Secret Mission

Secret Mission
Tersadar*


__ADS_3

Ini adalah eps di Secret Missions 2 yang diperbaharui oleh Autor untuk meningkatkan ketegangan dan akan ada sisipan eps tambahan diantara eps yg terpublish nantinya. Pantengin terus ya updateannya. Jangan lupa like, komen dan votenya agar lele makin ssmangat nulisnya. Tengkiyuww~


------ back to Story :



William ditembak bius oleh lelaki yang tak dikenalnya. Jack datang ke mansion Rio, Virginia mencari William.


William tak menjawab telepon chief Rika. Jack pun melacak sinyalnya dan mendatangi olah TKP (Tempat Kejadian Perkara).


Jack naik ke lantai 2 mencari keberadaan William atas petunjuk dari para petugas yang sedang bekerja di lantai bawah.


Jack kaget bukan kepalang menemukan William pingsan tengkurap di lantai kamar Sia.


Jack bergegas mendatanginya dengan panik, ia pikir William tewas karena hembusan nafasnya hampir tak terasa. Jack turun ke bawah dan meminta kepada petugas medis untuk menyadarkan William.


Para petugas medis itupun langsung bergegas mendatangi William, mereka berusaha membangunkannya.


"William, wake up! William, hey hey ..." ucap Jack sembari menggoyangkan lengan William mencoba membangunkannya.


William membuka matanya perlahan. Ia mulai sadar dan melirik ke arah Jack yang duduk di sebelahnya.


William melihat petugas medis sedang mengecek tekanan darahnya. Matanya masih sayup-sayup dan pandangannya kabur, William lemas.


"Where is Sia?" tanya William menatap Jack dimana ia belum sadar sepenuhnya.


Jack bingung.


"Sia? I don't know. Kau sendirian saat kutemukan di sini. Apakah seseorang membiusmu?" tanya Jack memastikan.


William tetegun. Ia berusaha membuka matanya perlahan. William berusaha bangun.


Para petugas medispun membantunya. William mengusap wajahnya cepat. Ia menatap Jack tajam.


"Sia tadi bersamaku. Lalu tiba-tiba ..." William diam seketika, "oh shit!" pekik William panik.


"Ada apa, William? Apa terjadi sesuatu?" tanya Jack bingung.


William langsung berdiri sempoyongan memegangi kepalanya. Jack ikut berdiri memeganginya karena William seperti mau roboh.


William berjalan tergesa menuruni tangga, tapi ...

__ADS_1


DUG!


BUKK! BRUKK!


"Agh! Auch ..." William malah jatuh menggelinding ditangga sampai ke lantai bawah.


"William!" pekik Jack panik.


Jack bergegas menuruni tangga mendatangi William yang merintih kesakitan memegangi tangannya. Semua orang ikut menghampiri William yang terkapar di lantai.


"Kau tak apa? Kau ini kenapa? Kenapa terburu-buru begitu? Kau belum sadar betul," ucap Jack sembari membantu William duduk.


Kembali petugas medis memeriksa William. William memejamkan mata menahan sakit di tangannya.


"Pergelangan tanganmu patah, kau harus dirawat," ucap salah seorang petugas medis serius.


William hanya mengerutkan kening menahan sakit di pergelangan tangannya. William melirik ke para petugas penyidik.


"Apa kalian melihat seorang gadis yang datang bersamaku tadi? Berambut cokelat panjang, bermata bulat?" tanya William serius.


"Kami belum melihatnya turun. Memang ada apa?" tanya salah seorang penyidik itu.


"Cari diseluruh tempat ini, ia harus ditemukan!" pekik William lantang.


Petugas medis dengan segera melakukan pengobatan sementara pada William dengan membalut lukanya yang mulai membengkak.


William tetap harus ke rumah sakit untuk rontgen dan menemui dokter specialist ortopedi, tapi William menundanya.


Ia fokus ikut mencari keberadaan Sia. Jack masih bingung dengan kondisi ini. Ia mengikuti William di belakangnya.


"William, tunggu sebentar. Tadi aku menemukan ini di sampingmu. Apa ini milikmu?" tanya Jack sembari menyerahkan sebuah cincin pada William.


Pandangan William tak menentu, ia mengambil cincin dari tangan Jack dengan gemetaran dan terlihat sangat sedih.


