
ILUSTRASI
SOURCE : PINTEREST
----------- back to Story :
Dengan sigap, Axton langsung mendekap tubuh Nandra. Axton menjatuhkan dirinya ke lantai sebagai alas tubuh Nandra agar wanita cantik itu tak terluka.
Nandra terkejut saat ia menyadari jika tubuhnya menimpa Axton sehingga ia tak merasakan sakit.
Nandra menatap Axton lekat yang terbaring dengan mata terpejam menahan sakit di sekujur tubuhnya.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Heh, kau tak apa?" tanya Axton dengan nafas tersengal sembari membuka matanya perlahan.
Nandra begitu terharu karena Axton bahkan masih mengkhawatirkan keselamatannya. Setahu Nandra, Axton paling tak suka jika tubuhnya mengalami lecet terutama bagian wajah.
Sergei segera mendatangi Axton setelah ia juga terkena dampak dari ledakan dengan menjadikan dirinya sebagai perisai bosnya.
"Tuan, kau tak apa?" tanya Sergei cepat sembari membantu Axton berdiri setelah Nandra bangun dengan sendirinya.
Nandra berdiri menyender pada dinding sembari memegangi perutnya yang besar dan berusaha menenangkan diri.
Sergei memberikan jas anti peluru kepada Axton, tapi pria itu malah mengenakannya di tubuh si wanita India.
Sergei dan anak buah Axton lainnya terheran-heran dengan sikap bos besar mereka termasuk Nandra.
Nandra menatap Axton seksama, tapi Axton hanya tersenyum sekilas. Ia kembali menggandeng tangan Nandra dan mengajaknya pergi ke terowongan evakuasi bawah tanah.
"Aku akan melindungimu, Sir," ucap Sergei mantab. Axton mengangguk.
Nandra berlari sembari memegangi perutnya yang besar dan berusaha tetap tenang. Axton membawa Nandra menuruni tangga dengan banyak bodyguard menjaganya di depan dan belakang.
Axton melihat Nandra sudah berkeringat banyak dan terlihat lelah. Axton panik. Matanya hanya terfokus pada perut besar Nandra dan kedua kakinya.
Suara dentuman dari ledakan-ledakan terdengar bersahut-sahutan di atas terowongan.
Getaran hebat begitu terasa hingga debu-debu dari atap mulai berjatuhan dan mengenai tubuh orang-orang yang berusaha menyelamatkan diri.
Hingga akhirnya, mereka tiba pada pintu terowongan. Dua anak buah Axton mendorong palka besi dan melongok untuk melihat situasi di luar.
__ADS_1
"Kami akan amankan jalan," ucap bodyguard Axton menyiagakan pistol dalam genggaman, siap untuk keluar terlebih dahulu.
Sergei yang berdiri di depan Axton mengangguk. Lelaki tersebut keluar di susul oleh bodyguard lain, berjalan mengendap menuju ke sebuah yacht yang berlabuh di sebuah dermaga khusus kawasan pantai pribadi Axton.
Dua pria itu mendekati yacht dan segera naik. Namun, Axton curiga saat mereka berhasil menyalakan mesin kapal dan melepaskan tali yang mengikat kapal ke dermaga.
"Sir! Cepat kemari!" panggil pria yang berdiri di pinggir kapal bersiaga.
"Tuan Axton, ayo. Apa yang kau tunggu?" tanya Sergei karena Axton diam saja tak bergerak.
"Terlalu mudah, Sergei," jawab Axton serius.
Sergei dan para bodyguard Axton saling memandang dengan pistol dalam genggaman.
"Lalu bagaimana?" tanya Sergei menatap Axton tajam.
"Ambil helikopter. Aku tunggu di sini," perintah Axton dengan ekspresi yang jarang sekali muncul ketika ia serius memikirkan sesuatu.
Sergei melirik dua pria di belakang Axton dan mereka mengangguk. Dua pria itu keluar dari terowongan dan bermaksud mengemudikan helikopter yang di parkir dekat dermaga.
Dua pria itu mengendap dengan pistol dalam genggaman. Mereka berjalan dengan langkah lebar menuju tangga batu samping terowongan ke helipad.
Axton masih menggandeng tangan Nandra erat meski wanita India itu bisa merasakan tangan Axton berkeringat.
Hingga akhirnya, helikopter Axton melayang di udara setelah berhasil diambil dari tempatnya di parkirkan.
Sergei dan para anak buah Axton kembali menatap Axton seksama yang masih diam saja dengan sorot mata tajam.
"Kenapa? Apa yang kau pikirkan?" tanya Nandra ikut kebingungan karena sikap Axton tak biasa.
Axton membalik badannya dan menatap Nandra lekat. Tiba-tiba, ia mencium keningnya dan mencium perut besarnya sampai memejamkan mata. Orang-orang tertegun melihat sikap Axton yang sungguh aneh hari itu.
