel? Mungkin, itu bisa membuatmu kembali bersemangat dan ... siap kembali bekerja?" tanya Rohan menatap keduanya bergantian yang kini melepaskan pelukan.


Sia dan William mengangguk bersamaan dengan senyuman.


"Oke! Let's go!" teriak Rohan semangat dan sepasang suami isteriku terkekeh.


BROOM!!


"Target aman. Siapkan skenario selanjutnya," ucap P-807 menginformasikan dari sambungan earphone.


"Roger that," jawab orang-orang yang terlibat dari sambungan radio tersebut.


***


wah panjang ini dramanya. kwkwkw semoga suka dan tengkiu tipsnya Oya😍


lele padamu💋💋💋


__ADS_1


__ADS_2