Secret Mission

Secret Mission
Koma*


__ADS_3

ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE



---- back to Story :


Siapa sangka, William tak sadarkan diri sudah lebih dari satu minggu. Sia tak bisa menutupi kesedihan yang menyelimuti hatinya begitu pula orang-orang yang mengenalnya.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Kenapa bisa seperti ini, Profesor? Kenapa William belum sadar juga sampai sekarang? Apakah dia koma?" tanya Sia dengan air mata tumpah begitu derasnya.


Jeremy tertunduk diam saat Sia menanyai perkembangan kondisi lelaki bermata biru itu tiap hari.


"Aku minta maaf, Sia. Sungguh, aku tak tahu jika akan berdampak buruk seperti ini," jawabnya sedih.


"Apa kau tidak bisa melakukan sesuatu untuk menyadarkannya? Jika William tak bisa melupakan kejadian yang sudah terekam dalam ingatannya, kami tak mengapa. Kami bisa menerimanya," sahut Amanda yang ikut berdiri di samping lelaki berjas dokter itu.


"Nyonya Manda. Aku dan tim medis sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memulihkan William. Prediksi kami, mungkin ini salah satu efek sampingnya. Serum dan teknik penghapusan memori itu dibuat untuk pembersihan secara permanen. Banyak ingatan yang harus dilenyapkan. Otot syaraf di otaknya menerima banyak tekanan dalam satu waktu. Butuh waktu untuk memulihkan. Sejauh ini, kondisi William baik-baik saja. Ia tak mengalami penurunan fungsi organ vitalnya. Yang kita butuhkan sekarang adalah doa dan waktu untuk bersabar. Bukan obat dariku," jawab Jeremy menjelaskan panjang lebar.


Sia duduk dengan lemas di sofa ruang perawatan. Amanda ikut duduk di samping anaknya mencoba menenangkan.


"Apa yang dikatakan Jeremy benar, Sia. Aku melihat William baik-baik saja. Bersabarlah. Kita doakan agar William segera sadar dan ketika ia terbangun nanti, semua sesuai dengan harapan kita," ucap Amanda mengelus punggung anak perempuannya lembut.


Sia menangis dan memeluk Ibunya erat. Orang-orang yang mendengar hal itu di luar ruangan hanya bisa diam dan memilih pergi tak ingin memperburuk suasana.


"Sia," panggil Yena masuk ke ruangan terlihat gugup.


Jeremy pamit keluar ruangan dan membiarkan tiga wanita itu untuk berbicara.


"Ya?" jawab Sia pelan.


"Rohan menanyakan perkembangan perekrutan pasukan untuknya," jawab Yena pelan.


Sia menarik nafas dalam. Amanda menatap anaknya lekat.


"Sia. Kau harus memenuhi janjimu sesuai kesepakatan. Mungkin inilah salah satu alasan Tuhan dengan membuat William koma agar kau bisa menyelesaikan janjimu sebelum ia sadar nanti," ucap Amanda tegas.


Sia terdiam di mana air matanya sudah tak menetes lagi.


"Begitukah menurut Mommy?" tanya Sia sendu.

__ADS_1


Amanda mengangguk pelan dan Yena juga berpendapat sama. Sia akhirnya bisa menerima nasihat dari Ibunya. Ia menguatkan hati dan fisiknya lagi untuk menyelesaikan tugasnya yang tertunda.


Saat tiga wanita itu akan keluar dari ruang perawatan, tiba-tiba Jordan masuk terlihat marah. Tiga wanita itu berdiri diam menatapnya seksama.


"Ada apa?" tanya Amanda curiga.


"Afro menghilang. Dia tak ada di markas Vesper manapun berikut orang-orang dalam jajarannya. Pengkhianat itu harus menjalani Pengadilan, tapi ia kabur!" geram Jordan dengan dua tangan mengepal.


Amanda terlihat pusing memikirkan hal ini. Dua anaknya sedang dirundung masalah dan ia harus siap untuk membantu mereka di mana sosok Antony yang dulu selalu ada untuknya kini telah tiada.


"Akan Mommy pikirkan. Coba kau konsultasikan hal ini dengan Mix and Match serta tim Silhouette," jawab Amanda menyarankan sembari memijat dahinya.


"Mommy!" panggil Jason yang ikut muncul terlihat panik.


"Ya? Apa ada masalah?" tanya Amanda dengan kening berkerut.


"Aku dapat telepon dari sekolah yang mengatakan tak boleh melanjutkan di sana. Katanya, sekolah mendapat kabar jika aku terlibat dengan mafia dan polisi mengincarku. Sekolah tak mau dapat masalah jadi mereka memutuskan secara sepihak dengan mengeluarkanku tanpa mendengarkan penjelasan dariku, Mommy. Aku harus bagaimana?" tanya Jason terlihat bingung seperti akan menangis.


Amanda menutup wajahnya terlihat tertekan dengan masalah yang dihadapi keluarganya dalam waktu bersamaan.


"Bibi? Bibi ... kau tak apa?" tanya Yena khawatir saat Amanda terhuyung seperti akan jatuh.


BRUKK!


"Mommy!" pekik Jason, Jordan dan Sia bersamaan saat Amanda roboh begitu saja tergeletak di lantai.


"Panggil paman Jeremy cepat!" teriak Jordan ketakutan.


Jason segera berlari di mana ia masih membawa ponselnya keluar dari kamar. Sia dan Yena panik.