Tiba-tiba, Axton memegang wajah Sergei dan menatapnya tajam tanpa berkedip. Sergei bingung.
"Sergei. Berjanjilah padaku. Kau harus pastikan anakku lahir dengan selamat begitupula Nandra. Kau mengenalku sejak aku berumur 20 tahun. Kau sudah ikut denganku berpuluh-puluh tahun lamanya. Kau bertanggungjawab akan masa depan anakku nanti. Kau tahu apa yang harus dilakukan. Dia, akan menjadi penerus dari keluarga Giamoco, penerus kursiku, 13 Demon Heads. Kuberi dia nama Adrian Giamoco. Ryan, nama anak lelakiku Ryan. Berjanjilah padaku," ucap Axton mantab dan Sergei malah ketakutan akan hal itu.
Mata Nandra dan orang-orang yang mendengar terbelalak seketika. Sergei kebingungan dalam menjawab.
"SERGEI!" teriak Axton lantang tepat di wajahnya.
"Oke, oke! Aku berjanji! Aku berjanji dengan nyawaku taruhannya, Tuan Axton!" jawab Sergei terlihat berat hati.
Axton tersenyum bangga lalu mencium kening Sergei penuh tekanan, tapi hal itu malah membuat Sergei shock. Axton lalu menoleh ke arah Nandra dan tersenyum manis.
__ADS_1
"Kau dan anakku akan selamat. Jangan khawatir. Mereka mengincarku bukan kau. Jika aku bersamamu, kalian akan celaka. Pergilah tanpa diriku," ucap Axton menutup ucapannya dengan senyum terkembang.
Tubuh Nandra gemetaran saat Axton menarik satu lagi pistolnya dari balik pinggang dan kini dua pistol dalam genggamannya.
"TUAN!" teriak Sergei lantang saat Axton keluar begitu saja dari terowongan dengan langkah mantap dan mengarahkan dua pistolnya ke sisi kiri dan kanan.
"Sir! Arah jam satu!" teriak salah seorang bodyguard Axton yang berdiri di samping kapal, melihat sebuah jetski tiba-tiba muncul dengan dua lelaki berseragam hitam layaknya pasukan khusus mengarahkan senapan laras panjang ke tubuh Axton.
"Shit! Go, now!" pekik Sergei menarik tangan Nandra dan memintanya berlari menuju ke helikopter dengan banyak bodyguard melindunginya dari segala jenis serangan.
Axton tersenyum melihat Nandra akhirnya bisa keluar dari terowongan. Axton menaikkan pandangan dan melihat helikopter terbang rendah untuk mengangkut Nandra serta orang-orangnya.
DOR! DOR!
Dengan sigap, Axton melepaskan peluru-peluru tajamnya ke arah pengendara jetski yang membidiknya dari arah laut.
Dua bodyguard Axton ikut menembaki para pengendara jetski yang muncul dan berusaha menjatuhkan Sang Casanova.
Saat Axton fokus untuk melumpuhkan para penyerang dari arah laut, tiba-tiba matanya teralih pada pengendara jetski yang mengarahkan sebuah RPG ke helikopter yang akan ditumpangi oleh Nandra.
"SERGEI!" teriak Axton lantang dengan wajah panik langsung berlari ke arah helikopter. "KELUAR! KELUAR DARI SANA!"
Nandra yang sudah duduk di kursi helikopter kaget setengah mati mendengar teriakan Axton.
Sergei yang mendengar peringatan Axton segera menarik tangan Nandra hingga wanita India itu jatuh telengkup.
Axton sampai menghentikan langkahnya di atas pasir saat Nandra jatuh dari helikopter. Namun beruntung, karena ia ditangkap oleh Sergei.
Nandra sempat ikut shock, takut jika kandungannya terluka atau bahkan bisa lebih buruk lagi karena insiden ini.
"SERGEI!" teriak Axton lagi saat melihat penumpang jetski meluncurkan misil ke arah helikopter.
Nandra yang berada di atas tubuh Sergei dengan cepat berada di bawah saat Sergei berguling ke samping di atas pasir dan menjadikan dirinya sebagai perisai.
Dan benar saja, BLUARRR!!!
"AAAAA!"
"NANDRA!" teriak Axton lantang saat helikopter tersebut meledak hebat hingga tubuh para anak buahnya terpental.
Mata Axton melebar seketika saat sosok Nandra dan Sergei tak terlihat karena tertutup kobaran api serta asap tebal di sekitar mereka.
"NANDRA!" teriak Axton lantang hingga seluruh otot di tubuhnya menegang.
__ADS_1
Axton berdiri mematung sendirian di atas pasir dengan nafas tersengal dan mata melotot lebar. Ia tak percaya jika wanita yang mengandung anaknya tewas akibat insiden ini.