Keningnya berkerut dan William hampir menangis, ia membungkam mulutnya rapat. Jack menatapnya seksama.


Dengan sigap William mengambil ponsel dari saku jas dalamnya dan menghubungi nomor Sia, tapi usahanya gagal. Nomor Sia tak aktif, William terlihat kesal. Ia menatap Jack tajam.


"Cari Sia sampai dapat. Lacak sinyal telepon yang pernah kau simpan sebelumnya. Dia harus ditemukan bagaimanapun caranya," ucap William menunjuk dada Jack penuh penekanan.


"Memang kenapa William? Apa Sia diculik? Dan cincin itu, apakah kau bermaksud melamar dan menikahinya?" tanya Jack penasaran.

__ADS_1


William hanya mengangguk pelan. Jack tertegun.


"Benarkah? Kau akan menikahi gadis mafia itu? Kau tak bercanda 'kan?!" pekik Jack lantang hingga semua petugas disana menoleh ke arah William tajam.


William mendekati Jack dan membungkam mulutnya rapat dengan tangannya yang tak sakit.


"Diam. Kau ini berisik sekali. Sudah, kembali ke kantor dan cari keberadaan Sia lalu hubungi aku secepatnya," bisik William pelan dengan sorot mata tajam.


"Oke. Oia, sebaiknya kau menghubungi Rika, dia kesal kau tak mengangkat teleponnya," ucap Jack mengabarkan.


"Oke, thanks Jack."


"Your welcome," jawab Jack sembari pergi meninggalkan mansion Rio kembali ke kantor CIA.


Pikiran William berkecamuk. Ia naik ke lantai dua kembali ke kamar Sia dan mencari petunjuk di sana.


William menggeledah semua barang-barang Sia. Bahkan kopernya pun tak ia bawa, William berspekulasi bahwa Sia pergi tergesa.


William berfikir jika Sia diculik, ia sangat cemas memikirkan keadaan Sia. William kembali ke bawah mencari petugas yang bisa melakukan sketsa wajah seseorang hanya dengan memberikan ciri-cirinya.


William duduk berdua bersamanya. Ia menjelaskan ciri-ciri lelaki itu secara mendetail. William memiliki ingatan yang kuat dan penglihatan tajam. Ia disebut "Eagle Eyes" di markas CIA.


Lelaki yang membuat sketsa wajah itu tampak serius menggambar. Tak lama, gambar itupun selesai. Ia menunjukkan pada William untuk memastikan hasilnya.


William kagum karena hasilnya sama persis dengan penglihatannya. Ia meminta agar gambar itu dibuat dalam bentuk tampilan seperti foto asli dan disebarkan kebeberapa kepolisian. Petugas itupun segera melaksanakan tugasnya.


William kembali duduk sendirian di ruang tengah mansion Rio. Ia tak menelepon Rika seperti permintaan Jack.


Ia kembali memikirkan nasib Sia yang entah dimana keberadaannya sekarang. William terlihat sangat sedih, ia hampir menikahi Sia dan hidup bahagia bersamanya tapi takdir masih belum menghendakinya (takdir author maksudnya, kwkw).


William menatap cincin pemberian Ibunya yang seharusnya sudah melingkar di jari manis Sia.


Ia ingat sudah memakaikannya saat itu dan Sia mengatakan sangat mencintainya. William memejamkan matanya rapat, kembali ia menguatkan hatinya dan bergegas pergi kembali ke kantor CIA untuk melihat perkembangan pencarian lelaki yang membiusnya dan keberadaan Sia.


William menyetir hanya dengan satu tangan karena pergelangan tangan yang lain masih nyeri jika digunakan. William menjadikan cincin itu sebagai liontin di kalungnya.


Padahal tinggal selangkah lagi, ia akan hidup bahagia bersama Sia. Selama perjalanan, William terus berspekulasi dan melakukan asumsi-asumsi tentang siapa orang yang membawa Sia.


William tak pernah melihat lelaki itu sebelumnya. Namun, William yakin jika orang itu bukan agent seperti dirinya dan lebih mirip seorang bodyguard elite seorang mafia.


-----

__ADS_1


ILUSTRASI


SOURCE : PINTEREST


__ADS_2