Tak lama, muncul Arthur menolong Manda dan membopongnya untuk ditidurkan pada sofa panjang.


Jeremy datang dan segera memeriksanya. Semua orang terlihat cemas karena wajah Manda pucat.


"Dia tak apa. Aku yakin jika Nyonya Manda kelelahan. Aku akan memberikan vitamin agar dia segera pulih dan sadar. Hanya saja, biarkan Ibu kalian beristirahat. Jangan membebaninya dengan banyak tekanan. Kalian mengerti?" ucap Jeremy yang duduk di samping Manda menatap anak-anaknya.


Sia, Jason dan Jordan mengangguk. Tim medis datang untuk memindahkan Amanda ke kamar agar lebih nyaman beristirahat.


Sia dan lainnya terlihat sedih karena kini orang yang sangat mereka sayangi jatuh sakit. Jordan menemani Ibunya di kamar dan tak beranjak dari sisinya. Terlihat, remaja itu begitu mencemaskan kondisi Ibunya.


"Profesor. Bagaimana jika William juga dipindahkan ke kamarku saja agar aku bisa merawatnya. Bolehkah?" tanya Sia mendekatinya dan menatapnya penuh permohonan.


"Ya, tentu saja. Aku akan meminta tim medis untuk melakukannya, tapi ingat, kau juga harus menjaga kesehatanmu. Kau sedang hamil. Kau tak boleh sedih karena itu bisa mempengaruhi perkembangan janinmu," jawab Jeremy tegas mengingatkan dan Sia mengangguk paham.

__ADS_1


Sia merapikan kamarnya di bantu Yena di mana mulai malam itu, William akan tidur di sana.


Semua perlengkapan medis William kini ada di kamar Sia. William tetap dipakaikan selang oksigen dan infus yang tertancap di lengannya.


Sia berusaha untuk tegar demi calon bayi dan keluarganya. Ia berusaha menyingkirkan kesedihan dan pikiran buruk yang selalu menghampirinya.


"Aku ada di sini untuk membantumu, Sia. Biarkan Bibi beristirahat. Aku yakin kita bisa melakukannya. Seperti dulu, kita selalu bersama," ucap Yena dengan senyum terkembang.


"Aku sangat bersyukur kau ada di sini, Yena. Kau memang sepupuku yang sangat bisa diandalkan. Kau begitu perhatian dan baik padaku sejak dulu. Paman Roberto pasti sangat bangga memiliki anak sepertimu begitupula Bibi Mila," ucap Sia balas tersenyum.


Keduanya saling berpelukan terlihat begitu akrab seperti kakak beradik. Yena mengajak Sia ke ruang kerja untuk segera menyelesaikan proses perekrutan.


Sedang di kamar Manda.


"Jika itu keputusan dari sekolah, ya sudah. Kita tak usah berdebat dan memperpanjang urusan ini. Sebaiknya, kau juga pindah dari Rusia. Menetaplah di Amerika. Tinggalah di New York, Apartemen ibumu. Ada Q dan Renata yang akan menjagamu. Kau akan baik-baik saja," ucap Arthur memberikan nasehat dan Jason mengangguk pelan.


Jordan yang ada di ruangan dengan saudara kembarnya itu hanya bisa diam. Ia memandangi wajah Ibunya yang terlihat sudah makin menua.


Jordan mengelus rambut Ibunya lembut dengan penuh perhatian. Jason dan Arthur menatap Jordan seksama. Arthur mendekatinya.


"Untuk kali ini saja, dengarkan nasehatku, Jordan. Aku tahu kau sangat ingin memberikan keadilan untuk Afro, tapi kau satu-satunya penerus Boleslav yang ditunjuk oleh ayahmu sendiri dalam wasiatnya. Kau memiliki tanggungjawab besar nantinya. Kau ingin mendengar pidatoku selanjutnya?" tanya Arthur berdiri di sampingnya menatap Jordan tajam.


Remaja itu mengangguk pelan.


"Pergilah ke Camp Militer. Selesaikan pelatihanmu. Jangan buat masalah. Kau harus bisa mengontrol amarahmu. Kau tahu, jika dalam tubuhmu mengalir serum Monster. Kau harus belajar mengendalikannya. Jika kau tak bisa, kau akan melukai orang-orang yang kau sayangi nantinya. Serum Monster akan mengambil kesadaranmu. Jangan sampai menyesal ketika kau sadar, kau telah merenggut nyawa orang yang kau kasihi," ucap Arthur tegas.


Jordan diam menatap mata Arthur tajam yang berbicara serius padanya. Tak nampak kebohongan dalam tiap katanya.


Jordan akhirnya mengangguk mantap. Ia bersedia menjalankan nasehat Arthur untuknya.


Arthur lega karena ketiga anak Manda sudah menemukan solusi dari masalah yang mereka hadapi saat ini. Timbul rasa bangga dalam diri Arthur. Ia merasa cocok menjadi seorang penasehat.


***


Uhuy makasih tipsnya ya😍


Walopun sedih juga novel SM kayaknya berakhir dg level 7 tak seperti 3 novel end lainnya yang level 10, tapi ya sudah.


Setidaknya koin kalian tetep memberi semangat bagi autor rempong seperti lele. Kwkw. Tengkiyuw jeng Sarithaa~


Lele padamu💋💋💋


__ADS_1




__ADS_2